
***
Sungguh merupakan kejutan yang sangat membahagiakan bagi Rindu. Kali pertama ketiga sahabatnya ikut serta di tengah malam membangunkan dirinya. Angka tujuh belas pada usianya kini terasa sangat istimewa.
"Yeeaaa …!"
Sorakan semua orang bertepuk tangan saat lilin berhasil dipadamkan. Rindu memeluk keluarganya satu persatu. Kecupan di kening pipi kiri dan kanan bergantian untuk Rindu. Disertai doa tulus disematkan untuknya. Senyum dan tangis bahagia Rindu untuk hari ini, kenangan ini akan disimpan di hatinya.
Untuk keluarga yang selalu menyayanginya. Papa sosok yang tangguh, kedua adik kembar yang selalu perhatian walau terkadang manja dan selalu mengajaknya berdebat. Terkhusus untuk mama yang telah mempertaruhkan nyawa demi menghadirkan dirinya ke dunia.
Terakhir untuk ketiga sahabat yang hadir sebagai pelengkap kebahagiaannya. Rindu beralih memeluk ketiganya. Mereka merentangkan tangan bersamaan. Rindu memeluk Dian disusul Ardian dan Dimas memeluk mereka berdua di sisi kiri dan kanan. Terharu, Rindu merasa beruntung memiliki sahabat yang sangat peduli padanya.
"Terima kasih," lirih Rindu dalam dekapan.
Dalam pelukan itu Ardian mencium puncak kepala Rindu sesaat. Tidak ada seorangpun yang menyadari. Namun, tidak dengan kamera yang diletakkan di sudut ruangan. Kamera itu sudah dipersiapkan dari sebelum kejutan di mulai. Posisinya yang tepat merekam aksi Ardian barusan.
"Heiii ... kalian …." Rindu berkata lirih. "Aku ... nggak ... bisa napas, udah bisa dilepas?" Pelukan itu seketika terlepas.
"Sorry … sorry," ucap Dian, Dimas dan Ardian bersamaan.
Rindu menghela napas memegangi dada menormalkan udara di sekitarnya. Sedetik kemudian meledaklah tawa mereka bersamaan, di susul mama, papa dan adik-adik Rindu. Kebahagiaan teramat sangat Rindu rasakan bisa dikelilingi orang-orang yang menyayanginya. Keluarga dan sahabat mereka semua adalah harta Rindu yang paling berharga.
Rindu berdehem sesaat. "Aku mau bilang sesuatu."
Kemudian semua terdiam. Rindu memandangi satu persatu keluarganya. Menatap dengan penuh kasih.
"Makasih, Pa, Ma, sudah melahirkan aku ke dunia, diberi kasih sayang yang melimpah, aku beruntung dibesarkan di keluarga ini." Rindu menjeda sejenak. "Makasih Alan, Alen ... kalian adik kesayangan kakak, makasih sudah menjadi pelindung kakak."
Lalu beralih ke sisi lain. "Dian, Ardian, Dimas. Makasih selama setahun lebih menjadi sahabat terbaik aku, makasih kalian selalu perhatian, hidup aku nggak pernah sepi karena kehadiran kalian."
Mereka semua tersenyum, lalu memeluk Rindu bergantian.
Setelah kejutan ulang tahun yang singkat, mereka pun kembali tidur. Ardian, Dimas dan Dian berakhir menginap di sana. Rindu tidur di ranjang dengan Dian, sedangkan Ardian dan Dimas di sisi bawah, di sebelah ranjang. Hanya dengan beralaskan kasur lantai mereka pun bisa tidur dengan tenang. Terkadang situasi ini memang selalu mereka alami.
__ADS_1
Rumah itu hanya punya tiga kamar. Kamar adik-adik Rindu terlalu kecil, sebab itu Ardian dan Dimas hanya bisa tidur di kamar Rindu. Tidur di luar pasti panas dan banyak nyamuk. Bukan mereka tidak mau, Rindu hanya kasihan, mereka pasti tidak biasa di gigit nyamuk.
Pagi menjelang. Rindu dikejutkan dengan suara gaduh dari arah dapur. Rindu membalikkan ke sisi pinggir. Merasa sudah tidak bisa terlelap lagi Rindu pun membuka mata. Saat tersadar Rindu ternyata begitu dekat dengan Ardian. Dia memandangi wajah tampan yang begitu teduh saat terlelap. Rindu meraba tanpa menyentuh kulit setiap sudut wajah Ardian.
"Ardi ... pagiku disambut dengan keindahan. Tampan sekali ..., cintaku semakin hari semakin dalam. Terima kasih, walau aku tak bisa mengungkapkan perasaanku ini," ujar Rindu sangat lirih. Mungkin hanya dirinya yang bisa mendengar. Seketika tangannya dia tarik kembali menjauh. Ardian yang tiba-tiba menggeliat membuatnya terkejut. "Hampir aja ketahuan," batinnya.
