Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Menangislah


__ADS_3

***


"Rin ... sana naik, Teo mau nembak kamu itu," bisik Dian.


"Apaan sih, Teo ada-ada aja, ngapain dia ikut acara begini?"


"Udah … kamu naik aja. Teo udah lama ngejar-ngejar kamu, kamu terima aja sekarang. Daripada sakit hati terus, nggak ada salahnya juga, kan?" bujuk Dian.


Dengan ragu-ragu Rindu memberanikan diri naik ke panggung. Sepertinya semua sudah Teo rencanakan. Dengan menunjukkan di depan banyak orang, kecil kemungkinan Rindu akan menolak. Teo selama ini selalu perhatian padanya. Rindu tahu, Teo sangat menyukainya, hanya saja selama ini dia selalu menghindar. Kali ini Rindu tidak bisa lari lagi. Dian benar, tidak ada salahnya, kan? toh dia juga menyukai Teo walaupun sebagai teman.


Di tempat Ardian berada, teihat mimik mukanya telah berubah, memandangi Rindu naik ke panggung. Tatapannya tajam seakan menusuk.


Dania yang telah fokus pada pertunjukan tidak melihat reaksi Ardian. "Baguslah, Rindu bukan ancaman lagi sekarang," batin Dania. Selama ini Dania selalu merasa Rindu-lah penghalang hubungannya dan Ardian.


"Rindu, terima kasih udah mau naik." Teo tersenyum senang. Tekatnya sudah bulat, malam ini Rindu harus jadi pacarnya.


"Teo ... kamu apa-apaan sih? Malu tau nggak?" Rindu menghampiri Teo dan berbisik.


"Nggak masalah. Asal kamu nggak nolak, malu juga nggak apa-apa. Ini untuk yang terakhir kalinya, jika kamu menolak, aku siap menyerah," jawab Teo juga berbisik dengan percaya diri.


"Teo, gimana aku bisa nolak kalau sudah begini. Kamu laki-laki baik, aku juga nggak mau menyakiti kamu," batin Rindu. Dia sudah merasa sedikit canggung, tersenyum setengah dipaksakan.


Teo mengambil buket mawar merah yang

__ADS_1


telah dipersiapkannya. Lalu memposisikan dirinya selangkah di depan Rindu. Teo menyodorkan bunga itu. "Rindu, awal bertemu, kamu terlihat istimewa di mataku. Senyumanmu seketika itu menggetarkan hatiku. Tidak hanya paras, aku juga menyukai pribadimu. Berulangkali aku mencoba mendapatkan hatimu, tetapi kamu selalu menolak. Untuk yang terakhir kalinya aku mencoba menyentuh hatimu lagi. Aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman. Hari ini aku ingin menjadikanmu kekasih!"


Teo diam sejenak mengatur napasnya. "Rindu … maukah kamu menjadi pacarku?"


Rindu terdiam, berusaha tetap tenang. Tidak disangka Teo seberani ini di hadapan banyak orang. Pria yang berani berterus terang seperti sebenarnya adalah tipe Rindu. Walaupun Teo hanya teman biasa dimata Rindu, tetapi dia sangat menyukai cara Romantis seperti ini. Diistimewakan, disanjung, dihargai sebagai wanita adalah impian setiap gadis. "Aku hanya tidak ingin mengecewakan kamu Teo, setidaknya untuk hari ini. Bagaimanapun aku suka caramu," batin Rindu.


Pria pembawa acara mengarahkan mic ke hadapan Rindu. Gadis itu menghela napas, matanya terpejam sesaat lalu mengangguk. "Iya aku mau," jawab Rindu seraya tersenyum.


Teo akhirnya lega, jawaban Rindu pun berhasil mengukir senyuman bahagia Teo. "Terima kasih, Rindu." Teo meraih lalu mengecup punggung tangan Rindu.


Keberanian Teo di sambut sorak Sorai pengunjung. Tepukan dan ucapan selamat menyertai untuk pasangan baru itu.


Ardian yang sudah sangat panas dari tadi berusaha bersikap tenang. Dipejamkan matanya dan menarik napas pelan. "Kenapa aku marah? Rindu senang, seharusnya aku bahagia. Aku merasa takut kehilangan. Benar, aku hanya takut kehilangan seorang sahabat." Ardian tetap teguh dengan logikanya. Berulang kali Ardian meyakinkan dirinya. Dia hanya takut kehilangan Rindu. Sahabat tempatnya berkeluh kesah.


