
***
Rindu terdiam tak dapat berkata-kata. Ia merutuki kebodohannya yang percaya begitu saja dengan suami tantenya itu. Rindu tidak akan pernah memaafkan laki-laki biiadaab itu. Hidupnya sebentar lagi akan hancur, masa depan yang ia rangkai selama ini akan lenyap begitu saja.
Sekarang tubuh Rindu sudah berada dalam kendali pria beringas itu. Kakinya ditahan dengan kedua kaki Ramon dan menindih tubuhnya. Rindu kembali meronta-ronta, tangannya yang terikat borgol mencoba untuk terlepas. Namun, semakin ia mencoba, pergelangan tangannya semakin tergores oleh besi putih itu.
Tangan kasar Ramon mengoyak kaos Rindu dengan sekali tarikan, lalu membuangnya ke sembarang arah. Dalam sekejap tubuh bagian atas Rindu, yang putih mulus itu terekspos, hanya menyisakan kain penutup dadanya saja sekarang.
"Kamu sangat cantik, Sayang. Kulitmu lembut, putih, bersih, wajahmu halus dan menggoda. Jadilah milikku malam ini." Pria itu tertawa terbahak-bahak sambil membelai tubuh Rindu perlahan.
Rindu berteriak, memberontak lagi dan lagi. Suara merdunya berubah menakutkan terdengar sangat menyayat hati. Suara yang biasanya digunakan untuk menghibur pelanggan di bar milik tantenya, tidak terdengar indah kali ini. Apa pun perlawanan yang ia lakukan sama sekali tidak berarti.
"Ya Tuhan … maafkan segala dosa-dosaku. Mama, Alan, Alen, Tante Maya, maafkan Rindu yang tidak sanggup menjaga diri. Ardi, maafkan aku yang telah membohongi kamu, maafkan aku yang telah meninggalkan kamu tanpa pamit. Hidupku akan berakhir di sini. Papa … Rin akan segera menyusul." Tangis Rindu dalam hati.
Detik kemudian Ramon berhasil membuang semua kain penutup di badan wanita malang itu. Rindu menangis semakin keras, sekuat tenaganya ia berteriak sehingga suaranya terdengar parau. Namun, tidak ada yang peduli, percuma saja, tempat ini adalah daerah kekuasaan pria brenngssek itu.
Dalam sekejap Rindu telah kehilangan miliknya yang sangat berharga.
***
Saat hari sudah beranjak pagi, masih di tempat yang sama, Rindu tergolek pasrah menerima perlakuan biadab Ramon. Tenaganya telah habis karena melakukan perlawanan yang sengit. Tubuhnya telah dipenuhi bekas penganiayaan, lemah tidak berdaya. Tangannya masih dirantai dan menggantung di kepala tempat tidur. Matanya yang tadi tidak berhenti mengeluarkan cairan bening telah sembab. Wajah cantiknya tidak menunjukan ekspresi apa pun lagi. Rindu seperti ternak yang telah dipecut dan dikuras tenaganya hingga habis.
Tubuh yang telah kehilangan kain penutup itu tergeletak begitu saja. Ramon menghentikan aksinya setelah berhasil mencapai akhirnya. Wanita itu telah pingsan, tangan yang tergantung pun dia lepaskan. Ramon memandangi hasil perbuatannya dan tersenyum puas. Setelah membersihkan tubuhnya dan mengenakan kembali pakaian, ia pun keluar dari kamar itu.
Dua jam kemudian. Rindu yang kembali sadar melenguh merasakan sakit disekujur tubuhnya. Terutama di bagian pangkal paha, terasa nyeri dan membengkak. Matanya mencari keberadaan pria biadab itu. Tidak ada lagi tangisan, tidak ada lagi pemberontakan. Kini yang Rindu rasakan hanyalah rasa sakit dan penyesalan.
__ADS_1
Tatapannya kosong ke arah langit-langit. Wajahnya sayu tak bercahaya. Rindu seperti mayat yang memiliki nyawa. Kemudian terdengar pintu kamar itu dibuka seseorang. Ia segera bangkit menekuk lututnya hingga dada, dengan bergetar Rindu meraih selimut dan menutupi tubuhnya, ketakutan kembali mendatangi.
"Kamu sudah bangun, Sayang," ucap Ramon menghampiri. "Aku sudah melihat semuanya, Sayang, kenapa harus kamu tutupi, emm?"
Rindu tersentak begitu melihat pria itu kembali naik ke ranjang. Membuka satu persatu kain yang melekat di tubuhnya.
"Mau apa lagi kamu!" bentak Rindu dengan suara parau.
Tawa menjijikkan Ramon menggema. "Kamu masih memiliki tenaga rupanya."
"Cukup! jangan lakukan lagi, aku mohon!" Kedua telapak tangannya di satukan, Rindu menghiba memohon belas kasihan.
