
***
Rumah ini masih terlihat sama. Dekorasinya yang kebanyakan berbahan kayu, lukisan unik yang tergantung di dinding atas sofa. Tata letak perabotan juga masih seperti dulu. Hanya saja semua tampak telah berubah warnanya karena dimakan usia. Foto keluarga juga masih sama, dimana ada papanya Rindu di dalam sana. Mereka tidak akan pernah menggantinya. Selama delapan tahun keluarga ini tidak pernah membuat foto keluarga lagi. Hanya beberapa foto Kanaya dan Rindu yang diletakkan pada pigura kecil di atas meja. Serta foto Alan dan Alen—adik kembar Rindu saat masih SMA.
Ardian sedang asyik mengobrol dengan gadis kecil di pangkuannya. Rindu dan mamanya yang duduk bersebelahan melihat dengan rasa haru. Kanaya tampak sangat akrab dengan Ardian.
"Kanaya, suka ayah?" Pertanyaan itu muncul dari mulut Ardian. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin mendapat pengakuan.
"Emm … suka." Gadis lucu itu menjawab dengan suara khasnya yang menggemaskan.
"Sayang ayah gak?"
"Emm … Sayang."
"Cantik … kamu lucu sekali, ayah juga suka sama Kanaya, sayang Kanaya … muach!" kecupan manis mendarat lagi di pipi gembul itu. Mereka baru saja bertemu, tapi Ardian sudah menaruh rasa sayang pada gadis itu.
Oma dan bunda Kanaya saling bertatapan. kanaya adalah anak yang sulit untuk dekat dengan orang lain dari bayi. Gadis kecil yang baru berumur tiga tahun itu lebih sering menangis jika didekati orang yang tidak dikenal. Kenapa dengan Ardian sangat berbeda? Belum tiga puluh menit mereka bertemu, Kanaya seperti sudah lama mengenal Ardian, mereka terlihat sangat bahagia.
"Rin …?" Dahlia terlihat bingung melihat kedekatan cucu dan sahabat putrinya.
"Biarkan saja dulu, Ma … Kanaya kelihatannya suka sama Ardian," jawab Rindu kemudian. "Aku buatkan minuman dulu, Ma."
Rindu kemudian beralih ke Ardian. "Aku masuk dulu sebentar, Ardi." Ardian melirik sesaat dan mengangguk pelan.
Sebelum ke dapur untuk membuat minuman, Rindu ke kamar sebentar meletakkan barang-barangnya. Ketika Rindu sedang sibuk membuatkan minuman, Alan dan Alen datang menghampirinya secara bersamaan.
"Kak … ada tamu?" tanya Alan adiknya yang lebih tua.
"Iya, Dek," jawab Rindu singkat.
"Siapa, Kak?" tanya Alen kemudian.
"Ardi."
"Ardi ... Kak Ardian?" tanya mereka secara bersamaan, lalu saling pandang. Alen mengintip sebentar ke ruang keluarga mereka.
__ADS_1
"Lan, benar itu Kak Ardi, ayo kita keluar," ajak Alen pada Alan saat kembali lagi ke dapur.
Mereka pun berlari kecil ke arah ruang tamu. Rindu menoleh memperhatikan kedua adik kembarnya berlarian. Dia tersenyum. Dulu setiap kali Ardian datang bermain ke rumahnya. Alan dan Alen sering diajak bermain bersama. Umur mereka hanya terpaut tiga tahun. Ardian menjadi teman sekaligus kakak laki-laki bagi kedua saudara kembar itu.
Sayup-sayup terdengar obrolan mereka dari dapur. Alan dan Alen seperti menyerbu Ardian. Terdengar juga suara Kanaya yang marah, karena tiba-tiba pria yang Kanaya kira adalah ayah diganggu kedua pamannya. Rindu menggeleng, tersenyum sendirian dengan suasana di ruang keluarga, terdengar sangat bahagia. Keharmonisan keluarga yang sangat Rindu suka dari dulu.
****
Setelah makan siang bersama, kesenangan mereka berlanjut di taman samping rumah. Bercanda dan berlarian sebentar sebelum Kanaya pergi tidur siang. Gadis kecil itu diletakkan di pundak, Ardian berlari mengejar Alan dan Alen. Tawa riang Kanaya terdengar ketika mereka mengejar-ngejar duo kembar itu. Menemani Kanaya bermain bersama membuat Ardian merasa candu. Belum pernah dia merasa sebahagia ini. Bahkan dengan keponakannya sendiri dia tidak merasa seakrab ini.
Ardian yang terlihat kelelahan bersandar di bangku taman rumah itu. Rindu yang baru keluar dari kamar langsung mendatanginya. Kanaya sudah kelelahan bermain dan sekarang sudah tertidur.
"Ardi ...,"
Ardian menoleh lalu menegakkan tubuhnya dan tersenyum.
