
***
Mendengar pernyataan Ardian, tentu saja membuat Rindu terkejut. Apa Bagas sangat memerlukan pembuktian sehingga harus dengan cara seperti itu?
"Apa semua itu perlu?" lirih Rindu tertunduk sedih.
"Rin, akulah yang ingin membuktikan pada pria itu. Supaya dia tidak lagi menyalahkan dan dendam padamu," ucap Ardian.
Rindu mengepalkan tangannya. "Tapi Kanaya adalah anaknya, kenapa Mas Bagas bersikeras pada pemikirannya sendiri?"
"Sebab itulah kita perlu melakukan tes itu, dan dia sudah melihat hasilnya sekarang. Dia ingin menemui kamu." Ardian menjelaskan dengan hati-hati. Lalu Rindu tiba-tiba mulai kesulitan bernapas.
"Rin …." Seketika itu Ardian panik, ia segera berdiri mengambil obat di dalam tas Rindu. Lalu menuangkan segelas air yang ada di meja sebelah tempat tidur.
"Rin, tenanglah … kami semua ada di sini." Mama Della yang belum tahu mengenai penyakit yang diderita Rindu, berpikir bahwa wanita itu hanya syok biasa.
Ardian berlutut di hadapan Rindu, menyuapkan obat dan air perlahan. Mama Della dan Papa Armand saling pandang, melihat wajah Ardian yang menegang saat Rindu mendapat serangan.
"Ardi, obat apa yang kamu kasih?" tanya Mama Della.
"Ma, nanti Ardi jelaskan, kita bawa Rindu istirahat dulu."
Banyak sekali pertanyaan yang terlintas di benak mereka. Gerak gerik Ardian membuat kedua orang tuanya yakin jika Rindu sedang sakit. Mereka bersabar menunggu Ardian menjelaskan.
Ardian menuntun Rindu ke tempat tidur, lalu membaringkan wanita itu di sana. "Kamu baik-baik saja, Sayang?"
"Aku tidak apa-apa." jawabnya lirih, ia melirik sesaat pada orang tua Ardian. Rindu merasa tidak enak harus membuat mereka melihat keadaannya yang seperti ini. Apa mereka masih bisa menerima, jika tahu cerita yang sebenarnya?
Ardian menyadari kekhawatiran wanitanya. "Tenang saja, aku akan menceritakan semua, Papa dan Mama juga harus tahu, istirahatlah sebentar. Maaf, aku membuatmu kaget."
Pengaruh obat membuat Rindu cepat mengantuk. Cara ini benar-benar efektif bisa membuat Rindu tenang untuk seketika.
Rindu sudah tidur selama satu jam. Di waktu itu juga Ardian telah selesai menjelaskan tentang kondisi Rindu. Mereka langsung syok mendengar semuanya. Mama Della tidak berhenti menangis, dengan sang suami yang merangkul dan menenangkan. Sedangkan Eja sudah pergi ke kantor polisi mewakili Ardian. Maksud untuk mempertemukan Rindu dan mantan suaminya mungkin akan ditunda.
__ADS_1
"Pa, Ma … Ardian mau menikahi Rindu, terlepas dari semua kejadian buruk yang telah ia alami. Ardi tidak akan pernah meninggalkan Rindu walau apa pun yang terjadi. Rindu adalah Ardi dan Ardi adalah Rindu. Semoga Papa dan Mama tidak keberatan."
Ardian berharap kedua orang tuanya tidak akan menentang keputusan yang ia ambil. Masa lalu Rindu yang buruk mungkin saja menjadi pertimbangan mereka. Ardian akan berusaha meyakinkan orang tuanya jika mereka menolak. Apa pun yang akan dikatakan papa dan mamanya, Ardian akan tetap dengan keputusannya. Mata pria itu telah memerah sedari tadi.
"Papa sekarang lebih ingin tahu. Bagaimana dengan kondisi Rindu saat ini," ucap Papa Armand.
"Iya, Sayang. Apa penyakitnya bisa sembuh, kan?" lanjut Mama Della.
"Saat ini Rindu sudah menjalani pengobatan, Pa, Ma. Dokter mengatakan PSTD yang Rindu derita bisa sembuh jika mendapat dukungan penuh dari orang di sekitarnya," jawab Ardian bergetar.
Rindu baru menjalani dua kali pertemuan dengan dokter Anna. Metode pengobatan yang diberikan sekurang-kurangnya perlu waktu satu bulan untuk masa awal penyembuhan, dan akan berlanjut tahap kedua hingga Rindu benar-benar dinyatakan sembuh.
