Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Serangan


__ADS_3

***


Pukul 01.00 dini hari, terjadi kerusuhan di area gudang tempat Rindu disekap. Lebih dari sepuluh mobil hitam datang menyerbu ke dalam kawasan itu. Segerombolan pria berbaju hitam bersiaga, mengeluarkan senjata mereka. Kemudian gerbang itu tiba-tiba dibobol menggunakan mobil jip yang biasa digunakan untuk mendaki gunung.


Pintu gerbang itu hancur dan mengeluarkan bunyi sangat keras. Salah seorang pria yang berada di atas mobil itu menyerang dengan senjata api yang berukuran besar. Tembakan beruntun itu menewaskan beberapa orang. Sebagian besar dari mereka berhasil bersembunyi di balik tumpukan kayu dan besi penghalang yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Malam itu terjadi pertemuan yang sangat besar.


Ramon, si ketua geng belum kembali juga. Semua anak buahnya yang berada di sana bertempur dipimpin oleh tangan kanan Ramon. Mereka berhasil menjatuhkan sebagian pria yang datang menyerbu. Pertempuran seperti ini sudah biasa terjadi dalam dunia gelap. Perebutan daerah kekuasaan adalah tujuan utama mereka. Para ketua geng bersaing untuk membuktikan seberapa tangguhnya ia.


Sementara itu, dari sisi gudang paling belakang. Rindu ketakutan mendengar suara tembakan dari arah luar. Dia meringkuk di sudut ruangan memegangi lututnya. Elly, pengawal wanita yang selalu bersama Rindu di dalam kamar, keluar memeriksa keadaan. Rindu sangat ketakutan ditinggal sendirian, suara kegaduhan yang terdengar seolah seperti tanda akhir dari hidupnya. Beberapa menit kemudian, Elly berlari masuk ke dalam.


"Nona, Rindu!" panggilannya lantang.


Rindu menoleh ke arah suara itu. Elly sedang mencari keberadaannya. "Aku disini! Elly, apa yang terjadi?"


"Nona, cepat! Kita harus segera pergi dari sini!"


"Elly, katakan padaku. Apa yang telah terjadi di luar sana?" Rindu terlihat sangat panik.


"Pihak lawan datang menyerang, Nona! Cepatlah, Tuan Ramon memintaku untuk menjaga dan membawamu ke tempat yang aman!"


Tanpa mendengar jawaban, Elly meraih pergelangan tangan Rindu dan membawanya keluar. Mereka menyusuri lorong berlari menuju pintu keluar yang berada di belakang. Elly menggenggam senjata api di tangannya. Dua orang pria yang menjaga di depan pintu pergi ke arah depan membantu yang lain. Rindu tidak peduli dengan semua, yang ia inginkan adalah segera pergi dari tempat itu secepatnya.


"Nona! Tetaplah berada di belakangku!"

__ADS_1


Rindu mengangguk, kali ini dia mempercayai Elly, setidaknya sampai ia selamat dari tempat ini. Setelah ia bebas, Rindu akan berpikir untuk mencari cara agar bisa kabur dari pengawasan Elly.


Wanita tangguh itu menempelkan tubuhnya ke dinding, Rindu mengikuti setiap gerakannya. Dia sadar saat ini berada di medan pertempuran yang sangat berbahaya. Detak jantungnya serasa berpacu dengan cepat, adrenalinnya meningkat. Akankah ia bisa selamat dari tempat ini?


"Elly, aku takut!"


"Tenanglah Nona, saya akan berusaha mengeluarkan Nona dari sini."


Perkataan Elly tidak membuatnya tenang sama sekali. Suasana di tempat itu bahkan membuatnya semakin takut. Ini pertama kali ia melihat bagian luar tempatnya di sekap. Ternyata tempat ini adalah sebuah bangunan yang terbengkalai.


"Aaaaa …," teriaknya ketika melihat seseorang tergeletak tak bernyawa di lantai, begitu banyak cairan darah keluar dari tubuh pria itu.


"Nona! Sepertinya di sini juga sudah tidak aman. Sebaiknya anda bersembunyi di suatu tempat!" ucap Elly kemudian, musuh telah sampai dari arah belakang.


