Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 1 Syarat


__ADS_3

Hari ini adalah hari yang sangat melelahkan bagi karyawan restoran ternama yang bertempat di sebuah mall besar di Jakarta.


"Hari ini, ramai banget ya?" Anita sedikit mengeluh di samping Laura.


"Ya alhamdulillah, Nit." jawab Laura tersenyum sambil menunggu temannya menyiapkan pesanan pelanggan.


Datang lelaki paruh baya, dari arah belakang restoran. "Ra, sini," mengayunkan tangan kanannya memanggil Laura.


"Iya, Pak!" Laura melihat ke arah sumber suara dan menghampiri pak Bram pemilik restoran dengan wajah tersenyum. "Ada apa, Pak?" rasa penasaran, ada apa gerangan pak Bram memanggilnya.


Secarik kertas putih di serahkan oleh pak Bram. "Ini kamu beli semua yang tertulis di sini, di tempat biasa. Saya nggak sempat banyak kerjaan di dapur, kamu belinya yang cepat. Ini barangnya lagi di butuhkan, uangnya ini." mengeluarkan beberapa lembar kertas uang di dalam saku pakaian, dengan tergesa-gesa, kemudian pak Bram meninggalkan Laura begitu saja.


Laura menganggukkan kepala. "Hmmm iya, Pak." kemudian berlarian keluar restoran, hati dan pikirannya hanya ingin membeli barangnya dengan cepat agar pelanggan puas dengan pelayanan mereka, dan pak Bram tidak marah-marah lagi, biasa kalau lagi pada sibuk semua pasti kena khutbahnya.


Laura tidak bisa berhenti, saat laki-laki berjas rapi dengan scurity masuk ke mall dengan gagahnya.


Brak!


Menabrak seorang laki-laki.


Mereka berdua sama-sama terhempas ke lantai. "Ah, sakitnya." ucap batin Laura merintih merasakan hempasan itu begitu kuat, seperti tubuhnya remuk menjadi seribu. Penglihatan yang berbayang ke arah lantai kepala Laura merasa pusing 7 keliling. "Ada apa denganku? Ayo kuat Laura." ucap batin menahan sakit.


Suara bisik-bisik terdengar menyerupai seribu kawanan lebah yang sebentar lagi akan menerkam lawannya. Laura melihat banyak manusia berkeliling melihat kearahnya, tiba penglihatan Laura berhenti di hadapan laki-laki ganteng di depannya.


Laki-laki itu melihat ke arah Laura dengan wajah datar seolah-olah akan ada badai besar menghampiri, menghabiskan pohong yang kuat menjadi tumbang.


Laura berdiri dan sedikit menunduk. "Ma-maaf, Pak! Sa-saya tidak sengaja." perasaan yang bersalah dan takut membuat tubuh Laura bergetar, pusingnya datang silih berganti membuat tubuhnya terhanyut ombak yang tidak beraturan. "Dunia ini kenapa menjadi gelap?" ucap batin.


***


Tangan Laura yang memegang kepala secara perlahan, terasa berat itu membuatnya enggan membuka mata. "Hmmm, sakit banget." lirihnya pelan menahan sakit yang tidak kunjung hilang. Perlahan-lahan membuka, dengan sesekali mengedipkan mata, akan sinar cahaya matahari dari jendela sebelah kiri.


Menggerakkan kepala melihat ke sana kemari seolah kesadarannya belum pulih. Cobanya duduk secara perlahan, Laura baru sadar melihat ranjang yang lembut dan elastis, seprai berwarna coklat tua menyelimuti bagian tubuh bawahnya.


Melihat kembali isi ruangan yang terbilang megah baginya. Mata Laura berhenti saat melihat seorang laki-laki di sebelah kanan. "Astaghfirullah." terkejut melihat laki-laki ganteng berjas biru dongker, memakai dalaman kemeja putih duduk di kursi sofa berjarak 3 meter darinya.


Bibir lelaki itu tersenyum tipis.


Flashback


Renggra di sambut dengan beberapa staf karyawan, termasuk general manager. Dirinya berjalan melihat suasana mall dengan sangat teliti, tibalah Laura datang menabrak dirinya.

