Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Mainan


__ADS_3

***


"Nona Rindu, saya …."


"Aku tidak mau sampai hamil anak pria itu," ucapnya memotong pembicaraan.


"Saya tidak diminta untuk membawa obat itu, Nona." Dokter Lisey diam sejenak, lalu dia bangkit dan mendekatkan wajahnya ke telinga Rindu. Dia membisikkan sesuatu. "Nona, saya sangat prihatin dengan apa yang Anda alami. Jika saya punya kekuatan, saya bisa mengeluarkan Anda dari sini. Tapi maaf, Nona Rindu, pergerakan saya juga sedang diawasi."


Rindu terdiam mendengarkan. "Bisakah …."


Belum selesai Rindu mengatakan keinginannya. Terdengar suara pintu dibuka seseorang. Dengan cepat Lisey menegakkan tubuhnya. Ramon, si pria brengsek yang baru dibicarakan masuk tiba-tiba. Dia tampak tampan dengan setelan jas hitam yang membalut tubuhnya. Pria itu mendekati kedua wanita di sana.


"Pekerjaanmu sudah selesai?" tanya Ramon pada Dokter Lisey.


"Sudah, Tuan. Luka Nona Rindu sudah diberi obat," jawabnya seraya tertunduk.


"Bagus, sekarang keluar. Ambil bayaranmu seperti biasa."


"Baik Tuan … saya permisi, Tuan, Nona."


Rindu melirik tanpa menjawab. Dokter Lisey pergi dengan meninggalkan sejuta pertanyaan di kepalanya. Kenapa Ramon terlihat sangat berbeda? Nada bicaranya yang selalu terdengar dingin ketika memerintah, kali ini terdengar biasa saja. Lisey ingin membantu Rindu keluar dari tempat itu. Sebagai seorang wanita ia tidak akan bisa menerima perlakuan kejam seperti ini. Tapi ia tidak mampu berbuat apa-apa, matanya ditutupi dengan kain hitam ketika dibawa ke tempat ini. Ia tidak tahu dimana lokasi dia berada sekarang.


Dua orang pelayan wanita memasuki kamar itu setelah dokter Lisey pergi. Mereka membawa beberapa perlengkapan mandi dan bak kecil. Sedangkan Ramon duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari komputer tablet di tangannya. Kedua orang pelayan itu membersihkan tubuh Rindu dan menggantikan pakaiannya dengan dress santai selutut. Rindu dilayani bak seorang putri kerajaan. Ia hanya diam, dibiarkan kedua orang itu bekerja hingga selesai. Tatapan matanya dijauhkan dari sosok pria yang duduk di sana.


Tidak lama kedua orang itu keluar, datang lagi dua orang pria dengan membawa troli makanan. Beberapa piring makanan di tata rapi di atas meja. Setelah mereka keluar, Ramon bangkit dan menghampiri Rindu.


"Baby … sarapan pagi telah siap … ayo," ajak Ramon mengulurkan tangannya.

__ADS_1


Rindu diam dengan wajah marahnya. Tanpa melihat ke arah pria itu, Rindu yang duduk di pinggiran tempat tidur bangkit. Uluran tangan pria di hadapan, ia abaikan. Rindu berjalan perlahan dan tertatih-tatih menuju sofa, dia melirik beberapa makanan yang disajikan di atas meja. Ramon mengikuti dan duduk, mereka berhadapan. Ia memperhatikan Rindu yang tertunduk dengan wajah menekuk, tanpa ekspresi.


"Baby, mau makan yang mana?"


Tanpa menoleh ke arah pria itu, Rindu mengambil Armer ritter pfannkuchen. Roti yang dicelupkan ke campuran telur, susu, dan kayu manis lalu dipanggang dan dinikmati dengan sirup mapelIa, ia memakannya tanpa bicara. Ramon melihat dengan wajah memerah, tetapi dia tampak berusaha untuk menahan diri. Bagi orang yang mempunyai temperamen keras seperti Ramon, pasti sangat sulit untuk mengendalikan emosi.


Setelah memakan beberapa suap, Rindu mengeser piringnya. Lalu mengambil satu gelas susu dan meneguk dengan sekali sesapan. Ramon memperhatikan setiap gerakan wanita itu.


"Kamu sudah selesai, Baby?" tanyanya saat melihat Rindu bangkit dan kembali ke arah ranjang. Ramon melanjutkan makannya yang masih banyak tersisa. Dia membiarkan Rindu yang duduk bersandar di kepala tempat tidur. Setelah selesai, Ramon pun menghampiri Rindu.


