Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Ardian kritis


__ADS_3

***


Tim medis yang telah bersiaga segera datang memberi pertolongan pertama. Saat Ardian sudah ditangani tim medis, Rindu pun mencari keberadaan Kanaya. Ternyata putri kecilnya sedang bersama Dian dan Dimas. Rindu menghampiri mereka yang berdiri cukup jauh.


"Kanaya! Sayang bunda!" Rindu memeluk Kanaya yang masih ada di gendongan Dian. Rindu menyembunyikan tangannya yang berlumuran darah, takut putrinya akan melihat hal yang mengerikan itu.


"Rin, sebaiknya kamu temani Ardi, kami akan segera menyusul," ucap Dian saat melihat Ardian akan dinaikkan ke mobil ambulans.


"Baiklah, tolong jaga Kanaya." Rindu mengecup pipi Kanaya dan ikut naik ke ambulans. Alan pun ikut bersamanya. Khawatir jika terjadi sesuatu pada Rindu.


Ardian segera dilarikan ke rumah sakit. Semua orang bergegas menyusul mobil ambulans itu. Dian, Dimas, Teo, dan Eja mengikuti tepat di belakang. Suara nyaring dari sirine memecah keheningan malam itu. Menggunakan iringan mobil polisi mereka melesat dengan kecepatan tinggi.


Sementara di kawasan hutan tempat kejadian itu terjadi. Polisi telah berhasil meringkus semua penjahat. Agnes telah ditangkap terlebih dulu saat akan meninggalkan tempat itu. Stella langsung dibawa ke kantor polisi. Dua orang wanita ini dibawa dengan mobil yang sama. Bagas yang jalan terpincang-pincang di naikkan ke atas mobil. Kakinya hanya di perban seadanya oleh tim medis.


Polisi angkatan laut juga telah melakukan penangkapan pada komplotan yang berada di perairan. Misi ini berhasil berkat bantuan Bram. Ternyata, ia adalah tim unit khusus yang dikirim pihak kepolisian untuk menyelesaikan kasus ini. Selama bertahun-tahun menghilang, tidak disangka Bram telah menjadi seorang yang hebat. Bahkan teman-temannya tidak tahu akan hal ini.


Misi berhasil.


***


Kurang dari satu jam mereka sampai di rumah sakit pinggiran kota. Keadaan sangat darurat, Ardian harus mendapatkan pertolongan segera. Rindu mengiringi para petugas medis menuju unit gawat darurat. Tatapan mata Rindu tidak lepas dari wajah Ardian yang sudah tidak sadarkan diri. W


Permukaan wajah wanita itu telah basah akibat derasnya air mata yang terus menetes dari tadi.


Rindu menunggu dengan cemas di depan ruang operasi. Eja, Dimas, Teo bersandar di dinding dengan menopang siku mereka dengan lutut. Dian merangkul Rindu dalam pelukannya. Alan memangku Kanaya yang telah tertidur. Mereka semua terdiam, menunggu dan berharap semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Operasi berlangsung cukup lama. Dokter belum memberi kabar apa pun. Mereka semakin khawatir, Rindu termenung, menangis tanpa bersuara.


"Rin, tenanglah. Kamu baik-baik saja?"


Mereka semua mengalihkan pandangan ke Rindu. Penyakit Rindu tidak boleh kambuh lagi, melihat situasi seperti ini sangatlah berbahaya untuk kondisi mental Rindu.


"Rin, jawab! Jangan diam seperti ini!" Dian meninggikan suaranya, membuat Rindu tersentak. Semua orang pun menegang dengan reaksi yang sama.


"Aku … masih baik-baik saja," jawab Rindu lemah. Semuanya menghela napas lega.


Dua jam kemudian, akhirnya dokter keluar dari ruang operasi. Kabar yang melegakan akhirnya mereka dengar. Ardian baik-baik saja sekarang. Semua orang merasa bersyukur. Dikarenakan peralatan medis di rumah sakit itu kurang memadai, mereka pun memindahkan Ardian ke rumah sakit di kota. Malam itu juga.


***


Kanaya telah dibawa Alan pulang ke apartemen Ardian, diantar oleh Eja. Teo dan Dimas ikut menemani Rindu di kamar rawat inap Ardian. Kondisi Rindu yang seperti ini tidak bisa ditinggalkan sendiri.


