
***
Bagas Setiawan—ayah biologis dari Kanaya. Pengedar narkoba yang berkedok sebagai pengangguran di hadapan Rindu. Wanita yang sedang memangku anaknya adalah Stella Cornelia—kekasihnya. Mereka sudah berhubungan lumayan lama, semenjak ia masih berstatus suami Rindu. Sedangkan wanita yang ada di belakang adalah Agnes Christie, orang yang sebelumnya pernah melukai Rindu dengan teh panas.
Tiga orang komplotan penjahat ini bekerja sama untuk menculik Kanaya dan akan membawanya ke luar negeri. Tujuan utamanya adalah uang, anak kecil seperti Kanaya bisa dijual hingga sepuluh juta dolar.
Bagas benar-benar sudah buta nalurinya. Ia sama sekali tidak mempunyai kasih sayang seorang ayah. Uang telah menutup pintu hatinya, yang ada sekarang hanyalah ambisi untuk menjadi kaya secara instan. Pria yang suka mabuk-mabukkan itu tidak pantas disebut sebagai manusia.
Identitas Stella sebenarnya adalah otak dari sindikat perdagangan manusia. Ia juga adalah agen pekerja luar negeri yang dipekerjakan secara ilegal. Banyak wanita yang telah tertipu olehnya. Menjanjikan pekerjaan dengan bayaran yang tinggi di luar negeri. Namun, nyatanya mereka dikirim untuk menjadi budak, pekerja bar dan pemuas napsu laki-laki.
Sedangkan Aganes hanya sedang sial dan diseret dalam kejahatan ini. Awalnya ia menolak, tapi karena ancaman dari Bagas, wanita itu terpaksa harus ikut. Niatnya semula hanya ingin memisahkan Rindu dan Ardian. Dia sangat kesal dengan sikap Ardian yang selalu mengabaikannya. Dan keberuntungan Rindu yang bisa mendapatkan pria yang dia inginkan sejak lama.
Mobil terus melaju melewati hutan dengan jalanan yang sangat gelap. Mereka menerobos jalan terpencil ini agar lepas dari kejaran polisi. Dalam waktu tiga puluh menit lagi mereka akan sampai, dan mereka akan menjadi kaya dalam sekejap mata.
Salah satu modus bagi pelaku penyelundupan barang ilegal adalah dengan memasukkannya melalui pelabuhan yang tidak resmi atau dikenal dengan pelabuhan tikus. Lokasinya yang jauh dan jarang dijangkau menjadi tempat keluar masuknya barang-barang ilegal seperti hewan, tumbuhan dan produk lainnya. Termasuk juga manusia, sindikat kejahatan ini sering menggunakan pelabuhan ini untuk melaksanakan aksi mereka.
Perdagangan dan peredaran gelap narkotika pun mungkin merupakan masalah kejahatan transnasional paling serius yang dihadapi oleh negara-negara Asia Tenggara. Selain itu, beberapa Negara di wilayah Asia Tenggara merupakan produsen utama narkotika atau menjadi tempat transit peredaran obat-obatan terlarang yang diekspor ke Amerika Utara, Eropa, dan wilayah Asia lainnya. Golden Triangle yang menggabungkan Thailand Utara, Myanmar Timur, dan Laos Barat, adalah salah satu wilayah penghasil narkotika terkemuka di dunia. Myanmar dan Laos masing-masing adalah negara pembudidaya opium poppy terbesar pertama dan ketiga yang kemudian diubah menjadi heroin. Sehingga, diperkirakan dua pertiga opium di dunia dibudidayakan di Asia Tenggara.
Para pelaku praktek perdagangan orang ini diduga menggunakan sistem sel yang terputus-putus di satu daerah ke daerah lain. Hampir serupa dengan cara sindikat narkoba beroperasi. Institusi Polri terus melakukan upaya peningkatan secara intensif di dalam mengatasi dan mencegah tindak perdagangan manusia.
Pihak kepolisian telah bersiap siaga di titik yang strategis. Transaksi malam ini harus bisa digagalkan. Petugas yang dibentuk secara khusus untuk menangani kasus ini, telah lama mencari keberadaan otak sebenarnya dari sindikat. Berkat laporan Ardian pihak kepolisian akhirnya menemukan titik terang, mereka akhirnya bisa mencari celah.