Elly menuntun Rindu menuju sebuah ruangan. Saat hampir sampai di pintu tiba-tiba seorang pria menyergap Rindu dari belakang. Mulutnya dibekap dengan tangan yang berukuran besar, tangan itu menutupi hingga hidungnya. Ia meronta-ronta, paru-parunya terasa sulit untuk bernafas. Rindu diseret oleh pria bertubuh besar yang menutup mulutnya. Elly yang menyadari itu menoleh kebelakang, ia mengangkat tangan memposisikan tubuhnya ingin menembak.


"Ermmm … ermmm …." Rindu terbelalak melihat Elly tersungkur di depan matanya.


Tubuhnya tiba-tiba diangkat, ia terus berteriak dan meronta. Rindu dibawa pergi dari pintu belakang. Kemudian ia dilemparkan masuk ke dalam mobil. Kepalanya terbentur ke pintu sisi satunya, ia meringis. Dalam mobil itu ada seorang pria menunggu di kursi kemudi. Sedangkan pria yang membawanya tadi ikut masuk dan duduk di samping. Lalu mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


"Lepaskan aku! Apa yang kalian inginkan?" Rindu meronta saat tangannya di ikat ke belakang dengan tali, ikatan itu mengenai lukanya yang masih diperban.


"Diam!" bentak pria itu dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Kembali ke markas, wanita Ramon sudah kita dapatkan. Bos akan memberi kita imbalan besar, hahahaha …."


"Hahaha … benar sekali, Bro …," sahut pria di depan.


"Kalian salah! Aku bukan wanita si brengsek Ramon. Aku hanya tawanannya, lepaskan aku! Bajingan!"


Teriakan Rindu tidak dihiraukan, mulutnya pun ditutup dengan lakban hitam. Dia meronta, menangis dengan mulut tertutup. Tiba-tiba pria di sampingnya mencengkeram leher Rindu, membuatnya terbelalak, dia terpaksa diam, napasnya seakan terhenti, ia tercekik.


"Apakah aku benar-benar akan mati hari ini? Tuhan, jika hidupku hanya sampai disini, maka ampunilah segala dosa-dosaku," gumamnya dalam hati. Rindu pasrah dengan apa yang akan terjadi padanya.


Tidak lama setelah itu, terdengar suara tembakan dari arah belakang. Sebuah mobil hitam berkecepatan tinggi mengejar mereka. Tembakan yang beruntun mengenai kaca spion dan bagian atap mobil yang Rindu tumpangi. Wanita itu semakin ketakutan, tubuhnya bergetar, jantungnya serasa ingin lepas dari dadanya.


"Errmmm … ermm …." Rindu mengerang, mulutnya yang tertutup ingin berteriak sekeras-kerasnya.


"Sialan …," umpat pria itu, ia mengeluarkan senjata dari kantong jasnya. Lalu ia mengulurkan tangan dari jendela dan menembak ke arah belakang.


Rindu menoleh ke belakang, di sana ia melihat Ramon berada di kursi pengemudi. Kedua mobil ini sedang kejar-kejaran dengan tidak beraturan. Rindu panik, mobil ini bisa saja mengalami kecelakaan.


Kemudian Ramon berhasil menyamakan posisi mereka di jalur yang sama. Ia membanting setir, menabrak bagian pinggir mobil itu hingga tidak stabil jalannya. Mobil itu akhirnya berhenti, anak buah Ramon yang tadi bertugas menembak, turun dari mobil dan kembali meletuskan senjata api di tangannya. Dengan sekali tembakan ia berhasil menewaskan si supir.


Melihat semua kejadian yang menakutkan itu, Rindu menangis histeris, mulutnya masih tertutup rapat oleh lakban hitam. Laki-laki berbadan besar di sampingnya tadi, menyeretnya keluar dari pintu yang berlawanan dengan posisi mobil Ramon berada.


"Eerrmmm … errmmm …," pekik Rindu tanpa bersuara.

__ADS_1


"Diam!" Pria bertubuh besar itu menyeret Rindu hingga mencapai tepian jembatan, di bawahnya adalah sungai yang membentang luas seperti tak berujung.


***


__ADS_2