Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Mentariku


__ADS_3

***


Menjelang berakhirnya jam kerja perusahaan. Ardian kembali ke kantor untuk menjemput Rindu. Kali ini dia berencana akan membuat kejutan untuk wanita idamannya itu. Saat sampai di studio, Ardian tidak melihat Rindu di mana pun. Hanya Teo sendiri yang sedang fokus dengan lagu yang baru direkam tadi bersama Rindu.


"Bro, Rindu mana?"


Teo yang tidak sadar dengan kedatangan Ardian pun kaget, lalu mematikan audio segera. Pasalnya Ardian sudah lama tidak seakrab ini bicara dengannya. Selama dua tahun bekerja dengannya, Teo tidak pernah lagi melihat sisi Ardian yang dulu. Kali ini Teo akan bersikap biasa-biasa saja, sebenarnya dia senang Ardian sudah mulai berubah seperti dulu lagi.


"Rindu pergi ke toilet," jawabnya santai.


"Malam ini lo jangan lupa," sambung Ardian lagi masih di depan pintu.


"Erm … gue nanti langsung ke sana."


"Rindu gue bawa dulu, pekerjaannya sudah selesai, kan?"


"Ya bawa sana, Rindu juga belum gue kasih kerjaan."


"Ok, tadi itu lagu siapa? Samar-samar gue dengar seperti kenal suaranya?" tanya Ardian dengan mata menyipit.


"Bukan siapa-siapa!" jawab Teo kemudian. Rindu memintanya untuk merahasiakan masalah rekaman tadi pada Ardian. Jika waktunya sudah tepat Rindu akan memberi tahu.


"Kalau gitu gue pergi dulu," kata Ardian kemudian, tak peduli atau pun curiga.


"Oke."


Ardian pun pergi dan segera menuju ke toilet. Dia menunggu Rindu di depan pintu. Sejenak dia berpikir, sepertinya ini dulu sering terjadi. Apa Ardian memang hobi menunggu di depan toilet perempuan?


Tidak lama Rindu pun keluar. Saat membuka pintu toilet, dia melonjak kaget melihat Ardian sudah di depan matanya. "Sejak kapan dodol resek ini berdiri di sini?" batinnya.


"Ardi … mau apa kamu di sini?"


"Aku mau jemput kamu." Tangan Rindu langsung di tariknya menuju lift. Terpaksa Rindu mengikuti kemauan pria itu. Dari dulu Rindu memang sulit untuk menolak keinginan Ardian. Kecuali untuk urusan hatinya.


"Tapi ini belum waktunya pulang."


"Apa ada yang melarang CEO pulang cepat?" tanya Ardian dengan sikap arogannya. Sisi dominan yang selalu dia lakukan.


"Ciihh … CEO! orang-orang bisa heran dengan CEO balok es mereka jika bersikap seperti ini."

__ADS_1


"CEO balok es?" tanya Ardian kemudian.


Mereka sudah berada di depan lift, menunggu pintu lift itu terbuka untuk membawa mereka turun.


"Iya, hampir semua karyawan di sini menjuluki kamu begitu."


"Hahahaha, wajar saja, karena sang Mentari tidak ada di dekatku." Pria itu merasa puas dengan ucapannya.


"Mentari?"


"Ya … kamu!" Ardian menyentuh hidung Rindu dengan ujung telunjuk, dia tersenyum manis. "Hanya sang mentari yang mampu mencairkan es, dan sekarang mentari itu sudah ada di sini," katanya lirih dengan suara lembut.


Jawaban Ardian itu membuat Rindu terdiam. Ada sesuatu yang menggelitik dia rasakan. Ardian sekarang sangat ahli menggombal. Saat pintu lift itu terbuka, Rindu di tarik masuk begitu saja. Setelah masuk Ardian menekan tombol ke lantai sebelas. Rindu mengerutkan keningnya, bukankah tadi Ardian bilang menjemputnya untuk pulang. Lalu kenapa naik ke atas bukannya ke bawah?


"Ardi … bukanya kita mau pulang?"


"Aku berubah pikiran, ada hal yang harus aku kerjakan segera."


"Oo, baiklah." Rindu percaya begitu saja, tanpa curiga hal seperti apa yang dimaksud Ardian. Rindu melirik sekilas ke samping. Wajah Ardian tiba-tiba menegang.


Saat sampai di depan pintu kantornya. Ardian menyuruh Mira, sang sekretaris untuk pergi. Terserah mau kemana, asal jangan di lantai ini. Begitu pun juga dengan karyawan yang bekerja di lantai itu. Dalam sekejap lantai khusus CEO itu pun kosong.


