
***
Ardian melambaikan tangan kepada Rindu dari jauh. Dia bersandar di motor lalu tersenyum. Dengan memakai jaket dan celana jeans robek di lutut. Penampilan Ardian selalu mendapat pujian di mata Rindu. Apapun style yang Ardian kenakan pasti terlihat modis.
"Tampan," batin Rindu. Meski tidak dapat dipungkiri, hatinya merasa senang Ardian kini datang menemuinya.
Rindu berlari kecil membuka pagar rumahnya. Adrian tersenyum melihat raut wajah Rindu sedikit kesal. Dan kekesalan itu karena dirinya, tentu saja. Satu-satunya yang bisa membantunya saat ini hanya Rindu. Solusi agar teman-teman yang lain bisa memaafkannya.
"Haii ... nona cantik."
"Idihhh ... mau apa kesini? Masih ingat teman kamu?" Mode galaknya aktif.
"Jangan marah-marah. Cantiknya bisa hilang loh."
Rindu mengerlingkan mata. "Gak usah ngegombal ... bilang ada apa? Aku lagi sibuk," jawabnya ketus.
"Elehhh, paling juga sibuk denger Radio kan?"
"Iyaaaa ...," jawab Rindu malas meladeni lalu berkacak pinggang.
"Sorry, sorry ... maafin aku, udahan ya marahnya."
Adrian menunduk mendekatkan wajahnya di hadapan Rindu. Jarak tubuh mereka yang tadinya beberapa langkah, jadi berkurang. Hal itu sontak membuat Rindu mendorong badan ke belakang satu langkah.
Rindu menarik nafasnya dalam-dalam dan menghembuskan kasar. "Hahh ... jantung aku nggak sehat gara-gara kamu Ardi ...," batinnya.
"Temenin aku keluar bentar ya," ucap Ardian kemudian kembali ke posisi tegak.
"Kemana?"
"Kafe biasa," alisnya bergerak naik turun.
"Malas lah. Ngapain, aku mau belajar."
"Bentaran aja, please! Aku janji nggak lama." Ardian membentuk jari telunjuk dan jari tengah seperti huruf V. Pria itu memelas dengan tatapan matanya.
"Aku izin mama dulu." Rindu akhirnya mengalah, tidak ada gunanya dia marah terus-menerus, toh Ardian akan selalu mengganggunya. Lagi pula Rindu juga mau mendengar alasan Ardian mendiamkannya tiga hari ini.
__ADS_1
Ardian tersenyum senang, Rindu memang mudah dibujuk seperti biasa. Tidak salah kalau dia mendatangi Rindu minta bantuan. Selama ini hanya Rindu yang paling mengerti Ardian.
***
Di kafe sebuah kafe. Tempat biasa Ardian mengajak Rindu menghabiskan waktu berdua. Kafe yang selalu buka hingga tengah malam. Anak-anak muda banyak datang meramaikan, apalagi di malam Minggu, kafe ini akan buka hingga subuh.
Rindu masih mengenakan jaket tadi, tapi resleting telah dipasang hingga atas dada. Rambut panjangnya pun sudah rapi, ikat ekor kuda. Wajah juga sudah di poles bedak serta lipbalm tipis. Memancarkan kecantikan alami wanita muda itu. Terlihat manis dan mempesona.
Tidak dipungkiri sebenarnya Ardian kagum dengan kecantikan Rindu. Dari ketika pertama kali bertemu Ardian sudah tertarik pada gadis yang sekarang dianggapnya sahabat. Namun, Ardian tidak pernah berniat untuk menjadikan Rindu sebagai pacar. Karena dia merasa sudah terlalu nyaman sebagai seorang teman baik, lebih dari itu, dia tidak terpikirkan.
Perhatian dan kepedulian selalu dia tunjukkan terhadap Rindu, begitupun sebaliknya. Tapi mereka tidak pernah mengakui jika dikatakan sedang berpacaran, karena memang tidak. Persahabatan mereka lebih dari cukup untuk memperlihatkan kasih sayang, setidaknya itulah yang Arisan pikirkan.
"Jadi ... sekarang jelaskan!" Rindu melipat tangan di dadanya. Menatap tajam pada Ardian yang duduk di sebelahnya.
"Tenang dulu ... minum dulu!" Senyum menggoda ciri khas Ardian menaik turunkan alisnya.
Rindu menghela napasnya. "Sabar, Rindu sabar...," batinnya sambil mengelus dada.