"Benar, Rin. Kanaya lebih membutuhkan kamu." Dimas ikut menimpali.


"Aku mau di sini," balas Rindu tanpa mengalihkan pandangannya.


Wanita itu menunjukkan, sikap keras kepalanya. Teman-temannya hanya bisa menuruti keinginannya.


Saat ini kondisi Ardian susah melewati masa kritis. Hanya saja, dia belum juga sadarkan diri. Semua orang masih cemas menunggu. Hingga semuanya tertidur.


***

__ADS_1


Polisi sedang melakukan interogasi pada tiga orang tersangka penculikan itu. Kasus ini akan mendapat pasal berlapis. Penculikan dan perdagangan manusia. Mereka akan dihukum cukup berat akibat dari perbuatannya itu. Mereka diinterogasi secara terpisah.


Polisi, memiliki taktik-taktik tertentu yang digunakan untuk menarik pengakuan ketiga tersangka, agar mereka dapat dihukum sesuai dengan kejahatan masing-masing.


Perdagangan orang atau Human Trafficking merupakan masalah serius yang harus mendapat perhatian yang lebih dari para aparat penegak hukumnya, mengingat semakin maraknya kasus perdagangan orang ini dengan berbagai modus operandi, kebanyakan dari mereka yang menjadi korban perdagangan orang ini adalah perempuan dan anak-anak serta kalangan menengah kebawah yang dimana faktor ekonomi menjadi peranan penting dalam terjadinya tindak kejahatan ini.


Bagi mereka yang melakukan perdagangan orang ini dapat dipidana berdasarkan Pasal 2 ayat (1)


Setiap orang yang melakukan perekrutan, pengangkutan, penampungan, pengiriman, pemindahan, atau penerimaan seseorang dengan ancaman kekerasan, penggunaan kekerasan, penculikan, penyekapan, pemalsuan, penipuan, penyalahgunaan kekuasaan atau posisi rentan, penjeratan utang atau memberi bayaran atau manfaat walaupun memperoleh persetujuan dari orang yang memegang kendali atas orang lain, untuk tujuan mengeksploitasi orang tersebut di wilayah negara Republik Indonesia, dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling sedikit Rp120.000.000,00 (seratus dua puluh juta rupiah) dan paling banyak Rp600.000.000,00 (enam ratus juta rupiah)


***


Siang hari, koridor rumah sakit tampak sepi. Waktu berkunjung bagi keluarga pasien telah habis. Suasana yang hening itu membuat pikiran Rindu semakin kacau. Dia menatap Ardian haru, Rindu begitu takut kehilangan sosok lelaki yang kini terbaring lemah di atas brankar. Wanita itu terus memandangi Ardian dan menggenggam tangannya, berharap Ardian segera membuka mata.


Rindu baru kembali dari menjenguk mamanya yang juga dirawat di tempat yang sama. Hari ini mamanya sudah diperbolehkan pulang, Eja pun membantu Alan dan Alen mengurus segalanya. Kanaya juga telah aman bersama mereka. Rindu belum bisa menjaga putrinya untuk saat ini. Karena rasa bersalahnya pada Ardian, ia merasa harus ada di sisi pria itu saat terbangun nanti.


Melihat selang infus dan oksigen yang menempel di tubuh Ardian, membuat Rindu menyesal akan perkataannya kemarin. Kenapa mereka harus berdebat, mungkin perkataan Rindu yang membuat Ardian berani untuk mempertaruhkan nyawanya. Rindu merasa bersalah dan berterima kasih akan pengorbanan kekasihnya itu.


"Ardi, kamu bisa mendengar suaraku?" Rindu tertunduk menahan tangisannya. "Bodoh! Kenapa harus mempertaruhkan nyawa seperti ini. Aku tidak memintamu untuk melakukannya. Tetapi, aku sangat berterima kasih, Kanaya baik-baik saja sekarang. Dan maaf aku telah melukai perasaanmu."


Pintu kamar itu diketuk oleh seseorang. Dian dan Dimas masuk menghampirinya. Mereka harus menemani Rindu disini. Eja terlalu sibuk dengan urusan kantor dan yang lainya. Sedangkan Teo membantu pengacara Ardian mengurus kasus ini.


"Rindu …," sapa Dian berdiri di sampingnya.


***

__ADS_1


__ADS_2