Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Tempat kerja baru


__ADS_3

***


Rindu tiba-tiba berteriak, Ardian pun menghentikan langkahnya. "Ada apa, Sayang?"


"Tetap diam di situ! Jangan bergerak!" Tanpa membantah, Ardian mematung. "Apa alasannya kamu mengganti pekerjaanku seenak jidatmu?" tanya Rindu dengan mata melotot dan dada membusung.


Eja tersenyum menutupi mulutnya. Baru kali ini dia melihat si bos bisa takluk terhadap perintah seorang wanita. Melihat itu Ardian mendelik padanya, dan dia pun terdiam menahan tawa hingga wajah memerah.


"Ardi, jawab!"


"Sayang, bisa kita duduk dulu?"


Wanita itu mendengus. "Baiklah, aku akan duduk." Rindu menghempaskan tubuh ke sofa, dan Ardian pun mulai bergerak, lalu ikut duduk di sebelah Rindu.


"Heii … siapa yang menyuruh kamu juga duduk! Aku bilang aku akan duduk, bukan kamu! Cepat kembali ke posisimu yang sebelumnya!" perintah Rindu dengan nada naik satu oktaf.


Hampir saja Eja menyemburkan tawanya. Dengan cepat telapak tangannya menutup mulut. "Ternyata suara Rindu ketika marah tidak kalah hebat dibandingkan saat menyanyi. Buktinya suara itu mampu menaklukkan si balok es itu!" batin Eja, dia terkikik diam-diam.


Akhirnya Ardian kembali berdiri, kembali ke posisi semula. Dengan posisi kaki dan tangan yang sama, dia kembali menjadi patung. "Rindu yang sekarang adalah wanita bar-bar!" gumamnya dalam hati. "Bukan hanya bar-bar saat menggodaku, tapi juga saat marah juga."


"Rin, aku boleh bergerak sekarang? ini sudah lima belas menit, kakiku kram." ucapnya sedikit menghiba.


"Lima menit lagi. Itu hukuman karena kamu sudah membuatku berhenti bekerja di dua tempat hanya dalam waktu beberapa hari!" ujar Rindu dingin.


Ardian menghela napas berat. Rindu mendelik tajam ke arahnya.


"Kamu keberatan? bukankah kamu bilang akan melakukan apapun untukku?"


"Ti–tidak … aku akan melakukan apapun keinginanmu."


"Bagus, teruslah seperti itu lima menit lagi."


Pria itu tidak bisa berkutik, dia melihat ke arah Eja yang cengengesan dari tadi. Saat ini sang asisten telah duduk di meja kerjanya yang juga bersebelahan dengan kantor CEO. Ruangan mereka terhubung dengan kaca, jadi apapun yang terjadi di kantor Ardian akan terlihat.


Rindu menyesap teh yang disajikan oleh Mira—sekretaris Ardian. Saat sang sekretaris tadi masuk ke dalam, dia juga sangat terkejut. Melihat bos-nya itu terdiam seperti patung. Ketika hendak menyapa, muka bos-nya itu tiba-tiba memerah padam karena malu. Mira pun segera keluar karena melihat tatapan mata Ardian yang tajam.


"Rin, Sayang … sudah?"


Rindu melirik jam di dinding, dia mengangguk pelan menandakan hukuman telah selesai. Sebenarnya dia telah menahan diri sejak tadi. Dia ingin sekali menertawakan Ardian yang patuh begitu saja pada perintahnya.

__ADS_1


Ardian akhirnya bisa bernapas lega. Dia pun segera duduk bersandar di sofa dan merentangkan kedua kakinya.


"Bagaimana rasanya?" tanya Rindu santai.


"Ahh … lumayan, Sayang, capek!"


"Ermm … lumayan, apakah masih kurang?"


"Tidak, tidak, cukup, ya …."


"Hmmm … baiklah, aku tidak tahan lagi." Dan akhirnya meledakkan tawa Rindu, dia tertawa sampai terpingkal-pingkal.


Ardian yang merasa bingung menggaruk lehernya padahal tidak gatal. "Kenapa kamu tertawa?"


"Aku menertawakanmu … kamu mau tahu bagaimana tampangmu ketika mematung tadi?"


"Jadi tadi itu kamu mengerjaiku?" Ardian berdecak. Dia pikir Rindu benar-benar marah padanya. Bahkan tadi dia sempat memikirkan cara untuk membujuk wanita itu. Ardian hanya bisa menggeleng karena kelakuan Rindu.


