Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kita satu


__ADS_3

***


Luka di tubuh bisa hilang, tapi luka yang tergores di jiwa apakah bisa hilang dengan begitu mudah? Jika luka itu telah bersemayam cukup lama didalam pikiran seseorang, adakah obat yang dapat menyembuhkannya? Iya, tentu saja ada, dialah cinta. Adakalanya cinta berperan penting dalam hidup seseorang. Cinta adalah racun, namun cinta bisa menjadi obat yang paling mujarab.


"Rindu, sadarlah!" teriak Ardian mengejutkan. Ardian panik, mata yang telah berkaca-kaca mulai meneteskan cairan bening turun ke pipinya.


Rindu mengangkat kepalanya perlahan. Mata sayu, pipin basah, dan senyumnya semu. Ia mengangkat tangan mengusap air mata kekasihnya itu perlahan. Ardian pun melakukan hal yang sama, ia kembali menarik Rindu dalam pelukannya.


"Ardi, kenapa kamu berteriak?" bisik Rindu di telinga Ardian.


"Aku takut, Rin … aku takut!" jawabnya lirih, terdengar sangat menyedihkan.


Semua kenangan buruk Rindu membuatnya seperti akan menggila. Dalam hatinya berkecamuk, ingin membalaskan perbuatan pria yang telah menghancurkan hidup wanita yang ia cintai. Kedua tangannya mengepal, giginya gemeretak. Detak jantungnya berpacu dengan cepat. Begitu pun juga dengan Rindu, Ardian merasakan itu dengan jelas. Semua kobaran api yang membakar amarahnya semakin tercurah kedalam pelukan yang sangat kuat itu. Ardian menahan sekuat hatinya.


"Ya Tuhan, Rindu … seperti itukah penderitaan yang pernah kamu alami. Ini sangat menyakitkan. Aku hanya mendengar sepenggal kisah itu. Tapi sakitnya aku rasakan semua. Ingin rasanya aku kembali kemasa lalu dan membawamu pergi dari penderitaan saat itu!" batin Ardian berkecamuk.


Hati siapa yang tidak sakit bila mendengar kisah yang sangat memilukan seperti itu. Jangankan Ardian, pria yang sangat mencintai Rindu. Orang asing yang mendengarnya juga pasti akan berpikir untuk membalaskan perbuatan Ramon yang kejam.


"Aku takut kehilanganmu lagi! Aku mohon, jangan kembali terdiam!" bisik Ardian dengan suara parau.


"Kamu menangis lagi? Kenapa kamu jadi cengeng begini? Aku baik-baik saja." Rindu tertawa kecil.


"Aku hanya menangis di depanmu saja. Selama delapan tahun aku hanya memendam perasaanku. Setelah aku tahu semua yang kamu alami, penyesalanku semakin dalam." Ardian semakin membenamkan kepalanya di pundak Rindu.


"Kenapa kamu menyesal?" tanya Rindu seraya menoleh ke arah Ardian.


Ardian melonggarkan pelukannya, dia menangkap pipi Rindu dan menatap mata wanita itu dalam-dalam. "Rin … penyesalan terbesarku adalah kamu. Aku terlambat menyadari cintaku dulu. Aku menyesal tidak bisa membuatmu bertahan di sisiku!" Perkataan Ardian menggebu-gebu. Rindu terenyuh mendengarnya.


"Sssttt … sudah." Rindu meletakkan telunjuknya di bibir Ardian.

__ADS_1


Jika bukan karena Ardian, mungkin saja jiwa Rindu akan kembali hilang. Baru saja Rindu sempat terbawa dalam pikirannya. Mengingat masa lalu seperti menyeretnya kembali ke dalam siksaan yang pernah dirasakan. Jika Ardian tidak menariknya kembali, Rindu akan kembali terjebak di sana.


"Terima kasih, Ardi." Rindu menggenggam tangan Ardian.


"Untuk?" tanya Ardian kemudian, dia menautkan, mengangkat tangan wanita itu dan memberi satu kecupan.


"Segalanya … terima kasih sudah mau mendengarkan segalanya! Aku harap kamu tidak jijik setelah mendengar masa laluku yang kelam," ucap Rindu mengukir senyum di wajahnya, senyum yang semu.


Wajah Rindu disentuhnya dengan lembut. "Sayang … dengar aku. Seperti apa pun masalalumu, semua itu tidak akan mempengaruhi cintaku padamu. Kamu adalah aku, aku adalah kamu. Kita satu, tidak akan pernah terpisah lagi. Jiwaku sudah penuh dengan semua hal tentangmu. Hatiku sudah terpaut dengan hatimu. Jika kamu hilang aku akan mencarimu. Jika kamu menjauh aku akan mengejar dan membawamu kembali. Sayang, ingatlah untuk selalu yakin akan cintaku padamu. Ingatlah untuk percaya bahwa kamu adalah cinta pertama dan terakhir untukku." Ungkapan Ardian yang mampu membuat hati siapa yang mendengarnya bergetar.


