Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kecupan Terakhir


__ADS_3

***


Ramon keluar dari mobil menghampiri mereka. Penampilannya berantakan, tubuhnya dipenuhi dengan luka dan darah bekas pertempuran. Sepertinya, sebelum ia sampai di gudang Ramon juga mengalami hal yang sama. Pelipisnya berdarah, wajahnya lebam, pakaiannya sobek di bagian lengan dan kakinya. Ketika ia akan menghampiri Rindu, pria di hadapannya menodongkan senjatanya ke arah Ramon.


"Sialan! Berhenti di sana!" Teriakan Ramon mencoba menghentikan pria itu.


"Kau mau wanitamu berakhir di sini? Mendekatlah lagi, aku akan melemparnya ke bawah!"


Rindu semakin histeris, ia meronta-ronta dalam cengkraman pria itu.


"Diamlah kau!" Lengan kekar pria itu mencekik lehernya, Rindu kesulitan bernapas.


Rindu hanya bisa meneteskan air mata dalam kebisuannya. Ia menatap pria yang menyebabkan dirinya dalam ketakutan seperti ini. Dalam hati Rindu, rasa benci itu semakin mendalam, Anton dan Ramon adalah dua sosok iblis yang menghancurkan hidupnya. Senjata yang tadi mengarah ke Ramon pun sekarang berada di pelipisnya. Rindu semakin pasrah untuk menghadapi kematian.


Mereka semua berada dalam situasi yang tegang. Ramon ingin mendekat dan menyelamatkan Rindu. Senjata di tangannya telah siap untuk digunakan. Mereka saling menodong, dua lawan satu. Tapi disisi lawan, ada sandera yang membuat keadaan mereka seimbang. Membuat Ramon berpikir untuk menembak. Dia harus menunggu saat yang tepat.


Pria bertubuh besar itu seperti tidak peduli dengan air yang menantikan mereka jatuh. Dia semakin berada di pinggiran jembatan. Jatuh pun tidak masalah, ia adalah seorang mantan prajurit, yang mana bisa mengatasi segala situasi bahaya saat di Medan pertempuran. Jika jatuh, maka ia hanya perlu berenang ke tepian. Tidak peduli dengan wanita yang ada di tangannya mati atau tidak. Tujuannya memang ingin menghabisi segala yang Ramon miliki atas perintah bos-nya.


Mata Rindu yang bergetar melihat ke arah bawah jembatan. Ia semakin merasa ketakutan, mungkin saja ia akan mati tenggelam jika jatuh ke bawah sana. Walaupun ia bisa berenang, tapi dengan kondisi tangannya yang sedang terikat begini, bagaimana ia akan selamat dari bahaya ini?


Sebuah tembakan mengenai aspal di bawah kaki Ramon. Pria bertubuh besar itu melepaskan tembakan saat Ramon yang mencoba untuk mendekat. Di saat bersamaan senjata api yang telah siaga di tangan pria yang datang bersama Ramon tadi, diletuskan. Tembakan meleset mengenai besi jembatan, pria yang mencekik Rindu berhasil menghindar. Sedetik kemudian ia kembali menembak.


Kali ini tembakannya mengenai kaki Ramon, untung saja ia sempat menghindar dan hanya mengenai bagian pinggir kaki kirinya.


"Bos ...!" Anak buah Ramon berteriak mendekatinya.


Saat bersamaan pria itu menaiki besi pembatas dan membawa Rindu terjun ke bawah.


"Tidak ...!" teriak Ramon berlari tanpa memperdulikan kakinya yang mengeluarkan banyak darah. Rasa sakit itu ia lupakan.

__ADS_1


"Bos! Apa yang kau lakukan!" Ramon yang ingin melompat dihentikan.


"Aku harus menyelamatkannya!"


Sekarang mereka berada di tepi jembatan tepat di mana Rindu jatuh. Ramon menaiki besi pembatas ingin melompat ke bawah.


"Bos, Anda sedang terluka, biarkan aku yang terjun!"


Anak buah Ramon pun terjun ke sungai. Untung saja ia adalah seorang perenang handal, jadi mampu berenang walaupun dalam keadaan gelap. Ramon mengeluarkan telepon genggam dari saku celananya. Dia menghubungi bawahannya yang lain, agar mengirim bala bantuan.


Sepuluh menit kemudian. Bala bantuan datang melakukan pencarian. Semua lampu mobil dinyalakan mengarah ke sungai. Alat bantu penerangan juga dinyalakan dari atas jembatan, untuk menyoroti ke kedalaman sungai. Luka di kaki Ramon pun sudah dibalut dengan seadanya. Mereka tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan Rindu.


Tubuh wanita itu diangkat dari dalam sungai dalam keadaan tidak sadarkan diri. Ramon melakukan pertolongan pertama. Ikatan pada tangan Rindu dilepas, lakban di mulutnya dibuka. Wajah pria itu terlihat sangat panik dan khawatir. Setelah memberikan napas buatan beberapa kali, akhirnya wanita itu kembali bernapas. Namun, Rindu masih dalam keadaan pingsan. Tanda kehidupannya lemah. Ramon membopong tubuh itu masuk ke dalam mobil, segera membawanya ke rumah sakit.


