
***
Jika dipikirkan kembali. Kenapa Rindu harus bersikap berlebihan seperti tadi. Kenyataannya Ardian memang tidak pernah menyukai wanita mana pun selain dirinya. Ya, mungkin saja dia cemburu. Mendengar perkataan Agnes yang membawa nama keluarga Moriz. Juga kedekatan wanita itu dengan mamanya Ardian yang ia dengar dari telepon.
Dengan satu tarikan napas, Ardian menenangkan dirinya. Ia kembali meraih kedua tangan kekasihnya itu dan mengelus dengan lembut. Kemudian Ardian menangkup kedua pipi Rindu dengan tangannya. Mereka saling menatap, Ardian melihat dengan jelas penyesalan dari wajah kekasihnya itu.
"Sayang, dengar. Aku marah bukan karena perbuatanmu yang gegabah. Tapi aku marah karena takut. Jika aku datang terlambat, hal yang lebih buruk bisa saja terjadi. Maaf aku meninggikan suara tadi." terangnya lembut menatap mata Rindu.
"Maaf …."
"Jangan membuatku takut. Jika terjadi hal buruk padamu, akulah orang yang sangat terluka. Aku tidak bisa selalu ada untuk berada di sampingmu. Status kita juga salah satu penghalang. Apa sebaiknya kita menikah?"
Pertanyaan Ardian sontak membuat Rindu kaget. Secepat ini? Mereka baru berpacaran selama dua hari. Terlebih lagi dengan status Rindu yang seorang janda. Bagaimana dengan keluarga Ardian, apa mereka akan menerima dengan keadaan Rindu yang seperti sekarang? Dan satu hal lagi yang membuatnya takut, Rindu masih trauma dengan kehancuran rumah tangga yang membuatnya sangat kecewa beberapa waktu lalu.
"Ardi."
"Kenapa, kamu tidak ingin menikah denganku?" tanya Ardian kemudian.
"Aku takut … apa harus secepat ini?"
"Kenapa tidak? Aku mencintaimu dan kamu juga mencintaiku buka?"
"Iya, tapi …."
Mereka terdiam sejenak. Lidah Rindu seakan kelu untuk menjawab. Banyak alasan yang membuatnya takut. Apakah ia harus menolak? Atau melanjutkan hubungan yang seperti sekarang hingga dia benar-benar yakin.
"Kita menikah, ya?" Ardian mengulang ucapannya. Rindu masih terlihat berpikir. "Kalau kamu belum siap nggak apa-apa, aku akan tunggu kamu. Tapi jangan lama-lama juga. Aku tidak sabar untuk menghabiskan hari-hariku bersamamu."
Sebuah kecupan hangat mendarat di kening Rindu. Kemudian kecupan itu turun hingga ke mata kanan dan mata kiri. Gemas, pria itu mencubit bagian wajah kenyal yang terdapat lesung pipi di sana.
"Maaf, Ardi. Aku belum bisa menjawab, 'iya'."
"Aku akan selalu menunggu hingga kamu menjawab, 'iya'."
"Terima kasih."
Walaupun sedikit merasa kecewa. Namun, Ardian tetap memberikan senyuman terbaiknya. Ia sangat mengerti, ini terlalu cepat bagi Rindu. Mungkin hati wanita itu belum siap untuk terikat dalam hubungan pernikahan. Tidak apa-apa, Ardian juga harus fokus terlebih dahulu dengan penyakit yang Rindu derita saat ini. Ini hal yang utama, Rindu harus segera sembuh.
"Aku masih ada pekerjaan, apa kamu tidak keberatan aku tinggal?" tanya Ardian lembut.
"Iya, sebaiknya kamu kembali kerja," angguk Rindu mengiyakan.
"Kamu diam di sini. Kalau bosan, baca buku atau main game. Jangan cari masalah lagi, paham?" tegas pria itu memerintah.
"Iya, Tuan Ardian yang hebat dan terhormat," jawab Rindu mengejek, kekasih yang over protective itu kadang membuatnya ingin menjawab asal.
Ardian tersenyum senang, wanitanya ini selalu bisa membuatnya terhibur. Satu kecupan di kening kembali disematkan, juga satu lagi kecupan di bibir Rindu secara kilat. Pria itu pun pergi setelah berpamitan.
Lima belas menit kemudian. Rindu benar-benar merasa bosan. Tadinya ia ingin mengobrol banyak dengan Mira. Tapi melihat sekretaris Ardian itu sangat sibuk, Rindu mengurungkan niatnya.
