Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Baru menyadari


__ADS_3

***


Bukan Hanya Rindu, Ardian pun bereaksi dengan perkataan Bagas yang seakan tidak mempedulikan keberadaan dirinya. Pria itu benar-benar sudah membuat batas kesabaran Ardian habis.


"Rin, maukah kamu kembali padaku? Mas yakin kita masih saling mencintai," ucap Bagas dengan wajah tak tau malunya.


"Kurangi ajar! Kau ingin aku habisi!" bentak Ardian tiba-tiba bangkit dan menarik kerah baju Bagas. Hingga membuat pria itu hampir tercekik.


Bagas lantas mendongak memegangi tangan Ardian. Memberontak berusaha untuk melawan. Dia hampir tidak bisa bernapas.


Ardian tak sanggup lagi menahan emosi. Perkataan Bagas membuatnya sangat marah. Pria tidak bertanggung jawab itu masih sepertinya ingin diberi pelajaran sekali lagi. Seorang polisi yang berjaga sedari tadi mencoba menghentikannya.


Sedangkan Rindu terlihat diam terpaku. Bukan karena Ardian yang tiba-tiba marah, tapi karena Bagas yang membuatnya sangat kecewa. Sakit yang dirasakan karena sikap keluarga Bagas masih dipendam. Luka yang Bagas berikan selama ini tidak pernah diungkit. Rasa kecewanya sudah sangat besar, bagaimana mungkin Rindu harus kembali merasakan hal yang sama. Bagas memang tidak pernah mengerti dengan perasaannya.


"Pak, Ardian. Kendalikan diri Anda!" ujar petugas polisi menahan bahu Ardian, dia telah waspada sedari tadi.


Ardian lantas melepas dan menghempaskan tubuh pria itu. Dia kembali duduk dengan wajah yang masih memerah. Rahang mengatup dan kepalan tangannya membuat urat-urat lehernya bermunculan. Darah terasa mendidih saat ini.


Rindu menoleh ke arah Ardian. Melihat kemarahan kekasihnya itu, membuatnya ingin segera pergi dari sana. Dia lantas bangkit dan menatap tajam mata Bagas yang memperhatikannya sedari tadi.


Rindu berdiri dan berbicara lantang. "Sudah cukup! Selama ini aku telah memendam perasaan untuk mengatakannya secara langsung padamu, Mas. Kamu tau seberapa besar rasa kecewaku? Kamu tau bagaimana sulitnya aku berjuang menahan setiap makian dan perbuatan keluargamu yang semena-mena? Kamu tidak pernah peduli, Mas!" Dada Rindu naik turun mengatur pernapasan. Ardian bangkit dan memegangi tubuhnya agar tidak jatuh.


"Lalu sekarang, kamu ingin aku kembali dan merasakan hal yang sama? Keterlaluan kamu, Mas. Sampai detik ini kamu masih tidak peduli dengan Kanaya. Kamu bahkan tidak menanyakan kabarnya, bagaimana ia tumbuh selama ini, bagaimana perkembangannya. Semenjak Kanaya lahir kamu tidak pernah memberikan kasih sayang sama sekali."


Bagas terdiam, memang benar dia tidak pernah memberi kasih sayang yang layak. Hatinya telah dibutakan dengan kebencian yang sungguh tidak berarti sama sekali.

__ADS_1


"Aku tidak melihat sedikit pun rasa penyesalan dari matamu. Satu hal yang harus kamu tau. Selama ini aku tulus menerima keadaanmu, menerima keluargamu. Aku ikhlas menjalani hidup apa adanya, asalkan kamu bisa bertanggung jawab. Tapi apa yang kamu berikan, Mas? Hanya kekecewaan!" raung Rindu menekan dadanya yang kian sesak.


"Sweety, tentang." Ardian berbisik. Mata wanita itu telah memerah, tapi ia menahan agar bendungan pada matanya tidak luruh. Rindu melirik sesaat lalu kembali beralih pada Bagas. "Aku rasa tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi. Semoga kamu bisa melihat kesalahanmu selama ini. Semoga kamu sadar dan punya keinginan untuk berubah. Karena selama ini kamu tidak pernah mau berubah dan berkaca. Apa pernah kamu ingin memperbaiki diri sendiri?"


Bagas tak mampu menjawab, semua yang Rindu katakan benar adanya.


