
***
Ardian tampak berpikir sangat keras. Bagaimanapun juga ia harus mendapatkan informasi pria bajingan itu. Sakit yang Rindu rasakan harus dibalas dengan ganjaran yang setimpal. Setidaknya hanya itu yang terpikirkan oleh Ardian saat ini. Dia tidak bisa membiarkan Rindu terus menderita, membawa sakit masa lalu ke dalam kehidupan mereka kelak.
"Apakah aku harus terjun ke dunia mereka? Bram, bisakah kamu membantu?"
"Ardi, dia adalah mafia. Aku tidak bisa menjangkau ke negara itu jika tidak ada kasus yang harus ditangani."
"Aku hanya membutuhkan informasinya saja."
Bram berpikir sejenak. "Baiklah, sepertinya aku bisa meminta bantuan Hackers di kantor pusat. Tapi jangan lakukan apa pun yang berbahaya tanpa sepengetahuanku."
Ardian tampak berbinar, ia punya sedikit harapan. "Terima kasih. Kedepannya aku juga pasti akan meminta bantuanmu lebih banyak."
"Tidak masalah, aku pasti akan membantu sebisaku, Ardi."
Obrolan itu berlangsung cukup lama. Bram memberi banyak saran bagaimana cara berhadapan dengan seorang mafia. Ia sangat ingin membantu. Bagaimanapun juga kasus Rindu adalah tindak kejahatan berat. Namun, ia tidak bisa masuk begitu saja ke ranah hukum negara lain. Apalagi kasus ini sudah terjadi delapan tahun yang lalu. Pihak kepolisian di Jerman sana sepertinya tidak memberi titik terang, mereka seperti sengaja menutupi kasus tersebut.
Untuk sementara ini Bram hanya bisa membantu sebisanya. Ia harus mencari informasi terlebih dahulu dan menunggu kesempatan yang tepat. Seorang mafia yang dilindungi oleh hukum, sepertinya akan sangat sulit dijatuhkan.
Hari sudah beranjak sore, Rindu baru terbangun setelah tidur beberapa jam. Efek obat yang diminumnya sudah hilang. Ia mengedarkan pandangan melihat sekeliling. Kepalanya masih terasa berat, Rindu memijat kening berusaha mengingat sesuatu. Sekilas terbayang wajah sang mantan suami, menangis di hadapannya.
Rindu berpikir apakah ini nyata? Mengingat tadi pagi Ardian mengajaknya ke suatu tempat, kenapa sekarang ia bisa berada di sini? Lalu, kenapa dia tertidur? Apakah ia baru saja kambuh lagi?
Ingatannya terus berputar antara nyata dan ilusi. Penyakit ini membuatnya seperti orang gila. Kepalanya kembali pusing, Rindu lantas menghempaskan tubuh dan berbaring lagi. Perlahan ia memijat pelipis mengernyitkan keningnya, menghilangkan bayangan yang terus mengganggu.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Ardian masuk dan menghampiri Rindu yang dia pikir masih tidur. Tadinya berniat membangunkan dan mengantar calon istrinya itu pulang. Keningnya berkerut ketika melihat Rindu memijat kening.
"Sudah bagun, Sweety? Apa yang kamu rasakan?" tanya Ardian saat duduk di tepi ranjang.
"Kepalaku sakit sekali," ucapnya lirih. Rindu merasakan denyutan dan ingatan yang sedikit pulih.
Ardian mengambil air putih yang tersedia di nakas samping ranjang. "Kamu bisa bangun?" Rindu dituntun untuk duduk dan meminumkan air itu seteguk. "Kita ke rumah sakit, ya?"
Rindu menggeleng sebagai respon. "Tidak, aku baik-baik saja. Bie, kenapa banyak bayangan seperti berputar-putar di pikiranku?"
__ADS_1
Rindu terlihat ingin bangun, Ardian pun membantunya. Detik itu juga keningnya mengerut. "Bayangan, siapa?"
"Bagas?" ucapnya menatap Ardian kebingungan. Masih berpikir ini ilusi tapi terasa nyata.
"Kamu mengingat sesuatu?"
"Sepertinya … apa kita baru saja menemuinya? Benar, kan, ini bukan ilusi?"
"Sweetheart, kamu mengingatnya?" Ardian langsung menyambar tubuh kekasihnya, matanya mulai berkaca-kaca. "Syukurlah … Dokter Anna benar, jika kamu tidak melupakan kejadian sebelumnya, kemungkinan besar kamu bisa sembuh."
"Benarkah, aku bisa sembuh?" tanya Rindu bersemangat.
