
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 siang. Sudah hampir waktunya untuk makan siang. Ardian membawa Rindu makan ke sebuah restoran dekat dengan kantor mereka. Sepanjang perjalanan Ardian hanya diam terlihat sedang berpikir. Rindu memperhatikan raut wajah Ardian yang membuatnya tidak senang. Tidak banyak yang mereka bicarakan. Hingga saat mereka makan, Rindu sudah tidak tahan ingin bertanya, ada apa dengan Ardian?
"Ardi," panggil Rindu menoleh pada Ardian.
"Ya, Sayang, ada apa?" tanya Ardian membalas tatapan Rindu.
"Aku tahu, pasti ada sesuatu yang sedang terjadi."
Ardian menghela napasnya, Rindu wanita yang pintar. "Aku tidak bisa menyembunyikannya darimu."
"Ternyata memang ada sesuatu. Ada apa, kenapa tidak kamu ceritakan?"
"Kalau aku cerita, kamu tidak akan marah?"
"Marah? Kenapa aku harus marah?" Rindu mengerutkan keningnya. "Mmm … biarkan aku menebak. Ada seseorang yang menunggumu di kantor?"
Ardian terdiam, kenapa Rindu menebak dengan tepat?
"Dia seorang wanita?" tanya Rindu lagi dengan tawa geli.
"Mengejutkan, kamu bisa menebaknya? Kamu seperti detektif, Rin. Baiklah, aku akan memberitahumu." Ardian meletakkan sendok dan garpu dari tangannya ke atas piring, lalu meminum air dan mengelap bibirnya dengan sapu tangan yang tersedia.
"Namanya Agnes, setahun yang lalu mama mengenalkannya padaku. Tentu saja aku menolak, tapi dia datang terlebih dahulu padaku. Aku tidak pernah mempedulikannya, dan dia terus mengganggu. Kemudian aku meminta Eja untuk mengirimnya ke luar negeri, dan sekarang dia tiba-tiba kembali."
Mendengar hal itu. Rindu malah terkekeh geli. Membuat kening Ardian mengerut. "Rin, kenapa kamu tertawa?"
"Aku hanya merasa lucu. Bagaimana cara dia menghadapi pria dingin seperti dirimu?"
Ardian justru bingung dengan tawa Rindu yang terlihat biasa-biasa saja. Apa Rindu tidak cemburu? Apa Rindu benar-benar sudah bisa menerima cintanya? Ardian hanya terdiam menatap lurus ke arah kekasihnya itu.
Rindu berdehem sesaat. "Baiklah aku berhenti tertawa." Dia mengusap sudut mata yang sedikit berair.
"Kamu tidak cemburu?" tanya Ardian kemudian.
"Tidak, kenapa aku harus cemburu? Kamu menyukai wanita itu?" Rindu balik bertanya.
"Tentu saja tidak. Hatiku hanya untukmu."
__ADS_1
"Kamu sudah tahu jawabanku."
Senyum manis terbit dari bibir Ardian. Mereka pun melanjutkan makan. Jawaban singkat Rindu pertanda bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Ardian sangat hafal dengan kebiasaan mereka ketika mengobrol.
Rindu tersenyum puas dengan ekspresi wajah Ardian yang telah berubah lebih baik. Tiba-tiba dia terpikir untuk menggoda. "Perlihatkan padaku fotonya."
"Aku tidak punya."
"Aku tidak yakin. Mungkin saja kamu tidak mau aku mendatangi dan merusak wajahnya? Karena kamu takut kecantikannya hilang kerana aku," kata Rindu mengundang lirikan tajam dari Ardian.
"Rin, jangan mencoba untuk memancingku. Aku tidak menyukainya sama sekali. Aku juga tidak peduli dengannya. Jadi kamu bebas berpikir apa pun juga."
"Kamu yakin? Bagaimana kalau aku mendatanginya?"
"Sebaiknya jangan, aku tidak mau terjadi apa pun pada dirimu. Dia bukan orang sembarangan, dia bisa melakukan semua untuk mendapatkan keinginannya." Nada bicara Ardian sedikit menekan.
"Aku tidak takut … kamu akan terkejut jika aku mulai beraksi."
Entah apa yang akan dilakukan Rindu. Ardian belum terbiasa dengan sisi Rindu yang lain seperti ini. Ardian pun menyadari banyak perubahan dalam diri Rindu. Dia merasa semakin tertantang untuk mengorek sisi Rindu yang berbeda. Wanita itu terlihat lebih berani dari biasanya.
"Apa yang akan kamu lakukan?"
"Apa yang akan aku lakukan, itu rahasia." Senyum Rindu nakal.
