Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Membekas


__ADS_3

***


Pukul tujuh pagi, di rumah sakit tempat Rindu dirawat. Setelah semua kehebohan yang terjadi dini hari tadi. Sekarang Mama Lia dan Tante Maya dengan sabar menunggu Rindu siuman. Pihak kepolisian juga sudah turun tangan dan mengusut kasus ini. Wanita itu terbaring lemah di ranjang dengan selang infus, oksigen serta alat pendeteksi detak jantung yang menempel di tubuhnya.


Mama Dahlia memandangi anak perempuan satu-satunya itu dengan perasaan bersalah. Tante Maya yang duduk berseberangan dengan kakaknya juga merasakan hal yang sama. Tangan putrinya disentuh, meraba bekas luka di pergelangan tangan itu. Sekujur tubuh Rindu dipenuhi luka. Hatinya pilu, tangisannya tidak lagi bersuara. Rindu menghilang selama empat hari dan kembali dalam keadaan seperti ini.


Tante Maya memandangi kakaknya itu. Kata maaf telah banyak kali terucap dari bibirnya. Melihat betapa menderita saudaranya karena keadaan putri satu-satunya itu dalam keadaan yang sangat memperhatikan. Maya merasa sangat bersalah, penyesalannya tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata.


"Maya … kenapa tubuh Rindu banyak luka seperti ini? Apakah …?" Mama Lia tidak sanggup meneruskan kata-katanya. Semua kemungkinan yang ia pikirkan sangat buruk.


"Kak … maafkan aku!" Lagi-lagi hanya kata itu yang bisa diucapkan, pemikiran mereka sama. Rindu seperti baru saja mengalami penganiayaan, mungkin lebih parah dari itu.


"May, sebaiknya kita tidak usah menanyakan apa pun juga pada Rindu."


"Benar kak, mungkin saja ini sesuatu yang …."


"Kakak juga tidak sanggup untuk memikirkannya May."


Tante Maya bangkit dari duduknya dan menghampiri sang kakak. Keduanya saling merangkul dan menguatkan. Semoga saja mereka dapat menerima kenyataan, seburuk apa pun itu. Mereka membisu, kata-kata itu begitu berat untuk diucapkan. Hanya tangisan dan belaian untuk saling menenangkan.


Dua hari kemudian, Rindu masih dalam keadaan koma. Namun, kondisinya fisiknya sudah mulai membaik. Hanya saja, dokter belum bisa memastikan bagaimana kondisi mentalnya ketika bangun nanti. Pihak kepolisian tidak lagi datang menanyakan kondisi dan meminta keterangan dari korban. Entah cara apa yang Red lakukan untuk menghentikan pekerjaan polisi. Kasus ini seperti berjalan lambat.


Pagi itu, cahaya matahari pagi masuk melalui jendela kaca rumah sakit. Mama Lia membuka tirai jendela agar sinarnya semakin terang. Dengan harapan, suasana pagi yang cerah bisa membangunkan Rindu dari tidurnya. Dia hanya sendiri menjaga Rindu pagi itu, semalam adiknya pamit pulang untuk mengurus rumah. Mama Lia memandangi wajah putrinya dari kejauhan. Dari sudut ruangan dekat jendela ia melihat mata Rindu seperti bergerak. Dia tersentak, dengan cepat ia mendekati anaknya.


Beberapa detik kemudian mata itu terbuka perlahan. Dengan tidak sabar Mama Lia langsung memeluk putrinya. Rindu mengangkat tangan dan meletakkan di punggung mamanya. Tangan yang masih lah itu mengusap tubuh mamanya perlahan.


"Mama senang, kamu akhirnya sadar, Sayang," ucap Mama Lia seraya membelai rambut anaknya.

__ADS_1


Wanita paruh baya itu kembali tegak. Ia tersenyum melihat ke arah putri kesayanganya. Rindu meraih masker oksigen yang menutupi mulut dan meletakkan ke bawah dagunya.


"Ma ...," panggilnya lemah.


"Iya, Sayang, kamu mau apa? Minum?"


Rindu mengangguk, Mama Lia segera mengambilkan air dan memberikannya kepada Rindu. "Ma ... sudah berapa lama aku di rumah sakit?"


