
***
Seperti biasa Kanya dan oma-nya akan mengantar Rindu hingga depan pintu. Baru saja Rindu hendak membuka pintu depan. Tiba-tiba ada orang yang mengetuk dari luar, lalu pintu itu pun dia buka.
"Selamat pagi, Nona Rindu," sapa seorang pria yang membungkuk hormat di depan pintu.
"Selamat pagi. Maaf, Anda siapa, ya?"
"Perkenalkan, nama saya Fahreja, panggil Eja aja, Non. Saya asistennya Tuan Ardian," jawab Eja seraya mengulurkan tangan. Rindu menyambut salamnya sesaat.
"Oo … ada perlu apa, ya?"
"Begini, saya diminta Tuan Ardian untuk mengantar Nona Rindu ke tempat kerja."
"Haah? tidak usah, Pak. Saya bisa berangkat sendiri," kata Rindu menolak.
"Tapi ini perintah Tuan Ardian, Nona. Saya akan gagal menjalankan tugas jika Anda menolak. Anda tahu apa yang terjadi jika Tuan Ardian marah? Mungkin saya akan disuruh berguling di tangga, Nona," ucap Eja berkelakar, tapi Ardian memang suka menghukum bawahannya dengan hal aneh.
Rindu serta Dahlia terkekeh kecil. "Apa? tidak mungkin sampai seperti itu," ujar Rindu.
"Memang seperti itu, Nona. Aneh ya? Tuan Ardian kalau marah memang aneh. Tapi saya harus menjalankan tugas," ucap Eja dengan wajah datar.
Dalam pikiran Rindu, omong kosong apa ini? Ini pasti ulahnya Ardian. Dia sangat hapal bahwa permintaan sahabatnya itu memang susah untuk ditolak. Kemudian Rindu melihat pada Dahlia meminta tanggapan. Wanita paruh baya di samping mengangguk meminta agar Rindu mengalah saja.
"Bagaimana, Nona, Anda mau ikut dengan saya sekarang?"
"Ya sudah kalau begitu." Rindu pun memutuskan untuk berangkat. Lagi pula hanya diantar saja, bukan?
Eja tersenyum, seperti yang diperkirakan Ardian sebelumnya. Rindu pasti akan menolak jika dengan cara biasa. Jadi dia harus sedikit mengakalinya.
"Naya, Sayang. Bunda pergi kerja dulu ya, muach."
"Ma, Rin berangkat dulu."
__ADS_1
"Ya, hati-hati, Rin."
Kanaya yang kegelian diciumi bundanya pun tertawa. Gadis kecil itu melambaikan tangan kepada Rindu. Lalu melayangkan cium jauh, hingga terdengar bunyi.
Ketika di dalam mobil Rindu merasa ada yang aneh dengan arah jalannya. Ini bukanlah jalan menuju ke tempatnya bekerja. Rindu pun mulai was-was. "Pak, ini bukan jalan ke tempat kerja saya. Anda mau bawa saya kemana?"
"Ke tempat kerja Nona yang baru," jawab Eja hormat.
"Tempat kerja baru? Maksudnya apa? Apakah Anda benar-benar asisten-nya Ardian?" tanya Rindu mulai curiga.
"Iya benar, Nona. Kalau Anda tidak percaya, tanyakan saja langsung kepada Tuan Ardian." Eja menoleh ke arah belakang dan tersenyum pada Rindu. Pria itu mencoba menyakinkan.
Rindu pun segera menelpon Ardian saat itu juga, dia sudah mulai kesal juga was-was. "Halo … Ardi. Benar kamu mengirim orang ke rumahku?"
Ardian menjawab, "Iya, Sayang. Kamu sudah dijemput? Sekarang sudah di mana?"
"Aku masih di jalan, tapi orang suruhanmu tidak membawaku ke sekolah musik."
"Benar, kamu akan bekerja di tempat baru."
"Aku yang mengatur semua, Sayang." Ardian terdengar seperti orang yang tidak bersalah. Tetap santai dengan nada manjanya.
"Kamu, ya! benar-benar menyebalkan. Waktu itu kamu membuatku berhenti dari Cafe. Sekarang kamu dengan seenaknya memindahkan tempat aku dari sekolah musik." Rindu murka.
Ini kedua kalinya Ardian membuat keputusan tanpa persetujuannya. Salah, ini sudah tiga kali, kemarin dia juga dicutikan atas permintaan Ardian. Baru beberapa hari pertemuan mereka kembali, Ardian sudah ingin mengatur hidupnya. Rindu mengerti jika Ardian sangat mencintainya. Tapi cinta Ardian ternyata membuatnya pusing. Dalam pemikiran pria itu, dia hanya ingin menjaga Rindu agar selalu dekat dengannya. Namun, hal itu sedikit membuat Rindu merasa senang. Jadi seperti ini kah jika seorang Ardian posesif padanya?