Suasana di meja Ardian dan Dania tampak berubah seketika. Gading yang sejak tadi fokus pada pertunjukan, baru sadar akan sesuatu. Dia tersenyum kecut, melihat apa yang ada di hadapannya.


"Kenyataan memang tak seindah harapan," lirih Dania dalam hati.


***


Sebulan setelah Rindu dan Teo resmi berpacaran, semua terasa sangat berbeda. Rindu kini sangat jarang bertemu Ardian. Di kelas pun lelaki itu tidak terlalu banyak bicara padanya. Ardian seakan sengaja menghindari dirinya. Rindu sempat bertanya apa yang salah. Hingga ujian semester satu berakhir. Mereka lebih fokus lagi belajar mempersiapkan ujian akhir.


Momo Band juga membagi waktu belajar dan latihan. Acara promnite nanti band mereka akan tampil. Di sela-sela waktu latihan mereka sempatkan belajar bersama membahas soal-soal.

__ADS_1


Setelah malam itu hubungan Ardian dan Dania juga biasa saja, datar. Ardian semakin merasa hampa saat bersama Dania. Saat lulus nanti mungkin hubungan mereka juga akan berakhir. Seperti biasa, di saat butuh, Ardian datang ke rumah Rindu, mereka mengobrol dan bercanda hingga malam.


Teo dan Rindu tidak lagi pacaran, hubungan itu hanya bertahan dua bulan. Mereka putus secara baik-baik. Semua teman-temannya tahu kecuali Ardian. Rindu sudah berusaha untuk membagi perasaannya pada Teo, tapi tidak bisa. Posisi Teo masih hanya teman di bagian hati Rindu. Tidak ingin semakin menyakiti Teo, Rindu akhirnya berkata jujur tentang Ardian padanya. Teo akhirnya mengerti dan merelakan Rindu, hubungan mereka pun kembali seperti semula. Namun, perasaan Teo tidak mudah berubah begitu saja.


Sebulan sebelum ujian akhir, Momo Band juga Ardian dikejutkan dengan Dimas yang harus direhabilitasi. Frustasi karena perpisahan orang tuanya, Dimas menenggelamkan diri pada obat-obatan yang dikenalnya di klub malam. Untung saja Dimas belum kecanduan berat saat disadari mamanya. Semua perhatian kini tertuju pada Dimas.


Dua minggu setelah Dimas dirawat, Rindu juga terpuruk karena kehilangan Papa untuk selamanya. Penyakit komplikasi jantung yang diderita turun temurun merenggut nyawa orang tua laki-lakinya itu. Semua orang panik seketika, tepat setelah pemakaman, Rindu tiba-tiba menghilang. Ardian Teo dan Bram mencari di semua tempat yang mungkin didatangi Rindu. Sementara Dian Alan dan Alen menenangkan Mama Dahlia yang masih histeris di tinggal suami tercinta.


Ardian berlari menyusuri tepian pantai. Mengedarkan pandangannya ke segala arah. Terakhir kali saat dia curhat ke Rindu mereka di pantai ini. Tempat ini juga merupakan tempat favorit Rindu yang akan didatanginya bila merasa sedih.


Di ujung bebatuan Rindu berdiri menatap lautan. Ombak menggulung menghantam benda keras tempatnya berpijak. Dibiarkan tubuh bagian bawahnya basah terkena air laut yang mencapai bebatuan. Rindu tampak terisak menangis dan berteriak ke arah lautan.


"Aaaarrgghh … Papa …!"


Kemudian dia terduduk lemas menangkup wajahnya di atas lutut. Tangannya menahan kaki agar tidak jatuh terkulai. Ardian yang melihat itu semakin mempercepat larinya. Takut sesuatu yang buruk terjadi pada Rindu. Setelah dekat Ardian berlutut memposisikan dirinya di depan gadis itu. Memeluk sang sahabat seerat-eratnya.


"Rin …," panggil Ardian lirih.


Rindu tidak peduli, dia sudah tahu orang tengah mendekapnya saat ini.


"Menangislah … keluarkan semua kesedihanmu. Bila kurang pukulah aku, biar kamu lega."


Rindu menyerah, dia semakin menangis sejadi-jadinya di dada Ardian. Ardian mengelus punggung Rindu menenangkannya. Memberi kekuatan dan semangat.

__ADS_1


***


__ADS_2