Dalam perjalanan, Ramon mendekap Rindu dalam pelukannya. Dua orang bawahan yang berada di kursi depan memandangnya dengan heran. Ini kali pertama mereka melihat bos mereka terlihat begitu khawatir. Seorang Ramon yang selalu menunjukkan kekejaman, saat ini terlihat dengan sisi yang berbeda. Mereka saling pandang, sepertinya mereka sedang memikirkan hal yang sama. Apakah si tuan kejam sedang jatuh cinta? Seberapa pentingkah wanita yang berada dalam pelukannya itu?


"Kau urus semuanya, katakan kau menemukannya tergeletak di pinggiran sungai!" jawab Ramon dengan wajah datar.


"Baiklah, Bos."


Tidak mungkin Ramon akan membawa Rindu langsung ke rumah sakit. Wanita ini sedang dalam pencarian, ia akan mendapat masalah jika polisi mengetahui identitasnya.


Ramon memberikan kecupan terakhir pada Rindu. Entah kenapa ia ingin melakukan itu. Seolah tubuhnya bekerja tidak sesuai dengan jalan pikirannya. Tubuh wanita yang ia gauli selama beberapa hari ini, dipeluknya sekali lagi. Ramon menyerahkan Rindu kepada Red.


"Lakukan apa pun untuk menyelamatkannya. Jangan sampai pihak kepolisian terlibat dalam masalah ini."


"Aku mengerti, Bos."


Tubuh Rindu dibopong keluar dari dalam mobil. Red membawanya ke rumah sakit dengan mobil yang lain. Saat ini mereka berada di sebuah jalan tol yang sangat sepi. Ramon memandangi Rindu yang dibawa Red dari kejauhan, entah kenapa ia merasa akan kehilangan.

__ADS_1


"Kembali ke markas!" perintah Ramon kepada sang bawahan.


Masalahnya yang lain harus diselesaikan terlebih dahulu. Walaupun pertempuran yang baru saja terjadi ia menangkan. Tapi pembalasan harus segera dilakukan.


Setelah ia kembali ke gudang, para anggota yang tewas dan terluka sudah ditangani. Dari ratusan anak buah yang Ramon miliki, hanya sebagian kecil saja yang tewas dalam pertempuran itu. Mereka memang sudah terlatih dengan baik. Sebagian dari mereka adalah mantan prajurit yang tangguh. Dia juga memiliki pusat militernya sendiri. Sepak terjang Ramon dalam dunia gelap bukanlah hal yang biasa.


Ramon langsung menuju ke sebuah ruangan bawah tanah. Tempat yang gelap dan sangat suram. Di sana telah ada seorang pria yang sedang disekap. Pria tadi yang membuat Rindu hampir tewas di dasar sungai. Lengan kekar pria itu terikat ke rantai panjang yang tergantung di tembok. Tubuhnya yang bertelanjang dada telah dipenuhi luka cambukan dan hantaman benda tumpul. Hukuman seperti itu bukanlah apa-apa bagi seorang Ramon. Biasanya jika tidak suka ia akan langsung menghabisi orang itu. Tapi kali ini ia seperti ingin memperlihatkan bahwa, orang yang mengusik miliknya tidak akan mati dengan mudah.


"Bos …."


Ramon terus saja berjalan ke arah pria tergantung itu, langsung mendaratkan pukulan yang begitu kuat ke wajah. Si pria terlihat sudah sangat lemah. Tidak hanya sekali, Ramon seperti ingin menghabisinya saat itu juga. Seolah-olah mengatakan bahwa ini adalah akibat dari kelancangan telah berani menyentuh miliknya. Setelah puas, Ramon berbalik dan duduk dikursi yang berada di sudut ruangan itu.


"Apa saja yang telah kalian dapat?" tanya Ramon dingin kepada salah seorang bawahannya.


"Dugaan Anda benar, Bos. Sasaran utama mereka adalah Nona Rindu. Mereka memata-matai Anda selama ini, dan ada seorang penghianat Bos!"


"Siapa!" Emosinya mulai naik.


"Anton."


"Sialan! Beraninya dia!" Teriakannya menggema di dalam ruangan itu.


"Sepertinya Anton ingin mengambil keuntungan dari kedua belah pihak, Bos."


"Cari dia sampai dapat dan bawa ke hadapanku! Aku sendiri yang akan menghabisinya! Dan untuk pria ini, habisi dia sekarang juga." Teriakan Ramon berapi-api.


Semua orang menunduk padanya. Ramon pergi meninggalkan ruangan itu. Salah seorang dari mereka mengeluarkan senjata dari belakangnya. Ujung senjata itu diarahkan tepat di kepala pria yang sedang terikat itu. Satu tembakan, berhasil menghancurkan tengkoraknya hingga tak berbentuk.


***

__ADS_1


__ADS_2