Kemudian Rindu teringat dengan buku diary Ardian yang tidak sempat ia buka tadi. Rindu pun berjalan ke arah meja dan mengambil buku itu. Lalu ia kembali duduk di sofa panjang dengan meluruskan kakinya ke atas.
***
310513
Rindu
__ADS_1
Hari ini pertama kalinya aku goreskan pena di buku ini, buku pemberianmu. Kamu mengatakan, suatu saat nanti aku akan membutuhkannya. Dan sekarang aku benar-benar butuh untuk menuliskan kenanganku bersamamu.
Hari ini kamu tiba-tiba menghilang, kamu tahu, seperti apa keadaanku sekarang?
Aku menggila, Rindu, aku sangat kehilangan dirimu, kenapa kamu pergi begitu saja?
Aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu.
Aku bahkan belum sempat mengatakannya kepadamu. Rindu kamu pergi kemana?
***
080613
Rindu, aku mengingat kembali perkataanmu waktu itu.
'Siapa pun seharusnya mengerti apa itu cinta. Namun, tidak semua orang bisa menyadari apa itu cinta. Cinta akan membawa kebahagiaan dan juga kesakitan. Kebanyakan orang tidak sadar kalau sebenarnya dia telah jatuh cinta. Karena Cinta itu tidak bisa ditebak, datang dan pergi tanpa permisi. Cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati'.
Kamu benar. Cinta itu membawa kesakitan untukku, cinta itu telah datang tanpa kusadari, cinta itu telah mengikat jiwaku dan memenuhi pikiranku akan dirimu. Dan kamu berada di sudut terdalam dalam hatiku, tidak ada seorang pun yang dapat menggesernya.
***
100713
Bagaimana kabar kamu, Rindu?
Baru saja aku memimpikan dirimu. Mimpi yang membawaku ke masalalu yang menyenangkan. Kita bermain bersama, bersenang-senang di taman hiburan. Ketika malam kamu memberikan aku hadiah. Sebuah ciuman pertamamu dan juga pertama untukku. Aku sangat bahagia waktu itu. Aku pikir aku kita akan bersama setelah itu terjadi. Namun, aku tidak menyangka ternyata itu adalah kado perpisahan darimu.
Aku terbangun dan menyesali semua kebodohanku.
***
Selamat ulang tahun Rindu.
Hari ini usiamu bertambah satu. Aku ingin merayakan hari spesial ini bersamamu. Hanya doa yang bisa aku titipkan kepada sang Maha Kuasa. Semoga kamu baik-baik saja di mana pun kamu berada.
Aku kembali melihat kenangan kita yang tersimpan di sebuah rekaman video. Di sana terekam kebersamaan kita. Aku, kamu, Dian dan Dimas. Kita saling berpelukan saat kejutan ulang tahunmu ke ke-17 dulu. Semua orang terlihat bahagia, termasuk keluargamu yang turut menyaksikan kegilaan kita.
Satu hal yang baru aku tahu. Aku diam-diam mengecup puncak kepalamu waktu itu. Dan itu terjadi tanpa aku sadari.
I miss you, my love.
***
270514
Tidak terasa sudah satu tahun kita berpisah. Ingatan tentang dirimu tidak pernah hilang di setiap hariku. Jiwa dan ragaku telah kuberikan hanya untukmu, Rindu.
Apa kamu mengingat ketika acara promnite? Kamu menyanyikan sebuah lagu untukku. Lagu yang membuatku sadar akan perasaanku yang sebenarnya. Sekarang aku menuliskan liriknya agar bisa aku ingat setiap waktu.
Kekasih bayangan – Cakra Khan
Padamu pemilik hati yang tak pernah ku miliki
Yang hadir sebagai bagian dari kisah hidupku
Engkau aku cinta dengan segenap rasa di hati
__ADS_1
Slalu ku mencoba menjadi seperti yang engkau minta
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Mungkin memang benar
Cinta itu tak lagi berharga
Semua percuma bila engkau tak punya ikatan
Aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Cinta sendiri
Oh aku tahu engkau sebenarnya tahu
Tapi kau memilih seolah engkau tak tahu
Kau sembunyikan rasa cintaku
Di balik topeng persahabatanmu yang palsu
Kau jadikan aku kekasih bayangan
Untuk menemani saat kau merasa sepi
Bertahun lamanya kujalani kisah cinta sendiri
Cinta sendiri
Penulis lagu: Anang Hermansyah
***
__ADS_1