
***
Pintu kamar tiba-tiba diketuk. Ardian bangkit dan keluar dari dalam kamar. Di saat yang sama, tanpa Ardian sadari jari telunjuk Rindu bergerak. Mata wanita itu mulai terbuka. Ardian menutup pintu secara perlahan, tanpa melihat ke dalam kamar..
"Bagaimana?" tanya Ardian tepat di depan pintu.
"Mereka berhasil melacak keberadaan Bagas." Eja memberikan laporan.
"Dimana? Cepat katakan!" tanya Ardian dengan nada menekan.
"Bagas bersama dua orang wanita. Menuju ke pelabuhan tikus di pinggiran kota. Polisi sudah mengirim pasukan ke sana. Kemungkinan mereka akan membawa Kanaya … ke luar negeri."
"Kurang ajar!" Teriak Ardian tanpa sadar.
"Bos … pelankan suaramu," kata Ejja berbisik mengingatkan, Rindu bisa saja terbangun karena suara Ardian yang lantang.
Ardian langsung menoleh ke pintu kamar, lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk tenang. Kemudian dia mengajak Eja untuk membicarakan ini di kantornya saja.
Dari dalam kamar, Rindu ternyata menguping pembicaraan mereka. Wanita itu sedang menempelkan telinganya di daun pintu. Saat ia mendengar langkah kaki Ardian dan Eja menjauh, Rindu perlahan membuka pintu. Dia pun mengintip keluar, tampak Ardian dan Eja sedang menuju kamar yang digunakan sebagai ruang kerja.
"Di mana posisinya sekarang?" Tanya Ardian setelah berada di dalam, Eja telah menutup rapat pintu itu.
Di luar pintu, Rindu kembali menguping pembicaraan mereka. Ia sangat ingin tahu apa yang sedang terjadi. Apakah Kanaya baik-baik saja? Bagaimana dengan Mama, Alan dan Alen? Walaupun saat ini ia merasa sangat ketakutan. Rindu berusaha untuk tetap tenang, ia harus bisa mengendalikan diri. Ia tahu penyakitnya bisa kambuh kapan saja. Dan ia tidak mau sampai hilang kesadaran lagi.
"Polisi di sekitar kawasan pelabuhan sudah berada di lokasi. Bagas dan dua wanita itu masih di perjalanan. Sepertinya mereka mengambil jalan memutar untuk mengelabui kita."
"Tapi rencananya tidak berhasil," sambung Ardian kemudian.
"Benar, pergerakan polisi lebih cepat dari mereka."
Ardian mengangguk tanpa berkomentar lagi. Wajahnya tampak tegang sejak informasi ini disampaikan. Eja menunjukan tablet yang ada di tangannya. Sebuah titik lokasi keberadaan Bagas telah dikirimkan. Serta lokasi pelabuhan tikus yang tadi Eja maksud.
"Bagaimana dengan Alan atau Alen. Kita membutuhkan mereka untuk menjaga Rindu di sini," ucap Ardian seraya bersandar di ke kursinya.
"Alan sedang dalam perjalanan, Bos."
__ADS_1
"Bagus, kita kepelabuhanan itu sekarang."
"Baiklah, Bos."
Saat Ardian bangkit, tiba-tiba pintu terbuka. Ardian dan Eja terkejut melihat Rindu muncul begitu saja.
"Rindu … sejak kapan kamu bangun?"
Tanpa menjawab pertanyaan, wanita itu berjalan masuk. Ardian pun berjalan mendekatinya. Rindu tiba-tiba menghentikan langkah.
"Bawa aku bersama kalian," ucapnya dengan menatap wajah sang kekasih.
Ardian kini berdiri tepat di depan Rindu. "Apa maksud kamu, Sayang?"
"Aku sudah tau semuanya. Aku harus ikut, aku akan menjemput putriku sendiri." Wanita itu terlihat sangat marah.
Perbuatan Bagas sungguh telah di luar batas. Rindu masih bisa terima jika mantan suaminya itu tidak mengakui putri mereka. Tapi tindakannya saat ini benar-benar tidak bisa dimaafkan.
Ardian mendekap erat tubuh wanita yang dicintainya itu. "Apa kamu baik-baik saja? Ini akan sangat berbahaya, Sayang."