"Emm … Sayang sini duduk," ajaknya seraya menepuk-nepuk pelan ruang kosong di sebelahnya.
"Iiiss … apaan sih, nanti kedengaran mama," sungut Rindu, dia memandangi hamparan bunga-bunga di taman. Berbagai macam jenis bunga ditanam di sana. Mamanya yang menanam semua bunga itu.
"Biarlah, Sayang, akan lebih baik kalau mama langsung merestui hubungan kita."
"Aku calon suamimu," jawabnya percaya diri.
"Hahaha … kamu bahkan tidak minta persetujuanku?" Rindu menghindar, pandangannya kembali lurus ke depan.
Ardian mengerutkan alisnya, memikirkan jawaban yang tepat. Ternyata tidak mudah untuk meluluhkan hati seorang Rindu.
"Bukankah Kanaya sudah memanggilku ayah, jadi tidak ada alasan lagi untukmu menghindar," kata Ardin kemudian.
Rindu terdiam, kehabisan kata-kata. Tatapannya lembut kepada Ardian yang kembali menyandarkan tubuhnya. Dia tersenyum kecut. "Aku belum siap Ardi." Raut wajahnya sendu, nada bicaranya terdengar seperti memendam rasa kecewa.
Ardian membalas tatapan itu. "Aku akan menunggumu, selama mungkin, hingga kamu datang sendiri padaku dan bilang, 'aku siap'."
Rindu tersentak, bagaimana mungkin dia bisa membiarkan Ardian tersiksa seperti itu. Dia mungkin masih mencintai Ardian, dan pria itu mungkin bisa membahagiakannya. Yang Rindu takutkan adalah akibat dari keputusan yang akan diambilnya nanti. Hati dan pikirannya bertolak belakang, mungkin karena merasa takut akan kegagalan.
__ADS_1
"Aku tidak yakin bisa berapa lama. Kamu akan bosan menunggu." Rindu masih berharap Ardian menyerah saja. Hatinya terlalu rumit untuk di jelajah lagi.
"Tidak, itu tidak akan terjadi, aku telah menunggu selama delapan tahun. Bahkan selama penantian itu, aku sanggup. Ini merupakan awal dari perjuanganku," balas Ardian yakin.
Rindu menghela napas. "Ardi, aku tidak ingin membahas hal ini lagi. Aku mohon kamu mengerti keadaanku," ucapnya tegas.
Ardian terdiam, mungkin ini memang terlalu cepat. Namun, kenapa Rindu harus selalu menghindar? "Maafkan aku. Hanya saja aku tidak mengerti, kenapa kamu menolak sekeras ini?"
"Bukan apa-apa. Terima kasih sudah datang dan menemani Kanaya bermain. Aku harus istirahat, aku lelah." Tanpa menunggu jawaban dari Ardian, dia kembali masuk ke dalam.
Ardian tersenyum pahit, sekeras apapun dia mencoba, Rindu masih kukuh dengan pendiriannya. Dia tertunduk menopang sikunya di lutut, menyanggah kepalanya saat berpikir.
"Di mana yang salah, Rin?, kenapa hatimu begitu keras? Kamu benar-benar tidak mencintaiku lagi?" batin Ardian.
Tanpa sengaja, Dahlia melihat perdebatan itu dari kejauhan. Dia hendak membereskan dapur dan memperhatikan dari jendela. Rindu masuk ke dalam dengan sedikit emosi dan melewatinya begitu saja. Seperti tak sadar dengan keberadaannya di sana. Dahlia tampak sedikit khawatir, dia pun menghampiri Ardian yang tertunduk sedang berpikir.
Dahlia duduk, dia menepuk bahu yang berhasil membuat Ardi tersentak. "Ardi."
Mendengar ada yang menyapa, Ardian pun menegakkan tubuhnya dan menoleh. "Mama, di sini?" tanyanya kaget. Panggilan Mama pada Dahlia memang sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu.
"Kamu dan Rindu bertengkar?"
Ardian tersenyum kecut. "Tidak, Ma. Kami hanya selisih paham aja."
"Mama tau, kamu tidak perlu sungkan. Ceritakan jika memang ada sesuatu yang penting. Mama lihat memang ada sesuatu di antara kalian." Dahlia langsung menebak, melihat raut wajah Ardian dan ekspresi Rindu barusan. Dia yakin dengan pemikirannya.
Ardian pun menghela nafas berat. "Ma, Ardi boleh tanya sesuatu?" tanyanya lirih.
"Tanyakan saja, Nak."
"Maaf sebelumnya, Ma. Ini mengenai Rindu."
"Mengenai masa lalunya Rindu?"
Ardian merasa ragu, takut jika salah bicara. "Maaf, Ma. Ardi bukan mau ikut campur, tapi …."
__ADS_1
Sepertinya Dahlia mengerti keadaan yang sebenarnya. "Kamu masih mencintai Rindu, kan?"
***