Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kanaya Hilang


__ADS_3

***


Mendengar betapa histerisnya suara Rindu di seberang sana. Kecemasan Ardian semakin besar, hatinya merasa tidak karuan.


"Kanaya dalam bahaya! Tolong putriku, Ardi, tolong selamatkan dia!" Rindu terus histeris. Menangis tersedu-sedu.


Kemudian wanita itu tersentak kaget. Terdengar bunyi hentaman benda dipukul dengan keras dari seberang sana. Ardian seperti sedang mengamuk. Helaan napas pun terdengar kuat.


Detik kemudian Ardian bersuara. "Eja, minta seseorang untuk melihat kondisi di rumah Rindu. Sesuatu mungkin saja terjadi di sana!" Sementara Rindu masih mendengarkan sambil terisak.


"Baik, Bos." Terdengar suara Eja menyahuti.


"Tambahkan kecepatan!" Suara Ardian terdengar keras saat memerintah. Setelah itu berbicara lembut pada Rindu. "Sayang, tenanglah, aku sudah meminta orang mengecek ke rumah. Sekarang aku sedang menuju ke tempatmu, jangan kemana-mana, diam saja di sana! Mengerti?"


Rindu bergumam sebagai respon. "Baiklah … Ardi, cepat lakukan sesuatu, aku takut Kanaya terluka."


Rindu duduk bersimpuh di rerumputan yang kering. Disekitarnya tidak ada tanda-tanda kehidupan. Dia berada di suatu tempat terpencil entah di mana.


"Jangan dimatikan. Tetaplah berbicara, aku akan segera sampai!" Sambung Ardian kemudian. Dia harus memastikan bahwa Rindu baik disana. Setidaknya dengan suara Rindu masih terdengar di sana, ia akan merasa lega.


Namun, lima detik tak ada sahutan. "Rin … Rindu. Kamu masih di sana?" Ardian memanggil berkali-kali Rindu yang terdiam.


"Mmm … Aku masih di sini."


"Teruslah berbicara, katakan sesuatu. Apa kamu sendirian sekarang?"


"Iya."


"Apa kamu terluka?"


"Tidak."


"Siapa yang membawamu tadi?"


"Bagas."


Suara wanita itu terdengar lemah. Ardian terus mengajak Risdu berbicara. Ia takut kekasihnya itu akan mengalami serangan panik yang berakibat pada penyakitnya.

__ADS_1


Lima menit kemudian, sebuah mobil datang dengan kecepatan tinggi. Rindu tidak menyadarinya. Ia terlalu fokus dengan suara Ardian yang mengajaknya mengobrol. Wanita itu memeluk lututnya, bergoyang ke depan dan belakang. Sementara tangan kanannya menekan ponsel di telinga, seolah tak ingin berhenti mendengar suara pria yang memintanya terus berbicara.


Mobil itu berhenti tidak jauh dari posisi Rindu berada. Ardian keluar dan berlari dengan cepat. Sementara ponsel masih melekat di telinganya. Tubuh wanita itu langsung direngku. Rindu terkejut, ia tidak menyadari kedatangan Ardian sema sekali.


"Ardi …. Aaaaggg …!"


"Sssttt … aku di sini, tenanglah!"


Eja–sang asisten keluar dari dalam mobil setelah selesai menerima panggilan. Ia ingin melaporkan sesuatu secepatnya, ia pun berlari. "Bos!"


Ardian menahan Eja dengan tangan terangkat. Dia tau akan ada laporan penting, jangan sampai Rindu ikut mendengarkan. Sangat bahaya untuk penyakitnya. Ardian mengisyaratkan agar Eja membisikkan informasi itu padanya. Ia menutup sebelah telinga Rindu dengan tangannya, sedangkan telinga satu lagi menempel di dada Ardian.


Ejja mendekatkan bibir ke telinga Ardian dan mulai menyampaikan informasi yang didapatnya tadi. Rahang Ardian seketika tiba-tiba mengeras. Tinju mengepal, sedang menahan amarahnya. Bagaimana cara Ardian memberitahu Rindu tentang masalah ini? Apa ini tidak akan berpengaruh pada kondisi mentalnya?


"Bos …."


"Panggil Dokter Anna datang ke apartemenku. Dan …." Ardian menghentikan kata-katanya, ia hanya memberi isyarat dengan tatapan matanya pada Eja agar melakukan apa pun untuk mengatasi masalah yang terjadi.


Ejja mengerti dengan maksud bosnya itu. Ia mengangguk dan segera kembali ke dalam mobil.


"Bagaimana dengan Kanaya?" tanyanya masih dengan terisak-isak.


"Kanaya … ada di rumah."


"Benarkah? Kanaya baik-baik saja?"


