
***
Frankfurt, Jerman
Pukul 06.00 waktu setempat. Rindu terbangun dari tidurnya yang hanya dua jam saja. Dia menggeliat meregangkan otot-ototn yang kaku karena menempuh perjalanan jauh. Penerbangan Indonesia-Jerman menghabiskan waktu enam belas jam di pesawat. Lalu melanjutkan perjalanan dari Berlin ke Frankfurt melalui jalur darat sekitar enam jam. Perjalan yang sangat panjang, membuatnya ingin kembali tidur menghilangkan penatnya.
Frankfurt am Main adalah kota terbesar di negara bagian Hessen di Jerman dan kota terbesar kelima di Jerman. Frankfurt adalah sebuah negara kota, Kota Bebas Frankfurt, selama hampir lima abad, dan merupakan salah satu kota terpenting dari Kekaisaran Romawi Suci, sebagai tempat penobatan kekaisaran. Frankfurt juga adalah pusat global untuk perdagangan, budaya, pendidikan, pariwisata dan transportasi, dan dinilai sebagai "kota dunia alfa" menurut GaWC. Frankfurt juga disebut sebagai rumah bagi lembaga pendidikan berpengaruh, termasuk Universitas Goethe, UAS, FUMPA dan sekolah pascasarjana.
Rindu beserta keluarganya sekarang berada di kediaman tantenya di salah satu wilayah di kota itu. Tante Maya adalah adik kandung satu-satunya Mama Dahlia. Dia menikah dengan Anton, pria keturunan Jerman Indonesia. Tante Maya sudah tinggal di kota Frankfurt selama sepuluh tahun. Pasangan itu tidak memiliki keturunan, karena sang suami dinyatakan mandul sejak lama. Namun, Tante Maya bersedia mendampingi suaminya hingga akhir hayat. Tentu saja semua karena rasa cintanya kepada sang suami.
Selama ini Maya dan Anton hanya hidup berdua. Oleh sebab itu, Tante Maya meminta Rindu untuk datang menemaninya, sekaligus untuk membantu mengurus bisnis di sana. Rindu cukup merasa senang karena dia bisa diterima dengan baik di rumah itu. Mama Dahlia, Alan dan Alen akan menemani Rindu selama seminggu. Setelah itu mereka harus kembali lagi ke Indonesia.
Awalnya Rindu menolak untuk datang. Namun, karena bujukan dari Tante Maya yang berjanji akan membiayai kuliah musik Rindu di sana hingga lulus. Pada akhirnya Rindu mengiyakan keinginan tantenya tersebut. Rindu memang pernah bermimpi ingin kuliah di universitas khusus musik. Namun, karena keterbatasan biaya, Rindu hanya mampu mendaftar melalui jalur prestasi di salah satu universitas dalam negeri dan mendaftar program beasiswa. Dan beruntungnya dia diterima di sana, tapi malangnya Rindu terpaksa membatalkan semua rencana setelah kehilangan papa untuk selamanya. Kalau bukan karena keserakahan paman-pamannya. Rindu dan keluarga tidak akan sesulit sekarang ini.
Perlahan Rindu keluar dari kamar. Mama, Alan dan Alen masih tertidur lelap. Sepertinya mereka sangat kelelahan. Rumah itu hanya mempunyai dua kamar, sehingga mereka berempat tidur dalam satu ruangan. Lagipula ini hanya untuk seminggu. Rindu menghampiri Tante Maya yang sedang sibuk di dapur.
"Selamat pagi, Tante," sapa Rindu.
"Oo, Rindu, kok sudah bangun?"
"Iya, Tan ... Tante Maya sedang apa?"
"Ini, Tante sedang menyiapkan sarapan."
__ADS_1
"Rindu bantuin ya, Tan?"
"Eh ... tidak usah, Sayang, sebaiknya kamu mandi dan bersiap. Sekalian ajak Mama sama adik-adik kamu sarapan," pinta Maya.
"Ya sudah, kalau begitu Rindu masuk lagi, ya."
Tante Maya tersenyum, Rindu pun kembali ke kamar. Sebelum pergi mandi, Rindu mengambil ponsel, lalu menyalakannya. Entah berapa banyak pesan dan telpon yang masuk. Terutama dari Ardian, Rindu sedikit merasa bersalah tidak memberitahu sahabatnya itu. Ada ratusan panggilan dan pesan yang masuk. Dari Ardian, Dian, Dimas, Teo dan Bram. Semuanya mengucapkan salam perpisahan, kecuali pesan Ardian yang hanya mengungkapkan kesedihan dia tuliskan di sana.
"Rin, kamu kemana?"
"Rin, kenapa kamu pergi?"
