Semua Tentang Rindu

Semua Tentang Rindu
Psikopat


__ADS_3

***


Rindu telah menghilang selama dua hari. Mama Dahlia sedang dalam perjalanan menuju Frankfurt, Jerman. Tante Maya selalu keluar masuk kantor polisi menanyakan kabar keberadaan Rindu. Anton juga menghilang bak ditelan bumi. Tante Maya juga baru menyadari, ternyata semua perhiasannya telah lenyap. Polisi pun menambahkan Anton ke dalam daftar pencarian orang.


Pukul sebelas malam, mamanya Rindu sampai di tujuan. Tante Maya menyambut dengan tangisan dan rasa sesalnya. Mereka berpelukan dan saling menguatkan.


"Kak … maafkan aku. Aku lalai menepati janjiku!"


Maya Bar & Cafe juga tidak buka selama dua hari ini. Semua orang sedang mencemaskan keselamatan Rindu. Steven menyewa detektif swasta untuk mencari keberadaan Rindu. Namun, mereka masih belum bisa menemukan petunjuk apa pun. Steven juga mencari informasi pada temannya yang terlibat dengan gengster kota itu. Sama saja, karena penguasa di sana telah menutup semua informasi, dan orang itu adalah Ramon.


Sementara itu di gudang tempat Rindu berada.


"Bangun!" Ramon mencengkeram leher Rindu. Dia hanya mengenakan celana jeans dan bertelanjang dada. Terlihat bulu-bulu halus bertebaran di dadanya. Wanita itu dipaksa bangun setelah tertidur hanya selama dua jam.


"Layani aku!"


Rindu tersentak dan terbelalak. Tangannya berusaha menahan cengkraman tangan Ramon yang kasar. Tubuhnya yang lemah akan disiksa lagi oleh pria bajingan itu. Napasnya naik turun menahan amarah, ia berusaha melawan. Pria itu sepertinya terlihat tidak baik-baik saja, dia dipenuhi oleh amarah yang telah memuncak sedari tadi, entah karena apa.


"Lepaskan!" erang Rindu dengan gigi terkatup.


"Kau … beraninya kau menolak!"


Tanpa melepaskan cengkramannya, Ramon menindih tubuh Rindu, menarik paksa pakaian tipis yang dipakai wanita itu hingga robek dan terlepas dari tubuh. Pundak wanita itu membekas kemerahan akibat tali kecil pada baju yang ia kenakan. Rindu tidak mampu melawan, sikap Ramon yang kasar seperti ini sudah berulang kali ia rasakan dua hari ini. Matanya dipenuhi kebencian yang teramat dalam. Batinnya tidak henti-hentinya mengutuk setiap penyiksaan yang pria itu lakukan.


Percuma saja, jika memberontak maka siksaan yang ia dapat semakin parah. Dua hari Rindu digauli tiada henti, bahkan dia pernah mencoba untuk mengakhiri hidupnya. Namun, tindakan Rindu itu disadari Ramon. Akhirnya pria itu semakin memperketat penjagaan, bahkan menempatkan pengawal wanita untuk menjaganya di dalam kamar. Ia juga dipaksa menelan makanan yang sangat terasa pahit di tenggorokannya.


"Gila … pria ini seorang psikopat! Dia kejam, tidak punya hati. Ya Tuhan, aku mau mati saja sekarang. Ini sakit, sangat sakit!" tangisannya memang tidak keras, tak bersuara, tapi hatinya meraung tidak terkendali.


"Kamu menangis lagi? Kenapa?" Ramon melepaskan cengkramannya pada leher Rindu, lalu memegangi kedua pergelangan tangan yang masih meronta-ronta dan menekannya ke atas. Wanita itu terdiam, pertanyaan bodoh Ramon membuatnya menatap tajam. Mata pria itu yang tadi dipenuhi amarah perlahan berubah melembut.

__ADS_1


"Sayang, berhentilah menangis! Kamu tidak akan terlihat cantik lagi."


Masih dengan posisi yang sama, Ramon menekan kedua tangan Rindu dengan sebelah tangannya. Dia hanya diam memandangi wajah Rindu yang telah basah, lalu menyeka air mata itu. Rindu mengerutkan keningnya. "Apa yang bajingan ini pikirkan? Kenapa dia tiba-tiba melembut?" batinnya


"Katakanlah sesuatu, kenapa kamu diam?" Ramon menginginkan jawaban.


"Pertanyaan bodoh! Kau menyakitiku, kau tidak bisa melihat?" Rindu balik bertanya dengan wajah garang, nada bicaranya menekan sehingga kepalanya sedikit terangkat. Kemudian membatin, "Gila, pria gila, apakah dia mempunyai kepribadian ganda?"


"Jika kamu berhenti memberontak, aku tidak akan menyakitimu." Kini nada bicara Ramon telah berubah sepenuhnya. Terdengar santai tanpa dan biasa.


Rindu menghentikan aksinya, napas masih terlihat tersengal-sengal. Dadanya yang terbuka terlihat naik turun mengatur pernapasan.