"Dua hari, Sayang!"


"Ma, Rindu dilecehkan dan ...." Cairan bening mengalir dari sudut matanya, ia terisak-isak dalam pelukan mamanya.


"Sstttt, udah, Sayang, nanti saja kamu cerita. Mama panggil dokter dulu untuk memeriksa keadaan kamu." ucap Mama Lia, dibalas anggukan Rindu.


Setelah dokter selesai melakukan pemeriksaan. Semua selang yang menempel di tubuhnya dilepas. Kondisi fisik Rindu sudah mulai membaik, jadi ia tidak memerlukan alat itu lagi. Tubuh yang masih lemah itu bersandar di kepala ranjang yang setengah terangkat. Mamanya menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


Hingga mereka kembali pulang kerumah Rindu masih menunjukkan sikap wajar dan biasa-biasa saja. Setelah dua Minggu, hal aneh mulai terjadi. Rindu sering berteriak dalam mimpinya. keringat dingin selalu membasahi tempat tidurnya. Tapi ketika di bangunkan ia hanya diam.


"Kak, sebaiknya kita kembali membawa Rindu ke psikiater. Rindu seperti mengalami tekanan mental dalam dirinya."


"Kamu benar, Maya."


"Aku akan membuat janji dengan dokter."


Sudah hampir satu bulan Rindu lepas dari genggaman Ramon si pria psikopat itu. Dalam ingatannya, Rindu selalu membayangkan bagaimana selama empat hari tersiksa di dalam kamar suram itu. Rasa sakit yang ia rasakan di tubuhnya masih membekas di dalam ingatannya. Walaupun luka di tubuh telah sembuh tapi luka di batinnya tidak akan pernah hilang.


Rindu lebih banyak termenung, terkadang ia bisa marah dan mengamuk tanpa sebab. Dia sering berbicara sendiri jika tidak ada siapa pun di sampingnya. Semua hal yang dilihat Mama Lia dan Tante Maya pada di Rindu membuat mereka sangat cemas. Wanita itu mulai memperlihatkan sikap yang aneh dan membingungkan. Rindu sudah mulai menunjukkan telah mengalami depresi yang sangat berat.

__ADS_1


Dalam kasus yang Rindu alami. Mengalami kejadian buruk seperti pelecehan dan penganiayaan yang berat seperti ini. Memang sangat sulit untuk di tangani.


Ketika bahaya fisik mengancam otoritas tubuh kita, kemampuan untuk melarikan diri adalah suatu naluri yang tidak dapat dikendalikan untuk dapat bertahan hidup. Kondisi ini termasuk tubuh mencurahkan begitu banyak energi untuk mengeluarkan reaksi kabur atau balik melawan. Sirkuit pendek ini memantul dalam tubuh dan pikiran seseorang, yang dapat menyebabkan syok, disosiasi, dan berbagai jenis lain dari tanggapan bawah sadar sementara aksi kekerasan terjadi.


Korslet ini tetap berada dalam individu tersebut lama setelah kekerasan itu berakhir, dan dapat hinggap melekat dalam pikiran, tubuh, dan jiwa seseorang dalam berbagai cara.


Setelah semua gejala dan tingkah laku yang Rindu tunjukkan, dokter menyimpulkan bahwa Rindu mengalami gangguan traumatis yang sangat berat. Sakit traumantis ini disebut PTSD (gangguan stres pasca trauma). Dokter melakukan pengobatan dan terapi yang diperlukan untuk memulihkan kondisi Rindu saat itu. Mereka berharap ini semua semoga cepat berakhir.


.


.


.


.


.


"Sayang, kamu baik-baik saja?"


Rangkulan Ardian sangat erat di tubuh Rindu yang sedang terisak dalam tangisan. Ardian tampak gundah, takut dan cemas akan terjadi sesuatu. Kekasih hatinya itu tiba-tiba seperti ini setelah selesai bercerita.


"Rin ... Rindu ...." Ardian melepaskan pelukannya.


Tubuh Rindu yang tertunduk di goyangnya. Wanita itu hanya terdiam, isakan tangisnya berhenti, tetapi air matanya masih saja terus mengalir.


"Rindu, sadarlah!" teriak Ardian akhirnya.

__ADS_1


***


__ADS_2