
***
Tanpa dia duga, kecupan itu merupakan kesempatan bagi Ardian. Rindu tersentak saat pria itu meraih tengkuknya dan kembali menyatukan bibir mereka. Kecupan singkat masih belum cukup bagi Ardian. Pria itu memperdalam sesapan-nya dan mereka pun saling melepas kerinduan yang tertahan selama ini. Detak jantung keduanya saling berpacu. Setelah merasa cukup melepas rindu, Ardian menyatukan kening dan hidung mereka. Saling menatap lembut dan dalam.
"Sayang, aku sangat menginginkan dirimu. Kapan kita akan menikah?" tanya Ardian berbisik manja. Dia memberi jarak pada wajah mereka
"Kamu sedang melamarku?" balas Rindu bertanya.
"Iya, tapi ini masih belum cukup. Jika kamu masih menolak, aku akan melakukannya hingga kamu mengatakan, 'iya', ujar Ardian menatap penuh cinta.
Wanita itu tersenyum bahagia. "Aku sudah mempunyai jawaban sejak beberapa hari lalu."
"Benarkah? Lalu apa jawabanmu?"
"Aku …."
Namun, tiba-tiba terdengar suara pintu diketuk. Seseorang membuka pintu itu begitu saja. Reflek Ardian melepaskan Rindu. Dengan cepat wanita itu melompat turun dari pangkuan Ardian. Siapa yang datang mengganggu di saat seperti ini. Padahal Rindu akan memberikan jawabannya.
"Bos!" seri Eja saat masuk dengan terburu-buru. Seperti ada suatu hal hingga dia terlihat panik.
Eja terdiam di depan pintu begitu melihat pemandangan di depan matanya. Seharusnya dia menunggu sautan dari dalam, barulah masuk. Akan tetapi, keadaan yang mendesak ini harus segera ia sampaikan kepada Ardian. Rindu terlihat merapikan pakaiannya dengan cepat.
"Ada apa?" tanya Ardian datar, raut wajahnya terlihat kesal.
"Sial, aku datang disaat yang tidak tepat. Si Bos terlihat marah. Ah, masa bodoh," gumamnya dalam hati.
"Bos, Tuan Armand dan Nyonya Della sedang menuju ke sini," lapor Eja setelah menghela napas.
"Apa? Siapa yang memberitahu Papa dan Mama?" Ardian sedikit berteriak.
"Aku tidak tahu, Bos. Supir di kediaman utama baru memberiku kabar. Lima belas menit lagi Tuan dan Nyonya besar akan sampai." Sepertinya Eja juga tak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah sebelumnya Ardian meminta padanya untuk merahasiakan hal ini kepada kedua orang tuanya.
Kedua orang tua Ardian sudah sebulan berada di luar negeri. Mereka pasti buru-buru pulang karena mendengar Ardian terluka. Entah dari mana kabar itu mereka dapat.
__ADS_1
"Haahh … sudah, bersikap seperti biasa saja. Aku memang berencana akan memberitahukan ini kepada Mama dan Papa." Ardian kembali terlihat tenang.
Sedangkan raut Rindu sudah berubah sejak laporan yang diberikan Eja. Dia merasa takut jika bertemu dan menghadapi orang tuanya Ardian. Beda halnya dengan Ardian yang bisa santai saja. Padahal dia hampir kehilangan nyawa. Hal sepenting itu dirahasiakan begitu saja.
"Ardi," panggil Rindu lirih.
"Kenapa, Sayang?"
"Aku harus bagaimana?" tanyanya dengan raut wajah cemas. Rindu tidak menyangka akan bertemu orang tua Ardian dengan cara seperti ini. Tentu saja waktunya tidak tepat.
"Jangan khawatir, tidak akan terjadi apa-apa." Ardian menggenggam tangan kekasihnya.
"Kapan aku bisa pulang?" tanya Ardian beralih pada Eja.
"Semua prosedur telah diurus, Bos. Siang ini Anda sudah bisa pulang."
"Baiklah kalau begitu."
"Aku permisi, silahkan di lanjutkan, Bos. Waktu kalian hanya lima belas menit." Eja sengaja menggoda dengan senyum nakalnya.
"Apa yang dia pikirkan," sungut Ardian kesal. Kemudian menarik Rindu duduk di sampingnya.
"Ardi, aku …." Rindu masih tampak khawatir.
"Sayang, dengar. Kamu sudah kenal orang tuaku bukan? Mereka menyukaimu, sama seperti Mama Lia menyukaiku. Sudahlah, tenang saja duduk di sampingku. Mereka pasti bisa menerima kamu, Sayang!" ucap Ardian merangkul pundak kekasihnya itu.