"Tentu saja … lihatlah ini." Rindu terkekeh, lalu memperlihatkan foto yang diambilnya tadi ketika Ardian menerima hukuman. Rindu memotret secara diam-diam. Di sana, Ardian terlihat sangat tertekan, wajahnya kaku dan mata melotot. Sangat lucu sekali, Rindu tidak bisa berhenti tertawa.


"Heii … kamu mengambil fotoku?"


"Dasar kamu, ya …." Ardian mencubit pipi kiri Rindu gemas. Wanita itu mengaduh kesakitan lalu mengusap-usap dengan telapak tangannya.


"Sudah mulai jahil ya sekarang … dulu kamu yang selalu aku jahili, sekarang semua seperti berbalik kepadaku." Dalam pikiran Ardian, sejak kapan Rindu berubah seperti ini. Apakah begini cara menutupi kesedihannya? Beginikah cara melupakan masa lalu? Jika benar, Rindu adalah wanita kuat, sangat kuat. Namun, apakah ini tidak berpengaruh pada mentalnya kemudian. Ardian harus segera menanyakan kepada Dokter. Dia sendiri belum tahu persis apa cerita di balik trauma yang Rindu derita.


"Aku seperti itu hanya padamu. Aku belum pernah melakukanya dengan orang lain."


"Benarkah … kalau begitu aku mau kamu menjahiliku setiap hari," kata Ardian dengan senyuman menggoda.


"Wwooow … kamu mungkin akan lari dariku," gurau Rindu.


"Tidak … itu tidak akan pernah terjadi."


"Kamu seperti yakin sekali?"


"Tentu saja … karena kamu satu-satunya wanita yang berhasil menaklukkan aku selama delapan tahun ini."


"Oohh … benarkah? jadi tidak ada satu pun yang bisa menaklukkan hatimu?"

__ADS_1


Mereka mengobrol hingga lupa waktu. Bahkan melupakan apa tujuan Rindu datang ke sana. Eja yang telah sibuk menggantikan pekerjaan Ardian sedari tadi, datang menghampiri.


"Ya, dan kamu—"


Eja mendehem menghentikan obrolan yang tak ada habis-habisnya. Mereka pun menoleh secara bersamaan.


"Maaf, Tuan Ardian … Anda tidak lupa bukan, hari ini kita ada rapat?"


Ardian pun melihat jam di dinding. Waktu untuk rapat tinggal sebentar lagi, dan benar dia melupakannya. Rindu hanya diam saja mendengarkan. "Emm, baiklah."


"Satu hal lagi, Tuan. Nona Rindu akan ditempatkan sebagai asisten produser."


"Dia, menerimanya?"


"Iya."


"Ok, baiklah. Aku sendiri yang akan mengantar Rindu ke sana."


Sang asisten pun pamit dan beranjak dari tempatnya. Kemudian Ardian bangun dan mengulurkan tangan, Rindu menyambut.


"Ayo, aku akan mengantarmu ke tempat kerja baru."


"Oohh … baik. Tapi, dia itu siapa?"


"Kamu akan tahu nanti."


Rindu mengedikkan bahunya. Dia menurut apapun yang akan dilakukan Ardian padanya, dan percaya pada laki-laki itu.


***


EM entertainment, perusahaan musik besar yang mempengaruhi perkembangan musik dalam negeri. Ardian adalah pengusaha muda yang sukses dalam bidang ini. Kemampuannya benar-benar di luar perkiraan. Saat ini label rekaman yang ada di bawah kendalinya telah mendominasi industri musik saat ini. Perusahaan ini mempunyai talent atau artis seperti boyband, girlband, solo singer dan grup band dari berbagai genre musik.


Rindu dibawa ke studio atau control room. Semua aspek yang dibutuhkan ada disana, mulai dari peralatannya, akustik ruang, hingga desain interior. Studio itu juga menggunakan material dan teknologi terkini dalam interior akustiknya. Berbagai jenis panel akustik digunakan seperti panel plafon yang berbentuk kurva ini difungsikan untuk memantulkan bunyi secara meluas ke seluruh ruang, selain itu juga terdapat panel BAD (Binary Amplitude Diffsorbor) yang terpasang pada dinding dan berfungsi untuk menyerap sebagian bunyi di frekuensi tengah serta menyebarkan bunyi di frekuensi tinggi. Penggunaan lighting juga tidak tanggung-tanggung sehingga setiap sudut dalam ruang ini tampak jelas dan indah.


Mata Rindu berbinar melihat ke sekeliling ruangan studio itu. Menakjubkan, Ini pertama kalinya bagi Rindu melihat tempat produksi sebuah musik sebagus ini. Dulu saat SMA, ini merupakan salah satu keinginannya. Mata Rindu membulat, mulutnya menganga.


"Heii!"


***

__ADS_1


__ADS_2