Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Panggilan spesial


__ADS_3

***


Rindu membalikkan badannya dan akan berlalu pergi. Dia tidak ingin memperpanjang masalah ini, yang menurutnya tidak penting untuk dibicarakan. Terkadang Ardian juga bisa kekanak-kanakan seperti ini.


Ketika Rindu telah berbalik. Dengan cepat Ardian meraih tangan wanitanya dan mendekap erat.


"Tidak, Sayang. Maafkan aku, aku salah. Aku percaya padamu, aku percaya pada perasaanmu, aku bahkan percaya dengan cintamu. Aku tidak pernah meragukan kamu sedikit pun," ucapnya lirih, Ardian sadar ini adalah salah.


"Lalu kenapa kamu membahas hal yang tidak penting?" Wajah Rindu terbenam di dada bidang pria itu.


Ardian berpikir sejenak. Iya, kenapa ia harus cemburu? "Aku … aku hanya iri pada panggilan itu."


"Maksudnya?" tanya Rindu menengadah melihat pada Ardian.


"Sayang, bisakah kamu panggil aku dengan panggilan yang lebih spesial?" Ardian tersenyum ketika melihat ekspresi Rindu yang manis.


Rindu mengerutkan keningnya. Sepertinya kini dia mengerti dengan maksud Ardian. Ia tersenyum mendengar tuturan Ardian yang sedikit lucu. Rindu terpikir untuk menggoda Ardian. "Apa itu sangat penting?"


Ardian melepaskan pelukannya. Ia menuntun Rindu untuk duduk di sofa panjang. "Jelaskan, bagaimana panggilan yang spesial itu tidak penting untukmu?"


"Bukankah panggil nama saja sudah cukup?" Rindu balik bertanya.


"Sayang, kamu benar ingin membuatku marah. Itu sama saja seperti saat kita masih bersahabat. Ini tidak benar, kamu adalah calon istriku sekarang, sebentar lagi kita akan menikah. Bagaimana jika orang masih beranggapan kamu masih sahabatku, bagaimana cara menunjukan bahwa kamu adalah milikku. Dan …."


Rindu menyilangkan kedua tangan. "Stop … kenapa kamu jadi cerewet begini? Jadi panggilan seperti apa yang kamu mau?"


"Ada banyak, kan." Ardian terlihat berpikir. "Honey, hubby, sayang, dear, ayang, cinta, my love …."


Rindu menggeleng mendengarkan, Ardian begitu ingin di manja. Ocehan Ardian membuatnya merasa geli. "Bibie …," ucapnya pelan, nada suaranya sedikit manja.


Ardian sontak terdiam. "Hah … apa? Tadi kamu panggil apa?"


"Bibie …," jawab Rindu tersenyum manis, "kamu mau?"

__ADS_1


Wajah Ardin memerah, tersipu malu. Rasanya seperti hatinya melompat dari ketinggian. Jantungnya langsung berdebar kencang.


"Kenapa? Kamu tidak mau?" Rindu memanyunkan bibirnya.


"Mau, itu bagus. Jadi kamu akan memanggil dengan itu? Bibie … itu sangat sempurna." Ardian menyunggingkan senyuman terbaiknya, ia tampak bahagia.


Rindu pun tersenyum, lalu Ardian tiba-tiba menangkupkan tangan di wajahnya. Ia tersentak ketika Ardian mengecup kening, pipi, serta bibirnya dengan gerakan lembut.


"Bibie … itu sangat bagus." Ardian tertawa lepas. "Kalau begitu, mulai sekarang aku memanggilmu, sweet heart. Sweety, bagaimana?"


"Terserah saja." Rindu tersenyum manis.


"Sweetheart, sweety. My Sweety." Ardian mencolek hidung Rindu.


"Bi … Bibie, My Bibie." Senyum Rindu membalas Ardian.


Ardian melonjak kegirangan seperti anak kecil, Rindu tertawa dibuatnya. Kemudian mereka saling menatap satu sama lain, dengan binaran di mata. Ardian meraba wajah Rindu dengan punggung tangannya. Membelai lembut rambut panjang Rindu yang terurai sebagian ke depan. Pandangan mereka lembut, saling melihat manik hitam yang terdapat bayangan satu sama lain.


Secara perlahan Ardian mendekatkan wajahnya, menyelipkan tangannya ke belakang leher Rindu. Jiwa mereka terasa bergejolak, memacu irama jantung semakin bergelora. Meneruskan keinginan yang sempat tertunda tadi sore. Rindu memejamkan mata, menikmati sentuhan tangan Ardian yang terasa lembut di tengkuknya. Bibir mereka pun saling menyatu.


