Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Menuggu dan melupakan


__ADS_3

***


Sulit rasanya untuk Ardian menjelaskan. Ternyata Dahlia mengetahui perasaannya pada Rindu selama ini. Apa Rindu yang cerita? Tarikan nafasnya berat dan panjang.


Sepertinya Dahlia mengerti keadaan yang sebenarnya. "Kamu masih mencintai Rindu, kan? Nggak usah bingung, mama udah lama tau. Sejak Rindu meninggalkan Indonesia delapan tahun lalu. Rindu cerita kalau kamu ungkapin perasaan. Hanya saja keadaan sudah tidak bisa diubah."


Pria itu terdiam, dia mengangguk lemah. "Selalu, Ma. Ardi nggak pernah melupakan Rindu. Dia adalah cinta pertama dan yang terakhir." Tatapannya lurus menerawang ke depan.


"Kamu mau menikahi, anak mama?" tanya Dahlia tiba-tiba, membuat Ardian menoleh.


"Sangat, itu harapan Ardi satu-satunya, Ma." Suaranya terdengar bergetar, pria itu menahan diri.


"Hahh … kamu harus bersabar, Ardi. Rindu masih dalam keadaan sulit menata hatinya," ucap Dahlia mengelus lengan Ardian.


Pria itu mengangguk. "Tentu saja Ardi akan bersabar, Ma. Hanya saja Rindu selalu menghindar. Apa alasannya? Apa Rindu benar-benar tidak mencintaiku lagi?"


"Masih Ardi. Mama bisa lihat dari sorotan matanya. Mama yakin, Rindu masih ada perasaan padamu. Mungkin dia masih berat untuk mengatakan. Sabarlah, jika waktunya tiba, Rindu pasti akan ceritakan alasannya."


Naluri seorang ibu adalah yang terbaik dalam menilai anak-anaknya. Bagaimanapun Dahlia tahu apa yang dirasakan Rindu. Hanya saja selama ini dia diam, lebih menyerahkan semua jalan yang Rindu pilih sendiri. Dia hanya perlu menjadi penasehat dan penyemangat untuk anak-anak.


"Iya, Ma. Ardi pasti akan menunggu."


Siang itu Ardian berpamitan untuk pulang. Lalu sorenya dia kembali untuk memenuhi janjinya pada Rindu. Dia akan mengajak ke stasiun radio yang dibeli demi Rindu. Rindu terlihat bersemangat, begitupun juga Kanaya yang ikut serta.


Tadinya Rindu terlihat ragu untuk pergi, apalagi dengan membawa Kanaya. Dia masih cemas dengan pemberitaan yang mengarah padanya. Bagaimana jika keberadaan Kanaya akhirnya terekspos. Lalu Bagas, apakah mantan suaminya itu tidak akan melakukan sesuatu jika dia tau?


Namun, setelah Aridian meyakinkan dirinya, akhirnya Rindu setuju. Awak media tidak akan mengganggu, dia sudah memerintahkan beberapa orang untuk berjaga-jaga. Begitu perkataan Ardian membuat Rindu percaya. Semua akan baik-baik saja, semoga.


"Dadah Oma ….!"

__ADS_1


"Dadah Naya … jangan nakal ya!"


Kanaya melambaikan tangan dari dalam mobil. Dahlia membalas melambai dan tersenyum. Gadis kecil itu tampak senang dibawa keluar jalan-jalan. Rindu yang memangku Kanaya menutup jendela kaca mobil. Melihat Kanaya penuh semangat, dia juga sangat senang. Ardian mengangguk pada Dahlia dan tersenyum berpamitan, lalu menjalankan mobilnya.


Jalanan sore itu tampak padat. Ardian mengendarai dengan kecepatan sedang. Sesekali melirik ke samping, melihat dua wanita favoritnya itu bercengkrama. Kanaya berceloteh, menanyakan banyak hal yang ada di jalanan. Rindu tak bosan menjawab apapun yang Kanaya tanyakan. Sikap keibuan Rindu, lemah lembut, penuh perhatian, membuat Ardian semakin menginginkan sebuah keluarga.


Beberapa menit kemudian, mobil itu memasuki pelataran gedung lima tingkat yang cukup luas. Sebuah stasiun radio swasta yang cukup banyak digemari peminat FM. Ini kali kedua Rindu mendatangi tempat ini. Pertama dulu saat dia memenangkan lomba karaoke radio dan sekarang bersama Ardian.


Telah banyak perubahan yang terjadi pada tempat ini. Dulu hanya bangunan dua lantai dan yang tidak begitu besar. Kini telah ada bangunan lima lantai yang terhubung dengan yang lama. Menara sinyal juga sepertinya semakin tinggi. Ardian telah banyak membuat perubahan, dan sepertinya stasiun ini semakin jaya di tangan Ardian.


