Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Kelulusan


__ADS_3

***


Tangisan Rindu menyayat hati. Cukup lama, hingga tersisa isakan kecil dan suaranya parau. Namun, Ardian sangat sabar menanti. Setelah Rindu benar-benar berhenti, Ardian mengajak Rindu turun, dan duduk di bangku panjang tepi pantai.


"Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana," ucap Ardian menangkupkan kedua tangannya ke pipi Rindu. Gadis itu mengangguk.


Ardian berlari ke warung terdekat membeli minuman dan tisu. Tidak lupa dia mengabari teman-temannya yang lain. Ardian meminta mereka berkumpul di rumah Rindu. Setelah tenang, dia akan mengajak Rindu segera pulang. Sesekali matanya mengamati Rindu dari kejauhan yang terdiam menatap lautan.


Setelah kembali duduk Ardian mengambil beberapa lembar tisu lalu membasahi dengan sedikit air. Lalu mengusap wajah Rindu, membersihkan sisa air laut dan air matanya. Ardian melakukannya dengan telaten hingga wajah Rindu kembali bersih. Rindu membiarkan.


"Sudah … sekarang udah cantik lagi." Ardian tersenyum, Rindu melirik sekilas.


"Terima kasih," ucap Rindu lemah dengan suara parau. Mereka saling berhadapan.


Lega, akhirnya Ardian mendengar suara Rindu. Hampir satu jam tadi Rindu terdiam. Kehilangan orang tua untuk selamanya jadi pukulan berat untuk Rindu. Sosok yang selama ini paling menyayangi dan perhatian pada Rindu. Papanya adalah sosok lelaki pertama yang Rindu cintai.


"Aku pikir di sebelahku ini hanya patung." Ardian berkelakar, sekilas terbit senyum tipis di bibir Rindu. "Nah … senyum begitu, kan manis."


"Maaf, Ardi. Aku membuatmu kerepotan."


"Gadis galak, yang sekarang lagi kalem." Ardian diam sejenak, Rindu mendelik tajam membuatnya terkekeh. Lalu dia menghela napas kecil. "Kalau kamu sedih cari aku … jangan menghilang lagi seperti tadi, semua orang khawatir tau nggak?" Ardian menyentil kening Rindu.


"Aauuu … sakit!" keluh Rindu. Ardian mengusap lembut kening dan kepalanya.


"Sudah merasa baikan?" tanya Ardian kemudian. Rindu bergumam dan mengangguk.


"Bersedih itu boleh saja, tapi jangan lama-lama. Kasihan papa kamu tidak bisa tenang di sana," tutur Ardian. "Papa Ariel masih disini, di hati kamu." Tunjuk Ardian melayang pada dada Rindu. "Semua kenangannya masih tersimpan di sini. Kamu akan mengingat kenangan manis selamanya. Sematkan nama Papa di setiap doamu. Biarkan Papa damai di alam sana. Hanya itu satu-satunya cara untuk kamu terus mencintai beliau, mengerti?"


Rindu mengangguk, ucapan Ardian semakin membuat Rindu merasa tenang. Rindu bercerita tentang Papanya semasa hidup. Kebersamaan keluarganya yang harmonis. Hingga matahari pun mulai tenggelam ditelan lautan. Menikmati pemandangan yang indah di sore hari itu, mereka pun pulang.


Di rumah Rindu, semua orang menyambut kedatangannya. Mereka memeluk Rindu bergantian. Rindu meminta maaf pada Mama karena membuatnya khawatir. Setelah itu Rindu masuk dan segera bersih-bersih untuk ikut acara tahlilan. Semua teman-temannya pun pulang setelah acara selesai.

__ADS_1


***


Tak terasa, hari kelulusan pun tiba. Seluruh siswa bereuforia setelah membaca papan pengumuman. Mereka berdesakan memeriksa nama masing-masing. Termasuk geng Rindu dan teman-teman band-nya. Mereka bersorak berlompatan membentuk lingkaran. Saling menautkan lengan antara satu dengan yang lainnya. Mereka semua lulus dengan nilai memuaskan. Ardian peringkat pertama, Rindu peringkat ketiga. Dian, Teo, masuk dua puluh besar, sedangkan Dimas dan Bram Masuk tiga puluh besar. Mereka senang Dimas bisa melewati ujian dengan baik mengingat sesi rehabilitasinya sebulan belakangan.


"Gaes … kita semua lulus, malam ini kita rayakan sehabis latihan, persiapan prom nite hanya tiga hari lagi," ucap Teo sebagai ketua Momo Band.


"Yuhuu … pesta …!" Sorak semuanya.


"Gue nggak bisa ikutan," ucap Ardian kemudian menarik perhatian yang lain. "Klub basket buat acara juga, jadi maaf gue nggak bisa gabung."


"Oooo …." jawab semua.


