
***
Ardian mengajak Rindu langsung turun ke lantai satu. Jam kerja perusahaan telah berakhir sekitar lima belas menit yang lalu. Sebagian karyawan lantai sebelas masih berada di lobby. Mereka belum bisa pulang karena barang-barang mereka masih ada di atas. Mereka takut untuk naik, dan terpaksa harus menunggu hingga bos mereka turun. Eja merenggut menunggu kedua sejoli itu di depan lift khusus petinggi perusahaan.
Sang asisten menggeleng kepada Ardian begitu pintu lift terbuka. Ardian sadar akan apa yang dia perbuat. Namun, dia hanya menunjukkan sikap dingin seperti biasanya. Dari kerlingan mata, Ardian meminta Eja untuk mengurus masalah ini.
Ya, tentu saja masalah yang timbul dari perbuatannya barusan. Ardian telah membuat kehebohan di seluruh gedung. Gosip dengan cepat menyebar di sana. Apalagi berita hangat ini mengenai bos mereka yang dikenal sangat dingin terhadap wanita mana pun. Bos dingin ini tidak pernah menerima wanita masuk ke dalam pelukannya.
***
Mereka akan bertemu di apartemen Ardian sebelum makan malam. Di lobby apartemen mewah itu sudah ada Dimas dan Dian yang sedang duduk di ruang tunggu seraya mengobrol. Selang lima menit datang Teo dan Eja secara bersamaan. Lalu Eja mengajak mereka naik duluan atas perintah Ardian.
Dimas dan Dian sekarang adalah pasangan suami-istri. Setelah menempuh perjalanan yang panjang akhirnya mereka menikah enam bulan lalu. Teo juga akan segera menyusul sebentar lagi. Sedangkan Eja masih setia dengan kesendirian. Alasannya belum menemukan wanita yang tepat. Sayangnya Bram tidak ada, dia tidak ada kabar lagi setelah mereka berpisah dulu.
Setelah beberapa menit mereka memasuki lift, Ardian datang bersama Rindu dan Kanaya dari arah basement. Gadis kecil yang imut itu saat ini berada di gendongan Ardian. Mereka banyak mengobrol dan bercanda selagi berjalan menuju unit. Kanaya aktif bertanya ini dan itu, si gadis kecil selalu merasa penasaran, dan Ardian tidak ada bosannya menjawab. Baginya Kanaya sangat menggemaskan. Rindu bahagia melihat kedekatan mereka, dia selalu tersenyum di sepanjang jalan.
Kanaya yang nyaman berada di dekapan Ardian, menyandarkan kepalanya di bahu lebar calon ayahnya. Tangan mungilnya melingkar di leher Ardian, gadis kecil itu menjadi sangat manja. Sedangkan tangan kiri Ardian menggandeng Rindu yang berjalan di samping.
Pintu apartemen itu di buka. Ardian, Rindu dan Kanaya disambut oleh orang-orang di dalam. Terutama Kanaya yang sangat menggemaskan. Begitu melihat Kanaya, mereka berebut ingin mencium gadis kecil itu. Tapi begitu mereka mendekat, Ardian menghindar lalu memasang wajah dinginnya. Pria itu tidak ingin membuat Kanaya ketakutan. Pasalnya dia tahu, bila Kanaya didekati orang tidak dikenal secara tiba-tiba, gadis kecil yang imut itu akan menangis.
"Pelit …!" seru mereka bersamaan.
"Kanaya tidak suka dekat-dekat dengan orang yang tidak di kenal," balas Ardian dingin.
"Seperti yang sudah kenal dekat dengan Kanaya saja lo, Ardi," ucap Dimas kemudian.
"Tentu saja dekat … aku ini ayahnya."
__ADS_1
"Ahh … iya, iya, yang baru saja jadi ayah," ejek Dian kemudian lalu mendekati maju Kanaya. "Aya sini sama tante, Sayang. Kanaya sudah kenal tante Dian, kan?"
Kanaya pun merentangkan tangannya menyambut uluran tangan Dian. Ini kedua kalinya mereka bertemu. Pertama ketika Dian mendatangi Rindu ke rumahnya, waktu Rindu baru saja kembali. Dan Dian lah yang memberinya pekerjaan untuk Rindu di sekolah musiknya. Kini dengan terpaksa Dian harus merelakan Rindu berhenti atas paksaan dari Ardian. Dian sedikit kesal dengan hal itu, karena Rindu sangat membantu di sekolahnya.