Rindu merasakan tubuhnya menghangat. "Ardi, aku percaya. Terima kasih sudah mencintaiku sedalam ini. Kamu cinta pertama dan akan menjadi yang terakhir untukku." Mereka larut dalam kalimat cinta saling meyakinkan.


Kecupan kilat mendarat begitu saja di bibir manisnya. Rindu melukiskan senyuman yang mampu menggoda Ardian seketika itu. Lalu dikecup lagi dan lagi, Ardian mencubit pipi dan mencolek hidung Rindu gemas. Hingga akhirnya mereka larut dalam tawa dan canda. Mereka saling menggelitik, tertawa bahagia. Seolah ketegangan yang tadi mereka rasakan lenyap seketika.


"Ardi!" Rindu tertawa menahan rasa geli di tubuhnya.


"Bilang ampun ...!" seru Ardian yang juga tertawa


"Baiklah." Ardian pun berhenti lalu mendaratkan kecupan terakhirnya di kening wanita itu. "Menginap disini ya? Sudah terlalu malam untuk pulang."


"Oke, aku juga tidak ingin membangunkan mama tengah malam begini."


Ardian tersenyum mendengarnya. "Kalau begit—" Belum selesai berbicara, bibir Ardian tiba-tiba ditutup oleh Rindu.


"Eeiitt, tapi kamu tidur diluar. Weee, hahaha ...." Rindu mencibir, lalu bangkit berlari meninggalkan Ardian sendirian. Menyelonong masuk ke kamar dan mengunci pintunya.


Ardian yang tidak sempat menahan kemudian mengejar Rindu. "Heeeiii, Sayang …," rengek Ardian manja.


***

__ADS_1


Pagi hari, Ardian, Rindu dan Kanaya masih terbaring di tempat tidur dengan pulas. Setelah ada sedikit drama tadi malam, akhirnya Rindu mengizinkan Ardian tidur bersama. Lengan pria itu melingkar di pinggang Rindu, mengapit Kanaya di tengah. Mereka tidur saling berhadapan.


Kanaya menggeliat mendorong Ardian dengan kakinya. Tanpa sadar Ardian bergeser hingga telentang. Gadis kecil itu menguap dan mengusap matanya. Ia menengadah melihat bundanya dan tersenyum, lalu menoleh ke arah Ardian. Kemudian ia bangkit dan merangkak menaiki tubuh Ardian. Kanaya tengkurap dan menempelkan telinganya tepat di dada bidang pria itu. Ia kembali memejamkan mata.


Sesaat kemudian Ardian melenguh, ia merasakan tubuhnya ditindih. Perlahan ia membuka mata lalu tersenyum. Gadis mungil itu tertidur pulas di atasnya. Ardian merangkul dan mengelus punggung mungil itu. Kemudian dia menoleh kesamping, Rindu juga masih pulas. Ardian mengangkat kepala lalu mengecup kening Kanaya. Gadis kecil yang lucu itu melenguh, sesaat kemudian ia terbangun.


Kanaya menggeliat mengangkat kepalanya, ia mendongak ke arah Ardian.


"Selamat pagi cantik," bisik Ardian di telinga gadis kecil itu.


"Ayah ...," sapa Kanaya ceria.


Tanpa Ardian tahu, semua yang ia lakukan itu adalah kebiasaan Rindu ketika bangun pagi bersama Kanaya. Ardian tersenyum lalu bangkit sambil memegangi pinggang dan pinggul Kanaya. Gadis itu tertawa kegirangan, ia menjerit kesenangan. Ardian membawanya ke luar kamar.


Sayup-sayup terdengar suara tawa dan canda di telinga Rindu. Suara itu berasal dari arah ruang tamu. Rindu terbangun dan perlahan membuka matanya. Iya menggeliat meregangkan otot-otot tubuhnya yang masih kaku. Rindu turun dari tempat tidur, lalu keluar dari kamar menuju ke arah suara tawa itu berasal.


Rindu berdiri di depan pintu kamar memandangi penuh kasih. Dua orang yang dicintainya bercanda dan tertawa riang. Rindu terharu melihatnya, pertama kali ia melihat tawa Kanaya yang begitu bahagia. Suasana pagi yang terasa seperti sebuah keluarga yang hangat.


"Selamat pagi ...," sapa Rindu kepada dua orang yang asyik bercanda.


Ardian menoleh dan tersenyum ke arah wanita yang menghampirinya.


"Bunda ...!" pekik Kanaya membentangkan tangannya.


"Selamat pagi, Sayang ...!" Rindu berlari menyongsong putri kecilnya yang tengah berada dalam pelukan Ardian.


Kanaya tertawa kegirangan. Rindu mengambil Kanaya dari gendongan Ardian. Kemudian menciumi wajah putrinya bertubi-tubi. Ardian tersenyum melihat semua itu.


"Selamat pagi, Sayang." Kecupan hangat pum mendarat di kening Rindu. Ardian merasakan kebahagiaan yang sama pagi ini.

__ADS_1


***


__ADS_2