Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Takaran cintanya


__ADS_3

***


Rindu tak dapat mengendalikan detak jantung yang memacu cepat. Batinnya meronta, "Ardi … jantungku mulai tidak aman. Tapi, maaf aku tidak bisa membalas cintamu, aku belum siap. Jujur, perasaan itu masih ada, entah cinta itu masih kuat atau tidak. Kita lihat saja nanti bagaimana arusnya."


Rindu tak tahu harus berkata apa. "Ardi, aku tidak bisa menerima hubungan seperti pacaran."


Ardian melepas pelukannya, dia mendorong pelan hingga mereka berhadapan. "Nggak apa-apa, Sayang. Aku akan menunggu hingga kamu bisa terima aku. Bisakah aku memanggil dengan sebutan itu? Sayang?"


"Nggak, terdengar aneh," tolak Rindu cepat.


"Oke, tapi bisa, kan, kita dekat seperti dulu?"


"Emm, tentu." Rindu mengangguk pelan, Ardian pun kembali memeluk.


***


Cinta itu tidak bisa dijelaskan seberapa besarnya, orang mungkin menilai cinta itu sebesar dunia, samudera, bahkan langit. Namun tidak ada seseorang pun yang bisa menakar seberapa besar cintanya dengan logika. Ketika kamu telah menemukan cinta sejati, jangan berniat untuk menemukannya lagi. Peluk dan genggamlah ia selama kamu masih memilikinya.


"Love does not begin and end the way we seem to think it does. Love is a battle, love is a war; love is a growing up." – James Baldwin


(Cinta tidak dimulai dan berakhir seperti yang kita pikirkan. Cinta adalah pertempuran, cinta adalah perang; cinta adalah tumbuh dewasa)


Seperti itulah yang Ardian rasakan sekarang. Dia tidak tahu seberapa besar takaran cintanya pada Rindu. Tidak bisa diukur, semakin dia memikirkan, semakin kuat rasa rindu dan cinta dalam hatinya. Rindu adalah cinta sejatinya. Ketika cinta harus memilih antara tinggal dan pergi, Ardian memilih tetap tinggal pada kekuatan cinta yang dimilikinya. Cintanya sekarang adalah perjuangan, pertempuran.


***


"Eermm, Ardi. Berapa lama lagi ini kamu akan melepaskan?" Tangan Ardian masih melingkari tubuhnya.


"Tunggu, sebentar lagi, aku masih ingin memelukmu," ucap Ardian masih ingin bertahan.


"Ini sudah menempel dari tadi, aku tidak yakin akan bertahan berapa lama, aku bisa aja gigit kamu," ucap Rindu jahil.

__ADS_1


"Aahh, kamu." Ardian mendorong tubuh mereka sedikit kasar, wanita itu terkekeh.


"Lihatlah, bahkan kamu tidak bisa menahannya." Rindu melirik ke bawah perut Ardian. Dia masih mau menggoda pria itu.


"Cckk … jangan menggodaku, Rin! Hah." Ardian menutupi dengan tangan.


"Hahaha … aku tidak menggodamu, kamu sendiri yang mudah tergoda."


"Rin—" Ardian ingin protes. Namun, dihentikan oleh ucapan Rindu.


"Kamu mau lihat bagaimana caraku menggoda?" tatapannya tajam pada Ardian, suaranya terdengar sensual.


Tubuh Ardian didorong kasar hingga terbaring dan berada dibawahnya. Rindu meraba mulai dari kening, hidung hingga leher Ardian menggunakan jari telunjuk, terus menerus diulanginya. Pria itu menegang, nyaris kehabisan nafas, wajahnya merah padam.


"Rin, hentikan." Suaranya tercekat.


"Aku bilang hentikan! Rindu, Arhhh …!" Ardian mendorong Rindu hingga kembali duduk.


"Lihat, bahkan begitu saja kamu tidak tahan." Rindu pun terkekeh.


Ardian pun bangkit saat merasakan adik kecilnya semakin menegang. Dia berlari ke kamar mandi di kamarnya. Terpaksa dia harus menenangkan adiknya di sana.


"Ardi, perlu bantuanku? Hahaha …," teriak Rindu saat Ardian bergegas ke kamar mandi, laki-laki itu terlihat kesal.


"Sejak kapan kamu menjadi bar-bar begini? Dasar!" balas Ardian berteriak sebelum masuk ke dalam.