Kemudian Rindu bangkit dan keluar dari kamar. Mama Dahlia sedang asyik dengan pekerjaan di dapur menyiapkan sarapan. Mamanya seperti sedikit kerepotan, lalu Rindu ikut membantu.
Beberapa menit berlalu. "Sudah, Rin. Kamu bangunin teman-temanmu, mama sudah bisa sendiri, sekalian kamu mandi dan siap-siap," pinta Mama Dahlia setelah merasa Rindu sudah sangat membantu pekerjaannya.
"Iya, Ma …." Rindu pun masuk masuk ke kamar, melihat teman-temannya masih enak tidur. Pikiran nakal pun seketika singgah di benaknya. Rindu tersenyum jahil. Dia mengambil toa kecilnya di atas meja belajar. Lalu Rindu berdiri mendekat ke tempat tidur.
"SELAMAT PAGIIII ... BANGUUNN, BAGUUNN ...!"
Ketiganya seketika tersentak kaget dan langsung bangun. Mereka terperangah, bahkan tubuh mereka masih belum stabil.
"Aaaaaa …!" Dian menjerit.
"Apaan! Mana malingnya mana ...!" teriak Ardian ikut panik.
Kedua pria itu masih terlihat linglung dengan gaya karate mereka. Ardian sudah siap dengan kuda-kuda. Dimas yang masih setengah memejam jungkir balik siap menyerang.
Tawa Rindu langsung menyembur keluar. "Hahahaha! Kalian lucu." Dia pun memegangi dan perut karena tidak tahan.
Sementara Ardian Dimas dan Dian menganga, masih berusaha mengumpulkan kesadaran mereka. Mama yang juga terkejut berlarian dari arah dapur. Lalu melihat kelakuan anak gadisnya yang pagi-pagi sudah membuat keributan.
"Astaga ... Rindu! kamu ngapain sih? Kasihan itu teman-teman kamu!" Dahlia memukul lengan Rindu hingga berbunyi cukup keras.
"Aau ... Mama Sakit ...!"
"Lain kali jangan iseng begini lagi. Mama bisa jantungan tau nggak?"
"Iya, iya … Ma … maaf," ucapnya tertunduk.
__ADS_1
Dahlia pun kembali ke dapur. Papa Ariel yang baru keluar dari kamar, menggelengkan kepala sambil tersenyum. Dulu Rindu adalah anak yang kalem dan pendiam. Jarang sekali Rindu membawa teman pulang. Sejak bergaul dengan ketiga anak itu Rindu menjadi lebih ceria. Orang tua Rindu senang dengan kehadiran mereka, rumah ini menjadi semakin ramai.
Ardian, Dimas dan Dian yang sudah kesal dengan kelakuan Rindu, terduduk lemas mengelus dada masing-masing. Benar-benar ini senam jantung di pagi hari. Rindu sudah menjahili mereka dengan keterlaluan.
"Duhh ... pagi-pagi udah kena omelan Mama," kata Rindu lirih di dengar teman-temannya.
"Syukurin …!" teriak ketiganya kompak pada Rindu. Mereka tertawa bersama-sama. Karma langsung terbalas.
"Lagian kamu, jahil benget. Kepikiran dari mana coba, bangunin kita pake cara itu?" protes Dimas.
"Haha ... kalian tidur kaya kebo, jadi banguninnya harus pake cara khusus. Anggap aja balasan yang tadi malam," kekeh Rindu puas.
"Huuhhh ... dendaman." Guman Ardian dan Dimas.
"Udah, yuk siap-siap," ucap Dian kemudian.
"Ardi, Lo mandi duluan deh." Dimas menepuk pundak Ardian.
"Oke."
Rindu mengambilkan handuk bersih masing-masing untuk ketiga temannya. Dimas dan Ardian keluar dari kamar. Sementara Dian masih diam di tempat tidur. Dia menyalakan video recorder miliknya.
"Rin, sini deh." Panggil Dian tiba-tiba.
"Kenapa?"
Dian menunjukkan hasil rekaman video kejutan semalam pada Rindu. Satu fakta telah mereka lihat.
"Kamu yakin, masih nggak mau terus terang?" tanya Dian. "Ini tanda-tanda nggak, sih. Dia juga—"
"Nggak." Potong Rindu cepat. "Aku nggak mau kecewa, Di. Biarin aja kayak gini, aku udah nyaman dengan hubungan kita ini," kata Rindu lirih. Dia tersenyum manis. Dian hanya bisa menghela napas panjang.
***
__ADS_1