
***
Satu Minggu pun telah berlalu. Ardian masih setia dengan penantiannya. Pagi tadi dia kembali dari rumah Rindu lagi. Kali ini untuk mengucapkan perpisahan.
Ya, Ardian harus pergi juga. Atas dorongan dari kedua orang tuanya, Ardian dikirim ke USA untuk melanjutkan kuliah. Rencana semula yang ingin kuliah bersama Rindu di tanah air, batal. Tidak ada lagi Rindu, untuk apa juga dia kuliah di tempat pilihan mereka sebelumnya.
Ardian kembali menggoreskan pena di buku pemberian Rindu. Ini ketiga kalinya dia mencurahkan isi hati dalam tumpukan kertas itu.
080613
Rindu, aku akan mengingat terus perkataanmu waktu itu.
Siapa pun seharusnya mengerti apa itu cinta. Namun, tidak semua orang bisa menyadari apa itu cinta. Cinta akan membawa kebahagiaan dan juga kesakitan. Kebanyakan orang tidak sadar kalau sebenarnya dia telah jatuh cinta. Karena Cinta itu tidak bisa ditebak, datang dan pergi tanpa permisi. Cinta yang sebenarnya akan mengikat jiwa, memenuhi semua pikiran, cinta memiliki ruang tersendiri di dalam hati. Itulah cinta sejati.
Kamu benar. Cinta itu membawa kesakitan untukku, cinta itu telah datang tanpa kusadari, cinta itu telah mengikat jiwaku dan memenuhi pikiranku akan dirimu. Dan kamu berada di sudut terdalam dalam hatiku, tidak ada seorangpun yang dapat menggesernya. Dimanapun kami berada, selama apapun kita berpisah, tak akan mengurangi rasa yang ada.
Untuk kesekian kalinya, Ardian merasakan hatinya seperti disayat. Luka yang terbentuk karena kesalahannya sendiri. Dia pun menutup dan mengikat dan menyimpan buku itu ke dalam tas ranselnya. Kemudian Ardian keluar dari kamar seraya membawa barang bawaan terakhir. Di lantai bawah kedua orang tua Ardian telah menunggu. Papa Armand dan Mama Della mengucapkan salam perpisahan, memeluk, mendoakan, dan memberi semangat pada Ardian.
"Ardi, kamu baik-baik disana ya, Sayang. Mama usahakan akan sering-sering datang mengunjungi kamu," kata Mama Della lirih. Nampak kesedihan dari raut wajahnya.
"Ya, Mamaku yang cantik. Mama juga, jaga kesehatannya, jangan terlalu khawatir, Ardi pasti bisa jaga diri disana." Ardian tersenyum membelai punggung sang Mama lembut." Udah … Mama jangan nangis lagi, Ardi nggak mau lihat Mama sedih terus." Pria muda itu tau, ini merupakan hal berat bagi Mamanya. Pertama kali berpisah jauh dari dirinya.
Mama Della mengurai pelukan mereka, lalu mengusap kedua belah pipinya dengan tisu di tangan. Ardian tersenyum, lalu mengecup kening mamanya lembut. Kepergiannya ini juga berat, meninggalkan keluarga yang tak pernah jauh dalam waktu lama. Keputusan ini harus diambil demi masa depan dan kebahagiaan kedua orang tuanya. Bagaimanapun, akan ada beban berat yang harus dia pikul nantinya.
"Ardi, Papa berharap banyak sama kamu. Kamu satu-satunya harapan Papa untuk melanjutkan bisnis keluarga kita. Perusahaan itu adalah mata pencaharian dan penyanggah hidup kita, Nak. Jadi kamu harus belajar dengan benar." Papa Armand memberi nasehat.
__ADS_1
"Ardi mengerti, Pa … Ardi berjanji akan belajar dengan sungguh-sungguh dan akan melakukan keinginan Papa," balas Ardian yakin.
"Baiklah, Nak, Papa percayakan padamu." Papa Armand merangkul dan menepuk pundak putra kebanggaannya.
Supir keluarga mereka telah siap untuk mengantarkan Ardian ke bandara. Ardian sendiri yang menolak keinginan orang tuanya yang semula ingin mengantarkan kepergiannya. Dengan alasan, tidak mau melihat sang Mama menangis ketika melihatnya pergi. Kedua pria dan wanita dewasa itu melambaikan tangan pada Ardian dari kejauhan. Papa Armand mendekap tubuh istrinya, mengusap-ngusap lengan sang istri dengan penuh kasih. Mama Della merebahkan kepalanya ke dada sang suami.