"Bertemu denganmu adalah sebuah harapan untukku. Aku pernah berharap bisa bahagia dengan pilihanku saat itu. Tapi kenyataan tak seindah harapan." Rindu diam sejenak. "Menyesal? Tidak, aku tidak menyesal. Semua adalah bagian dari perjalanan hidupku. Suatu saat aku akan bahagia, dan kebahagiaan itu sudah tampak di depan mataku saat ini." Rindu menoleh pada Ardian, tersenyum padanya.


Detik itu juga, Bagas baru menyadari bagaimana mata Rindu terlihat bercahaya saat menatap Ardian. Ada sorotan cinta dari keduanya. Dia ingin marah, tapi dia tidak lagi berhak. Bagas hanya bisa diam dalam kebisuannya, meresapi kata-kata Rindu yang menusuk hati dan pikirannya. Terutama mengenai Kanaya, dia baru merasa bersalah kini.


"Terima kasih untuk pelajaran hidup yang kamu berikan untukku selama ini. Tujuanku datang ke sini telah tercapai, aku telah merasa lega sekarang. Aku harap kamu bisa merenungi semua kesalahan."


"Rin … bi … bisakah aku bertemu Kanaya? Sekali saja, aku mohon, izinkan aku melihat putri kita sekali saja," pinta Bagas dengan suara yang bergetar.


Rindu dan Ardian saling pandang. "Aku akan memikirkan itu. Jika kamu benar-benar ingin mengenal Kanaya, aku tidak akan melarang," jawab Rindu kemudian.


"Bie … kita pergi dari sini," ucap Rindu lirih.


Ardian pun merangkul pinggang kekasihnya. Mereka keluar beriringan.


Sebelum mereka keluar dari pintu, Ardian menoleh Bagas sesaat. Pria itu terlihat menjatuhkan kepalanya pada tangannya di meja. Bahunya terlihat naik turun, sepertinya ia sedang menangis. Rindu ikut menoleh kebelakang, tapi Ardian menghalangi. Dia pun menuntun Rindu segera keluar.


Namun, ketika mereka telah berada di luar. Rindu menghentikan langkahnya. Lututnya tiba-tiba terasa lemas, dia terkulai di dalam dekapan Ardian.


"Sweetie … Rin, kamu baik-baik saja?"

__ADS_1


"Bie … aku tidak kuat lagi. Tolong gendong aku." Nada bicara Rindu lemah sebelum akhirnya tatapan mata menjadi kosong.


Tanpa berpikir panjang lagi, Ardian segera mengalungkan tangan Rindu dan mengangkat tubuhnya. Rindu tiba-tiba syok dan kambuh. Ardian berlari secepatnya membawa Rindu kembali ke mobil. Rindu meninggalkan obatnya di dalam tas, dan tas itu ada di mobil saat ini.


Seorang petugas melihat Ardian berlarian menggendong Rindu. "Apa yang terjadi, Pak?"


"Aku harus segera memberinya obat, obatnya ada di mobil," jawab Ardian terengah-engah.


"Mari saya bantu, Pak," tawar si petugas seraya berlari mengikuti langkah Ardian.


"Terima kasih, ada sopir yang menunggu di mobil." Ardian terus berlari.


Polisi itu tetap mengikuti Ardian. Dia harus memastikan semua baik-baik saja. Bagaimanapun juga, yang terjadi di sana adalah tanggung jawabnya sebagai petugas.


Ketika mereka hampir sampai di parkiran. "Mobil yang mana, Pak?" tanya si petugas.


"Mobil hitam yang di ujung sana," ucap Ardian.


Polisi itu pun menambah kecepatan, ia mendahului Ardian dan menemui sang supir. Kemudian segera membukakan pintu.


Ardian langsung masuk ke dalam mobil dan menyandarkan tubuh Rindu. Dia mencari tas Rindu dengan ekor matanya. Ardian meraih dan segera mengambil obat lalu meminumkannya pada Rindu. Dalam beberapa menit wanita itu pun memejamkan mata.


"Bagaimana, Pak Ardian?" tanya si petugas.


"Dia sudah tertidur."

__ADS_1


Polisi itu pun ikut merasa lega. Sama halnya dengan sang supir yang ikut merasa panik saat semua itu terjadi. Ini pertama kalinya baginya melihat penyakit Rindu kambuh, setelah beberapa waktu menjadi supir wanita itu. Itu terasa sangat menegangkan. Dia melihat mata Rindu terbuka dengan tatapan yang kosong.


***


__ADS_2