Bibir lembut Ardian perlahan mengghisap dan menghembuskan napasnya di sana. Suara lengguhan lembut terdengar sangat ****, menambah gejolak di jiwa mereka. Rindu semakin tak karuan dibuatnya.


Pria itu pun melepaskan pagutan, perlahan menyusuri leher jenjang Rindu hingga ke telinganya. Napas Ardian yang semakin memburu dirasakan tepat di daun telinga, membuat wanita itu kembali melenguh kenikmatan. Ardian meninggalkan tanda kepemilikan tepat di belakang telinga Rindu.


"Ardi … ahhhh." Tanpa sadar Rindu mendongak ke atas dan bersuara menggairahhkan. Matanya terpejam menikmati sentuhan itu.


Ardian melirik sekilas wajah sang kekasih. Rindu terlihat sangat menikmati sentuhannya. Ia tersenyum, Rindu tidak menolak sama sekali. Hasratnya tidak bisa dihentikan. Jika ini terus berlanjut, Ardian akan mengingkari janjinya. Janji yang ia buat sendiri dengan hatinya. Cintanya yang suci tidak boleh ternodai dengan napsu sesaat.


Pikiran Ardian tertutup oleh hasrat yang kian menggelora. Ia kemudian menurunkan pergerakannya hingga mencapai dada Rindu yang sintal. Saat tangan Rindu mencengkram rambutnya, ketika itu ia sadar. Tindakannya sudah terlalu jauh. Ardian mencoba menyadarkan dirinya sendiri, memundurkan tubuhnya.


"Sweety, maafkan aku. Aku sudah melewati batas." Ardian menatap Rindu yang masih terengah-engah karena perbuatannya.


"Bibie, apa yang terjadi?" tanya Rindu lembut sambil mengatur napas.

__ADS_1


"Maaf, aku sudah berjanji akan menjaga cinta kita tetap suci. Aku tidak akan menodai kesucian cinta kita sampai sah nanti. Maafkan aku, aku hampir melupakannya," terang Ardian lembut, sedikit menyesal.


Rindu merasa tersentuh dengan pengakuan kekasihnya itu. Ardian sangat menghargai arti suci sebuah pernikahan. Pria itu pun membawa Rindu dalam pelukannya.


"Sweety, maafkan aku. Boleh aku pergi sebentar."


"Kemana?"


"Ke kamar mandi," ucap Ardian seraya melepaskan pelukannya. Ia segera berlari, tanpa menunggu lagi jawaban dari Rindu.


Wanita itu pun terkekeh melihat kepergian Ardian.


***


Ardian mengawali pagi ini dengan senyuman. Begitu membuka mata, sebuah keindahan terpampang nyata di hadapannya. Hampir setengah jam dia memandangi Rindu dan Kanaya yang terbaring tepat di sebelahnya. Wajah kedua wanita kesayangannya ini sangat teduh. Rasanya ia ingin menikmati momen seperti ini setiap hari, secepatnya.


"Andaikan setiap pagi kita bisa seperti ini, Sweetheart. Aku akan sangat bahagia, melihat dua bidadari saat aku membuka mata. Aku ingin pernikahan kita dilakukan secepatnya." Dengan posisi miring Ardian membelai rambut Rindu dan Kanaya bergantian.


Kanaya menggeliat ketika Ardian mengecup pipinya. Gadis kecil itu memiringkan tubuhnya dan memeluk lengan kekar Ardian. Tangan dan kakinya melingkar di pergelangan tangan itu. Ardian terkekeh, Kanaya sangat lucu. Ia membiarkan posisi itu cukup lama.


Beberapa saat kemudian Rindu pun membuka matanya, tepat di hadapan Ardian. Pria itu tersenyum, Rindu tetap terlihat cantik di ketika bangun di pagi hari. Walaupun wanita itu masih dengan muka bantal, ia sangat menyukainya.


"Selamat pagi, Sweety." Ardian menyapa dengan cupitan lembut pada hidung wanita itu.


Rindu tersenyum, mereka saling menatap. "Selamat pagi, Bibie. Sudah bagun dari tadi?"


"Aku baru bangun. Baru saja ingin ke kamar mandi, tapi lihat. Kanaya menempel telah padaku."Ardian menunjuk pada gadis kecil itu dan tersenyum. Rindu lantas menunduk melihat Kanaya yang tidur di lengan Ardian.


"Sayang, sini sama bunda," ucapnya seraya menarik Kanaya dari lengan Ardian.


"Biarkan saja, aku tidak keberatan."


Rindu tetap membenarkan posisi tidur Kanaya. Ia menggeser tubuh mungil itu agar kembali telentang.

__ADS_1


***


__ADS_2