Ketika sampai bandara, tepatnya di parkiran mobil. Ardian dibantu Pak Herman—supir keluarga mengeluarkan barang-barang dari bagasi mobil. Hanya ada satu koper besar yang dia bawa.
Di saat bersamaan, di sudut lain sedikit jauh dari keberadaan Ardian. Mama Dahlia, Alan dan Alen baru saja kembali ke tanah air. Mereka keluar dari terminal kedatangan dan langsung menuju pelataran depan terminal menunggu taksi untuk segera pulang.
Ardian tidak beruntung karena tak menyadari hal itu. Begitupun juga dengan keluarga Rindu, mereka tidak tau akan keberadaan Ardian. Tanpa sadar mereka berjalan bersisian di lobi terminal itu. Hanya berjarak sekitar 100 meter. Tepat saat pandangan mereka terhalang oleh tiang besar. Sehingga tidak melihat satu sama lain.
***
Washington, Amerika serikat.
Tak ada fasilitas berlebihan yang diberikan sang Papa untuk dirinya. Dia tidak dibiarkan sama sekali manja akan kebutuhan dan materi yang banyak. Ardian benar-benar dituntut untuk menjaga diri sendiri dengan baik. Bekerja paruh waktu untuk menambah kebutuhan hari-harinya. Banyak pengalaman yang sia dapat selama dia tahun ini.
Beruntung, Ardian tidak melewati hal sulit itu sendirian. Ada seorang teman—Eja yang membantunya. Mahasiswa jurusan sama dengannya, yang mendapat beasiswa penuh, sangat pintar dan mandiri. Ardian banyak belajar dari temannya itu. Sebagai balasan, dia mengajak Eja tinggal bersama.
Malam hari, Ardian yang kelelahan karena aktivitasnya, istirahat di apartemen kecil yang orang tuanya sewakan. Tidur Ardian terlihat gelisah. Wajah tampak berkeringat, kepala memutar ke kiri dan kanan. Keningnya mengernyit, sudut matanya telah basah. Tangannya mengepal, menggenggam sprei secara kasar. Dia sedang bermimpi buruk.
"Rindu ...!" teriak Ardian kencang tiba-tiba dan terbangun. Dia langsung terduduk dengan napas memburu, bajunya tampak basah dibanjiri oleh keringat.
Ejja yang sedang mengambil minum di dapur, langsung berlari ke kamar Ardian. Dengan cepat dia pun membuka pintu dan bertanya, "Ardi, kenapa kamu?"
__ADS_1
Ardian menoleh pada Eja yang berdiri di ambang pintu. Masih dengan napas yang belum teratur. "Aku … aku baru saja bermimpi, Ja."
"Mimpi apa sampai teriak begitu?" Eja berjalan mendekat.
"Rindu …," lirih Ardan.
Jawaban singkat Ardian sudah dapat dipahami oleh Eja. Dia pun duduk di kursi dekat meja belajar. Berjarak setengah meter dari ranjang Ardian "Kamu bermimpi sangat buruk?"
"Entahlah, mimpi buruk atau bukan. Rindu mendatangiku … lalu kami jalan-jalan di pantai, dia tidak bicara sama sekali, kami berlari dan bermain seperti yang kami lakukan dulu … di saat senja, dia tiba-tiba bilang maaf dan tolong padaku. Rindu tersenyum tapi wajahnya basah karena air mata. Lalu dia tiba-tiba menghilang ditelan kabut." Ardian menceritakan deretan mimpi yang dilihatnya, lalu mengusap wajahnya kasar.
Teringat akan sesuatu, Ejja keluar lagi dari kamar untuk mengambilkan minum. Sudah setahun lebih mereka tinggal bersama. Selama itu juga, Ardian banyak bercerita tentang dirinya dan masalah yang dihadapi Ardian. Ejja pikir Ardian hanya sangat merindukan wanita yang dicintainya. Sebab itu bisa bermimpi demikian.
"Minumlah dulu," ucap Ejja seraya menyerahkan segelas air.
"Terima kasih."
Selesai minum, Ardian mengembalikan gelas kosong pada Eja. Dadanya yang tadi terasa sesak merasa sedikit lebih baik.
"Mimpi itu hal yang biasa. Mungkin hanya karena kamu sangat merindukannya," ujar Eja saat kembali duduk.
"Semoga saja tidak ada hal yang buruk sedang terjadi." Suara Ardian lemah dan berat.
"Ya, kamu doakan saja Rindu baik-baik saja."
Ardian mengangguk, dia menuruni tempat tidur dan mengambil buku Rindu dari dalam laci meja. Ardian kembali menuliskan keluh kesah di sana. Eja juga kembali ke kamarnya.
__ADS_1
***