Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Misi berhasil


__ADS_3

***


Seketika suasana menjadi tegang. Rindu memegangi dadanya yang mulai terasa sesak. Ardian mengusap lengan Rindu menenangkannya. Rindu memandangi nanas kedua sosok orang dewasa yang hanya berjarak sekitar lima puluh meter dari mereka.


"Sayang … kamu baik-baik saja?"


"Mmmm."


Bagas dengan seorang wanita berjalan di jalan setapak yang banyak ditumbuhi semak. Terlihat Kanaya masih tidur di gendongan Stella. Sedangkan Agnes ditinggal di mobil, tugasnya hanya mengantar mereka ke tempat tujuan.


"Kanaya … Ardi, itu Kanaya," bisik Rindu.


"Iya … tenang, Sayang."


Sementara Dian menutup mulutnya dengan tubuh bergetar. Dimas, Alan, Teo dan Eja menunggu arahan polisi selanjutnya. Mereka diminta untuk tetap tenang hingga mendapat aba-aba, misi ini harus berhasil.


Seseorang turun dari atas kapal, dengan kondisi yang gelap mereka tidak bisa melihat wajah orang itu. Hanya dengan cahaya bulan, mereka bisa menebak itu adalah seorang pria. Suasana menjadi semakin tegang, Bagas dan Stella mendekati pria itu.


Saat mereka berhadapan. Tiba-tiba tempat itu menjadi terang benderang. Lampu sonar menyoroti mereka dari segala arah. Polisi lantas segera berlari mengepung area sekitar, mengarahkan senjata pada ketiga orang itu. Lalu terdengar bunyi letusan senjata.


"Diam di tempat!" Suara tembakan peringatan ditembakkan ke udara oleh Kapten Henry.


Mereka terkejut lantas mengangkat kedua tangannya ke atas, kecuali Stella. Wanita itu memeluk Kanaya semakin erat. Karena terkejut dengan suara tembakan, Kanaya terbangun dan menangis dengan keras.


"Kanaya!"


Rindu berlari menghampiri, semua orang ikut menyusul. Bagas tiba-tiba mengeluarkan sebilah pisau dari bajunya, lalu mengarahkan ke arah Kanaya. Salah seorang petugas pun menghalangi jalan Rindu dan yang lain.


"Apa yang kamu lakukan, Mas!" teriak Rindu ketika melihat tindakan Bagas.


"Diam! Atau aku bunuh anak ini!" Bagas merubah posisinya tepat di sebelah Stella. Wanita itu tidak tampak takut sama sekali.


"Gila kamu! Kanaya anak kamu! Putri kandungmu! Tega kamu menyakitinya?"


Teriakan Rindu sangat menyayat hati. Ia tidak percaya, Bagas tega melakukan semua ini. Apa salah dirinya, kenapa Kanaya yang harus menjadi Korban?


"Aku tidak percaya!"

__ADS_1


"Mas, Bagas!"


Ketika mereka bersitegang, Ardian dan Teo ternyata tidak ada di sana bersama mereka. Tidak ada seorang pun yang menyadari. Alan yang ada di sebelah Rindu dan menahannya agar tidak gegabah. Dimas merangkul pundak Dian yang menangis histeris. Eja yang tiba-tiba tersadar, kebingungan mencari keberadaan Ardian. Bos-nya itu tiba-tiba menghilang entah kemana.


"Nona, Rindu. Mohon tenang sebentar," pinta Kapten Henry.


"Pak! Tolong anak saya, Pak! Selamatkan Kanaya!" Rindu meraung-raung memohon pada kapten itu.


"Percayalah pada kami, Nona!"


"Kak, tenanglah. Kanaya pasti akan selamat!" Alan kemudian menenangkannya.


Tangisan Kanaya membuat Rindu semakin menangis histeris. Alan menarik kakaknya dalam dekapan. Sedangkan Eja terbelalak ketika melihat Ardian dan Teo sedang mengendap-endap di semak-semak.


"Apa yang kalian lakukan? Bos, Teo?" lirihnya dalam hati.


Eja kemudian menghampiri Kapten Henry. Eja membisikkan sesuatu ke telinga pria itu. Kapten itu mengirimkan perintah melalui radio dengan kode rahasia. Ia mengetuk radio di tangannya dengan dua jari, lalu kode perintahnya dibalas mengerti oleh semua anggota.


Sementara itu, disaat bersamaan, tempat Ardian dan Teo berada. Mereka bersembunyi di balik pohon besar yang tidak jauh dari tempat Kanaya berada.


Ardian memfokuskan pandangannya pada pria yang Teo maksud. Benar, dia seseorang yang mereka kenal dekat.