Rindu semakin terbahak, perutnya sakit karena tertawa. Dia mengakui, tubuh Ardian memang sangat menggoda. Dulu, badan pria itu tidak dan berisi seperti sekarang. Mungkin karena hobinya berolahraga, jadi bisa terbentuk sangat atletis. Sekarang tubuh Ardian dipenuhi otot-otot yang terlihat sexy di matanya. Wanita mana pun pasti sulit menahan jika berdekatan. Apalagi wangi tubuh itu mengeluarkan aroma maskulin. Rindu sudah sulit untuk menolak, untung saja dia bisa menahan tadi.


***


Ardian keluar dari kamar dengan wajah lega. Tadi Rindu benar-benar membuatnya susah bernafas. Dia harus menikahi wanita itu secepatnya. Ini baru sehari, bagaimana dengan besok dan hari-hari selanjutnya? Ardian bisa sakit kepala dibuatnya.

__ADS_1


Rindu tampak asyik dengan ponselnya. Mendengar lagu dari aplikasi musik kesukaannya. Saat melihat Ardian keluar dari kamar, Rindu ingin tertawa lagi. Dibekapnya sendiri mulutnya agar tidak kelepasan, pria itu mendelik.


"Sudah, cukup, jangan diteruskan." Nadanya sinis bersedekap, lalu menghempaskan tubuhnya di sebelah Rindu, sedikit berjarak.


"Sudah merasa lega?" Rindu melepas earphone di telinganya.


"Jangan tanya, ini memalukan," jawab Ardian cemberut. "Lain kali, jika hal seperti ini terulang lagi, aku tidak akan melepaskanmu." Dia mencoba mengancam.


"Oohh, benarkah?" Rindu tampak tak percaya sama sekali. Dia malah balik menantang.


Ardian menghela napasnya. "Rin, dengar … meskipun aku sangat menginginkannya, aku tidak akan melakukanya karena napsu. Aku ingin semuanya berdasarkan cinta. Aku ingin kamu mencintaiku lebih dulu," terangnya lembut.


Rindu terkesima, pria ini begitu menjaga kehormatannya. Tampaknya Ardian tidak pernah bermain-main dengan wanita. Hatinya pun jadi tergerak untuk bertanya. "Ardian, kamu punya kekasih sebelumnya?"


"Tidak," jawab Ardian seraya bersandar. Cepat dan lugas.


"Lalu, bagaimana dengan wanita-wanita di luar sana, pasti banyak yang menggoda bukan? Mereka tidak membuatmu tertarik?" Rindu sepertinya masih berharap Ardian melupakan niat untuk mempersunting dirinya.


Pria itu menggeleng. "Aku tidak pernah bereaksi pada wanita manapun, kecuali padamu. Bahkan dengan memikirkanmu saja sudah membuatku menggila," terang Ardia jujur.


"Hah, yang benar saja. Lalu bagaimana kamu mengatasinya selama ini?"


"Ya, seperti tadi yang kamu lihat." Ardian terlihat berpikir sejenak. "Rin, kamu pikir aku pria yang suka sembarangan bergaul di luar sana? Rin, ingat, seberapa besar rasa cintaku padamu hingga aku tak bermaksud untuk mencari wanita lain. Aku tidak akan bahagia jika aku melepaskan perasaan yang aku punya. Bahkan untuk bermain-main saja aku hindarkan, karena apa? Karena aku tak ingin menodai kesucian cinta yang aku rasakan padamu. Dengan aku menjaga hatiku hanya untukmu, aku akan semakin layak untuk mendapatkan hatimu."


Tatapan Ardian menjurus lurus ke manik mata coklat Rindu. Membuat wanita itu tak dapat lagi membantah. Baik secara langsung atau dalam dirinya. Rindu terdiam, kehabisan kata-kata.


Sebesar itukah cinta Ardian pada Rindu selama ini?


Rindu mengungkapkan isi hatinya, dalam diam. "Tapi aku yang merasa tidak layak untuk menerima cintamu, Ardi. Andai saja aku bisa mengatakan, seberapa sulit untuk aku melupakanmu dulu. Aku kehilangan arah, aku mencoba bertahan. Berusaha meyakinkan diriku jika kita tidak akan pernah bersama. Dan semua itu akhirnya benar-benar berakhir, tapi dengan cara yang menyakitkan."


Pada akhirnya mereka terdiam. Rindu mengalihkan pandangannya. Kembali memasang earphone di telinga. Terlihat jelas, wanita itu sedang menghindari pembicaraan agar menghindari percakapan lebih serius.

__ADS_1


Ardian menyadari itu, dia pun menghela napas panjang. Sabar, lagi-lagi kata itu yang Arisan ucapkan dalam hati. Dengan berharap, suatu saat, Rindu akan percaya akan ketulusannya.


***


__ADS_2