Mereka pun masuk, dan Eja masih sibuk dengan setumpuk pekerjaan yang Ardian tinggalkan. Dalam pikiran Ardian, dia harus merombak kembali ruang kerjanya. Ruangan kerja Eja harus dan ruangannya harus tanpa kaca, itu sangat mengganggu. Akhirnya Eja juga diusir dari ruangan sendiri. Dengan bersungut-sungut Eja terpaksa meninggalkan pekerjaan yang masih menumpuk. Bos-nya ini memang suka membuatnya kerepotan.


"Karena aku tidak butuh mereka."


"Maksudnya apa?"


Rindu diminta untuk duduk. Ardian tersenyum, lalu berjalan ke arah lemari pendingin, dan mengambil dua kaleng minuman coklat. Minuman kesukaan Rindu. Wanita itu pun kaget saat Ardian berjalan ke arahnya dengan dua buah minuman coklat.


"Coklat? Sejak kapan kamu suka coklat?" tanya Rindu.


"Semenjak kamu pergi," jawab pria itu datar.


Ardian membukakan kaleng minuman itu. Rindu mengambil dan langsung meneguknya. Ardian juga melakukan hal yang sama. Setelah mereka meneguk beberapa kali. Ardian mengambil kaleng minuman di tangan Rindu dan meletakkan keduanya di meja.


"Rin," panggilnya lirih.


"Emm?"

__ADS_1


Ardian telah menahan gejolak di dadanya. Setelah banyak bercerita dengan Mama Dahlia tadi siang, dia merasa ingin memeluk wanita itu secepatnya. Dan kali ini dia ingin meyakinkan Rindu sekali lagi mengenai perasaannya.


"Aku ingin memelukmu!"


"Hah?"


Tanpa bertanya lagi, Ardian menarik Rindu ke dalam pelukannya. Pelukan yang begitu erat hingga membuat Rindu merasa sesak. Seketika itu Rindu tidak dapat menggerakkan tubuhnya. Ada apa ini? Kenapa ini sangat tiba-tiba. Pertanyaan itu muncul di benak wanita itu


"Ardi?"


"Sebentar saja … aku sangat ingin memelukmu. Hanya sebentar lagi."


Bukan hanya pelukan biasa. Ardian menyematkan kecupan hangat di puncak kepala Rindu. Kecupan bertubi-tubi sekaligus menghirup harumnya aroma rambut wanita itu. Rindu terdiam, hatinya menghangat tiba-tiba. Perlakuan Ardian padanya sangatlah romantis. Rindu tidak pernah diperlakukan seromantis ini, bahkan oleh mantan suaminya.


"Kamu baik-baik saja?" tanya Ardian tiba-tiba. "Aku tidak, aku sangat menginginkan kamu menjadi milikku saat ini."


"Ardi …!" Dia terdiam. "Mana mungkin aku bisa bilang aku baik-baik saja sekarang. Kamu berhasil membuatku berdebar, Ardi." Sambung Rindu dalam hati.


"Kenapa?"


"Aku …."


Ardian melonggarkan pelukannya. Lalu di tangkupkan kedua tangan ke pipi wanita cantik itu. Tatapannya tajam menusuk ke dalam mata indah milik Rindu, langsung mengarah ke relung hati dan jiwanya. Rindu berdebar sangat hebat.


"Rin, Sayang! Izinkan aku untuk menikahi kamu. Aku sungguh sangat ingin melindungi kamu, bahkan dengan nyawaku sekalipun. Kamu satu-satunya wanita yang bisa membuatku menggila. Aku ingin sesegera mungkin memberikan kebahagiaan untukmu. Aku ingin membuat mentariku kembali cerah. Aku sanggup jika kamu berada di pelukku setiap saat seperti ini. Semua kesedihanmu akan aku ambil. Semua penderitaanmu akan aku hapus."


"Ardi, apa maksudnya?" Rindu menurunkan perlahan kedua tangan pria di hadapan. "Penderitaan? Mama mengatakannya? Mama menceritakan tentang penyakitku?"


Pria itu pun mengangguk. "Iya … setelah aku menyaksikannya sendiri kemarin."


"Apa maksudnya? Aku sudah lama sembuh. Aku sudah melupakan semua kejadian itu!" Otak Rindu langsung bekerja dengan cepat, dia membantah kejadian kemarin siang.


"Rindu?"


"Mama bercerita tentang apa saja padamu? Kamu tahu semua kejadiannya?"


Ardian menggeleng kecil. "Tidak, aku belum sanggup untuk mendengarkan semuanya. Kamu benar, aku ternyata belum siap."


Rindu menghela napas.

__ADS_1


"Rin … kamu mau menikah dengan pria yang sangat menginginkan mentarinya ini?"


***


__ADS_2