Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Surprise


__ADS_3

***


"Rin ... Dimas sama yang lain udah nungguin di parkiran nih, kamu udah selesai?" Dian yang baru saja menerima pesan dari Dimas, berujar.


"Iya Di, bentar lagi!" Seru Rindu dari dalam bilik toilet.


"Eh Rin, kamu bawa lipbalm nggak? Punya aku ketinggalan."


"Ada tuh di tas, kamu ambil aja."


"Heh ... si Dimas WA lagi, di suruh cepetan katanya. Nggak sabaran amat sih nih anak-anak, ngak ngerti apa kita cewek perlu touch up dulu. Lama-lama aku suruh gantian pake rok kita, kapok nggak tuh." Dian menggerutu kesal.


"Kamu bales aja gitu," ucap Rindu samb terkekeh geli. Rindu pun menggeleng dan keluar. Dia maklum seperti biasa, Dian akan kesal kalau didesak terus. "Ok, udah selesai, yuk berangkat."


"Kamu nggak touch up dulu?"


"Nanti di mobil aja, kasihan anak-anak kelamaan nunggu."


"Ok lah ... yuk!"


***


"Dimas! Rindu sama Dian mana sih, lama amat? tanya Bram, dia terlihat gelisah. "Panas nih!"


"Sabar, Bram ... lagi ganti baju mereka, bentar lagi juga keluar," jawab Dimas dan disambut anggukan Teo.


"Nah, itu mereka." Teo melihat Rindu dan Dian jalan mendekat. Namun, tatapan matanya lebih fokus ke Rindu yang sudah berganti dari seragam putih abu-abu jadi pakaian casual. "Cantik walaupun nggak pake makeup, kapan ya aku bisa jadian sama kamu Rindu. Pengen nembak kamu secepatnya. Sayang kamunya menghindar terus kalau aku bahas itu," batin Teo.


Memang dari awal kenalan Teo sudah menaruh hati pada Rindu. Setiap ada kesempatan Teo terus mencoba memikat hati Rindu. Namun, Rindu selalu beralasan tidak diperbolehkan berpacaran oleh orang tuanya. Mau tidak mau Teo harus terima keputusan Rindu. Daripada harus dipaksa, Teo lebih memilih untuk tetap membuat Rindu nyaman di dekatnya. Siapa tau suatu saat nanti Rindu berubah pikiran, kan? Begitu pemikir Teo, dia terus menyemangati dirinya.


"Heiii guys ... maaf, lama ya nunggunya?" sapa Rindu melambaikan tangan.


"Nggak ... nggak apa-apa kok, Rin. Kita sabar kok nungguin kamu," jawab Teo.

__ADS_1


"Kita? Lo aja kali ... aku kepanasan tau nggak," balas Bram menggerutu.


"Maaf." Rindu meminta maaf dengan senyum manisnya.


Dian yang hendak menyaut dihentikan Dimas. "Sudah, sudah ... ayo berangkat, Berdebat lagi bisa kesorean kita. Selesainya juga bisa kemalaman," ujar Dimas sebagai penengah.


***


Malam harinya di rumah Rindu. Lagi-lagi Ardian datang tanpa mengabari. Kebetulan Rindu belum pulang ke rumah. Tadinya dia ingin curhat tentang masalahnya ke Rindu, tapi kedatangannya sia-sia. Salahnya juga yang tidak bertanya pada Rindu lebih dulu. Kini terpaksa harus ke studio tempat Rindu latihan.


Pukul 19.30, Ardian sampai di studio. Karena malas masuk ke dalam, dia pun mengirim pesan dari aplikasi hijau.


"Rin, kamu selesai latihan jam berapa?"


"Latihannya sudah selesai, ini mau pulang. Kenapa?" Pesan balasan Rindu.


"Aku di bawah."


"Hah? Di bawah, di studio?"


"Ya udah, bentar lagi aku turun."


Lima menit kemudian Rindu dan yang lainnya keluar bersamaan. Ardian menunggu di parkiran. Karena melihat Rindu yang begitu intens dengan Teo, Ardian pun memanas. Segera Ardian menghampiri mereka. Semuanya menyadari kedatangan Ardian dengan raut wajah yang tak dapat diartikan, termasuk Teo. Mereka jadi was-was, jangan sampai teriak lagi.


"Woii ... Ardi, lo di sini?" tanya Dimas lalu mengepalkan tinjunya ke arah depan.


Ardian berusaha terlihat biasa saja. "Gue ada perlu sama Rindu?" Dia menyambut kepalan tangan Dimas dan mengadu tinju mereka. "Rin, ayo!" ajaknya beralih menatap Rindu. "Gue pinjam Rindu bentar ya," ucapnya kemudian mengarah ke yang lain. Namun, lirikan matanya tajam pada Teo.


