
***
Rindu yang berada dalam kendali Ramon, pria yang selama dua hari menyiksanya. Menerima dengan pasrah segala kesakitan yang didapat tubuhnya.
"Kamu menyukainya, Sayang? Ahhh … kamu sangat nikmat, suaramu terdengar seksi sekali." Pria itu semakin buas, dia menguasai permainannya.
"Hen … ti … kan!" Rindu tidak kuasa lagi menahannya, tubuh dan pikirannya tidak sejalan lagi.
"Hentikan? Tubuhmu bahkan sangat menikmatinya. Aaaahhh … aku akan segera mengakhiri ini."
Tatapan mata Rindu sayu, tangannya yang terikat mengepal dengan kuat. Dia membiarkan tubuhnya dikuasai pria yang haus akan kepuasan itu. Rindu tak sanggup lagi melawan. Keringat sudah membasahi sekujur tubuhnya. Sudah lebih dari satu jam dia dipacu tanpa henti. Teriakan kesakitan, bahkan desaahaan sialan itu berulang kali terdengar dari mulutnya. Tubuh bagian bawahnya terasa sangat sakit akibat terjangan Ramon yang buas.
Erangan terakhir pria itu mengakhiri permainan. Tangan menggenggam kuat dua benda menonjol milik Rindu yang pas di tangannya.
Air matanya telah kering, menangis juga percuma. Kebencian semakin dalam menguasai pikiran, benci akan perbuatan terkutuk yang dia dapatkan. Benci akan hal menjijikkan yang dia rasakan. Benci kepada tubuhnya yang menikmati semua perbuatan pria bejat itu. Rindu terkulai lemas, tubuhnya tidak berdaya lagi.
"Aku tidak pernah merasakan yang seperti ini. Kamu benar-benar membuatku puas, Sayang."
Tatapan mata Rindu tak berdaya melihat ke arah pria itu. Tubuhnya dibiarkan tergeletak tanpa penutup apa pun. Ramon melepas ikatan rantai di tangannya. Tersisa bekas kemerahan di kedua pergelangan tangannya. Menumpuk di goresan borgol yang sebelumnya. Luka yang baru akan mengering telah terluka lagi.
"Mau apa lagi kamu!" sentak Rindu ketika pria itu akan mengangkatnya.
"Aku akan membersihkan tubuhmu," jawabnya datar, Ramon melingkarkan tangan Rindu ke lehernya.
Tubuh lemah wanita itu dibawa ke kamar mandi, lalu didudukkan ke dalam bathtub. Ramon menyalakan keran air hangat dan mulai membilas tubuh Rindu perlahan. Pria itu kembali bersikap lembut. Rindu membiarkan, dia tidak peduli apa pun yang akan dilakukan Ramon padanya. Menggerakkan tubuhnya saja ia tidak sanggup. Rindu meringis ketika Ramon membersihkan bagian bawahnya.
"Sakit? Aku akan lakukan dengan perlahan." Wajah pria bengis itu terlihat datar. Dia belum pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya. Entah kenapa tiba-tiba dia ingin bersikap lembut. Rindu adalah wanita pertama yang dia perlakukan seperti ini.
"Aku tidak suka tidur dalam keadaan kotor," katanya tiba-tiba saat melihat Rindu memperhatikan apa yang dia lakukan. Rindu membisu, lebih memilih memejamkan matanya.
__ADS_1
Setelah selesai Ramon memakaikan bathrobe dan menggendongnya kembali ke tempat tidur. Rindu dibaringkan perlahan, lalu pria itu menyelimutinya. Tidak terlihat ekspresi apa pun dari wajah wanita itu. Wajah yang dulunya selalu tersenyum telah kehilangan cahaya. Rindu pun memejamkan mata menghindari tatapan pria kejam itu. Ramon kembali ke kamar mandi dan membersihkan dirinya. Setelah selesai dia pun membaringkan tubuh di sebelah Rindu dan tidur dengan tenang.
Masih dalam keadaan terpejam Rindu merasakan pria itu ada di sebelah, tubuhnya sedikit terhenyak. Berbeda dari sebelumnya, Ramon selalu pergi meninggalkannya sendirian di kamar itu. Karena sudah sangat lelah, Rindu pun membiarkan, hingga dia terlelap.
Dalam tidurnya, Rindu merasakan seperti sedang di sentuh seseorang. Permukaan kulit pergelangan tangannya terasa perih dan dingin seperti diberi sesuatu. Rindu melenguh, lalu membuka mata. Seorang wanita berjubah putih tampak duduk di samping, sedang mengoleskan sesuatu pada lukanya. Rindu meringis merasakan itu sangat perih.
