
***
Rindu melirik Ardian yang masih diam melihat apa yang dilakukannya. Kanaya kembali tidur dengan tenang. Wanita itu berdehem setelah mengecup kening Kanaya singkat.
"Sebaiknya kamu ke kamar mandi dulu. Tidak baik ditahan, bisa susah seperti semalam," ucap Rinsu dengan nada mengejek, menyingung tentang kejadian tadi malam. Dia terkekeh setelahnya.
Ardian mendengus karena ucapan Rindu. "Ini masih pagi, kamu jangan membuatku ingin mengulanginya lagi, Aku lelah." Wajahnya berubah masam, ingat bagaimana dia mengatasi sesuatu yang mendesak kemarin.
Rindu menggeleng seraya tersenyum. "Maaf, Bie. Aku hanya berpikir, sesulit itukah? Sebaiknya jangan terlalu sering, itu tidak baik." Masih menahan diri untuk tidak tertawa, dia bangkit membenarkan selimut Kanaya.
Ardian pun ikut duduk. "Lalu, kapan kita akan menikah? Kamu tidak kasihan melihatku tersiksa seperti itu?" Dia menatap mata wanitanya penuh harap.
Rindu membalas tatapan mata itu dan berpikir. Semalam mereka memang mengobrol cukup lama. Membahas tentang rencana pernikahan. Namun, Rindu masih belum bisa menentukan tanggal yang tepat. Masih ada hal yang mengganjal di pikirannya. Bukan karena Ardian, mungkin karena masa lalu yang ingin ia tuntaskan terlebih dahulu.
"Sweety, jawablah."
"Maafkan aku, Bie. Bukan maksudku untuk menunda lama-lama, tapi aku hanya merasa masih belum benar-benar terbebas dari masa lalu. Ada hal yang masih mengganjal," ujar Rindu seraya tertunduk.
Ardian turun dari tempat tidur, lalu menghampiri Rindu. Dia berjongkok di hadapan wanita itu. Menggenggam tangannya dan mendongak menatap manik hitam kecoklatan mata Rindu.
"Apa karena pria itu?" tanya Ardian lembut.
"Emmm." Angguk Rindu menjawab pertanyaan tersebut.
Senyum tipis terukir manis di bibir Ardian. Seraya mengelus lembut punggung tangan Rindu, dia berkata, "Baiklah, kita akan menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu. Tapi kamu harus janji, jika ini sudah berakhir, kita menikah secepatnya."
"Iya, aku berjanji, Bie," ucap Rindu mengangguk pasti.
Ardian pun tersenyum, dia bangkit dan mengecup kening wanitanya. "Aku mulai terbiasa dengan panggilan itu, bisa ucapkan sekali lagi," bisiknya kemudian tepat di telinga Rindu.
"Bie, Bie. Bibie …." Rindu tertawa melihat reaksi Ardian."Kamu sangat lucu. Sudahlah, aku mau ke kamar mandi." Dia melepas genggaman tangan Ardian.
"Oke." Ardian bangun dan mengangkat Rindu tiba-tiba.
"Aaahhhh, Bie. Apa apaan kamu?" Rindu reflek mengalungkan tangannya di leher Ardian.
__ADS_1
"Sudah, diamlah. Aku hanya ingin melayani calon istriku," ujar Ardian berjalan ke kamar mandi.
Rindu pasrah, Ardian berhasil membuat hatinya berbunga-bunga. Dia pun menyandarkan kepalanya ke dada Ardian. Ardian mengecup kening Rindu penuh kasih.
***
Di sebuah ruangan tempat berkunjung tahanan di lapas. Rindu dengan ditemani Ardian menunggu kedatangan Bagas. Pria itu menggenggam tangannya, memberi kekuatan agar dirinya tidak larut dalam pikiran sendiri.
"Sweety, kamu baik-baik saja?" tanya Ardian lembut, menyentuh tangan Rindu.
"Iya, aku tidak apa-apa."
"Tetaplah tenang, kendalikan pikiranmu. Aku akan menemanimu di sini," ujar Ardian menatap lembut mata sang pujaan hati
Rindu pun mengangguk. "Baiklah." Dia merasakan nyaman dengan sentuhan dan tatapan Ardian yang lembut.
Beberapa menit kemudian, Bagas dibawa masuk ke dalam ruangan itu. Rindu langsung menghindar dari tatapan mata Bagas. Pria itu masuk dengan keadaan kaki pincang, dan dibantu oleh seorang petugas. Luka tembakan pada kakinya belum sepenuhnya pulih.
Tatapan mata Bagas tidak lepas dari kedua orang yang duduk di sana. Ardian membalas tatapan itu, tapi Rindu masih tertunduk menghindar. Untuk beberapa saat mereka terdiam. Bagas pun duduk di hadapan mereka.
