Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kita harus bicara


__ADS_3

***


Suasana di ruangan itu seketika menjadi hening. Pandangan Rindu masih lurus menatap pria yang tengah diam. Dia masih menanti jawaban Ardian yang menghindari tatapan matanya.


"Ardi?" tanya Rindu meminta persetujuan.


Ardian memejamkan mata, menetralisir rasa cemburu yang terasa membakar hatinya. Bagaimanapun juga masalah ini harus cepat selesai. Agar mereka bisa fokus pada rencana pernikahan.


Dia pun menghela napas singkat. "Baiklah, besok kita ke kantor polisi," jawab Ardian dingin.


Rindu menyadari itu, ia menelisik sekali lagi wajah kekasihnya itu, tidak terlihat baik-baik saja. "Terima kasih," ucap Rindu datar. "Aku akan kembali pada Kanaya, lanjutkan pembicaraan kalian."


Tanpa menunggu lama, Rindu lantas meninggalkan tempat itu. Dia menghindari pertengkaran yang mungkin saja terjadi jika tetap bergabung dengan mereka. Eja, Teo, Dimas serta Bram hanya diam melihat kedua insan yang saling tidak mempedulikan.


"Ardi, sebaiknya kamu bisa menahan emosi. Kesampingkan dulu rasa cemburu." Dimas yang peka dengan keadaan pun mengingatkan.


Ardian berdecak kesal. "Aku tidak suka dengan panggilan itu. 'Mas Bagas', terdengar mesra," ucapnya dingin menirukan Rindu.


Mendengar ucapan Ardian, semua temannya sontak menutup mulut. Mereka menggeleng dan menahan tawa. Niat itu terhenti ketika Ardian mendelik tajam pada mereka.


"Ardi … Ardi. Apalagi yang kamu khawatirkan? Rindu sudah jadi milik kamu sekarang. Jari manisnya bahkan sudah memakai cincin pemberianmu, Ardi," ujar Dimas kemudian.


"Benar, kesampingkan dulu ego kamu," sambung Teo dan dianggukkan Bram dan Eja.


Ardian terdiam, benar apa yang dikatakan oleh Dimas. Seharusnya dia tidak peduli dengan panggilan itu. Yang paling penting dia harus menjaga perasaan Rindu. Rasa cemburu tidak boleh menutupi logikanya. Rindu tidak akan memikirkan pria itu lagi.


Sebelumnya Ardian memang ingin Rindu menyelesaikan masalah dengan Bagas. Mengenai dendam dan ketidak percayaan pria itu. Namun, setelah Rindu setuju untuk bertemu dengan Bagas. Ardian justru merasa keberatan dalam hatinya.


Ardian mengalihkan pandangannya ke arah ruang keluarga. Dia melihat Rindu sedang bermain dengan Kanaya dan juga Dian di sana. Wajah wanita itu tampak sedikit murung. Sepertinya sikap Ardian yang barusan, telah melukai kekasihnya itu. Dia pun jadi merasa bersalah, tidak seharusnya Ardian menunjukkan sikap dingin. Hanya karena rasa cemburu dengan hal yang tidak penting.


***

__ADS_1


Malam harinya, setelah mereka selesai makan malam, semua orang pulang ke rumah masing-masing. Ardian mengajak Rindu serta Kanaya kembali ke apartemen lamanya. Semua barang-barang masih ada di sana. Apartemen baru itu, akan ditempati setelah mereka menikah nanti.


"Sayang, tunggu aku." Ardian mengejar Rindu yang telah jauh di depannya. "Kenapa jalanmu cepat sekali."


Wanita itu tidak mempedulikan. Ia terus berjalan menyusuri lorong menuju unit apartemen Ardian. Kanaya telah tertidur di dalam gendongannya. Jika bukan karena Ardian memaksa, dia juga tidak akan mau menginap di sana.


"Rin …," panggil Ardian lembut mensejajarkan langkah kakinya.


"Ada apa?" jawab Rindu ketus, ia memelankan suara agar Kanaya tidak bangun. Rindu membenarkan posisi Kanaya yang telah melorot dari dekapannya.


"Sini, Kanaya aku yang gendong," ujar Ardian mengulurkan tangan.


Wanita itu pun berhenti, lalu menyerahkan Kanaya pada Ardian. Dengan sigap pria itu menyambut dan merangkul gadis kecil itu. Kemudian Rindu berjalan lagi tanpa mengatakan apa pun.


"Rin, Sayang." Ardian kembali menyusul. "Kamu marah?"


"Buka kuncinya!" pinta Rindu datar.