Pergelangan kaki Rindu tiba-tiba ditarik kasar. Kepalanya terantuk ke kepala tempat tidur, hingga mendarat di bantal. Kaki digenggam begitu kuat, hingga sulit baginya untuk memberontak. Rindu berteriak meronta-ronta, menggapai apa pun agar bisa bebas.
Sakit yang Rindu rasakan karena sebelumnya belum pun pulih. Pria itu kembali akan memperkosanya. Ramon menahan kedua kaki Rindu dengan sebelah tangannya. Kali ini ia mengikat pergelangan kaki itu dengan rantai yang ada di kaki tempat tidur.
Rindu kembali menangis, berteriak. Ramon mengungkung dan menahan pergelangan tangan Rindu kasar, kemudian mengangkat hingga ke atas kepala wanita itu. Kedua pergelangan tangannya masih membekas goresan borgol. Sedangkan tangan kiri pria itu mencengkram rahang Rindu begitu kuat, teriakan itu pun terhenti.
"Berhentilah berteriak, aku lebih suka mendengar suara indahmu saat menikmatinya."
Ramon merentangkan kedua kaki Rindu dengan kakinya. Sekarang kaki wanita itu tidak lagi bisa bergerak bebas. Rantai itu menegang, perlahan borgol yang melingkar di pergelangan kaki menggores kulitnya. Ramon mulai menciumi kasar bibir indah Rindu yang masih sobek di bagian bawahnya. Perlakuan Ramon sangat kasar hingga Rindu sulit untuk bernafas. Bahkan pipinya masih membekas tamparan pria brengsek itu dari penganiayaan dua jam yang lalu.
Perlahan Ramon kembali menerobos ke dalam diri milik Rindu. Dengan sekali hentakan ia berhasil masuk hingga tenggelam keseluruhannya. Rindu mendongak ketika merasakan hentakan kuat menusuk hingga ke ujung. Ramon membekap mulut Rindu dan menelusupkan wajahnya ke leher jenjang wanita itu. Meninggalkan bekas kecupan bulat kemerahan. Sambil terus memacu perlahan, Ramon menurunkan kepalanya hingga mencapai keindahan yang Rindu miliki. Ramon menikmati kedua keindahan itu dan menggigit puncaknya. Rindu mendongak menahan kesakitan yang ia rasakan. Teriakannya tertahan karena bekapan pria jahat itu. Pacuan Ramon semakin cepat, pria itu sangat beringas.
"Sakit … sakit sekali, aku tidak sanggup lagi, hidupku sudah hancur, lebih baik kematian saja yang mendatangiku," rintih Rindu dalam hati.
__ADS_1
Perlakuan kasar Ramon terus berlangsung hingga Rindu kembali kehilangan tenaga. Pria bajingan itu benar-benar tidak memberinya istirahat walau pun hanya sebentar. Berulang kali Ramon Mengganti posisi mereka. Dan semua itu berlangsung hingga ia benar-benar merasa puas.
***
Sementara di kediaman Tante Maya. Wanita paruh baya itu terus gelisah, semalam ia dikabari Anton bahwa Rindu menginap di rumah Belinda. Namun, kenyataannya tidak. sebentar tadi dia menelpon pegawainya itu dan mengetahui Rindu tidak ada di sana. Kemudian dia segera menghubungi Anton, tetapi nomor telepon suaminya itu tidak aktif. Akhirnya Tante Maya meminta bantuan kepada Steven untuk mencari keberadaan Rindu. Ia kembali melakukan panggilan telepon.
"Steven, bagaimana ini bisa terjadi?"
"Nyonya, semalam Anton membawa Rindu untuk menjenguk Anda di Rumah sakit. Ya, Tuhan … jadi kemana suami anda membawa Rindu?"
"Pria brenngssek itu!"
"Nyonya … Anton berakting sangat meyakinkan semalam, kami bahkan bisa melihat wajah ketakutannya. Sebelumnya saya sudah curiga Nyonya, tapi dia berhasil meyakinkan kami. Dan kami semua akhirnya percaya."
Terdengar nada penyesalan dari suara Steven di seberang sana. Seharusnya ia dapat mencegah Rindu pergi malam itu.
"Steven, tolong saya … cari di mana pun Rindu. Anton bahkan tidak bisa dihubungi!"
"Baiklah, Nyonya … saya akan berusaha mencari."
Panggilan itu berakhir, Tante Maya duduk terkulai di sofa. Bagaimana ia harus menjelaskan kepada kakaknya nanti. Ia telah lalai menjaga keponakan perempuannya. Ia telah gagal memenuhi janjinya. Tante Maya menangis sesegukan membayangkan nasib Rindu yang entah bagaimana.
Di sisi lain, Steven mengamuk menghantam dinding. Amarah berapi-api, ia menyesali kebodohannya. Ia baru saja terbangun saat mendengar panggilan telepon dari bos-nya. Dan kabar mengejutkan itu pun datang. Tadinya ia akan pergi menjenguk bos-nya itu di rumah sakit.
***
__ADS_1