__ADS_1


Melihat Laura meminta maaf dengan tubuh yang tidak tegap, merasakan Laura akan terjatuh kembali, Renggra dengan cepat menangkap Laura agar tidak terhempas kelantai.


Semua orang yang berada di sana merasa terkejut, pertama kali Renggra menyentuh dan memegang seorang wanita dengan tangannya sendiri.


Angga sebagai asisten serta sahabat dekat Renggra merasa terkejut. "Apa gue bermimpi, Renggra memegang wanita dengan tangannya sendiri?" ucap batin.


Angga tersadar langsung berjalan menghadap Renggra. "Sini gue aja yang membawanya pergi." tawarnya.


"Jangan elu sentuh wanita ini!" cegah Renggra dengan cepat.


Angga terdiam mendengar perkataan Renggra yang tidak menyukainya memegang Laura.


Renggra mengangkat Laura dengan tangannya, kemudian berjalan ke arah luar mall. Angga merasa aneh dengan sikap Renggra yang berubah, hanya mengikuti Renggra dari belakang.


Scurity melihat Renggra membawa Laura Inginnya masuk ke dalam mobil, langsung membukakan pintu. Renggra masuk kembali ke dalam mobil meletakkan Laura di sampingnya, sedangkan Angga ikut masuk ke dalam mobil, duduk di samping sopir.


Dup!


Scurity menutup pintu mobil.


Supir perlahan membawa mobil pergi dari mall.


Renggra melihat Laura dirinya tersenyum tipis. "Ga, batalkan semua rapat hari ini, gue ada urusan. Elu langsung aja ke perusahaan. Jika ada pekerjaan yang harus gue lihat, kirimkan lewat e-mail."


15 menit mobil sampai di depan teras rumah yang terlihat besar.


Angga keluar membuka pintu mobil, sedangkan Renggra menggendong Laura kembali membawa keluar dari dalam mobil, masuk ke dalam rumah, langsung ke dalam kamar pribadinya. Sampai di depan pintu kamar,


Ceklek!


Angga membukakan pintu, Renggra berjalan masuk ke dalam kamar meletakkan Laura di atas ranjang. "Pergilah." perintah Renggra pada Angga.


"Hmmm." Angga berjalan keluar ruangan,


Dup!


Menutup pintu.


Renggra menyelimuti Laura, kemudian duduk di kursi sofa. "Akhirnya kita berjumpa lagi." ucap batin.


***

__ADS_1


"Aku dimana? Kamu siapa?" Laura merasa cemas, setelah sadar sepenuhnya.


"Kamu berada di kamar saya, tidak sadarkan diri tadi. Kamu tidak kenal siapa saya?" Renggra menjelaskan sambil menyelidiki.


Mata Laura kesana kemari mencari sesuatu tentang siapa laki-laki di hadapannya.


Bayangan terlintas dengan kejadian tadi, bahwa di restoran tempat kerjanya banyak orang yang membeli, sehingga ada barang yang habis, Pak Bram menyuruhnya membeli barang di luar mall, jalan yang cepat sampai berlarian keluar dan menabrak seorang laki-laki, wajahnya sama dengan laki-laki yang berada di sampingnya.


"Aduh, gawat ini." ucap batin.


Laura bergerak turun dari atas ranjang. "Maaf, Pak. Tadi saya menabrak anda?" rasa bersalah.


Renggra menyender di kursi sofa, melipat kedua tangan di dada. "Baiklah, tapi ada syaratnya." membuat persyaratan.


Laura merasa bingung. "Baru kali ini meminta maaf pakai syarat, Pak! Tapi tidak apa-apa sih, jika itu bisa membuat anda memaafkan saya secara ikhlas. Apa syaratnya, Pak?" baiknya hati Laura, menyetujui syarat dari Renggra.


Renggra tersenyum tipis saat Laura memanggil dirinya dengan sebutan, Pak. "Kamu akan segera menikah dengan saya, jarak waktu 1 minggu ke depan. Kamu juga akan tau pelan-pelan siapa saya?"