Ardian baru tersadar, ternyata mereka telah sampai di depan pintu. "Kodenya, hari ulang tahunmu, dibalik," ucapnya tersenyum manis. "783022."


"Aku sudah menggunakan angka itu semenjak pindah ke sini," ungkap Ardian kemudian.


Rindu kemudian menekan tombol angka pada pintu. Setelah terbuka, dia langsung masuk dan meletakkan tasnya di sofa. Ardian mengikuti dari belakang. Kemudian Rindu membuka pintu kamar dan mempersiapkan tempat untuk Kanaya tidur. Ardian masuk dan menunggu Rindu menyelesaikan tugasnya.


"Tidurkan Kanaya di sini," pinta Rindu sedikit berbisik.


Ardian lantas membaringkan gadis kecil itu. Perlahan dia melepaskan tangannya yang tertindih tubuh mungil milik Kanaya. Ardian memberi kecupan hangat di kening dan mengucapkan selamat malam. Kemudian ia menyelimuti Kanaya kecilnya. Rindu pun melakukan hal yang sama setelah Ardian.


Ardian berjalan menuju nakas yang berada di sisi kanan ranjang. Lalu mengambil remote control dan menyesuaikan suhu AC di kamarnya. Rindu pun keluar dari kamar dan Ardian segera menyusul.


Saat sampai di luar, Ardian meraih tangan Rindu, membuat langkah wanita itu terhenti. Tangannya yang lain merayap ke leher Rindu seraya mendekatkan tubuhnya. Ardian mendekap Rindu tiba-tiba dari belakang, wanita itu pun tersentak. Kepala Ardian menopang di bahu Rindu seraya melingkarkan tangannya yang lain di perut sang kekasih. Rindu terdiam hampir menahan napasnya.

__ADS_1


Kecemburuan dalam asmara seperti garam dalam makanan. Sedikit dapat meningkatkan rasa, tetapi terlalu banyak dapat merusak kesenangan dan, dalam keadaan tertentu, dapat mengancam jiwa.


Disaat cinta telah memilih tempat ternyamannya dalam hati. Jagalah tempat itu agar tetap nyaman. Rasa cemburu adalah salah satu bumbu cinta yang harus beri takaran yang pas. Agar tidak menjadi penyebab yang merusakkan.


"Kita harus bicara," bisik Ardian tepat di daun telinga Rindu. Bulu kuduk wanita itu pun meremang.


"Emm," jawab Rindu bergumam.


"Kamu masih marah, Sayang?" Ardian menempelkan pipi mereka.


"Haruskah aku katakan?" Jantung Rindu serasa ingin berlari. Ini sangat mendebarkan, perlakuan manis Ardian membuatnya melayang.


"Tentu saja, kamu tidak melihat aku sangat kesusahan membujukmu?" ucapnya manja. Ardian menggesekan pipi dan menggoyangkan tubuh mereka dengan lembut.


"Apa kamu sadar apa kesalahanmu?" tanya Rindu masih berusaha santai. Ardian yang manja itu berhasil membuatnya tersenyum.


Ardian melepas pelukannya, lalu membalikkan tubuh Rindu. Kemudian mengangkat dagu, lalu meletakan tangan di kedua bahu Rindu.


"Aku tau, Sayang. Maafkan aku yang bicara dingin padamu, itu karena aku cemburu." Tatapannya penuh harap pada mata Rindu, berharap sikapnya tadi sore bisa dimaafkan.


"Cemburu, karena apa?" Jujur saja, sikap Ardian tadi membuatnya sedikit marah. Apalagi waktu itu teman-teman mereka ada di sana.


"Jangan pernah sebut nama lelaki itu dengan panggilan mesramu itu."


"Kenapa memangnya?"


Ardian menghelas napas berat. "Telingaku sakit mendengarnya," lanjutnya menyilangkan tangan di dada.


"Itu bukan mesra, Ardi ... 'Mas' itu kan panggilan umum, kecuali aku memanggilnya dengan sebutan 'Sayang'. Baru kamu boleh marah" terang Rindu sedikit emosi. Ia tidak habis pikir kenapa Ardian bisa berpikiran pendek.


"Tapi, Sayang. Itu terdengar sangat mesra di telingaku. Saat bersamanya kamu pasti selalu memanggilnya merasa seperti itu."

__ADS_1


Rindu membuang napas panjang, memejamkan sejenak. "Cukup, aku tidak mau membahas ini lagi. Jika kamu percaya dengan perasaanku. Kamu tidak akan mempermasalahkan hal sepele seperti ini. Kecuali jika kamu masih meragukanku."


***


__ADS_2