Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Dijebak


__ADS_3

***


Di sinilah Rindu mulai merasa semakin cemas. Bukan lagi karena Tante Maya, Rindu mencemaskan keselamatannya saat ini. Apalagi melihat wajah Anton yang terlihat biasa-biasa saja. Bodohnya dia tidak menaruh curiga sedikitpun tadi kepada Anton?


Ketika Rindu ingin berteriak dan membuka paksa pintu taksi itu. Mulutnya tiba-tiba dibekap dengan sapu tangan yang telah diberi obat bius. Rindu meronta-ronta, menendang jok bagian depan. Dia berusaha meminta tolong kepada supir taksi. Tapi tidak ada respon sama sekali dari pria yang sedang menyetir itu. Rindu meneteskan air matanya. Perlahan-lahan dia mulai kehilangan kesadaran. Dia mulai berpikir bahwa malam ini adalah malam terakhirnya.


Anton membawa Rindu ke sebuah gudang di pinggiran kota. Tempat itu sangat terpencil, tidak ada satupun kendaraan yang berlalu-lalang di sana. Gudang itu sepertinya dijadikan markas para gangster kota itu. Dari luar terlihat sangat kotor dan berantakan. Tapi di dalamnya, tempat terbengkalai itu telah dibentuk sedemikian rupa. Pintu gerbang terbuka, taksi yang ditumpangi Rindu dan Anton masuk begitu saja. Anton turun terlebih dahulu, lalu pergi menemui sang ketua gangster.


"Selamat malam, Tuan." Anton menundukkan kepalanya.


"Emm, kamu membawakan aku janjimu?" sahut sang ketua dingin. Dia sedang duduk membelakangi meja kerjanya.


"Tentu saja, Tuan, gadis itu ada di dalam mobil."


"Bagus, bawa dia ke kamarku."


"Baik tuan. Ba–bagaimana dengan janji, Tuan?"


"Kamu meragukan aku!" bentakannya membalikkan badan.


"Ti–tidak, bukan begitu, Tuan."

__ADS_1


"Segera pergi dari sini! Pastikan saja gadis yang kamu bawa benar-benar murni, jika tidak, tunggu saja waktu kematianmu!" Ramon—sang ketua gangster dan pemilik kasino tempat Anton berjudi menaikkan suaranya, sangat lantang membuat Anton bergidik ngeri dan ketakutan.


Tanpa berpikir panjang lagi, Anton segera pergi dan meninggal Rindu. Sang ketua gengster tertawa sangat menyeramkan. Para bawahan di sekelilingnya tak ada yang berani melirik. Diam terpaku di tempat masing-masing.


Gudang terbengkalai, terpencil dan kotor itu terlihat sangat gelap dari luar. Dulunya tempat itu digunakan perusahaan furniture sebagai tempat menyimpan bahan mentah. Setelah perusahaan itu mengalami kebangkrutan, Ramon membelinya dan dijadikan markas anggota gengsternya. Tidak ada pihak berwenang yang dapat mengendus keberadaan tempat ini. Karena Ramon memasang alat penghilang sinyal dan penjagaan ketat hingga satu kilometer dari lokasi.


Wanita malang itu sekarang terbaring di kasur yang berukuran besar. Ramon menjadikan ruangan itu seperti hotel yang memiliki fasilitas lengkap di dalamnya. Banyak wanita-wanita sudah menjadi langganan keluar masuk ke dalam kamar itu. Ramon, laki-laki bajingaann, kejam, dan tidak punya hati itu tidak pernah puas hanya dengan satu wanita saja. Dua atau tiga wanita penghibur akan dipanggil untuk melayani keberingasannya di tempat tidur.


Rindu mengerjapkan matanya ketika mendengar suara-suara aneh di ruangan itu. Kepalanya pusing, napasnya masih terasa sesak akibat obat bius. Tubuhnya bahkan susah untuk digerakkan. Rindu melenguh merasakan sakit dikepalanya. Mata pun sulit untuk terbuka lebar. Suara-suara aneh itu makin jelas terdengar. Teriakan, rinntiihaan, deesaahaan yang keluar dari mulut seorang wanita. Suara menjijikkan itu berhasil memulihkan kesadarannya.