Sementara Ardian terkekeh kecil. Beberapa saat kemudian dia pun mulai bercerita. "Namanya Dania, anak kelas 2-2. Nggak sengaja ketabrak di depan kelas dia. Waktu itu aku lagi buru-buru ke lapangan. Setelah itu sering lihat dia nonton basket di jam istirahat. Lalu aku mulai suka dan kita kenalan."
"Hhmmm." Rindu bergumam mendengarkan sambil manggut-manggut.
"Mangut-mangut doang. Ngomong apaan gitu." Protes Ardian melihat respon Rindu.
"Aku harus ngomong apa? kamu baru mau cerita sekarang, kemarin aku kan nggak kamu anggap nyata!" jawab Rindu santai lalu menyeruput coklat panas di meja.
"Iya … maaf, Itu karena takut dia nolak aku. Soalnya dia pikir kita itu lagi pacaran. Aku bermaksud mau kenalin kamu ke dia, tapi belum nemu waktu yang pas. Tolong jelasin kita cuma temenan aja yah, yah?" Ardian memohon kepada Rindu.
Melihat kesungguhan Ardian, Rindu sudah tau akhirnya tidak akan ada kesempatan bagi dirinya. Rindu menekan sekuat hati, menahan perih yang dia rasakan. "Ardian ... tolonglah sekali saja kamu lihat aku. Lihat hati aku, ada kamu Ardian. Kapan kamu bisa sadar? Kenapa kamu nggak pernah peka, Ardi! Hahh, mungkin sekarang aku harus menyerah, kan?" batin Rindu.
Ingin rasanya Rindu berteriak mengeluarkan unek-unek di dadanya. Mempertemukannya dengan saingan, yang benar saja! Diam-diam mencintai sudah cukup berat bagi Rindu. Sekarang harus merestui hubungan Ardian dan Dania?
"Rindu, besok ya, kita jalan bertiga."
"Besok aku nggak bisa. Sudah ada janji." Tolak Rindu cepat.
"Hahhh? Sama siapa?" Ardian sedikit terkejut. Sekarang tau bagaimana rasanya diabaikan.
__ADS_1
"Dimas, Dian juga."
"Kalian mau jalan? Aku kok nggak diajak?"
Jika weekend tiba, mereka biasa berencana keluar bersama. Namun, kali ini tanpa Ardian. Pria itu sedikit kecewa, tapi ini karena kesalahannya juga.
"Salah kamu sendiri yang cuekin kita. Pacaran Mulu kerjaannya, sama temen sendiri lupa."
"Hehe … iya maaf." Ardian merangkul pundak Rindu lalu menepuk-nepuk memohon maaf. "Aku ingat soal perjanjian kita, makanya aku takut mau bilang kalian," akunya kemudian.
"Semuanya bisa dibicarakan Ardi, kita bisa hapus perjanjian itu sama-sama. Dimas dan Dian sekarang marah, kamu mau bilang gimana ke mereka?"
"Kan ada kamu Rindu."
"Lagi ... lagi ... kan aku lagi yang harus turun tangan. Kamu itu kebiasaan ya!" telinga Ardian dijewer.
"Auuu … auuu, sakit, Rin!"
"Sukurin, rasain tuh."
"Cuma demi kamu loh ini, aku ikhlas sakit gini. Udah gak marah, kan?" hidung Rindu di tariknya. Seketika Ardian tertawa gemas. Tertawa itu akhirnya menular kepada Rindu.
Semarah apapun Rindu, tak akan pernah bisa lama-lama. Ardian selalu bisa menyenangkan dirinya. Berada di dekat Ardian sudah cukup membuat Rindu nyaman. Setidaknya untuk saat ini, masih ingin bersama Ardian, dalam status apapun. Mungkin mulai sekarang, Rindu akan mulai melupakan perasaan ini. Perlahan, semoga saja bisa lupa. Rindu berharap, Ardian bahagia akan pilihannya.
"Kamu mau makan dulu nggak?" tanya Ardian setelah mereka mengobrol cukup lama. Sebentar lagi waktunya makan malam.
"Nggak usah deh, aku makan di rumah aja."
"Kita pulang sekarang? Nggak mau malam mingguan dulu?"
"Hihh, nggak mau. Ntar aku disalahin lagi, malam mingguan sama pacar orang."
"Aku nggak bilang, mau ajak kamu malam mingguan."
"Hihhh, dodol resek nyebelin! Udah, aku mau pulang." Rindu lalu berdiri meninggalkan Ardian.
Sementara pria itu terkekeh melihat wajah kesal Rindu. Seperti biasa, dia selalu suka membuat Rindu marah. Baginya sesuatu yang menyenangkan, ada perasaan hampa ketika mereka tidak bertengkar.
__ADS_1
***