__ADS_1
Selang beberapa menit, rombongan Ardian dan Rindu sampai di tujuan. Mereka berjalan melewati jalan setapak, lalu bersembunyi di dalam semak-semak. Mobil mereka parkirkan jauh dari kawasan itu. Sebisa mungkin mereka mencegah kecurigaan para pelaku.
Belum ada satu pun kapal yang datang, pertanda transaksi masih belum dilakukan. Modus yang biasa mereka lakukan adalah menunggu di perairan. Begitu barang dagangan telah datang mereka akan berlabuh menjemput.
Rindu bersembunyi dalam dekapan Ardian. Sedangkan yang lainnya di belakang Ardian dengan posisi jongkok. Salah seorang petugas ikut berjaga bersama mereka, untuk memberi arahan yang tepat agar misi ini bisa berhasil.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Transaksi biasanya akan terjadi saat lewat tengah malam. Mereka harus menunggu beberapa jam lagi. Namun, ada perdebatan kecil antara Ardian dan Rindu.
"Ardi, kenapa kita tidak mencegat mereka saja di perjalanan? Kenapa harus menunggu lama di sini?" bisik Rindu seraya melirik petugas yang berada tidak jauh darinya.
"Polisi sudah mengincar mereka cukup lama, Sayang. Kita hanya perlu bersabar dan membantu sedikit saja," jawabnya juga dengan berbisik.
"Tapi, bagaimana dengan Kanaya? Ini terlalu lama. Kanaya pasti sedang menangis sekarang. Kasihan Kanaya, Ardi!"
"Tapi ini terlalu lama." Bisikan Rindu terdengar bergetar.
"Aku paham, polisi sudah melacak keberadaan mereka. Dan saat ini Kanaya baik-baik saja." Ardian berusaha meyakinkan Rindu.
"Bagaimana kamu bisa yakin?" Suara Rindu mengundang perhatian orang yang berada di belakang. Mereka semua hanya diam.
"Polisi sudah memantau mereka dari titik keberangkatan, Sayang."
__ADS_1
"Huuhhh, kamu tidak paham. Aku takut terjadi apa-apa pada Kanaya!"
"Berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa."
"Terserahlah. Kamu tidak paham dengan perasaanku."
Ardian hanya bisa bersabar, sikap keras kepala Rindu yang seperti ini jarang terlihat. Wajar jika Rindu bersikap seperti ini. Pria itu kembali merangkul pundak Rindu, tapi wajah wanita itu tidak menunjukkan reaksi apa pun. Malahan terlihat sangat marah dan kecewa, matanya tampak bergetar. Ardian dapat melihat samar walau dalam kegelapan.
Keadaan di sekitar sangat gelap dan sepi. Lokasinya yang terpencil membuat tempat itu sulit dijangkau oleh siapa pun. Sebuah telaga yang yang terhubung kelautan, tempat berlabuhnya speed boat kecil. Di tengah-tengah lautan, terdapat kapal yang lebih besar untuk menyeberang ke perbatasan.
Pelabuhan kecil yang terbengkalai itu berada di dekat hutan yang rimbun. Sebuah sungai yang langsung terhubung ke laut. Beberapa bangunan kayu yang tak mencolok tampak menyedihkan. Dulunya tempat ini digunakan penduduk sekitar untuk menangkap ikan. Dikarenakan banyak pabrik membuang limbahnya ke sungai ini, mengakibatkan semua ikan di sana mati.
Dermaga kayu yang sudah lapuk, berlubang di sana sini. Kapal-kapal kecil milik nelayan yang sudah tidak terpakai mengapung dengan terikat tak beraturan di tepi dermaga itu. Bahkan ada bangkai kapal yang terbalik dan tidak pernah lagi dilirik si empunya, membuat keadaan di sana terasa angker.
Ada beberapa regu kepolisian yang berjaga di berbagai titik persembunyian. Di perairan, hutan, dan jalan masuk menuju ke pelabuhan itu.
"Sayang, tenanglah. Aku pasti akan menyelamatkan Kanaya kita." Wanita itu masih tetap diam, ia menangis tanpa suara.
"Aku mengerti kecemasan kamu, Rin. Aku akan memastikan Kanaya selamat. Bila perlu, aku akan mempertaruhkan nyawaku.
Keadaan kembali sunyi. Tidak lama kemudian, sebuah speed boat datang dari arah laut. Secara bersamaan sebuah mobil hitam memasuki kawasan pelabuhan itu. Kapten Henry yang memimpin memberi isyarat agar bersiap-siap. Semua regu mulai bersiaga.
__ADS_1
***