"Anda sudah bagun, Nona. Maaf saya membuat Anda tidak nyaman," ucap dokter itu.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Rindu dengan suara lemah.
"Saya sedang mengobati luka Anda, Nona." Dokter wanita itu kembali mengoleskan obat dan membalut luka-luka Rindu. Pada tangan dan kakinya yang tergores oleh besi borgol yang diikatkan padanya beberapa waktu ini. Dokter itu tersenyum pada Rindu.
"Maksudku, kenapa kamu bisa ada di sini?" Rindu masih menahan rasa sakit di pergelangan tangannya.
"Tuan Ramon yang meminta saya datang, Nona. Saya adalah dokter pribadinya."
"Saya hanya melakukan tugas, Nona. Boleh saya tahu nama Anda?"
"Saya Rindu," jawabnya datar, Dokter itu tersenyum lagi padanya.
"Nona Rindu … perkenalkan nama saya, Lisey."
"Kenapa kamu memanggilku, Nona?" tanya Rindu kemudian.
"Saya sudah lama bekerja dengan tuan Ramon. Ini pertama kali saya mengobati luka seorang wanita untuknya."
"Oohh … apa itu sesuatu yang bisa membuatmu memanggilku Nona?" Dia mengangkat sudut bibir kirinya, nada bicaranya terdengar sinis.
"Tentu saja, Nona Rindu. Bagi semua orang yang mengenal Tuan Ramon, Anda terlihat sangat spesial," terang Lisey lembut.
__ADS_1
"Spesial? Haha … ini terdengar lucu, kamu tidak melihat di sekujur tubuhku? Apakah yang seperti ini sesuatu yang spesial?" Rindu merasa jijik mendengar tuturan Lisey mengenai Ramon, pria brengsek yang telah menyiksanya.
"Nona, mungkin saat pertama bertemu dengan Tuan Ramon adalah sesuatu yang menyakitkan. Tapi, perhatiannya kepada Anda tidak pernah dia tunjukan kepada wanita mana pun." Lisey menjawab dengan hati-hati.
"Huuh … aku bahkan ingin segera mati di tangannya. Dia telah menghancurkan hidup dan masa depanku!" Apapun yang Rindu dengar tentang Ramon, membuatnya benci.
Lisey terdiam kemudian. Dilihat dari bekas luka yang ada di tubuh Rindu. Dokter itu merasa memang telah terjadi penyiksaan yang dilakukan oleh Ramon, sangat mengenaskan. Dia pun merasa kasihan, bahkan dia dapat membayangkan bagaimana tindakan buas Ramon ketika memperlakukan Rindu.
"Kenapa, Dokter Lisey? Anda sudah merasa kasihan?" tanya Rindu datar, ekspresi wajah Lisey terlihat tegang.
"Ma-maaf, Nona Rindu. Saya memang merasa kasihan. Saya dapat merasakan bagaimana rasa sakit yang Anda alami."
"Oohhh … benarkah? Apa kamu juga merasakan bagaimana sakitnya ketika si brengsek itu memperkosa dan merenggut kehormatanku?"
Lisey tersentak, dia menghentikan kegiatannya membalut tangan Rindu dengan perban. Dia tidak memikirkan itu, yang dia tahu selama ini Ramon tidak pernah mau menyentuh wanita yang masih suci. Namun, baru saja Rindu mengatakan tentang kehormatannya yang direnggut. Lalu, kenapa sekarang Ramon melakukannya?
"Dokter Lisey … maukah kamu membantuku keluar dari neraka ini? Bisakah kamu menolongku kabur?" tanya Rindu kemudian.
Dokter itu kembali tersentak, dia tidak sanggup menjawab. Rindu memperhatikan setiap gerakan Lisey saat mengobati lukanya. Tatapannya dingin, dia dapat menilai apa yang dipikirkan dokter itu. Tentu saja, permintaanya itu pasti sesuatu yang mustahil untuk dilakukan. Rindu tersenyum sinis.
"Saya sudah selesai Nona." Dokter Lisey merapikan kembali peralatan dan memasukkan ke dalam tas kerjanya.
"Kamu tidak memberiku obat untuk di minum?" tanya Rindu sinis.
"Tidak, ini hanya luka luar, Anda tidak perlu obat." Lisey berkata setelah dia pikir Rindu menanyakan obat untuk lukanya.
"Berikan aku obat pencegah kehamilan."
***
__ADS_1