"Maaf, Sayang. Kamu pasti akan menolak jika aku bilang dulu sebelumnya," ujar Ardian.
"Aahh, kamu ini! Sekarang katakan di mana aku harus bekerja?"
"Di kantorku," jawab Ardian santai.
"Sudah aku duga. Bersiaplah, begitu aku sampai di sana, aku akan memberimu pelajaran!" ucap Rindu ketus.
__ADS_1
Panggilan telepon itu pun ditutup begitu saja. Rindu mendengus kesal. Eja yang melihat hal itu pun bergidik ngeri.
"Ba–bagaimana, Nona?"
"Jalan saja!" jawab Rindu sedikit membentak.
Dion terdiam, melihat Rania dari kaca spion. Wanita milik bosnya itu terlihat sangat garang bila marah. Semua ini karena ulah bos-nya sendiri. Dari apa yang pernah Ardian ceritakan sebelumnya. Rindu adalah wanita yang galak, dan itu benar adanya. Eja telah melihatnya sendiri. Sekarang dia hanya perlu menunggu, seperti apa amukan wanita itu pada Ardian.
***
Mobil telah memasuki pelayan gedung EM Entertainment. Perusahaan agensi musik terbesar ketiga dalam negeri. Gedung yang terdiri dari sebelas lantai ini, memiliki desain yang mewah. Selain itu, isi gedung ini dilengkapi dengan fasilitas seperti kedai kopi, restoran, tiga ruang rekaman dan lainnya.
Perusahaan ini juga sudah memiliki ruang produksi musik personal. Berbeda dengan tiga tahun yang lalu yang masih harus bekerja sama dengan perusahaan lain. Ardian benar-benar telah membawa kejayaan pada perusahaan yang di bangun papa-nya sejak lama. Hanya dalam waktu tiga tahun, Ardian sukses menjadi CEO perusahaan yang banyak disegani para pebisnis dalam negeri. Berkat kepintarannya dalam mengelola bisnis, sekarang sang papa bisa bersantai saja di rumah bersama istrinya.
Rindu mendongak melihat dari bawah hingga puncak gedung. Wanita itu seperti tidak percaya, Ardian sudah begitu sukses sekarang. Apakah dia harus merasa senang atau tidak karena hal ini?
Ketika Rindu memasuki lobi, semua mata yang ada disana meliriknya. Mereka seakan bertanya, siapakah orang yang datang bersama Eja, asisten kepercayaan CEO? Apakah dia talent baru? Bukankah para talent biasanya ditangani oleh manajer. Mereka semua melihat Rindu dengan ekspresi wajah yang berbeda. Ada yang kagum, terpesona, tatapan suka, bahkan ada juga tatapan sinis padanya.
Rindu membiarkan mereka semua memandang ke arahnya. Beberapa orang tersenyum dan wanita itu membalas. Pasalnya penampilan Rindu lebih mirip seorang talent atau calon artis baru. Ditambah lagi dengan parasnya yang mendukung pemikiran mereka semua. Mereka pikir orang yang datang bersama karyawan khusus CEO bukanlah orang biasa.
Dion mengajak Rindu naik ke lantai sebelas, kantor Ardian dan beberapa karyawan khusus CEO lainnya.
"Silahkan, Nona. Kantor Tuan Ardian ada di ujung sana."
Rindu pun melangkahkan kaki menuju arah yang ditunjuk oleh si asisten. Eja mengikuti langkahnya dari belakang. Seorang sekretaris yang duduk di meja depan pintu, menyambut mereka. Sang sekretaris menyapa seraya membungkuk. Rindu membalas sapaan itu dan tersenyum.
Eja mengetuk pintu tiga kali, lalu membukanya. Rindu mengintip sebentar ke dalam ruangan itu. Ardian sedang duduk di kursi kebesaran seorang CEO. Dia sedang serius bekerja memeriksa kertas-kertas laporan. Saat menyadari bahwa ada yang datang, pria itu pun menghentikan pekerjaan. Kedatangan Rindu sudah dinantikan sejak tadi. Lalu wanita itu pun masuk mengikuti langkah Eja.
"Sayang … akhirnya kamu datang," sapa Ardian saat menghampiri Rindu. Pria itu tersenyum tanpa rasa bersalah.
Rindu berdiri dengan berkacak pinggang. Eja yang melihat sambil menutup pintu menautkan kedua alis. Seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Apakah bos-nya baru saja tersenyum? Sayang? Panggilan itu begitu lembut, dia tidak pernah melihat Ardian bersikap semanis ini. Biasanya Ardian hanya memperlihatkan ekspresi wajah yang dingin, sedingin balok es.
"Stop …!"
__ADS_1
***