Rindu mulai meraba-raba sekitarnya. Tangan halusnya mengenali tempatnya terbaring sekarang. Rindu membuka mata, dan seketika itu juga dia terbelalak melihat hal menjijikan di hadapannya. Reflek dia menutup mulut saat hampir berteriak, lalu dengan cepat meraih selimut untuk menutupi matanya. Namun, gerakan yang terlalu tiba-tiba membuat kedua makhluk di depan menyadari dirinya telah bangun.


"Kamu sudah bangun, Sayang," ucap Ramon pada Rindu, suaranya terdengar berat.


Ramon berdiri tepat di hadapan Rindu dan menyeringai. Matanya menatap tajam kearah wanita yang akan menjadi santapannya sebentar lagi.


"Jangan mendekat! Siapa kamu!"


Teriak Rindu ketakutan, lalu memundurkan tubuhnya. Rindu meneteskan air mata, berteriak histeris, mencoba menghindari pria itu. Tangannya berusaha meraih benda apa saja untuk dilempar. Bantal, selimut, hingga barang yang ada di nakas sebelah tempat tidur, Ramon menepis semuanya. Rindu bergegas merangkak dan melarikan diri, ia terjerembab ke bawah. Sekuat tenaga Rindu mencoba bangkit dan berlari. Kakinya bergetar, nafasnya memburu, ia sangat ketakutan.


Saat sampai di pintu Rindu langsung meraih gagang dan membukanya. Naas, pintu itu terkunci dari luar dan Rindu semakin panik. Dengan berteriak Rindu menaik turunkan gagang pintu kasar, yang nyatanya tidak akan bisa terbuka. Pria itu mendekatinya, tatapannya semakin menikam. Senyum jahatnya semakin melebar, mendekat dan semakin mendekat.

__ADS_1


"Aaaahhh … pergi! Pergi!"


Teriak Rindu semakin histeris. Dadanya naik turun mengatur pernafasannya. Rindu terpojok, pria yang dipenuhi oleh hasrat itu mengungkung nya tiba-tiba. Rindu memejamkan mata, menyilangkan kedua tangannya di dada. Ramon mendekatkan wajahnya ke telinga Rindu.


"Sayang … malam ini aku akan memuaskanmu."


Rindu terbelalak, wajah pria itu berada tepat di depan wajahnya. Di pipi sebelah kanan pria itu terdapat bekas sayatan sepanjang tiga centimeter. Lengan, dada, hingga perutnya terdapat bekas jahitan yang telah lama mengering. Beberapa lubang bekas tembakan pistol juga ada di bagian perutnya. Sepertinya pria ini telah banyak menghadapi pertempuran yang sangat besar. Di tubuhnya juga terdapat beberapa tato yang menyeramkan, di leher, bahu kiri, serta punggungnya juga terdapat tato naga.


Rindu kembali memejamkan mata, ketakutannya semakin bertambah, pria di hadapannya sangat menakutkan. Tiba-tiba Rindu merasakan tubuhnya terangkat, lalu mendarat di bahu pria jahat itu. Rindu meronta-ronta, menggoyangkan kaki dan memukuli punggung Ramon. Pria itu tersenyum lebar, lalu memukul pinggul Rindu berkali-kali.


"Hahahaha … aku menyukainya, Sayang, kamu liar dan menggoda!"


Tubuh Rindu dilempar begitu saja ke atas kasur, wajahnya telah dibanjiri dengan air mata. Ramon meraih tangan Rindu, lalu mengambil rantai yang tergantung di kepala tempat tidur itu. Kedua pergelangan tangannya diborgol dan di biarkan menggantung. Rindu terus menjerit, meronta-ronta, berteriak sekuat tenaganya. Kakinya yang masih bebas mencoba menendang tubuh pria yang sekarang berada di bawahnya. Namun, tangan Ramon berhasil menangkap kedua kaki itu dan menggenggamnya.


"Tolong … aaaarrgghh … tolong lepaskan!" rintih Rindu memohon pada pria itu.


"Sayang … jika aku melepaskanmu, aku akan rugi besar. Anton sudah menjualmu seharga dua miliar, dia baru saja mengambil bayaran dariku."


Suara berat Ramon membuat Rindu terdiam, matanya terbelalak, tubuhnya masih bergetar karena isak tangisnya.


"Kamu baru menyadarinya? Hahahaha … pamanmu mempunyai hutang judi yang sangat besar padaku!"

__ADS_1


***


__ADS_2