Penglihatan Laura ke sana kemari merasa terkejut dengan syarat tersebut, senyumnya mendapat sebuah solusi. "Maaf, Pak! Sebenarnya saya sudah menikah," bohongnya. "Apa Bapak tidak salah menyuruh wanita yg sudah menikah, lalu menikah lagi dengan anda?" semoga ke bohongan yang di buatnya memberi jalan keluar dari syarat yang terbilang aneh itu, walau dirinya tertarik pada laki-laki yang terbilang ganteng di hadapannya.


Renggra merasa lucu dengan ke bohongan yang di buat Laura. "Apa saya tidak salah dengar? Setau saya, kamu itu bernama Laura Anindia, usiamu 23 tahun, tinggi sekitar 160. Kamu berstatus masih sigle, masih berkerja di mall baru sekitar 1 tahun." santai Renggra melihat Laura.


Laura merasa terkejut, ternyata laki-laki ini tau dengan identitasnya. "Bapak tidak boleh melakukan tindakan tanpa meminta pendapat dari saya dulu, masalah saya hanyalah sedikit menabrak anda tanpa sengaja. Bapak juga di lihat dalam ke adaan baik-baik saja, tidak ada luka atau pun goresan di tubuh anda. Tidak semudah yang Bapak bayangkan, harus menyerahkan diri saya dan menikah dengan anda. Laki-laki yang tidak saya kenal, cintai, dan sama saja itu menghancurkan hidup saya sendiri." jelas Laura apa adanya.


Renggra kembali tersenyum. "Sudah bicaranya! Mari perkenalkan identitas saya. Nama saya Renggra Wijaya, kamu kenal bukan?" masih menyelidiki, apa Laura mengingat sesuatu.


Laura merasa takut mendengar nama Renggra Wijaya, pikirannya kemana-kemana melihat lantai. "Apa Renggra Wijaya yang terkenal itu?" melirik sebentar memperhatikan wajah Renggra. "Benar, dia yang sering muncul di televisi, serta foto yang terpajang di mana-mana, akhir-akhir ini juga dirinya di bahas oleh seluruh rakyat Indonesia. Kenapa gue bisa bertemu dengan laki-laki ini, dan berurusan dengannya? Ya Tuhan, hancurlah harapanku yang akan datang. Dia pengusaha sukses yang menguasai perekonomian di Indonesia. Apalagi tempatku bekerja, termasuk miliknya. Gawat-gawat hilang sudah pekerjaanku. Apa yang harus gue lakukan sekarang?" ucap batin.


Renggra melihat raut wajah Laura yang begitu cemas dan ketakutan, ia pun tersenyum,-senyum. "Apa yang di pikirkan Laura? Pasti memikirkan yang bukan-bukan. Baiklah akan gue coba permainan yang seru." ucap batinnya ingin bercandain Laura.


Renggra melihat Laura dengan wajah yang sinis, berdiri mendekati Laura, sedangkan Laura mendengar suara langkah kaki Renggra menuju padanya, Laura langsung tersadar dan melihat Renggra dengan perasaan cemas, sulitnya menelan saliva.


"Pikirkanlah, jangan coba untuk menolak, ini hukumanmu. Siapa suruh kamu menabrak saya tadi? Kamu juga taukan, saya ini sangat tidak suka dengan wanita. Sedikit saja menyentuh saya, akan berurusan dengan pihak berwajib." berhenti di hadapan Laura berjarak 50 senti meter. "Tapi untukmu, saya beri keringanan untuk selalu berada di samping saya, jika kamu masih menolak habislah keluargamu sampai ke akar-akarnya, serta masa depanmu akan hancur. Pikirkan dengan benar, mana yang cocok untukmu." ancam Renggra, jangan sampai Laura menolak dirinya.


Laura hanya diam.


"Saya keluar dulu," sambung Renggra jalannya ke arah pintu.


Ceklek!


Dup!

__ADS_1


Laura menundukkan kepala, kenapa harus dirinya yang menikah dengan laki-laki itu, dan melaksanakan resepsi dalam jangka waktu yang singkat. