
***
Rindu melangkah mendekati Mira, memutari meja dan duduk di kursi didekatnya. "Aku ingin bertanya sesuatu."
"Kakak mau nanya apa?" Mira pun ikut tegang saat melihat wajah Rindu yang berubah serius.
Rindu menoleh ke kiri dan kanan, memastikan tidak ada orang di sekitar mereka. "Tadi pagi ada seorang wanita datang mencari Ardian?"
"Ada, kak," jawab Mira jujur.
"Siapa dia?"
"Namanya Agnes, Kak. Dia baru kembali dari luar negeri. Tuan Ardian mengirimnya untuk melakukan kontrak beberapa bulan lalu." tutur Mira sedikit menjelaskan.
"Lalu?"
"Dia suka menggoda, Kak," bisik Mira sedikit mendekati Rindu. "Tapi Tuan Ardian tidak pernah mempedulikannya."
Rindu tersenyum mendengar ucapan Mira. Tentu saja Ardian tidak akan peduli. Melihat penampilan wanita itu saja pasti membuat Ardian geli. Rindu tau jelas bagaimana selera Ardian. Kekasihnya itu paling tidak suka dengan sesuatu yang berlebihan. Rindu pun terdiam memikirkan sesuatu. Mira memperhatikan Rindu yang hanya diam saja sedari tadi.
"Kak … kak Rindu," panggil Mira membuyarkan lamunan Rindu.
"Hah … iya Mira?"
"Kakak tidak apa-apa?"
"Tidak, aku hanya sedang berpikir," jawab Rindu tersenyum manis.
Mira merasa sedikit senang bisa dekat dengan Rindu. Ternyata wanita yang selalu ada dalam hari bosnya itu, sangat baik dan mudah diajak bicara. "Kak, boleh saya mengatakan sesuatu."
"Katakan saja Mir, ada apa?"
__ADS_1
"Saya tidak tahu hubungan Tuan Ardian dengan kakak seperti apa. Selama saya bekerja disini, Tuan Ardian belum pernah sedekat ini dengan wanita mana pun. Kak Rindu wanita pertama yang bisa bebas keluar masuk ke kantor Tuan Ardian. Banyak wanita yang ingin mendekati Tuan Ardian, tapi semua ditolak, dan Nona Agnes adalah yang paling gigih diantara yang lainnya. Saya lebih suka Kak Rindu yang mendampingi Tuan Ardian." Mira tampak lega berhasil mengatakan isi hatinya.
Rindu mengulas senyuman tipis, tak menyangka ia berhasil menjadi pemenang di hati Ardian saat ini. Tak peduli seberapa besar wanita lain menggoda Ardian, Rindu tetap saja adalah wanita pertama dan terakhir untuk Ardian. Ada sedikit rasa bangga di hatinya. Karena Mira juga berpihak padanya, Rindu merasa mendapat bantuan secara gratis untuk menyingkirkan wanita penggoda itu.
"Mira, aku mau minta bantuan kamu."
"Bantuan seperti apa, Kak?"
"Tadi aku bertemu dengan Agnes di toilet lantai satu, dan dia sebentar lagi mau ke sini. Bantu aku untuk mengusirnya."
"Saya bisa saja menyuruhnya pergi, Kak. Tapi dia sangat keras kepala, tadi pagi dia hampir membuat keributan di lantai satu," ujar Mira dengan wajah kesal. Dia juga sudah muak melihat Agnes selalu berkeliaran di lantai sebelas.
"Kamu halangi saja dia, aku akan menunggu di dalam. Jika dia bersikeras ingin masuk, biarkan saja," ucap Rindu dan berpikir sejenak. "Emm … buatkan saja dua minuman dan bawa ke dalam, aku akan mengatasi selanjutnya. Segera telpon Eja jika terdengar suara keributan dari dalam." Rencana Rindu sepertinya sudah matang, dia telah memikirkannya sejak keluar dari toilet tadi.
Mira mengangguk. "Baik, Kak … saya mengerti."
Rindu pun segera meninggalkan meja resepsionis dan masuk ke dalam ruangan di depannya. Kaki melangkah menuju meja kerja Ardian dan duduk dengan santai. Dia mengeluarkan ponsel dari dalam tas dan mengetik pesan untuk dikirim pada Teo. Rindu mengabarkan tidak jadi pergi mendatangi Teo di kantornya.
