Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Tes DNA


__ADS_3

***


Ardian hanya terdiam mendengar perkataan mamanya. Dia terpaksa menurut, ia mengingat kejadian ini tiga minggu yang lalu. Ketika Rindu pertama kali datang ke kantornya. Kelakuan bar-bar Rindu sama persis dengan mamanya. Ardian tersenyum mengingat terakhir kali mamanya menghukumnya seperti ini saat masih duduk di bangku SMA.


"Kita abaikan saja anak nakal ini," ucap Della seraya mengelus punggung tangan wanita di sampingnya. "Rindu, Tante mau mengatakan sesuatu sama kamu."


"Apa Tante?" tanya Rindu lembut.


"Tante … mau minta maaf."


"Maaf? Maaf karena apa? Rindu tidak merasa ada yang salah," tanya Rindu bingung.


"Maaf karena Tante mengabaikan dulu sewaktu kamu pergi. Tante merasa egois, membiarkan Ardian dan kamu tersiksa karena perasaan masing-masing. Tante berniat, akan mempertemukan kalian setelah Ardian menyelesaikan kuliahnya. Tetapi semua terlambat, begitu Tante mencari keberadaan kamu, ternyata kamu sudah menikah," tutur Mama Della lembut dengan nada penyesalannya. Eja dan Papa Armand mendengarkan.


Rindu melirik sekilas pada Ardian, lalu kembali melihat raut wajah wanita di hadapannya. Terlihat rasa bersalah dari wajah awet muda Mama Della. Rindu tersenyum manis, sifat keibuan mama Ardian mengingatkan pada Mamanya. Sifat dua wanita paruh baya itu hampir sama.


Ardian melihat dengan rasa haru. Saat mamanya bercerita tentang pernikahan Rindu, ia sudah tahu lebih dulu. Mamanya juga minta maaf dengan cara yang sama. Ardian tidak bisa marah, walaupun mamanya membohonginya berapa kali mengenai keberadaan Rindu.


Mereka memang tidak ditakdirkan untuk bersama pada waktu itu. Tidak ada yang bisa menyalahkan takdir. Jika di waktu yang lalu mereka tidak ditakdirkan untuk bersama, hanya doa yang bisa dipanjatkan untuk kehidupan yang baik untuk orang terkasih.


Ardian, pria yang selama delapan tahun selalu setia pada satu cinta yang dimiliki. Cinta itu masih berpihak padanya, yang pernah ia ikhlaskan ternyata kembali lagi. Jika ia telah melewatkan kesempatan yang dulu, kesempatan kali ini tidak akan dilewatkan.


"Rin, tante minta maaf. Tante tidak bermaksud memisahkan kalian." Wanita paruh baya itu menatap Rindu dengan mata berkaca-kaca, ia melirik Ardian sesaat yang kini menghampirinya.


"Ma …." Ardian meletakkan tangan di pundak mamanya dari belakang. Perlahan ia duduk di lantai ikut mendengarkan pembicaraan mereka.


Tanpa sadar air mata Rindu menetes begitu saja. Ia tidak ingin mengingat bagaimana rasa pahit yang dirasakan dulu. Namun, pikirannya tetap kembali ke masa lalu. Ketika ia pergi tanpa kabar, ketika ia menangis diam-diam sendirian. Tentang perasaan yang dipendam untuk Ardian, cinta pertamanya.


"Tante, jangan minta maaf. Tidak ada yang salah, Rindu yang memilih untuk pergi. Rindu membuat jalan hidup sendiri, walaupun itu menyakitkan, tapi hanya itu pilihan yang ada waktu itu. Rindu tidak pernah menyalahkan siapa pun," ucapnya lembut seraya mengusap air matanya.

__ADS_1


"Terima kasih, Sayang." Mama Della memeluk dengan rasa haru.


Walaupun semua itu bukan kesalahanya, Mama Della tetap merasa bersalah telah menyimpan kebenaran pada putranya. Jika dulu ia jujur, mungkin saja Ardian tidak harus merasakan sakit karena merindu pada wanita di hadapannya.


Waktu memang tidak bisa berputar kembali, tapi kehadiran Rindu dalam hidup Ardian saat ini membuatnya bersyukur. Bagaimanapun keadaan Rindu sekarang, demi kebahagian putranya, ia menerima dengan ikhlas. Dia juga sudah mengenal dan menyukai Rindu sejak lama.


"Ma, Pa … Ardi sudah meminta Rindu untuk menjadi pendamping hidup." Ardian segera mengganti topik, sontak membuat Rindu membelalakkan matanya.


