
***
Setelah keluar dari rumah sakit, Ardian langsung mengajak Rindu pulang. Sesampainya di kawasan mewah tersebut, mobil yang membawa mereka tidak masuk ke gedung unit apartemen Ardian. Mereka menuju ke bangunan yang lebih tinggi dan megah dari sebelumnya. Hanya berjarak dua gedung dari unit Ardian yang lama.
"Ardi, kita kemana?" Rindu tampak bingung memandangi arah tujuan yang berbeda.
"Pulang, Sayang. Ke rumah, apartemen kamu," jawab Ardian santai, membuat Rindu terdiam.
Rindu terlihat sedang berpikir. Benar, Ardian pernah menyuruh Eja mengurus pembelian satu unit apartemen residence terbaik di ibukota. Rindu baru mengingatnya lagi, dia pun menggeleng. Ardian benar membeli apartemen itu dan atas namanya?
Begitu Rindu akan melangkah masuk ke dalam apartemen yang memiliki luas 148 m² itu, dia terpaku di depan pintu. Sangat terlihat keterkejutan di wajahnya. Tempat ini jauh lebih besar dari apartemen Ardian yang sebelumnya. Rindu tak dapat lagi berkata-kata, ia benar-benar dikejutkan dengan perlakuan pria itu padanya.
"Ardi, ini?"
"Masuklah, ini akan menjadi rumah kita." Ardian menggandeng tangan Rindu masuk lebih dalam.
"Rumah kita?" Rindu mengedarkan pandangannya, terlihat sangat indah.
"Iya, setelah kita menikah," jawab Ardian seraya merangkul pinggang kekasihnya itu.
"Tapi ini terlalu berlebihan, Ardi. Kita bisa tinggal di tempat sebelumnya. Aku tidak masalah tinggal di mana pun, asal ada Kanaya dan kamu," ucap Rindu tanpa sadar.
"Jadi, kamu mau menikah denganku? Kamu sudah memikirkan kita akan hidup bersama?" Ardian merubah posisinya menghadap pada wanita itu. Ucapan Rindu membuat tatapan binar di matanya.
Rindu terdiam seketika itu. Pernyataan yang tanpa sadar diucapkan membuat ia terjebak sendiri. Ia belum menerima lamaran Ardian tapi sudah berpikir tentang rumah tinggal mereka setelah menikah.
"Rin?"
"Aku …."
__ADS_1
"Tunggu, jangan lanjutkan. Sepertinya kamu sudah punya jawaban."
Ardian tidak ingin melewatkan momen ini. Tentu saja dia sudah mempersiapkan segalanya. Akan sia-sia jika Rindu mengatakan 'iya' sebelum Ardian mengungkapkan dengan caranya. Ardian mengambil ponsel dan mengetik pesan pada seseorang, Rindu hanya diam memperhatikan.
"Bro, semua sudah siap?"
"Siap, standby."
"Ok, lima menit lagi."
Ardian menuntun Rindu ke ruangan tamu, menghadap jendela dengan kaca besar di sana. Rindu berdiri tepat di depan jendela yang memperlihatkan pemandangan ibu kota. Ardian membuka tirai, langit sore itu tampak indah dengan warna jingga memancar dari cahaya matahari.
"Sayang, berdiri di sini, lihat ke luar!"
"Pemandangannya bagus, Ardi … indah." Rindu berjalan mendekat ke jendela kaca. Namun, Ardian menahannya agar tetap menjaga jarak dari kaca. Rindu tampak keheranan.
Ardian mengetik sesuatu pesan lagi. Detik kemudian, sebuah kain besar menutupi sisi kiri jendela. Rindu sontak menjerit menutup mulutnya. "Apa itu?"
Keterkejutan Rindu beberapa menit lalu masih belum hilang. Kini Ardian malah memberi kejutan lain. Rindu terpaku melihat keluar jendela dengan tatapan yang masih tidak percaya. Bukankah ini terlalu berlebihan?
Ardian yang sedari tadi berdiri di samping, mengubah posisi mereka hingga berhadapan. Tatapan matanya tak lepas dari wajah Rindu yang terlihat tegang. Rindu membalas tatapan mata Ardian, menusuk hingga ke relung hatinya. Debaran jantung jadi tidak beraturan, sangat cepat.
Kemudian pria itu mengeluarkan kotak cincin berwarna merah dari kantong celananya. Lalu berlutut dengan sebelah kaki menapak lantai. Berjarak tiga dua langkah di depan Rindu. Ardian membuka kotak itu dan mengangkat ke atas dengan kedua tangannya.
