Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Rindu pergi


__ADS_3

***


Ardian berlari dari parkiran begitu turun dari motor. Masuk ke dalam terminal satu, tanpa mempedulikan sekitar. Matanya awas melihat ke sekeliling. Mencari keberadaan gadis yang membuatnya kehilangan kendali. Kemanakah tujuan Rindu, penerbagan yang mana, kemana dia harus bertanya. Seluruh penjuru bandara dia lewati, mengecek daftar penerbangan, satu persatu.


Tak berapa lama, rombongan Momo Band pun sampai. Menyusul Ardian yang entah mencari Rindu ke mana. Mereka memiliki dua tujuan, mencari Rindu dan Ardian sekaligus. Tak ada satupun panggilan telepon yang diangkat, baik Ardian, Rindu ataupun Alan dan Alen.


"Ardi!" Panggil Dimas saat menemukan Ardian berlarian tanpa arah.


Ardian berbalik. "Dim, bantuin gue nyari Rindu!" Perintah Aridian dengan suara keras. Dia pun meninggalkan Dimas dan kembali berlari.


Dimas hendak menghentikan, tapi kalah cepat dari langkah Ardian. "Ardi! Lo gila!" Teriak Dimas akhirnya, tapi tetap membantu. Sambil terus mengawasi Ardian, dia membantu mencari Rindu.


Puas sudah Ardian membelah keramain manusia. Berlari dari board penerbangan, lalu kembali lagi ke asal. Mencari ke setiap sudut terminal keberangkatan. Nihil, Rindu tidak nampak di manapun. Sudah satu jam dia berkeliling, lututnya mulai lemas, dadanya terasa sesak. Akhirnya Ardian bersandar ke dinding, napasnya tersengal-sengal. Badannya luruh seketika, menumpukan siku di lutut mengacak-acak rambutnya.


"Aarrgghhhh … Rindu! Kamu kemana?" Teriakannya menarik perhatian sekitar. Ardian tidak memperdulikan setiap pasang mata yang memandang. Berkali-kali dia merutuki kebodohannya, menyayangkan ketidak pekaannya. Hingga buliran air hangat jatuh ke lantai. Mengenang di matanya dan jatuh berkali-kali.


"Aku cinta kamu, aku benar-benar mencintaimu. Kenapa kamu pergi tanpa mendengar kata-kata ini, Rin?" Ardian terisak dalam tangisan sejadi-jadinya. "Arrgggghhh …!" Raungnya sambil memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.


Wajah serta tubuh pria itu telah basah. "Maaf ... maafkan aku." Ardian merintih lirih. "Ardian, kamu bodoh!" Makinya pada diri sendiri.


Dimas sampai di tempat Ardian setelah mendengar suara teriakan. Tak lama Dian, Teo dan Bram yang sedari tadi ikut berkeliling mencari, melihat Dimas mendekati Ardian, mereka tampak kebingungan.

__ADS_1


Dimas pun mendekat Ardian, disusul Dian Teo dan Bram. Mereka mencoba untuk menenangkan pria yang baru saja kehilangan cintanya itu. Membujuk untuk segera pergi dari sana. Semua telah terlambat, pesawat itu sudah berangkat dua jam yang lalu. Dian baru mendapat pesan dari salah satu adik kembar Rindu. Walau masih tetap tidak tau kemana pesawat itu lepas landas, atas permintaan Rindu sendiri.


"Rindu …." Isak tangis Ardian masih terlihat. Bahunya terus bergerak naik turun.


Setelah tidak lagi bersuara, Ardian menengadah ke langit-langit. Dengan wajah yang masih basah dan mata merah. Dimas, Dian, Teo dan Bram menatap kasihan. Pukulan ini sangat menyakitkan bagi Ardian. Tentu saja, karena semua sudah terlambat. Akhirnya sekarang hanya penyesalan yang akan Ardian rasakan.


"Ardi …," panggil Dimas.


Ardian tidak bersuara. Bahunya berhenti bergetar. Kepalanya kembali tertunduk lemah. Dengan kaki dan tangan terkulai, seperti tak lagi bertenaga.


"Ardi … ayo pergi dari sini," ajak Dimas seraya bersila di samping Ardian. Sementara teman-temannya berdiri mengelilinginya dan Ardian.


"Iya, gue paham. Setidaknya kita harus pergi dulu dari sini," bujuk Dimas lagi.


"Iya … Ardi, di sini banyak orang. Sebaiknya kita pergi ketempat yang lebih tenang," sambung Dian kemudian, gadis cantik itu telah meneteskan air mata sedari tadi.