"Jika seperti itu, lakukan yang terbaik untuk kesembuhannya," tutur Papa Armand padanya.
"Benar, Mama pasti akan membantu. Rindu anak yang kuat, kasihan dia. Bagaimana ia sanggup bertahan dengan kondisi yang sangat sulit?" Mama Della menyeka air matanya, hatinya terasa perih membayangkan sakit yang Rindu rasakan.
"Ardian yakin, Rindu pasti kuat. Kasus penculikan yang menimpa Kanaya bisa saja membuatnya terganggu. Beruntung Rindu masih bisa menahan diri. Hanya saja pasca kejadian ini Rindu tidak boleh syok sama sekali."
"Mama mengerti, kita harus menjauhkan berita yang mengejutkan dari Rindu."
Ardian merasa lega, papa dan mamanya tidak keberatan dengan keadaan Rindu. Mereka adalah orang tua terbaik, Ardian sangat bersyukur berada di dalam keluarga ini. Kedua orang tua Ardian memandangi wajah putra mereka yang tampak penuh beban. Mereka tau, semua ini pasti juga sulit bagi Ardian. Pasti butuh kesabaran yang lebih ekstra saat menerima kenyataan ini.
Satu jam kemudian Rindu terbangun dari tidurnya. Ardian menghampiri kekasihnya itu. Papa dan mama Ardian sudah pulang terlebih dahulu. Melihat keadaan Mama Della yang syok mendengar cerita masa lalu Rindu.
"Rin, kamu sudah merasa baikan?" tanya Ardian lembut duduk di sebelah Rindu. Dia menggenggam tangan kekasihnya dan mengusap punggung tangan halus itu.
Rindu bergumam. "Berapa lama aku tidur?" Dia pun bangkit dan mereka berhadapan.
"Sekitar dua jam. Kenapa Sayang, masih merasa sesak?"
Rindu menggeleng singkat. "Apa tadi aku kambuh?" Dia tau tanda-tanda kemunculan gejalanya salah satunya itu.
Ardian mengangguk, Rindu sepertinya kembali melupakan kejadian yang dia pikir tidak seharusnya di ingat.
__ADS_1
Rindu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan orang tua Ardian. "Om dan Tante sudah pulang?"
"Iya, Papa ada urusan penting yang harus diselesaikan."
Rindu diam dan berpikir sejenak. "Ardi, sebelum aku tidur, kamu ingin membawaku ke suatu tempat, ke mana?"
"Kamu tidak ingat?"
"Apa?"
Ardian tau Rindu pasti telah menganti ingatannya. Seperti yang terjadi waktu itu. "Setelah keluar dari sini, kita akan pulang ke rumah?" Ardian balik bertanya seraya tersenyum kecil. Dia meraih tangan Rindu dan menghisap dengan lembut.
Rumah yang Ardian maksud bukan apartemen yang ia tempati sekarang. Tanpa Rindu tau, Ardian telah menyiapkan sesuatu yang spesial setelah dia keluar dari rumah sakit.
Sikap lembut Ardian membuat Rindu tersipu. Hingga saat ini dia masih belum terbiasa diperlakukan seromantis ini. Rindu berdehem sesaat, untuk menyembunyikan perasaannya. "Tentu saja, jadi mau kemana lagi? Luka kamu masih belum sembuh, jangan berpikir aku akan mengijinkan kamu melakukan hal aneh. Jangan ke kantor, jangan bekerja. Kamu harus istirahat sebanyak mungkin," ucap Rindu menekankan.
Hal itu membuat Ardian terkekeh kecil. "Sayang, omelan kamu tidak pernah membuatku bosan." Ardian mencolek hidung wanitanya.
"Terserah saja, aku mau turun, minggir!" ucap Rindu seraya mengelus hidungnya, lalu turun dari tempat tidur.
"Mau kemana, Sayang?"
"Ke kamar mandi. Kenapa, mau ikut?"
"Mau, jika boleh."
"Hiiisss …." Rindu memutar bola mata. Ardian terkekeh melihatnya. Rindu mendengus kecil, lalu berbalik dan melangkah menuju kamar mandi.
Ardian pun ikut turun dan mengekori langkah sang kekasih. "Sayang, boleh ya, aku ikut?"
Rindu tak menggubris perkataan pria itu. Dia langsung masuk dan mengunci pintu saat Ardian hendak menerobos.
"Sayang …."
__ADS_1
***