Lima belas menit kemudian. Kedua orang tua Ardian benar-benar datang. Rindu menunggu dengan rasa cemas. Sementara Ardian terlihat santai melihat ponselnya. Lalu terdengar suara langkah kaki mendekat, pintu kamar pun dibuka. Eja mempersilahkan kedua pria dn wanita setengah baya itu masuk.
"Papa, Mama. Kapan pulang dari Hawai?" Ardian bangkit menghampiri kedua orang tuanya di depan pintu. Ia memeluk keduanya, sementara Rindu berdiri mematung tertunduk di dekat tempat tidur Ardian.
"Bodoh! Terjadi hal seperti ini, kamu masih bisa bersikap santai?" Sebuah ketukan mendarat di kepala Ardian. Papa Armand menggeleng mengingat kelakuan anak bungsunya itu.
"Aauuuu, Papa!" Pria itu meringis mengusap keningnya. Sementara Eja menahan senyumnya melihat hal yang lucu.
__ADS_1
Armand Putra Moriz, sosok pria yang tegas dan bijaksana. Ia selalu mendidik kedua putra dan putrinya dengan tegas dan disiplin. Tentu saja dia berhasil membuat Ardian, putra bungsunya itu menjadi seorang yang bertanggung jawab. Sebab itulah ia mempercayakan perusahaan pada Ardian dan bebas pergi berlibur dengan sang istri.
"Bagaimana dengan keadaan kamu, Ardi?" Mama Della bertanya lembut, ia mengelus pipi putranya seperti biasa.
"Ardi baik-baik saja, Ma … lihat Ardi sehat seperti biasa," jawabnya tersenyum memperlihatkan tubuh tegapnya di hadapan sang Mama.
"Sudah, sekarang minggir," ucap Mama Della melotot menggeser posisi Ardian. Ia pun menghampiri Rindu yang terlihat berdiri mematung sedari tadi.
Ardian dan Eja mulai terlihat tegang. Pasalnya, Mama Della tiba-tiba bersikap dingin pada Ardian. Papa Armand mengikuti istrinya, ia terlihat santai dan tersenyum melihat ke arah Rindu.
"Rindu." Mama Della mendekat dan langsung memeluk Rindu dengan erat. "Apa kabar kamu, Sayang?"
Rindu yang tersentak kaget dengan sikap Mama Della yang tiba-tiba memeluknya. "Ba–baik … Tante," jawab Rindu gugup.
"Ayo kita duduk di sana." Mama Dahlia mengajak Rindu duduk di sofa. "Tante udah lama mau ketemu kamu. Ardian berjanji mau membawa kamu ke rumah, tapi sekarang malah ada kejadian seperti ini." Wanita paruh baya itu melirik Ardian yang terdiam di depan pintu. Sang suami pun ikut duduk di sampingnya.
"Ma, Pa." Ardian mendekat.
"Stop, diam disana!" perintah Mama Della tiba-tiba, Ardian langsung mematung.
Semua pandangan melihat Ardian yang patuh dengan perintah mamanya. Eja tersenyum menutup mulutnya. Dia teringat kejadian ini sama seperti saat Rindu memarahi Ardian waktu itu. Ternyata hanya dua wanita ini yang bisa menaklukkan seorang Ardian yang dingin di kantor. Mungkin itu yang sedang Eja pikirkan.
"Kenapa kamu tidak memberitahu mama kalau Rindu sudah kembali? Apa kamu tidak mau mempertemukan Rindu pada Mama dan Papa?" ucap Della tegas. Papa Armand hanya mengangguk mengiyakan perkataan istrinya.
"Maaf, Pa, Ma, rencananya Ardian mau bawa ke rumah tapi belum sempat. Mama sama Papa juga masih liburan." Ardian memberi alasan.
"Tidak sempat? Mama dan Papa baru pergi satu bulan, sedangkan Rindu sudah di sini tiga bulan yang lalu!"
Rindu tersentak, ternyata kedua orang tua Ardian tahu tentang kepulangannya. Hanya saja mereka belum tahu cerita sebenarnya tentang masa lalu Rindu yang menyakitkan. Ardian hanya menceritakan jika Rindu sedang menunggu proses perceraian selesai. Dan kedua orang tua Ardian pergi berlibur setelahnya.
"Ardi juga baru ketemu Rindu tiga Minggu yang lalu, Ma … waktu itu Ardian juga sudah cerita ke Mama. Ardian juga tidak ingin mengganggu bulan madu kalian," jawabnya tersenyum nakal. Mama dan Papa sontak mempelotinya.
"Sudah, Mama tidak mau tau. Kamu diam di sana selama lima belas menit," ucap Della tegas. Kemudian beralih ke Rindu yang diam memperhatikan perdebatannya dan Ardian.
__ADS_1
***