Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Cara cinta


__ADS_3

***


Dua jam kemudian, Rindu akhirnya bangun dan keluar dari kamar. Ardian yang tengah duduk di sofa ruang keluarga mengekori Rindu dengan matanya. Rindu langsung menuju kamar mandi, dan setelah itu menghampirinya


"Ardi, kamu masih di sini?"


Pertanyaan Rindu sontak membuatnya kaget. Wanita itu bersikap biasa, seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Sepertinya dia telah melupakan kejadian tadi siang. Apakah ini normal?


Ardian mengingat informasi yang dia temukan tadi. Jika ini benar, PSTD yang Rindu alami termasuk ke dalam tipe kedua yaitu menghindar. Yang cenderung menunjukan sikap, berusaha untuk tidak memikirkan apa yang dialami. Tidak ingin berbicara mengenai kejadian tersebut. Menghindari siapapun dan apapun yang berkaitan dengan kejadian yang menyakitkan, termasuk menghindari tempat.


Ardian bergumam pelan. "Aku … ya." Dia ingin bertanya, tapi sebaiknya menghindari topik yang ingin dibicarakan.


Rindu-pun duduk di sebelah Ardian dan pria itu memiringkan tubuh menghadap ke Rindu. Ardian paksakan untuk tersenyum. Walaupun sebenarnya hati remuk melihat kondisi Rindu yang sangat memprihatinkan.


"Maaf, ya … tadi aku juga ketiduran waktu menidurkan Kanaya," ucap Rindu.


"Jadi begitu, sepertinya Rindu mengganti ingatannya sendiri," batin Ardian menyimpulkan.


"Oya, Ardi, kita makan di luarnya lain kali aja, ya?"


"Kenapa?"


"Aku capek, lebih baik istirahat di rumah, tadi, kan udah main seharian, besok aku juga harus kerja. Kalau bukan kamu yang paksa aku tidak akan cuti hari ini. Ternyata benar, ya … kalau bos itu bisa berbuat sesuka hati," tutur Rindu tampak kesal.


Ardian terkekeh geli. "Ok, nggak masalah, Sayang."


Wanita itu pun mendengus. "Oya, Kanaya mana? Aku bangun tadi udah nggak ada?" tanya Rindu kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh sudut rumah.


"Mama, Alan dan Alen bawa Kanaya main di taman kompleks."


"Oo … kalau gitu aku mau mandi dulu. Kamu tunggu sebentar, setelah itu aku akan masak untuk makan malam," ujar Rindu ingin beranjak.


Namun, Ardian menahan dan mendekatkan wajahnya. "Rin, mandi sama kamu boleh?" bisik Ardian di telinga Rindu.


Seketika itu Rindu mendorong Ardian menjauh hingga sampai ke sudut sofa. "Hiisss ... jangan harap!" katanya ketus lalu segera beranjak dari sana.

__ADS_1


Ardian menyunggingkan senyumnya. "Sayang, beneran nggak mau mandi bareng?" Godanya sedikit berteriak.


Rindu mendengus mendelik padanya, Ardian tergelak. Pria itu menghela nafasnya berat, setelah Rindu menghilang. Lalu menumpukan sikunya di kedua lutut dan menopang kepala dengan kepalan tangan yang saling bertaut. Perasaannya campur aduk sekarang. Bagaimana mungkin dia sanggup melihat wanita yang dicintainya menderita seperti ini. Ardian tidak sanggup, tapi dia harus tetap kuat agar Rindu bisa kuat.


***


Setelah makan malam, Ardian mengajak Dahlia mengobrol lagi. Mereka sekarang duduk di ruang tamu, sedikit jauh dari keberadaan Rindu. Alan mengajak Rindu menemani Kanaya bermain di kamarnya. Sedangkan Alen bertugas mengawasi sekiranya sang kakak keluar mendatangi mereka.


"Ada apa, Ardi?"


"Ma … ini mengenai Rindu, Ma. Bagaimana dengan pengobatannya selama ini?" tanya Ardian lirih. Tubuhnya terlihat seakan tidak bertenaga, lemas.


"Haahhh … itulah yang Mama cemaskan, Rindu tidak mau lagi menemui psikiater. Dulu dia pernah menjalani terapi ketika gejala pertama muncul, tapi pengobatanya tidak sampai selesai. Dia beralasan sudah merasa baik-baik saja. Rindu bersikeras, dan dokter terpaksa hanya memberi anti depresan," ungkap Dahlia sedih.


"Sudah berapa lama, Ma? Apakah itu tidak berbahaya?"


"Empat tahun. Mama sudah berkonsultasi ke dokter. Selama Rindu merasa bahagia, gejala itu tidak akan muncul. Asalkan dia selalu rutin meminum obat. Dokter juga telah mengurangi dosis obat dan gejala itu tidak pernah muncul lagi hingga tiga bulan lalu."