Dian membawa Kanaya duduk di sofa dan bermain dengannya. Mereka pun ikut duduk dan melakukan temu kangen satu sama lain. Rindu sangat bahagia melihat teman-teman bisa berkumpul lagi seperti ini. Apalagi ditambah dengan Ejja, walaupun ia bukan teman SMA mereka, Eja sangat diterima ke dalam kumpulan itu.
"Eja, bantuin aku sebentar," ajak Ardian pada Eja untuk membantunya di ruang kerja.
Eja pun mengikuti Ardian. Rindu membiarkan mereka pergi, mungkin ini urusan pekerjaan, pikirnya. Beberapa menit kemudian mereka keluar dengan sebuah kotak yang sangat besar. Ardian dan Eja mengangkat bersama lalu meletakkannya di ruang tamu.
"Ardi, itu apa?" tanya Rindu penasaran.
"Kamu akan tahu nanti, Sayang."
"Ceehhh … yang sudah jadian nih ceritanya?" ejek Dimas kemudian.
"Bantuin gue sini, jangan banyak tanya," balas Ardian.
"Ya ampun … Ardi! Kapan kamu membelinya?" tanya Rindu seraya menghampiri para pria di sana.
"Kemarin malam," jawab Ardian.
Rindu hanya bisa menggeleng melihat apa yang telah dilakukan Ardian untuk putrinya. Kemudian mereka memasang box bayi itu dan meletakkannya di sebelah sofa panjang. Box itu sedikit besar sehingga memenuhi ruangan itu.
"Ardi, apartemen lo nggak cocok untuk box ini, sangat sempit," ucap Dimas melihat ruangan itu menjadi sesak.
Ardian berpikir sejenak. Apartemen ini memang hanya cocok untuk ditempati sendiri.
__ADS_1
"Lo benar, tapi box ini yang tidak cocok berada di sini," ucap Ardian kemudian.
Rindu mendelik mendengar kata-kata itu. Untuk apa Adian membelinya jika tidak akan diletakkan di sini. Rindu diam-diam cemberut, dan Ardian kembali bicara.
"Eja … besok kamu cek president suit di gedung sebelah. Beli satu unit yang paling besar. Oya buat itu atas nama Rindu!" perintah Ardian pada Eja.
"Baiklah, Bos," jawab Ejja patuh.
Titah Ardian barusan sontak membuat semua orang membelalakkan mata mereka. Karena sebuah box bayi, Ardian membeli satu unit president suit, dan yang paling besar pula. Ditambah lagi ia membeli atas nama Rindu. Sekarang bertambah lagi daftar pekerjaan untuk Eja. Tadi sore ia baru selesai dengan akuisisi perusahaan percetakan, sekarang harus mengurus ini juga. Tapi Eja tidak pernah mengeluh, pasalnya Ardian mengajinya dengan setimpal plus bonusnya.
"Ardi … apa maksudnya?"
"Aku membeli apartemen baru yang lebih besar, Sayang, bukankah sudah jelas?"
"Iya, maksudku kenapa kamu membeli atas namaku?"
"Aku memberikan hadiah kepada calon istriku, apakah itu salah?" tanya Ardian mengarah kepada yang lain.
"Tentu saja tidak …!" jawab yang lainnya serentak dan mereka terkekeh geli. Ardian pun menyunggingkan senyumannya.
Rindu membulatkan mulutnya lalu menepuk keningnya. Apakah ia harus senang atau tidak dengan kelakuan Ardian ini. Rindu hanya bisa mengelus dadanya.
"Sudahlah, Sayang, jangan kamu pikirkan itu. Sekarang ayo taruh Kanaya di box itu."
Ardian mendekap wanita itu dan mengelus pundaknya. Kemudian ia melangkah menuju ruang kerjanya lagi, tidak lupa ia juga meminta Eja ikut dengannya. Keluar dari sana Ardian menenteng beberapa kantong belanja berisikan banyak mainan anak perempuan, begitupun dengan Eja. Kedua tangan mereka penuh dengan kantong belanjaan berisi mainan semua.
"Ya Tuhan … ini apalagi, Ardi!"
__ADS_1
"Mainan Kanaya," jawabnya santai.
***