"Sebaiknya kita pulang dulu. Di sini kamu bisa kepanasan."


"Emmm," jawab Rindu lemah.


Ardian merapikan barang-barang Rindu yang berserakan. Kemudian membopong tubuh kekasihnya itu masuk ke dalam mobil. Kemudian mobil itu pergi meninggalkan lapangan luas yang jauh dari keramaian kota.


***


Beberapa jam kemudian.


Pintu kamar ditutup secara perlahan. Dokter Anna menghampiri Ardian yang sedang duduk menunggu dengan cemas di ruang tamu. Eja sibuk menelpon menanyakan informasi keberadaan Kanaya. Sedangkan Mama Dahlia telah dilarikan ke rumah sakit akibat pukulan benda tumpul di kepalanya. Pihak kepolisian juga telah dikerahkan untuk melakukan pencarian. Benar, sesuatu telah terjadi sebelum Bagas meninggalkan Rindu di lapangan itu.

__ADS_1


"Bagaimana, Dokter?" tanyan Ardian tidak sabar, Dokter Anna telah duduk di hadapannya.


"Rindu sudah tertidur. Serangan kali ini bisa sangat berbahaya. Saya telah memberi obat dengan dosis yang cukup tinggi. Semoga ini bisa sedikit membuatnya tenang." Dokter Anna menjelaskan.


"Hahh, syukurlah. Sekarang kita harus memikirkan bagaimana memberitahu Rindu tentang berita ini." Ardian memijat keningnya yang terasa sedikit pusing.


"Sebaiknya dirahasiakan dulu. Kondisi mentalnya sedang tidak stabil."


Ardian mengusap wajahnya dengan kasar. Ia tertunduk menopang kening dengan tangannya yang menaut. Sewaktu ditemukan tadi Rindu masih berbicara. Namun, tiba-tiba di dalam mobil Rindu diam dan tatapannya kosong.


"Bos!" Eja datang menghampiri Ardian dengan berlari kecil.


"Bagaimana?" tanya Ardian menegakkan badannya.


"Polisi sudah mulai menyisir seluruh kota. Beberapa regu mencari di berbagai tempat. Kita hanya perlu menunggu informasi selanjutnya." Lapor Eja.


"Lalu, bagaimana dengan keadaan Mama Lia?" Tanya Ardian lagi.


Eja pun melanjutkan. "Dokter sudah melakukan pertolongan, ada luka memar di tubuh dan kepala bagian belakang. Sekarang masih belum sadarkan diri. Alan dan Alen yang menemani beliau di rumah sakit." Kemudian dia terdiam, menunggu perintah selanjutnya. "Selanjutnya bagaimana, Bos?"


"Kita tunggu informasi dari kepolisian. Biarkan Alan dan Alen menjaga mama mereka dengan tenang. Sampaikan pesanku bahwa aku belum bisa datang, Rindu membutuhkan aku di sini. Jangan sampai Mama Lia syok mendengar berita ini. Minta mereka tetap waspada!" Ardian memberi Arahan.


"Baiklah, Bos."


Ardian bersandar ke sandaran sofa di belakang. Ia memijat pelipis yang kembali terasa berdenyut. Sebenarnya apa tujuan Bagas sehingga tega menyakiti putrinya sendiri? Ardian berpikir keras, pria seperti apa yang pernah menikahi Rindu. Pernikahan seperti apa yang ia berikan, sehingga Rindu harus mengalami hal seperti ini.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Sudah hampir dua belas jam sejak Kanaya dinyatakan hilang. Rindu masih belum bangun dari tidurnya. Ardian memandangi wajah cantik Rindu yang tertidur pulas, dan menggenggam tangan wanita itu. Dia ikut berbaring di sebelah kekasihnya itu.


Raut wajah Ardian tampak begitu kelelahan. Ia tidak mau meninggalkan Rindu walau sedetik pun. Bahkan ia belum mengisi makanan apa pun ke dalam perutnya. Sedangkan Eja telah menyiapkan makanan untuk di luar. Namun, Ardian menolak untuk makan. Rindu belum bangun, Kanaya belum ditemukan. Perasaannya campur aduk saat ini. Cemas, takut, dan marah menjadi satu.


Dokter Anna telah pergi meninggalkan apartemennya dari tadi siang. Kemungkinan Rindu akan bangun setelah reaksi obat penenang itu habis. Mungkin akan sampai besok paginya. Dokter Anna juga memberikan pesan agar Rindu merasa tenang.


Namun, Ardian masih merasa bingung. Jika Rindu bangun apa yang harus ia katakan. Bagaimana caranya agar Rindu bisa menerima berita ini tanpa mempengaruhi mentalnya?


Tanpa sadar air matanya jatuh. "Sayang ...."


***

__ADS_1


__ADS_2