"Ma, Ardi sudah mencarikan dokter terbaik untuk Rindu. Beberapa hari lagi, kita akan menemuinya. Mama harus menceritakan lebih dulu kondisi Rindu pada dokter. Dia harus segera sembuh."


"Iya, Ma. Ardi berjanji akan menjaga Rindu dan Kanaya juga."


"Kamu harus kuat, ya. Mama yakin kamu bisa membahagiakan Rindu, kamu satu-satunya harapan Mama sekarang," ucap Dahlia sendu.


Belum sempat Ardian menyelesaikan obrolan, Alen datang memperingatkan mereka bahwa Rindu sedang menuju ke sana. Mereka pun bersiap merubah mimik muka. Dahlia menyapu sudut matanya yang telah basah. Ardian menaikkan bahunya hingga kembali tegap, Alen juga demikian. Kemudian mereka tertawa seolah-olah sedang membicarakan hal yang lucu.


"Apa aku ketinggalan sesuatu yang lucu? Kenapa kalian semua tertawa?" Rindu menghampiri dan duduk di samping mamanya.


Ardian yang di sisi satunya, menjawab, "Aku menceritakan pertemuan pertama kita dulu."


"Apakah itu sesuatu yang lucu untuk diceritakan?"


"Tentu saja, kamu tidak ingat bagaimana matamu seakan melompat keluar saat memelototiku?"


Mereka pun tertawa terbahak-bahak, Rindu mendengus kesal. "Ardi!" pekiknya geram lalu berkacak pinggang.

__ADS_1


Mereka pun kembali tertawa. Rindu kembali mendengus dan memelototi pria itu. "Ardi! Awas saja kamu cerita yang tidak-tidak."


"Mama, lihat ... seperti itulah matanya dulu. Terlihat ingin melompat dari wajahnya."


"Ardi …!" Rindu kemudian mencubit lengan Rian dari belakang mamanya.


"Aauu, sssttt … Mama lihat, calon menantu kesayangan Mama dicubit sampai perih gini."


Dahlia menggeleng dan tersenyum melihat kelakuan mereka. Dia pun bangkit dan membiarkan keduanya. Lebih baik bermain bersama cucu kesayangan. Dahlia bersyukur Ardian bisa membuat Rindu tertawa.


***


"Aku mencintaimu, tanpa awal, tanpa akhir. Aku mencintaimu karena kamu telah menjadi organ yang sangat dibutuhkan dalam tubuhku. Tanpa rasa takut. Tanpa harapan. Tidak menginginkan imbalan, kecuali bahwa kamu mengizinkan aku untuk menjaga kamu di sini di hatiku, agar aku selalu tahu kekuatan kamu, mata kamu, dan roh kamu yang memberikanku kebebasan dan membiarkanku terbang." – Jamie Weise


Ketika orang yang dicintai menjadi lemah karena ketidakmampuan. Disitulah kekuatan cinta yang telah terkumpul berjuang untuk menguatkan. Cahaya mempunyai caranya tersendiri untuk menghibur malam dari sepi. Begitu pula dengan cinta. Cinta akan menemukan cara sendiri untuk menguatkan sisi lemahnya. Jika orang yang dicintai menjadi lemah, maka yang menjadi penguat adalah cinta.


***


Tubuh mungil Kanaya merayap menaiki tubuh bundanya. Kebiasaan saat bangun tidur, gadis kecil itu akan tengkurap di tubuh Rindu. Lalu dia akan menempelkan telinga tepat di dada. Mendengarkan detak jantung Rindu, seperti mendengarkan musik yang menenangkan baginya.


Seperti biasa, Rindu akan merangkul sang putri bila dia merasakan tubuhnya ditindih. Dia pun mengintip dari celah-celah bulu mata. Dibiarkan dulu sebentar hingga Kanya merasa puas. Gadis kecil itu tersenyum ketika telinga menempel di dada Rindu. Biasanya Kanaya akan minta digendong setelah Rindu menyapa. Kemudian mengecup kening putrinya.


"Selamat pagi … Kanaya cantik."


Kanaya mengangkat kepala, lalu merentangkan tangan. Rindu pun bangkit dari tidurnya, membawa Kanaya langsung ke kamar mandi. Cara yang sangat unik, gadis kecil itu mampu merubah suasana hati seseorang dalam sekejap.


"Hari ini bunda kerja, ya, Sayang. Naya sama oma di rumah," kata Rindu seraya mengecup pipi putrinya.


"Bunda … cepet pulang."


"Iya, Sayang. Naya jangan nakal, ya sama oma."


"Iyah, Bunda." Gadis kecil itu mengangguk.


***

__ADS_1


__ADS_2