"Benarkah? Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya Mama Della dengan wajah berbinar melonggarkan pelukannya.


"Rindu masih belum beri jawaban, Ma."


"Rindu … kamu tidak mau menikah dengan Ardian? Kamu sudah tidak mencintai Ardian lagi? Apa anak nakal ini belum bisa meyakinkan kamu? Dia meminta dengan cara yang salah, pasti seperti itu." Della mendelik tajam pada Ardian. "Seharusnya kamu melamar dengan cara yang benar," ujarnya sambil menjewer kuping putranya.


"Aauuuu … Mama!" rengek Ardian memegangi telinga. Rindu, Eja serta Papa Armand tersenyum lucu. "Ardi sudah besar, Ma."


"Biar tau rasa … belajar dari Papa kamu."


"Hahaha … Ardi nggak mau pake caranya Papa. Tapi Ardi akan buat sesuatu yang spesial, biar Rindu langsung bilang 'iya'," ucapnya yakin lalu melirik kekasihnya yang tertunduk.


"Bagus, lakukan yang terbaik. Mama mau Rindu jadi menantu Mama secepatnya. Bagaimana, Pa?" tanyanya melirik pada sang suami.


"Papa dari awal sudah setuju. Keputusan terakhir ada di tangan Rindu." Jawaban Papa Armand membuat Ardian tersenyum.


"Bagus," seru Mama Della senang lalu kembali menghadap pada Rindu. "Jadi, apa yang membuat kamu menolak anak Tante?"


"Tante, bukan seperti itu. Rindu hanya butuh waktu untuk berpikir. Rindu … baru saja bercerai, Rin hanya merasa terlalu cepat," jawabnya menunduk malu.


"Kamu masih mencintai Ardian?"

__ADS_1


Pertanyaan Mama Della membuat jantung Rindu mempercepat iramanya. Rindu merasa canggung untuk menjawab. Sedangkan Ardian antusias menanti jawaban. Papa Armand menjadi pendengar setia. Sedangkan Eja telah sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk, semua tugas Ardian juga harus ia selesaikan.


"Rin," panggil Mama Della.


"Hmm … masih Tante. Rindu masih mencintai Ardi," jawabnya tertunduk malu, pipinya berubah warna merah jambu. Mata Ardian berbinar mendengarnya.


Mama Della tersenyum membelai wajah cantik Rindu sesaat. "Kamu anak baik, kuat dan sabar. Terima kasih sudah mau kembali pada anak tante. Jika tidak, mungkin dia sudah menjadi bujang lapuk. Om dan tante berharap kalian segera menikah."


"Ma …," rengek Ardian manja.


Seketika terdengar semburan tawa dari Eja yang tengah menatap layar laptop. "Bos, cuma dua orang yang bisa menaklukkan sikap dinginmu, Bos. Mama dan Rindu," ejek sang sekretaris, lalu dianggukan Papa Armand. Ardian sontak melotot ke arahnya, Mama Della dan Rindu tersenyum membenarkan.


Terkadang Eja itu memperhatikan perubahan pada diri Ardian setelah bertemu Rindu. Sebelumnya Ardian tidak pernah menunjukan sisi manjanya yang seperti ini. Mereka pun akhirnya tertawa terbahak-bahak, Ardian seperti kembali ke masa saat ia bisa bersama dengan keluarganya.


Saat mereka sedang asyik bercengkrama, ponsel Eja di atas meja tiba-tiba berbunyi.


"Bos … Bram." Eja memperlihatkan nama penelpon.


Ardian bangkit dan pindah duduk di atas sofa. Panggilan itu pun Eja angkat, raut wajahnya berubah drastis. Sepertinya ia mendapat berita yang sangat penting. Semua mata tertuju padanya, menunggu hal penting apa yang sudah diterima dari Bram.


"Bos, kita harus ke kantor polisi segera!" ucap Eja segera setelah menutup telepon.


"Dia sudah membacanya?" tanya Ardian seperti sudah paham dengan apa yang terjadi.


Tiga pasang mata di sana sekarang beralih pada Ardian. Mencerna pembicaraan antara dua orang itu dengan serius.


"Benar, dan dia ingin bertemu dengan Rindu." Eja melirik Rindu sesaat.


"Aku? Ada apa?" tanyanya kebingungan. Mama Della merangkul pundaknya.

__ADS_1


"Rin, aku minta maaf sebelumnya. Kami telah melakukan tes DNA pada Kanaya dan ayahnya. Aku sudah minta ijin dari Mama Lia, " terang Ardian akhirnya.


"Tes DNA?"


__ADS_2