Teo dan Bram juga mengiyakan. Mereka sama-sama merasa sedih dengan kepergian Rindu. Mereka sangat terkejut dengan kepergian Rindu yang tiba-tiba. Rindu baru memberitahukan soal kepergiannya pada pukul tiga dini hari. Itupun ketika kabar datang, mereka semua masih terlelap. Saat pagi mereka mengetahui berita itu, secara bersamaan mereka bergegas mendatangi Rindu di rumahnya.


Ketika satu persatu dari mereka sampai di kediaman Rindu. Beberapa koper sudah berada di depan rumah itu. Ternyata Rindu benar-benar akan pergi. Dian menangis tersedu-sedu, Dimas memasang raut wajah kecewa. Teo juga merasa sangat sedih. Bram juga sangat menyayangkan keputusan Rindu yang tiba-tiba itu. Mereka pun terpaksa mengucapkan salam perpisahan pada Rindu satu persatu.


Yang sangat mereka tidak mengerti kini, kenapa Rindu harus diam-diam seperti ini. Bahkan tidak memberitahukan Ardian. Kenapa harus mendadak seperti ini. Meskipun mereka sangat kecewa, apalagi dengan perkataan Rindu yang tidak ingin diantar ke bandara. Namun, tidak ada yang dapat mereka lakukan, mereka sangat menyayangkan hal itu.

__ADS_1


***


Saat hari beranjak sore, Ardian pulang dalam keadaan lelah dan tidak bertenaga. Dia tidak ada semangat sama sekali. Ardian diantar Dimas pulang menggunakan mobil, sedangkan motor Ardian dibawa Teo mengiringi di belakang mobil Dimas. Mereka tidak mungkin membiarkan Ardian pulang sendiri dalam keadaan seperti ini. Setelah dari bandara tadi Mereka membawa Ardian ke studio. Seharian Ardian hanya murung, tidak mau membicarakan apa pun. Disuguhkan makan dan minum juga tidak mau.


Della, mamanya Ardian yang melihat sang putra pulang diantarkan Dimas merasa heran. Banyak pertanyaan yang ingin dia tanyakan. Tapi melihat kondisi putranya yang murung, Della mengurungkan niat. Dia hanya bisa bertanya kepada Dimas begitu Ardian memasuki kamarnya. Terlihat raut kekhawatiran di wajah sosok wanita itu.


Della mengajak Dimas duduk di ruang keluarga. Dimas menceritakan semuanya. Mengenai kepergian Rindu, dan ketidaktahuan Ardian akan kepergian gadis itu.


Pada waktu promnite beberapa hari yang lalu, Ardian telah menceritakan semua tentang perasaannya pada Rindu ke Dimas. Dan malam itu juga Ardian ingin segera menemui Rindu, tapi sayang mereka tidak bisa bertemu. Dimas sangat mendukung keinginan Ardian untuk menyatakan perasaanya. Pasalnya dari awal pertemuan mereka Dimas sudah yakin bahwa Ardian menyukai Rindu. Tapi ketika Dimas bertanya, Ardian selalu menyangkal. Entah apa yang ada di pikiran sahabatnya itu. Dimas juga tidak mengerti, kenapa Ardian sangat sulit mengenali hatinya sendiri.


"Jadi begitu ceritanya, Tante." Dimas mengakhiri perkataannya.


Della pun terdiam, mendengar penjelasan dari Dimas membuatnya berpikir keras. Ardian adalah putra satu-satunya. Hanya Ardian-lah harapan keluarga mereka. Hanya Ardian yang bisa meneruskan bisnis keluarga. Bagaimana jika Ardian mengalami depresi karena masalah ini? Dia harus segera menceritakan masalah ini kepada sang suami, agar Ardian tidak berlarut-larut dalam kesedihan terlalu lama.


Di sisi lain, di dalam kamar Ardian. Sosok pria muda itu berbaring tanpa memejamkan mata. Dia hanya diam dan merenung sedari tadi. Posisinya terlentang, kedua telapak tangannya menopang belakang kepalanya. Tatapannya mengarah ke jendela, dia memandangi langit yang perlahan berubah suasana. Ardian tidak lagi menangis, tetapi matanya masih nampak merah dan telah sembab. Dalam kepalanya hanya ada bayangan Rindu yang terus melintas. Dia mengingat setiap sudut wajah, gerakan, tingkah, suara, serta senyuman Rindu. Ardian benar-benar sedang dilanda kerinduan yang sangat berat.


Tidak ada hal lain lagi, selain menyalahkan dirinya sendiri.


"Rindu …."


***

__ADS_1


__ADS_2