Setelah mereka selesai makan, Rindu mengajak Ardian pergi dari tempat itu. "Sudah yuk kita pergi!"
"Kamu mau kemana?" tanya Ardian masih menaruh curiga dengan sikap Rindu.
"Ke kantor, bukankah ada seseorang yang sedang menunggumu?" Ardian ditinggalkan begitu saja.
Dengan santainya Rindu berjalan menuju tempat parkir. Ardian menyusul setelah selesai melakukan pembayaran. Mereka akhirnya pergi ke gedung EM entertainment.
***
Ardian membukakan pintu mobilnya, Rindu turun dengan senyuman yang manis menatap Ardian. Jiwa bar-barnya kembali muncul. Kekacauan seperti apa yang akan Rindu perbuat. Mereka berjalan beriringan memasuki gedung. Ardian dengan sikap dinginnya, berjalan lurus ke depan tanpa menoleh kemampuan. Rindu justru tersenyum menyapa semua orang yang ada di lobby kantor itu. Ardian melirik setiap pria yang tersenyum dan memandangi Rindu. Mode posesif pria itu kelewat tinggi.
"Jangan tersenyum seperti itu lagi di hadapan pria mana pun!" perintah Ardian tanpa melihat ke arah Rindu di sampingnya.
"Kenapa? Aku hanya bersikap ramah," ucap Rindu seraya mengalihkan pandangannya ke Ardian.
__ADS_1
"Aku tidak suka," jawab Ardian dingin.
"Hiisss …." Rindu memutar bola matan dan memanyunkan bibirnya. Setelah diam beberapa saat. "Ardi, aku mau ke toilet, lalu langsung ke kantor Teo untuk melapor."
"Baiklah, aku harus menghadiri rapat. Datanglah ke ruanganku setelah jam tiga nanti."
Mereka pun berpisah di depan pintu lift. Rindu langsung menuju toilet lantai satu, Ardian memandangi punggung kekasihnya hingga menghilang di persimpangan koridor.
Ketika selesai melakukan hajatnya, Rindu keluar dari bilik toilet. Tiba-tiba ia mendengar percakapan seseorang berasal dari luar. Seorang wanita masuk ke dalam toilet itu sambil berbicara dengan nada manja. Rindu tidak peduli, tapi begitu nama seseorang yang dikenal di sebut, ia menajamkan pendengarannya.
"Iya Tante, Ardian tidak ada di kantor."
....
"Agnes baru selesai makan siang, ini mau ke kantor Ardian lagi."
….
"Iya, Tan, Agnes tutup dulu, ya."
Rindu diam sambil memperbaiki riasannya, ia berdiri tepat di sebelah wanita itu. Rindu pura-pura tidak mendengarkan. Wanita yang menelpon tadi memasukkan ponselnya dengan kesal ke dalam tas. Lalu mengeluarkan bedak dan lipstik untuk memoles wajahnya. Rindu meliriknya dari pantulan cermin. Wanita itu tinggi dan langsing. Pakaiannya terlihat ketat membalut tubuhnya. Rindu tersenyum dalam hati. Ia berpikir mungkin saja ini wanita yang Ardian maksud. Memang cantik, tapi terlihat seperti wanita … penggoda.
Setelah selesai, Rindu keluar terlebih dahulu. Ia menyempatkan tersenyum pada wanita itu, tapi senyumannya hanya mendapat balasan lirikan. Ada sedikit perasaan kesal. Sombong sekali dia," guman Rindu dalam hati.
Rindu pun mengurungkan niatnya untuk ke kantor Teo. Masih dalam keadaan kesal ia memasuki lift dan menekan angka sebelas pada deretan tombol di dinding lift itu. Dia berpikir untuk melakukan sesuatu di kantor Ardian. Entah ide gila seperti apa yang akan Rindu lakukan.
"Selamat siang Mira …," sapa Rindu seraya tersenyum pada sekretaris yang ada di depan ruangan Ardian. Rindu mendekat dan berdiri di seberang meja kerja Mira, mereka berhadapan.
"Siang Nona, Rindu," balas Mira tersenyum ramah.
"Jangan memanggilku Nona, Mira."
"Lalu saya harus memanggil apa, Nona?"
"Kamu terlihat lebih muda dariku. Panggil kakak saja ya?" pintanya kemudian.
"Baiklah kak Rindu," tuturnya terlihat gugup. "Tuan Ardian tidak ada di kantor, beliau sedang rapat, Kak."
"Aku tahu, Mir … aku kesini ingin menemui kamu."
__ADS_1
"Saya Kak? Ada perlu apa?" tanya Mira bingung.
***