"Iya, besok kita akan menemui Dokter Anna lagi. Kita akan tanyakan secara langsung." Pelukan itu dilonggarkan. "Masih merasa pusing?"
Rindu menggeleng. "Tidak, sudah jauh lebih baik. Aku mau pulang, aku merindukan Kanaya."
"Baiklah, aku antar kamu pulang." Ardian mengecup kening wanitanya sesaat, membuat Rindu memejamkan mata.
Hari ini terasa sangat melelahkan. Luka pada perut masih belum pulih total, tapi Ardian sudah mulai berjuang demi cintanya. Dia selalu meyakinkan diri bahwa ia akan baik-baik saja. Tidak ingin membuat Rindu khawatir, padahal ia sedang menahan rasa sakit. Tentu saja karena Rindu lebih penting baginya.
***
Banyak rencana telah mereka susun, Ardian harus memastikan semua dalam kendali. Mulai dari mengumpulkan informasi, hingga masalah persidangan yang akan Rindu hadapi nantinya.
"Jadi, bagaimana dengan rencana pernikahanmu?" Eja bertanya seraya mengetik skedul yang telah mereka buat di komputer tablet miliknya.
Ardian bersandar menghela napasnya berat. "Kami belum membicarakannya. Tadi siang Rindu kembali kambuh."
Fokusnya terhenti, Eja mendongak dan mengerutkan kening. "Karena Bagas?"
Ardian mengangguk. "Iya … tapi kali ini Rindu mengingat semuanya. Tidak seperti sebelumnya saat ia menghapus memori."
"Bukankah itu hal baik. Rindu bisa segera sembuh." Nada bicara Eja kini terdengar bersemangat.
"Benar, aku sudah menghubungi dokter Anna, hanya butuh beberapa kali terapi lagi, Rindu bisa sembuh total." Ardian tampak lega, harapan Rindu akan sembuh bisa menghilangkan sedikit kekhawatiran karena kabar buruk yang didengarnya siang ini.
__ADS_1
"Jadi kalian akan melangsungkan pernikahan setelah Rindu sembuh?" tanya Eja kemudian.
Mata Ardian menyipit, pertanyaan Eja membuatnya sedikit kesal. "Tentu saja tidak, aku justru ingin menikah besok. Aku tidak akan menunda hal yang satu ini. Aku akan bicarakan dengan papa dan mama setelah ini. Mereka pergi ke kampung nenek sekarang," tegasnya bersedekap menatap tajam.
Eja justru merasa lucu. "Sudah tidak betah membujang …," ucapnya tersenyum sinis.
Ardian berdecih. "Berkaca pada diri sendiri. Kapan kamu mau cari pasangan?" tanyanya juga dengan tatapan sinis.
Sang asisten mengangkat sudut bibirnya. "Aku? Kamu tidak sadar? Pekerjaan yang kamu berikan telah menyita waktuku, jadi bagaimana aku bisa dapat kekasih, hah?" sarkasnya menaik turunkan alis.
"Ahhh, iya, iya … dasar." Ardian melempar bantal dan Eja menghindar dengan senyum kemenangan. "Aku jodohkan sama dokter Anna, mau?"
"Tidak usah …," jawab Eja datar dan kembali ke pekerjaannya.
Ardian meledakkan tawanya, tapi tiba-tiba. "Aauuuu, sssttt." Ardian merasakan sakit pada lukanya.
Melihat itu Eja langsung bangkit dan menghampiri. "Ardi, kenapa?" Wajahnya panik.
Ardian meringis menyentuh perutnya. "Lukaku, perih, sssttt …."
"Kita ke rumah sakit." Eja tampak cemas.
Ardian mengangkat satu tangan tanda menolak. "Tidak perlu, aku hanya mau istirahat."
"Obat sudah diminum?"
"Sudah."
"Baiklah, aku bantu ke kamar. Kamu harus istirahat. Urusan kantor dan yang lainnya biar aku yang urus."
"Terima kasih."
Secara perlahan Eja memapah Ardian bangkit. Sebenarnya ia merasa kasihan dan kesal juga. Ardian terlalu memaksakan diri. Keluar dari rumah sakit langsung melamar, lalu mengantar Rindu mengunjungi Bagas di penjara.
Sepertinya malam ini Eja haru menginap di sini. Ia terlalu khawatir pada Ardian, tidak ada yang menjaga bosnya itu malam ini. Orang tua Ardian sedang berada di luar kota, menjemput keluarga yang berada di kampung. Acara lamaran resmi sedang dipersiapkan, papa dan mama Ardian akan memboyong seluruh keluarga mereka ke kota.
__ADS_1
Sepertinya pernikahan Ardian akan berlangsung secara besar-besaran.
***