Helaan napas berat Ardian hembuskan. Sulit baginya untuk menolak Rindu. Dia melepas pelukan dan membuat mereka berhadapan. "Baiklah, kamu bisa ikut. Tapi kamu harus janji satu hal. Kamu harus bisa mengendalikan diri. Kamu tidak boleh hilang kesadaran lagi seperti tadi."
Mental Risnu tidak bisa terganggu dengan keadaan yang berbahaya seperti ini. Ardian harus memastikan bahwa kekasihnya ini akan baik-baik saja. Rindu harus kuat.
Rindu mengangguk. "Aku mengerti."
Mereka pun segera berangkat menuju ke pelabuhan. Ketika baru keluar dari pintu apartemen, beberapa orang sedang berjalan menghampiri mereka. Dimas, Dian, Teo dan Alan berlarian ke arah mereka. Tampak Dian yang berlari tepat di samping Dimas, sedang menangis.
"Kalian?" ucap Ardian dan Rindu bersamaan.
"Rin, kamu baik-baik saja?" Dian langsung memeluk Rindu dengan erat, setelah sampai.
"Kak …." Alan menyapa dan ingin memeluk kakaknya. Dian pun memberikan ruang kepadanya
"Rindu …." Panggil Dimas dan Teo bersamaan.
__ADS_1
"Kalian tidak usah khawatir, aku baik-baik saja. Aku masih bisa mengendalikan diri," ucap Rindu seraya melepaskan pelukan dari Alan.
Mereka semua terdiam, tak ada yang ingin memprotes apa pun. Semua sudah mendapat sedikit informasi apa yang sedang terjadi. Mereka bergegas datang karena ingin mengetahui berita itu secara langsung. Hanya Dian yang tampak ingin memarahi Ardian sedari tadi.
"Ardi, bodoh. Kenapa kamu tidak memberi tahu kami? Untung saja Teo bekerja di tempatmu!" geramnya dengan deraian air mata yang masih menetes.
Ardian hanya diam. Perkataan Dian akan panjang jika dia menanggapi. "Maaf … kita harus berangkat sekarang. Kalau kalian mau juga bisa ikut, tapi tetap ikuti arahan, dan jangan sampai ketahuan," pinta Ardian tanpa menanggapi kemarahan Dian. Dia terlihat bersikap setenang mungkin.
"Baiklah, kita berangkat," sambung Eja.
"Kemana?" tanya Dimas.
"Aku akan menceritakan semuanya di perjalanan," jawab Eja mengakhiri pembicaraan.
Akhirnya mereka pergi dengan menggunakan mobil Teo yang berukuran besar dan bisa membawa tujuh orang itu sekaligus. Dalam perjalanan Eja memberitahu semua rencana yang telah dibuat. Ardian tetap bersikap tenang merangkul wanitanya. Ia adalah penguat bagi Rindu, dan ia tidak boleh terlihat goyah sedikit pun.
Mereka yang mendengarkan terlihat marah dan mengumpat bergantian.
"Kurang ajar!"
"Bajingan!"
Namun, lirikan mata Ardian segera menghentikan mereka. Itu bisa saja berpengaruh pada mental Rindu. Keadaan sekitarnya harus bisa setenang mungkin.
Perjalanan ke pelabuhan membutuhkan waktu sekitar dua jam. Mereka semua terlihat lebih banyak diam, dan tegang. Hanya Eja yang sibuk menerima telepon dan memantau keadaan dari tablet yang ia genggam. Teo fokus mengemudikan mobil. Dimas menenangkan Dian yang ketakutan sedari tadi. Sedangkan Alan tampak sedang menyampaikan informasi keberadaan mereka saat ini kepada Alen, adik kembarnya.
***
Disisi lain, Kanaya terlihat sedang tidur di pangkuan seorang wanita. Gadis kecil itu sepertinya kelelahan karena menangis seharian. Tidurnya tampak tidak tenang, ia selalu bergerak kesana kemari. Di jok belakang penumpang ada wanita lain yang sedang merungut karena tidak mau terlibat melakukan hal seperti ini.
"Akhirnya, anak ini tidur juga," kata Bagas datar.
"Gue mau turun! Gue gak mau terlibat dalam masalah ini!" Teriak wanita di belakang.
"Diamlah! Atau aku lempar kau ke dalam hutan, dan biarkan binatang buas di sana mencabik-cabik tubuhmu." Bagas telah hilang kesabaran, Agnes terus saja merengek minta diturunkan. Sedangkan wanita yang memangku Kanaya, tersenyum jahat.
__ADS_1
***