"Bram," lirih Ardian


"Benar, itu Bram. Apa yang ia lakukan di sana? Dia salah satu komplotan itu?" tanya Teo kesal.


Teo yang dulunya lebih dekat dengan Bram, seakan tidak percaya dengan yang dilihatnya. Selama hampir delapan tahun tidak ada kabar, bagaimana bisa Bram terlibat dengan komplotan penjahat.


"Walaupun dia teman sekalipun, jika berpihak pada yang salah harus ditangkap." Ardian menimpali.


"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Teo kemudian.


"Gue akan mengatasi Bagas. Lo harus ambil Kanaya dari tangan wanita itu dan bawa pergi." Ardian membuat rencana.


Bram yang sedang mengangkat tangannya di sana menyadari keberadaan Ardian dan Teo. Dia pun pura-pura tidak melihat, sebenarnya ia juga terkejut, kenapa teman-temannya ada di sini? Anak yang sedang disandera ternyata, anak Rindu? Melihat situasi yang sedang terjadi sekarang, ia sudah menebak jawabannya.


"Kanaya!" Rindu kembali berteriak memanggil putrinya.

__ADS_1


Gadis kecil itu masih menangis. Dia terus memanggil 'bunda' dari gendongan Stella. Wanita itu membekap mulut Kanaya dengan tangannya. Rindu yang melihat itu semakin histeris. Sedangkan Bagas terus waspada pada sekitarnya. Sudah terpojok seperti ini, dia masih mau melawan. Padahal polisi juga sudah mengepung seluruh area.


Ardian mengendap mendekat, jarak mereka hanya sekitar seratus meter. Kapten Henry mengalihkan perhatian Bagas dan Stella agar tetap terfokus padanya.


Kapten Henry berkata dari pengeras suara. "Bagas, menyerah saja. Kalian sudah terkepung. Tidak akan ada jalan keluar!"


"Sialan!" umpat Bagas


Dengan ancang-ancang Ardian melompat melayangkan tendangan yang tepat mengenai punggung Bagas. Pria itu tersungkur ke kedepan. Pisau di tangan pun terlempar ke rumput tak jauh dari jatuhnya. Bram diam sedikit menghindar, dan Stella tersentak kaget. Ardian menghampiri Bagas dan melayangkan pukulan bertubi-tubi di rahangnya.


"Bodoh, kenapa diam saja! Hentikan dia!" teriak Stella pada Bram yang ada di dekatnya. Namun, pria itu tersenyum sinis melihat pergumulan itu.


Rindu dan yang lainya menegang melihat aksi Ardian yang mengejutkan mereka. Di saat bersamaan Teo langsung merampas Kanaya dari tangan Stella. Ketika perhatian Stella sedang terganggu, saat itulah semua polisi bergerak mendekat.


"Brengsek!" umpat Stella pada Teo. Kanaya terlepas dari tangannya dan dibawa menjauh.


Ardian tampak masih bergumul dengan Bagas. Serangannya dibalas beberapa kali oleh pria yang berstatus mantan suami Rindu. Namun, Ardian bisa mengatasinya, dia cukup ahli dalam perkelahian. Bagas yang sudah merasa terpojok, saat mendapat kesempatan meraih pisau yang tergeletak di dekatnya. Bram yang melihat mencoba mendekat, tapi jarak mereka cukup jauh, dan ….


"Ardi …!" Teriak Rindu


"Bos!" Eja juga berteriak.


"Kak Ardi!" Alan ikut berteriak sambil memegangi tubuh Rindu agar tidak jatuh.


"Ardian!" Bram, Dian dan Dimas juga berteriak bersamaan.


Pisau kecil sepanjang tiga sentimeter itu Bagas tancapkan ke perut Ardian, lalu menariknya kembali. Bagas menendang Ardian yang berada diatasnya hingga tersungkur. Dia langsung bangkit dan berlari. Kapten Henry dengan cepat menembakkan senjatanya tepat mengenai kaki kiri Bagas. Bram langsung bergerak menangkap tangan Stella ke belakang.


"Brengsek! Apa apaan ini? Kau komplotan mereka!" hardik Stella lagi.


Dua orang anggota polisi menyergap Bagas yang telah tersungkur karena kesakitan.


Rindu dan yang lainnya berlari menghampiri Ardian.


"Ardi … Ardi!" Rindu menangis histeris melihat sang kekasih meringkuk memegangi perutnya. Darah mengalir dari sela-sela jari pria itu. "Aaarrgghhh … Ardi ...!" Rindu bergetar memeluk Ardian dalam pangkuannya.


***

__ADS_1


__ADS_2