"Ayo, turun." Ajak Ardian.


Rindu kini berdiri di depan gedung Sejati FM. Stasiun radio kesayangannya di waktu SMA. Rindu menengadah melihat puncak gedung, dia terlihat takjub.


"Sini, Naya gendong sama ayah." Ardian mengulurkan tangan pada Kanaya, Rindu pun memindahkan.


"Yuk." Ardian tiba-tiba meraih tangan Rindu mengajaknya masuk. Wanita itu tersentak, wajahnya memerah.


Ketika tiba di lantai tiga, manajer penanggung jawab menghampiri mereka. Setelah Ardian memperkenalkan Rindu, mereka diajak ke studio. Ardian mengatakan bahwa studio itu tempat acara 'Love binds the soul' disiarkan.


Acara akan segera dimulai lima belas menit lagi, tepat jam tujuh malam. Penyiar perempuan telah bersiap di dalam studio. Rindu sangat senang, penyiar acara itu juga datang menyapanya sebelum masuk ke dalam studio. Acara itu sangat banyak peminatnya, dan Rindu adalah inspirasi dan ide cerita yang Ardian buat. Sanjungan itu membuat Rindu merasa sebagai wanita yang sangat beruntung.


"Kenapa? Kamu merasa sangat bahagia sekarang? Acara ini aku persiapan hanya untuk kamu, Rindu. Dilihat dari wajahmu, aku yakin, kamu sangat menyukainya." Bisik Ardian saat merekam meninggalkan studio.


Wajah Rindu sudah memerah. "Apaan sih?"


Reaksi malu-malu Rindu membuat Ardian sedikit gemas. Tentu saja perlakuan spesial seperti ini, adalah sebuah kebahagian bagi seorang wanita. Kenapa Ardian harus mempertahankannya?


Tadinya penyiar meminta Rindu dan Ardian untuk mengisi acara. Sebagai sumber inspirasi, tentu akan sangat bagus jika Rindu bisa ikut siaran malam ini. Namun, Rindu menolak, merasa kurang percaya diri. Satu alasan lainnya, dia tidak mau sampai kehadirannya membuat heboh. Ardian dapat memaklumi itu.

__ADS_1


Mereka kini berada di ruang istirahat. Ardian mengajak Rindu dan Kanaya makan malam sambil mendengar siaran berlangsung. Banyak makanan telah dihidangkan di atas meja. Mereka makan seperti keluarga kecil yang bahagia.


Kanaya telah tertidur lelap dalam pangkuan Rindu. Dia mengusap lembut pipi gadis itu seraya tersenyum. Hari ini begitu spesial untuk dirinya, dan semua itu berkat Ardian. Rindu harus mengatakan sesuatu.


"Ardi."


"Emm?" Ardian yang fokus mengemudi, bergumam.


Rindu memiringkan wajahnya, menatap Ardian lurus. "Terima kasih."


"Untuk apa?" Lirik Ardian sesaat.


"Untuk cara kamu mengenang aku selama ini," jawab Rindu lirih.


Ardian menarik kedua sisi bibirnya. "Kamu tau inti dari acara itu?"


"Iya, aku mendengar pada episode pertama. Tentang arti cinta sejati bukan?"


Ardian mengangguk kecil. "Yah, tapi bukan hanya itu. Aku mencoba menyampaikan pesan, jika terlambat menyadari cinta pada seorang, maka pilihannya hanya dua. Menunggu dan melupakan. Dan aku—"


"Memilih untuk menunggu." Potong Rindu.


"Kamu benar."


"Sebab itu aku berterima kasih. Kamu bersedia menunggu selama ini. Setelah kita berpisah waktu itu, aku hanya menjalani hidupku, menata masa depan, mencapai tujuanku saja. Kita sudah di jalan masing-masing, aku tidak berpikir bisa kembali dalam keadaan seperti ini. Aku tidak pernah menyesal, hidup akan terus berjalan bukan? Jadi jika kamu merasa menyesal dengan pilihanmu, karena sekarang aku—"


"Rin …." Ardian menghentikan ucapan Rindu, lalu menepikan mobilnya. "Aku tidak akan berubah pikiran, aku tidak akan menyesal. Jadi jangan sekali kali mencoba membuat aku menyerah untuk meyakinkan kamu. Aku tetap akan berjuang, membuat kamu percaya bahwa kamu sangat layak untuk aku bahagiakan." Ardian menekankan ucapannya. Dia tau Rindu akan mengatakan sesuatu yang menyakitkan hatinya lagi, dan Ardian tidak bisa terima itu.


Rindu terdiam. Ucapannya telah membuat Ardian marah. Rindu merasa bersalah.

__ADS_1


***


__ADS_2