Ramon pun melonggarkan genggaman tangannya, tangan Rindu dipindahkan ke dada. Tubuh dia tegakkan, masih dengan posisi berlutut di antara paha Rindu tanpa memberi tekanan. "Begini jauh lebih baik."


"Brengsek!" umpat Rindu dengan tatapan mata yang menikam.


"Bajingan, lepaskan aku! Masih belum cukup kau memperkosa dan menyiksaku?" pekik Rindu yang suaranya memenuhi ruangan.


"Tidak, Sayang! Aku tidak akan melepaskan wanita menarik sepertimu!" Tatapan mata Ramon tajam, dia menekankan nada bicaranya.


"Apalagi? kamu masih ingin menyiksaku? Kenapa tidak kau habisi saja nyawaku?" bentak Rindu berapi-api.


Ramon tertawa puas. "Anton memang benar, kau wanita yang kuat. Sangat manis, hahaha …."


Tawa pria itu semakin membuat Rindu memanas. Namun, dia tidak melawan atau meronta-ronta seperti tadi. Rindu mencoba bersikap tenang, berharap dia tidak akan disiksa lagi seperti sebelumnya. Hanya matanya yang memerah dan gerakan dadanya yang naik turun.


"Apa yang kau inginkan? Kau sudah mendapatkan kehormatanku, tidak bisakah kau melepaskanku saja?" Wanita itu mencoba bernegosiasi. "Jika kau tidak melepaskan aku, maka biarkan aku mati!"


"Mati? Tidak akan. Lepas?, mungkin tidak sekarang. Apa kau tau? Aku mulai menyukaimu sebelumnya, saat setelah melihat foto dan mendengar cerita Anton tentang dirimu," terangnya kemudian, lalu kembali tertawa "Anton tidak salah mengirimmu untukku!"

__ADS_1


"Kau gila! Kau psikopat gila!" maki Rindu melepas amarahnya.


"Diamlah! Jangan membuatku marah, kau hanya perlu melayaniku dengan baik!"


Tangan satunya mulai meraba bagian permukaan Rindu. Membelai dan memberi remasan perlahan, tangannya memutari kedua gundukan itu bergantian. Seringai di wajahnya menunjukan napsu yang menggelora. Wanita itu melenguh menggeliat dan memberontak.


Lalu, tawa jahat pun kembali terdengar. "Lihat! bahkan tubuhmu menikmati sentuhan dariku."


"Hentikan! Bajingan, lepaskan aku!" Rindu berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Ramon yang kuat.


Karena aksi Rindu itu, dengan marah Ramon membentangkan kedua tangan dan menekan, menggenggam kuat. Ramon mendekatkan wajah, matanya mengincar mata Rindu yang terus menghindari tatapan. Namun, tiba-tiba Rindu mengeluarkan cairan dari mulutnya. Tepat mengenai wajah pria itu.


"Beraninya kau!" Dia segera bangkit dan menampar wajah Rindu. Mengakibatkan suara pukulan di pipi wanita itu sangat keras.


Rindu meringis memegangi pipinya. Sudut bibirnya berdarah, wajahnya membekas kemerahan jejak tangan pria temperamental itu.


"Masih saja berani? Kamu benar-benar membuatku kehilangan kesabaran!" Amarahnya kembali memuncak. Ramon kembali menjadi buas seperti sebelumnya. Sisi lembutnya telah hilang digantikan dengan kegilaan. Kedua tangan Rindu diraih lalu diikat pada rantai yang menggantung di dinding atas tempat tidur.


Rindu kembali meronta, berteriak, menangis histeris. Pria itu tidak memperdulikannya, ia seperti telah hilang kendali sama seperti sebelumnya. Kemudian ia bangkit melepas celana jeans yang ia kenakan. Membuang dengan kasar ke lantai. Rindu terlihat ketakutan, raut wajah pria itu buas seperti akan membantai mangsanya. Ia melihat pria itu berdiri di hadapannya, memperlihatkan kejaantanan yang telah beberapa kali menikmati miliknya.


Ramon tertawa lagi. "Kau menginginkannya? Tatapan matamu penuh kekaguman. Bukankah dia sangat hebat saat kau merasakan sebelumnya?"


Wajah bengis pria itu semakin membuat Rindu marah. Ia mengangkat kakinya, berusaha menendang kaki Ramon yang berada di bawahnya. Namun, dengan sigap pria itu menangkapnya. Sekarang kaki Rindu menggantung tepat di paha samping Ramon.


"Hentikan, Sayang. Tindakan yang seperti ini, semakin membuatku ingin segera melahapmu." Dia terus menertawakan ketidakberdayaan Rindu.


Perlahan Ramon berlutut dan meletakkan kaki wanita itu di pundaknya. Rindu berteriak, meronta, kaki satunya menendang, Ramon menahan dan melebarkan. Pria itu tersenyum melihat keindahan di depan matanya. Senyuman penuh dengan napssu dan hassrrat yang menggelora.


***

__ADS_1


__ADS_2