Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Momen bahagia


__ADS_3

***


Rindu tampak malu ketika Ardian memandangnya dengan tatapan yang mampu membuat seluruh tubuhnya bergetar. Sedangkan pria itu tersenyum melihat bagaimana wajah Rindu telah merona karena ulahnya.


"Aku sangat suka dengan wajahmu yang merah seperti itu. Sangat manis," ucap Ardian yang semakin membuat Rindu malu.


Rasanya ingin sekali Rindu menghilang dari hadapan Ardian. Dia merasa lemas dengan tatapan pria itu. Lututnya kini bergetar. Jangan sampai dia terjatuh karena tak kuat menahan gejolak yang dia rasakan.


"Rindu, aku sangat suka dengan keadaan kita yang seperti ini. Aku selalu berharap akan seperti ini selamanya denganmu. Kamu adalah mentariku. Kamu adalah sumber bahagiaku."


Rindu hanya mendengarkan dan menikmati setiap kata cinta yang Ardian ungkapkan. Manik matanya kini berkaca-kaca.


"Rin, aku tidak bisa berjanji, karena kamu tidak percaya dengan kata janji seperti yang pernah kamu bilang. Akan tetapi, yakinlah bahwa hati dan jiwaku telah terikat akan cintamu. Semua tentang dirimu telah memenuhi pikiranku. Aku akan membahagiakanmu dengan jiwa dan ragaku," ungkap Ardian lembut masuk ke telinga dan juga hati Rindu.


Ardian dengan lancar mengutarakan isi hatinya. Sudah sejak sekian lama, momen seperti ini ia nantikan. Kini impiannya dari dulu akan segera terwujud. Sebentar lagi.


"Ardi … I love you."


"I love you too, my sweet heart."


Perlahan Ardian mendekat, ia mendambakan sentuhan bibir Rindu yang sensual. Irama jantung mereka saling berpacu. Satu centi lagi kedua bibir mereka akan saling bertaut.


Tiba-tiba, suara letusan confetti terdengar saling bersahutan. Ardian menghentikan aksinya dengan cepat dan melepas pelukannya. Mereka sama-sama terkejut dengan kehadiran keluarga dan teman-temannya. Dengan cepat juga Rindu menyeka air yang menggenang di pelupuk matanya.


Mama Lia, Alan, Alen, Kanaya, Eja, Teo, Dimas, Dian, Bram dan kedua orang tua Ardian masuk secara bergiliran. Mereka segera menghampiri sepasang kekasih itu dengan sorak, tepukan tangan, tawa bahagia dan rasa haru.

__ADS_1


Ternyata keluarga dan teman-teman mereka melihat proses lamaran itu. Eja telah menghubungkan kamera video itu langsung ke tabletnya. Jadi mereka telah menyaksikan semuanya secara langsung. Namun, mereka datang di saat yang tidak tepat, Ardian baru saja akan mengakhiri tahap terakhir dari rencana yang telah dibuatnya.


"Hahhh … kenapa mereka sudah datang?" gerutu Ardian dalam hati. Dia menepuk keningnya sendiri. Sedangkan Rindu terlihat sangat canggung.


Mama Lia yang membawa Kanaya di dalam gendongannya menghampiri mereka terlebih dahulu. Pasalnya Kanaya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan sang bunda. Gadis kecil yang lucu itu merengek ingin memeluk Rindu sejak ikut melihat rekaman langsung video di tablet milik Eja.


"Bunda … Bunda …," panggil Kanaya merentangkan tangannya.


"Sayang … Aya, cantik bunda." Rindu mencium wajah putrinya bertubi-tubi. Dia sangat merindukan buah hatinya ini. Selama seminggu ini ia terlalu sibuk menjaga Ardian di rumah sakit. Sehingga waktu untuk bersama Kanaya hanya sebentar saja.


Mereka mengucapkan selamat secara bergantian. Mama Lia, Mama Della, Papa Armand serta para sahabat menyampaikan rasa bahagia mereka. Sementara kamera di meja sana masih merekam momen bahagia itu. Sebenarnya Ardian tidak tau sama sekali, entah kapan Eja meletakkan kamera di sana. Itu semua diluar rencana Ardian.


Ardian membiarkan Rindu bercengkrama dengan keluarganya. Mereka sedang duduk di sofa ruang tamu rumah itu. Mama Lia, Alan dan Alen, Dian, serta kedua orang tua Ardian terlihat bahagia bermain dengan Kanaya. Gelak, canda tawa memenuhi setiap ruangan di rumah baru mereka. Kelak tempat ini akan menjadi rumah yang dipenuhi oleh kebahagiaan.