"Rin, aku ingin mengatakan sesuatu padamu, kenapa kamu tiba-tiba menghilang?"
"Rin, aku sekarang ada di depan rumahmu. Keluargamu juga pergi? Kalian semua pulang ke kampung Mama? Kenapa tidak memberitahuku? Alamat kampung Mama ada di mana, Rin? Aku akan menyusulmu."
"Rin, ya Tuhan aku bisa gila kalau seperti ini."
Banyak ungkapan kata Ardian lainnya yang jika dibaca akan membuatnya lebih sedih. Rindu pun kembali mematikan ponsel. Dia menarik napasnya dalam-dalam dan menghembuskan, terasa sangat berat. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Ardian. Saat perpisahan dengan teman-teman kemarin saja, dia sudah dimarahi habis-habisan. Untung saja mereka bisa mengerti.
Jika Rindu memberitahu Ardian sebelumnya. Maka dia tidak akan bisa pergi. Rindu sangat mengenal seperti apa Ardian jika sudah memaksa untuk menuruti keinginannya. Pria itu bisa menggagalkan rencananya, atau bisa saja dia ikut Rindu pergi. Yang ada Rindu hanya akan membebani Ardian. Kalau bukan karena Rindu, Ardian tidak akan mendaftar di universitas yang sama dengannya. Sedangkan orangtua Ardian menginginkan agar Ardian melanjutkan sekolah di luar negeri supaya bisa melanjutkan bisnis keluarga. Rindu tidak mau menjadi beban Ardian lagi. Selama ini dia sudah cukup bergantung kepada sahabatnya itu.
Rindu memandangi pergelangan tangan yang terdapat gelang pemberian Ardian di sana, dia meraba. Mengingat ingat kembali kenangan bersama cinta pertamanya itu. Mengingat ciuman pertamanya. Mengingat saat-saat terakhir bersama Ardian. Tidak terasa dia meneteskan air matanya.
__ADS_1
"Ardi, maaf."
Hanya itu kata yang mampu terucap. Walaupun Rindu tidak tahu seperti apa perasaan Ardian padanya, tapi yang pasti saat ini dia tahu Ardian pasti sangat kecewa dengan keputusan yang dia buat. Selama ini mereka selalu saling terbuka, tidak pernah ada rahasia apa pun. Kecuali tentang perasaannya.
***
Satu minggu waktu berlalu. Sore itu Rindu berjalan kaki menuju tempatnya bekerja di sebuah bar cafe milik Tante Maya dan Anton. Jarak dari rumah hingga bar hanya 300 meter. Rindu selalu melewati deretan bangunan yang ramai. Karena dia masih baru di sini, jadi harus lebih waspada dari hal-hal yang tidak diinginkan. Sedikit banyaknya Rindu sudah mulai mempelajari bahasa Jerman.
'MAYA Cafe & Bar' yang buka setiap hari dari jam sembilan pagi hingga dua belas malam. Biasanya sore begini pengunjung datang untuk sekedar minum kopi dan makan cemilan. Rindu masuk melalui pintu depan dan langsung menuju meja kasir. Di sana ada Tante Maya yang sedang melayani pelanggan.
"Selamat sore, Tante," sapa Rindu manja.
"Sore, Sayang, bagaimana perjalanannya, Rin?"
"Semua baik-baik saja, Tan. Mis Adelin dan Nyonya Carie selalu menyapa Rin di jalan. Mereka sangat ramah. Nyonya Carie bahkan memberi Rin bunga dari tokohnya," ucap Rindu seraya memperlihatkan setangkai bunga tulip di tangannya.
Tante Maya tersenyum. "Baiklah, letakkan saja bunga itu dalam vas dan pajang di sini," pintanya kemudian.
"Ok, Tan," balas Rindu tersenyum riang.
Rindu pun bersiap untuk melakukan pekerjaannya. 'Maya Bar & Cafe' hanya mempunyai empat pegawai termasuk dirinya. Sedangkan Tante Maya akan berada di kafe dari pagi hingga sore hari, terkadang sampai malam. Rindu harus menggantikan Tante Maya hingga bar itu tutup nantinya.
Sedangkan Anton, pria itu memang suka seenaknya, kadang dia datang membantu kadang juga sibuk dengan urusannya sendiri. Dia melakukan pekerjaan apa saja, jika ada panggilan dia akan bekerja, jika tidak dia akan membantu di bar atau pergi ke kasino. Rindu baru mengetahui ternyata Anton adalah seorang penjudi dan pemabuk. Penghasilan Anton tidak seberapa, dia lebih banyak bergantung kepada Tante Maya. Rindu sebenarnya kasihan kepada Tante Maya yang harus bekerja ekstra untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
__ADS_1
***