"Ardi, ini?" Ada sebuah cincin putih berbentuk hati dan berhiaskan berlian pada tengahnya.
"Rindu … aku tau, aku bukan lelaki yang sempurna. Aku hanya punya cinta untukmu. Aku ingin kamu menjadi pendampingku untuk seumur hidupku. Selama delapan tahun aku menempatkanmu di hatiku, tidak ada tempat lagi untuk siapa pun. Jiwaku sudah terikat akan cinta yang kamu tinggalkan padaku."
Ardian menjeda kata-katanya, wanita itu terkejut sambil membungkam mulutnya. Semburat embun tampak pada manik hitam matanya. Ardian menarik napas dalam-dalam, lalu mengucapkan kalimat selanjutnya.
__ADS_1
"Kamu pernah mengatakan. 'Hanya satu cinta yang bisa mengikat jiwa seseorang. Tempatnya tidak akan berubah di dalam hati'. Kamulah cinta sejatiku, Rindu. Apakah jiwamu sudah terikat padaku?
Maukah kamu menjadi istriku, Rindu Pramita?"
Cinta itu laksana lembah yang dalam nan misteri. Jika melangkah tingkat tertinggi beruntunglah yang tetap bertahan. Jiwa menjadikan cinta hanya ujian dan kesabaran sebagai penjaganya.
Pernikahan laksana pelaut di atas samudera penuh dengan gelombang. Hati-hati, gelombang akan mengantar ke tepian atau dalam palung lautan. Karena mencintai bukan untuk menyamai tetapi keikhlasan menerima perbedaan.
Jadilah yang mencintai dan bukan hanya untuk dicintai karena pernikahan hanya bersama orang yang mencintai bukan dicintai. Benar kata pujangga, cinta abadi pernikahan dijalani dengan hati yang tulus. Lemah dalam berkata, kabur dalam pandangan namun tetap utuh dalam sanubari.
Ardian menunggu jawaban dengan debaran jantung yang semakin memacu cepat. Inilah tujuan terakhir dalam hidupnya. Bahagia bersama wanita yang dicintai.
Rindu menarik napasnya. "Ardi, aku bukanlah wanita yang sempurna. Masa laluku telah menyeretku dalam kehampaan. Namun, dengan niat tulus yang kamu berikan … aku merasa cinta itu sangat kuat di antara kita." Dia pun terdiam sejenak. Seraya mengulurkan tangan kirinya, dia berkata, "Aku … menerima kamu menjadi kekasih terakhirku."
Tak menunggu lama lagi, Ardian lantas meraih dan memasangkan cincin di jari manis Rindu. Senyumnya sangat terlihat bahagia. Kemudian Ardian mengecup jari tempat cincin itu disematkan.
"Terima kasih, Rindu," ucap Ardian lembut. Manik mata wanita itu tampak telah basah. Ardian menengadah memberi senyuman terbaiknya.
Wanita yang tengah bahagia itu pun menangis sesenggukan. Ardian melepaskan tangannya dan berdiri perlahan. Hanya satu langkah pria itu lantas mendekap Rindu dalam pelukannya. Lalu menekuk sedikit menekuk lututnya dan merangkul pinggang Rindu dengan erat. Ardian mengangkat tubuh wanita itu hingga dadanya menempel di bagian pinggang Rindu, lalu ia berputar.
"Aaahhh … Ardi!" pekik Rindu reflek memegang bahu Ardian.
"Wuuuhuu!" Ardian berseru dan tertawa lepas. Ia menengadah, mereka memandang satu sama lain.
Kebahagiaan di wajah mereka membuat siapa pun yang melihatnya akan tersentuh. Teriakan Rindu dan Ardian menggema di dalam ruangan yang luas itu. Tanpa mereka sadari, satu titik merah tampak berkedip sedari tadi. Titik itu berasal dari sebuah kamera video yang terletak di atas meja tepat mengarah ke mereka.
Ardian menurunkan Rindu secara perlahan. Tangan wanita itu masih terpaut di bahu Ardian yang kokoh. Kedua tangan Ardian kini menempel di pinggang Rindu, memeluk erat seperti tidak rela untuk melepaskan. Mereka saling pandang dan saling mendamba.
Tatapan lembut Ardian membuat wanita itu mengalihkan wajahnya ke arah lain. Rindu merasa malu seketika. Tidak bisa dipungkiri jika kedua pipinya kini terasa panas.
__ADS_1
"Lihat aku," pinta Ardian seraya melepaskan satu tangan dari pinggang kekasihnya. Dia mengambil dagu Rindu dan mengalihkan wajah wanitanya hingga mereka saling menatap.
***