"Apa kabar, Pak Bagas?" Ardian menyapa mengulurkan tangan hendak bersalaman.
"Pak Bagas?" Panggil Ardian lagi dengan telapak tangan masih terbuka.
Bagas pun mengalihkan pandangannya. "Seperti yang kau lihat sekarang, tidak baik-baik saja," jawab pria itu datar.
Ardian menarik tangannya kembali karena Bagas tak kunjung membalas uluran tangannya. Dia tersenyum tipis. Jika saja Rindu tidak ada saat ini, mungkin dia sudah menghajar pria itu.
"Bisakah aku berbicara dengan Rindu berdua saja?" tanya Bagas kemudian.
"Maaf, tidak bisa. Aku harus di sini menemaninya." Ardian membelai tangan Rindu yang saling bertaut, meremas satu sama lain.
"Ciiihhh." Bagas bersandar, merasa jijik dengan kemesraan yang Ardian perlihatkan.
"Apa yang ingin Anda bicarakan? Katakan saja." Pandangan Ardian suram menatap pria di hadapannya.
__ADS_1
Raut wajah Ardian berubah dingin. Bagas tidak menggubris perkataannya sama sekali. Lalu, pria yang telah resmi menjadi tersangka itu menaikkan tangannya yang diborgol ke atas meja.
"Rin … Mas mau membicarakan sesuatu. Bisakah kamu mengangkat kepala dan melihat Mas sebentar?" Bagas berkata sangat lembut. Tentu saja hal itu berhasil membuat Ardian semakin panas.
Rindu menoleh ke arah Ardian sesaat. Meminta persetujuan serta kekuatan melalui sorotan matanya. Ardian berusaha menahan diri, lalu mengangguk pelan. Rindu pun beralih pada Bagas. Mantan suami yang ternyata menipu dirinya selama bertahun-tahun.
"Tenanglah, Sweety," bisik Ardian yang masih terdengar jelas oleh Bagas.
"Ciiihhh, berlagak mesra," gumam Bagas pelan.
Rindu menarik napasnya. "Katakanlah, Mas. Aku siap untuk mendengarkan penjelasanmu."
"Mas tidak tahu, apakah Mas masih pantas untuk mengatakannya saat ini. Mas menjadikanmu sebagai alibi untuk menutupi kejahatan selama ini. Mas telah menyembunyikan identitas, dari semua orang. Bahkan keluarga Mas tidak pernah tau akan semua itu" ucap Bagas mengiba, seakan sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan.
Rindu terdiam, dia tak berani menatap pria itu langsung, tetapi tampak jelas kekecewaan dari raut wajahnya. Sakit yang dipendam selama ini, semakin parah dengan kebohongan yang baru saja terungkap.
"Rin … Mas tidak bermaksud untuk membohongimu. Tapi Mas harus melakukanya."
"Jadi, Mas Bagas membiayai aku selama ini dengan uang hasil pekerjaan itu?"
Rindu terlihat sedikit emosi, Ardian mengeratkan genggaman tangannya. Membuat Rindu meringis, tersadar dari emosi yang hampir menguasai pikirannya. Rindu berusaha untuk kembali tenang. Menghirup oksigen, mengatur pernapasannya lagi.
"Tidak, Mas tidak pernah memberikan itu padamu. Semua Mas habiskan untuk bersenang-senang," ujar Bagas melanjutkan.
"Lalu, bagaimana dengan Kanaya? Apa kamu masih meragukan dia sebagai putri kandungmu, Mas?"
"Tidak lagi. Mas telah salah selama ini, Rin. Mas minta maaf telah meragukanmu," ucap Bagas dengan penyesalan yang terpancar dari sorotan matanya.
"Aku tidak ingin menuntut apa pun, Mas. Semoga kamu bisa sadar dari semua perbuatanmu." Rindu berkata lirih, dia tidak ingin terus memperpanjang masalah ini. Apa pun itu, Rindu hanya ingin segera terbebas.
"Rin … awal pertemuan kita memang suatu kesalahan. Mas salah menjadikanmu tameng untuk hal jahat. Namun, seiring berjalannya waktu, Mas benar-benar menyukai kamu, Mas mencintaimu, Rindu." Bagas berkata seolah tidak peduli dengan keberadaan Ardian di sana.
Raut wajah Ardian sudah berubah kesal. Rindu pun menoleh pada Ardian setelah ucapan Bagas tersebut. Wajah pria itu tampak memerah menahan amarah.
"Rin, maukah kamu memaafkan Mas dan menunggu Mas keluar dari sini?" Bagas masih tak mau menyerah.
__ADS_1
Rindu tersentak menoleh pada mantan suaminya itu. "Maksud kamu apa?"
***