"Pinjam? Hiss, memangnya aku barang, pinjam pinjam!" Gerutu Rindu protes, lalu diikuti tawa mereka semua. "Udah jalan sana ... bye semua!" Pamit Rindu kemudian pada teman-temannya.


Teo yang menyadari lirikan mata Ardian tadi, sedikit merasa tidak suka. "Bukankah Rindu dan Ardian hanya sahabat. Ardian juga punya pacar. Tapi kenapa tatapan Ardian seakan mengajak bersaing memperebutkan Rindu?" batin Teo.


Sebenarnya dia tidak masalah. Hanya saja Ardian sebelumnya mengaku tidak punya perasaan apapun ke Rindu, selain rasa sayang sebagai sahabat. Tentu saja Teo merasa ragu dengan ucapan Ardian beberapa waktu lalu.

__ADS_1


"Aahhh, peduli apa gue soal perasaan lo, Ardi. Yang gue tau sekarang, gue akan berjuang mendapat Rindu. Hanya selangkah lagi sampai Rindu mau menerima gue!" batin Teo lagi meyakinkan dirinya sendiri.


***


Tengah malam sunyi dan damai. Rindu yang lelap dalam tidurnya, tenggelam dalam alam bawah sadar dan membawanya ke alam mimpi. Rindu duduk di sebuah bangku, di hadapannya terhampar padang rumput yang luas. Udara terasa sejuk, hembusan angin bertiup merayapi kulitnya. Rambut panjangnya bergoyang-goyang diterpa semilir angin yang hangat. Dihirupnya udara yang segar mengisi paru-parunya.


Di hadapan muncul bayangan sosok pria menghalangi pandangan Rindu. Matanya mengerjap merekam wajah pria itu lebih seksama. Namun, wajah itu tidak terlihat sama sekali. Pria itu mengulur tangan padanya. Mengajak Rindu bangkit dan pergi. Rindu pun mengulurkan tangan mengikuti pria itu. Mereka berlari menyusuri hamparan padang bunga yang sedang bermekaran.


Edelweis—bunga yang dijuluki sebagai bunga simbol keabadian cinta. Pria itu membalikkan badan dan menarik Rindu hingga jatuh ke pelukannya. Rindu merasa bahagia, sangat, sangat bahagia. Senyuman pum tak pernah hilang dari bibirnya.


Rindu menghirup aroma tubuh pria itu, harum. Pelukan yang begitu damai. Rindu merasa dada itulah tempat ternyaman baginya. Kemudian tangan pria itu meraih dagu Rindu, membuatnya mendongak ke atas. Tubuh yang merengkuhnya begitu tinggi. Pria itu tampak tersenyum, tetapi wajahnya tidak terlihat jelas. Si pria lalu mendekatkan wajah, menempelkan bibirnya yang begitu menggoda ke bibir Rindu. Rindu memejamkan mata, merasakan kehangatan yang menyentuh lembut hingga masuk ke relung hatinya.


Beberapa saat kemudian Rindu kembali membuka mata. Namun, sekelilingnya masih begitu gelap. Sosok pria tinggi tadi pun telah menghilang. Rindu mengerjapkan matanya berulang kali. Hingga akhirnya Rindu terbangun, seketika dia sadar bahwa itu semua hanyalah mimpi.


Ketika Rindu akan memejamkan mata kembali. Terlihat bayang-bayang orang sedang mengendap-endap menghampirinya. Seketika Rindu menegang, ingin berteriak tapi tidak bisa. Napasnya terasa berhenti, seketika merasa terancam pada sosok berbahaya.


Dan … lampu tiba-tiba menyala.


"Surprise …!"


"Happy birthday … Rindu …!"


Ardian melepaskan confetti, Dian dan Dimas meniup peluit. Ketegangan yang semula Rindu rasakan seketika hilang. Ya, tepat jam 12 malam Rindu berumur 17 tahun. Bahkan dia sendiri pun lupa.


"Astaga ... kalian! Hampir aku jantungan tau nggak?" pekik Rindu kepada Ardian Dimas dan Dian yang sudah berada di hadapannya.


Ketiga sahabatnya itu tertawa bersamaan. Kemudian Mama Dahlia masuk membawa kue diikuti Papa Ariel, juga kedua adik kembar Rindu—Alan dan Alen. Sambil menyanyikan lagu ulang tahun mereka bertepuk tangan.


"Happy birthday to you … happy birthday to you … happy birthday to Rinduuuu … Happy birthday to you uuuuu …!"


Mereka menyanyi penuh semangat disertai sorakkan dan seruan panjang.


Masih dalam mode kaget Rindu menganga membulatkan mata dan mulutnya. Ardian meraih tangan Rindu agar bangkit dari tempat tidur. Rindu menghampiri mereka lalu memejamkan mata berdoa dan meniup lilin.

__ADS_1


***


__ADS_2