Ardian pamit pergi, lalu melirik Rindu yang terdiam. Seminggu terakhir Ardian memang jarang bertemu Rindu. Kegiatan mereka masing-masing sudah sangat merepotkan. Sebagai anggota Osis Ardian sibuk pada persiapan promnite, dan Rindu sibuk latihan. Namun, raut wajah Rindu hari ini sangat berbeda. Sama sekali tidak ingin menatapnya lebih dari dua detik. Rindu lebih banyak diam, entah kenapa. Ardian memutuskan menunggu waktu yang tepat untuk bertanya.


***


Di studio latihan Momo Band, pintu terbuka tiba-tiba. Ardian mengedarkan pandangannya. Teman-temannya serentak memalingkan wajahnya melihat Ardian yang tengah kebingungan. Mereka sepertinya telah selesai latihan, dan bersiap untuk pergi.


"Wooiii … Ardi, lo ngapain?" tanya Dimas.


"Dian … Rindu mana?" tanyanya kemudian.


"Pergi ke toilet … kenapa?"


Tanpa menjawab pertanyaan Ardian berlalu pergi. Mereka pun mendengus kesal dengan sikapnya.


"Di … Ardian mau apa nyariin Rindu?" tanya Dimas penasaran. Dian mengangkat kedua bahunya, tanda tidak tahu.


Mereka saling berpandangan. Bertanya dalam hati masing-masing. Karena penasaran mereka pun mengikuti. Dengan hati-hati mereka mengendap-ngendap di belakang Ardian, hingga sampai di dekat toilet mereka kompak menempel ke tembok seperti cicak.


Tangan Rindu tiba-tiba ditarik Ardian ke arah pintu lift. Lalu masuk dan membawa mereka naik ke rooftop gedung itu. Ada sebuah taman kecil di atap gedung tempat biasa untuk bersantai karyawan disana. Keempat orang yang mengintai berlari ke arah tangga dan bergegas naik.

__ADS_1


"Ardi … apa apaan sih!" Rindu menepis tangan Ardian setelah mereka sampai di atas. Tangannya sedikit sakit karena Ardian yang menariknya kasar.


"Jelaskan … kenapa kamu batalkan?" tanya Ardian berang.


"Apa?" tanya Rindu balik. Seolah tak mengerti dengan pernyataan Ardian.


Ardian menghela napasnya frustasi. "Kamu janji mau kuliah sama-sama setelah kita lulus, kita juga sudah mendaftar waktu itu, lalu kenapa tiba-tiba kamu batalkan?"


Ternyata Ardian datang untuk masalah itu. Rindu pun harus menjelaskan. "Aku berubah pikiran. Aku belum mau kuliah dulu untuk saat ini," tuturnya seraya duduk di kursi panjang.


"Kenapa? Apa masalahnya? kenapa kamu nggak cerita?" tanya Ardian menyelidik. Dia pun ikut duduk di sebelah Rindu.


Rindu pun bingung harus menjelaskan bagaimana. Rencana awalnya adalah untuk merahasiakan semua, dan sekarang akhirnya sia-sia. Sebenarnya Rindu tidak ingin merepotkan teman-temannya. Bahkan dengan Dian yang paling dekat sekalipun tidak dia ceritakan sama sekali. Empat orang yang sedang menguping di pojokan saling pandang.


"Rin … jawab, kamu ada masalah?"


Rindu menggeleng.


"Lalu?"


Rindu hanya terdiam cukup lama. "Aku mau langsung kerja aja," jawabnya lemah.


"Apa keluarga kamu dalam masalah?" tanya Ardian kemudian, dan Rindu terdiam. Pasti itu alasannya, Ardian sepertinya menebak dengan tepat.


"Rin …." Panggil Ardian memelas karena Rindu tak kunjung bicara. Dia benar-benar ingin tau alasannya langsung dari mulut Rindu.


Namun, diamnya Rindu adalah sebuah jawaban. Ardian tidak bisa berkata-kata lagi. Rindu mulai terisak, menumpahkan kesedihannya. Ardian mendekap Rindu dalam pelukannya. Membiarkan gadis itu hingga siap untuk bercerita.


Beberapa menit dalam kesedihan, Rindu akhirnya menceritakan tentang perbuatan keluarga sang Papa yang telah mengambil alih perusahaan. Satu-satunya usaha peninggalan papanya. Mama Dahlia tidak diberi sepeser pun saham perusahaan, entah bagaimana caranya. Hanya rumah yang mereka tempati beserta isinya tersisa sekarang.


Dian yang mendengar itu pun ikut menangis. Tidak disangka keluarga Papanya Rindu tega berbuat hal buruk seperti itu. Dimas, Teo dan Bram memilih diam mendengarkan. Melihat Dian menangis tersedu, Dimas mendekapnya ke dalam pelukan.

__ADS_1


Inilah Rindu. Apapun kesulitannya yang dihadapi, Rindu akan berusaha mengatasi sendiri terlebih dahulu. Lebih mementingkan orang lain daripada diri sendiri. Sepertinya kali ini, Rindu sudah bertekad. Mereka hanya bisa menyemangati dan menerima keputusan Rindu. Ardian dan teman-teman yang lain menyayangkan hal tersebut. Setidaknya mereka bisa membantu sedikit jika Rindu cerita lebih awal.


***


__ADS_2