Rindu mengambil buku yang menarik perhatiannya barusan. Buku diary dengan sampul kulit berwarna hitam dan tali merah melilit di sana. Di ujung tali itu terdapat sebuah hiasan mirip dengan kemudi pada sebuah kapal pesiar. Di sampul itu juga tertulis namanya. Ia ingat buku itu adalah hadiah ulang tahun darinya untuk Ardian. Ternyata Ardian benar-benar menggunakannya, dan isi buku itu pasti banyak tertulis semua hal tentang dirinya.
Kelopak matanya telah tergenang cairan bening yang hangat. Detik kemudian jatuh menetes ke atas buku yang ia pegang. Ketika Rindu ingin membukanya, tiba-tiba terdengar suara keributan dari arah luar. Itu suara Mira dengan seorang wanita. Agnes, wanita yang ia tunggu kedatangannya dari tadi.
Segera saja Rindu menyeka sudut matanya yang basah. Buku itu dia letakkan kembali ke tempatnya. Pintu tiba-tiba terbuka, seorang wanita memaksa untuk masuk ke dalam.
"Kamu? Siapa kamu?" teriak Agnes begitu melihat Rindu duduk di kursi kebesaran milik Ardian.
Rindu tersenyum tipis, dengan sikap tenang ia bersandar. Wanita yang masuk secara tiba-tiba tadi terlihat hendak mendekati meja kerja Ardian.
"Maaf Nona, Anda jangan buat keributan di sini," cegah Mira menghalangi jalan Agnes.
"Beraninya kamu? Katakan siapa wanita itu!" Tangannya terangkat menunjuk ke arah Rindu. Rahangnya tampak berkedut karena marah.
__ADS_1
Dengan percaya diri Rindu bangkit dan menghampiri mereka. Dia pun berdiri sejajar dengan sofa hitam yang ada di ruangan itu. "Mira, tidak apa-apa. Biarkan Nona ini masuk," ucap Rindu memotong pembicaraan.
"Baik, Nona Bos." Mira sepertinya memainkan peran dengan baik. Tanpa disuruh Rindu pun, ia bisa menempatkan peran yang harus bagaimana.
Agnes lantas menatap tajam kearah Rindu. Mendengar panggilan Mira pada Rindu tadi, dia semakin marah.
"Silahkan duduk, Nona. Maaf nama Anda siapa?" tanya Rindu, lalu duduk dengan santai.
"Agnes," jawabnya ketus, dengan raut muka marah ia pun ikut duduk, mereka kini berhadapan.
"Perkenalkan, nama saya Rindu Pramita. Saya calon istri dari Ardian Putra Moriz," senyumnya memperkenalkan diri.
Mata Agnes langsung melotot. "Jangan sembarang kamu! Aku mengenal keluarga Moriz. Mereka tidak pernah menyelenggarakan pesta pertunangan!"
"Tidak masalah jika Anda tidak percaya, Nona Agnes. Anda bisa bertanya langsung kepada calon suami saya." Masih dengan senyum manis, Rindu menatap penuh kemenangan pada wanita di hadapannya.
Agnes justru menatap sinis pada Rindu. Sebuah ingatan terlintas dalam pikirannya. Dia memandangi lebih teliti wajah Rindu yang nampak tidak asing baginya. Sekeras apa pun ia berpikir, tapi belum mengingatnya juga.
Dengan tenang Rindu memberi senyuman terbaiknya. Dia tidak akan terintimidasi dengan tatapan Agnes yang membuatnya risih. Itu bukan apa-apa, Rindu sudah sering menghadapi hal yang seperti ini. Jadi dia sudah kebal dengan pandangan yang seolah menikam dirinya.
Mereka terdiam beberapa saat, kemudian Mira datang dengan dua cangkir teh untuk mereka. "Oo, Mira … biar aku bantu. Hari ini kita kedatangan tamu, tidak seperti biasanya. Aku harus melayaninya dengan baik," ucap Rindu seraya bangkit dan menghampiri Mira di depan pintu.
"Maaf merepotkan Anda, Nona Rindu."
"Tidak sama sekali." Rindu mengambil satu cangkir teh dan meletakkan di hadapan Agnes.
Wanita yang sedang duduk menumpuk kaki itu membuang mukanya. Rindu justru tersenyum melihat sikap Agnes yang sombong.
"Silahkan diminum, Nona Agnes." Rindu kembali duduk di tempat semula dengan memegang cangkir miliknya. Ia menyesap teh itu perlahan, lalu meletakkan di meja.
Melihat raut wajah Agnes yang nampak tidak menyenangkan. Mira pun segera keluar dan menghubungi Eja. Firasatnya tidak baik, ia merasa akan terjadi sesuatu.
__ADS_1
***