Sementara itu, Ardian bersama sahabatnya yang lain duduk di ruang makan. Mereka pun ikut menikmati secangkir teh di sore itu, sama seperti orang-orang yang duduk di ruang keluarga.


"Terima kasih, Bram. Aku tidak menyangka, kamu sudah menjadi perwira hebat sekarang," balas Ardian mengangkat cangkir teh dan memajukan sedikit ke depan. Bram pun melakukan hal yang sama.


"Bagaimana dengan kelanjutan kasus itu sekarang?" Ardian belum mendengar informasi terbaru dari asistennya. Sebaiknya ia bertanya langsung pada Bram.


"Eja belum memberitahumu?" tanya Bram melirik Eja yang duduk bersebelahan dengan Ardian.


Eja lantas menyerahkan tablet miliknya kepada Ardian. Memperlihatkan data dan hasil penyelidikan kepolisian. Ardian langsung terbelalak seketika itu juga. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Bagas dan komplotannya adalah manusia berhati iblis.


Kenyataan baru yang Ardian tahu. Bagas merupakan komplotan sindikat perdagangan manusia dan pengedar narkoba. Identitasnya terdapat pada daftar pencarian orang sebagai buronan polisi untuk waktu yang cukup lama. Pernikahannya dengan Rindu merupakan alibi yang kuat baginya untuk menutupi siapa dia sebenarnya.

__ADS_1


"Sejak kapan dia terjun ke dunia hitam?" tanya Ardian. Eja, Teo dan Dimas mendengarkan pembicaraan itu.


"Mungkin jauh sebelum dia menikah dengan Rindu." Bram meneguk minuman di depannya. "Kasus ini sudah sampai ke kejaksaan, vonis yang diterima jelas tidak akan ringan."


Ardian mengangguk paham. "Dia benar-benar iblis berkedok manusia. Seandainya saja aku bertemu dengan Rindu lebih awal, mungkin dia tak perlu berurusan dengan laki-laki brengsek seperti dia."


Ardian sudah dipenuhi dengan amarah saat ini. Wajahnya terlihat memerah, kepalan tangannya memperlihatkan urat-urat yang timbul dari kulitnya. Eja menyentuh tangan Ardian, memberi isyarat agar ia dapat menahan emosi di saat seperti ini. Keluarganya masih ada di sana, momen bahagia seperti ini akan sia-sia jika ia meluapkan emosi. Ardian memejamkan matanya, menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan perlahan.


"Semua sudah terjadi, mungkin kelak Rindu akan dipanggil sebagai saksi. Kasus penculikan Kanaya dengan tujuan untuk menjual, pastilah menambah berat putusan vonisnya," ujar Bram.


Ardian langsung menatap tajam temannya itu. "Menjual? Dia bahkan ingin menjual putrinya sendiri?" tanyanya dengan nada rendah tapi penuh dengan kemarahan.


Semua orang yang duduk saling berhadapan di meja makan itu nampak marah. Mereka mengumpat dalam hati, mengutuk setiap perbuatan jahat yang mantan suami Rindu lakukan. Apalagi dengan menjadikan Rindu sebagai alibi, menambah kebencian mereka terhadap pria itu.


"Begitulah pengakuan Agnes," jawab Bram datar. Sebelumnya ia telah menyelidiki kasus ini hingga mengetahui alibi Bagas pada pernikahannya. Tetapi, ia tidak menyangka jika Rindu adalah istri pria itu.


"Bos, Bagas masih bersikeras ingin bertemu dengan Rindu. Bagaimana selanjutnya?" tanya Eja melanjutkan. Ardian tampak memikirkan ucapannya.


"Aku bersedia." Tiba-tiba Rindu datang dan memotong pembicaraan. Membuat semua orang menoleh padanya.


"Rindu?" Ardian tersentak dengan kehadiran Rindu di belakangnya. Begitu juga dengan yang lain, mereka juga tidak menyadari kedatangan Rindu. Mereka terlalu fokus mendengarkan obrolan.


Rindu ternyata diam-diam berdiri di depan pintu kamar mandi yang berdekatan dengan ruangan itu. Kebetulan ia hendak buang hajat dan tanpa sengaja mendengarkan. Saat itu juga ingatan mengenai tes DNA yang tadi pagi, kembali secara perlahan.


"Aku mendengar sebagian, Ardi. Bawa aku ke kantor polisi. Aku akan bicara pada Mas Bagas."

__ADS_1


Ardian nampak mengetatkan rahangnya. Mendengar Rindu menyebut nama pria bajingan itu membuatnya panas. Rindu adalah miliknya sekarang, tapi wanita itu masih memanggil Bagas dengan sebutan yang terdengar mesra di telinganya.


__ADS_2