"Apa kamu baik-baik saja, Baby?" tanyanya dengan nada lembut.


"Kenapa kau harus peduli dengan kondisiku?" Rindu menoleh sebentar, matanya tajam menatap pria yang sangat ia benci. Kata-kata penuh dengan amarah.


"Aku harus menjaga mainanku dengan baik."


"Hahaha …." Ramon mendekat dan membungkuk di hadapan Rindu. "Aku tidak akan mudah bosan dengan mainan yang menyenangkan. Apalagi jika mainan itu kuat dan tangguh seperti dirimu." Suara beratnya menekankan kata-kata itu. Ramon kembali menegakkan tubuh. Ia tertawa keras memandangi wajah Rindu yang terlihat sangat marah.


"Bajingan!"


"Hahahaha …."


Pria itu keluar sambil tertawa dengan memasukkan kedua tangannya ke kantong celana. Pintu ditutup dengan kasar, bunyinya menggema ke seluruh ruangan. Terdengar suara kunci berputar mengunci pintu itu dari luar.


Tiga puluh menit Rindu terdiam. Setelah Pria itu pergi, amarah Rindu perlahan mereda. Ia bangkit, lalu berjalan ke arah lemari yang terdapat cermin besar di sana. Rindu memandangi tubuhnya dari atas hingga bawah. Ia meraba wajahnya yang terdapat luka di sudut bibir dan bekas cengkraman Ramon dirahangnya. Bagian leher bertebaran tanda kemerahan. Dadanya juga terasa perih saat ia menyentuhnya. Sekujur tubuhnya dipenuhi oleh luka bekas perlawanan. Hatinya terasa pilu, matanya mulai memerah. Perlahan bagian bawah kelopak matanya penuh dengan genangan air dan menetes ke pipi. Rindu menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Tangisannya semakin terdengar semakin pilu menggema di kamar besar itu. Ia membenamkan kepala di lutut dan menopang kedua kaki yang ditekuk dengan kedua tangan. Rindu menangis tersedu-sedu meratapi nasibnya.


Di luar kamar, dua orang pria bertubuh tegap saling pandang. Mereka mendengar tangisan dari dalam. Salah satu dari mereka mendekatkan telinganya ke daun pintu. Mendengarkan lebih jelas apa yang terjadi di dalam.

__ADS_1


"Apa yang kau dengar?" Pria yang tidak ikut mendengarkan bertanya dengan santai.


"Hanya tangisan, terdengar sangat menyedihkan."


"Kau merasa kasihan?"


"Hanya sedikit kasihan, bos pasti sangat menyiksa wanita itu," jawabnya kemudian.


"Jangan ikut campur urusan bos, kau bisa dihabisi dengan sekali tembakan."


Pria yang menguping tadi kembali ke posisinya semula. Ia kembali menegakkan tubuh. Mereka diam dan menjaga dengan tenang, dan tetap waspada jika terjadi sesuatu di dalam sana. Jika tidak jeli, maka mereka bisa dihabisi saat itu juga.


Ramon terkenal dengan kekejamannya. Ia tidak punya rasa belas kasihan kepada siapa pun. Apapun yang tidak disukainya maka akan ia lenyapkan. Nyawa manusia bagaikan lalat di mata pria arogan itu.


Tidak lama, datanglah seorang pengawal wanita, lalu masuk ke dalam kamar untuk menjaga wanita yang berada di dalam secara dekat.


***


Disisi lain, di kediaman Tante Maya, Mama Dahlia terus menangisi nasib anaknya yang entah bagaimana. Ini hari ketiga Rindu menghilang. Polisi telah mengobrak abrik seluruh isi kota. Hingga malam hari itu, polisi menemukan mobil taksi yang membawa Anton dan Rindu pergi. Namun, mobil itu telah dibuang ke tempat pembuangan mobil bekas. Semua bukti jejak perjalanan juga telah dihilangkan. Polisi menjadi kesulitan melacak keberadaan Rindu sekarang.


"Kak Lia …."


"Maya, Rindu may …." Mama Dahlia kembali menangis setelah mendengar kabar terbaru dari kepolisian. Mereka saling berpelukan.


Steven yang berada di dalam, segera keluar dan melepaskan amarahnya yang tidak bisa dibendung lagi. Ia menuju ke tempat parkir, melayang kepalan tinjunya ke arah pohon yang ada di hadapannya. Dia berteriak dengan lantang.


"Aaaarrgghh … Rindu …!"

__ADS_1


***


__ADS_2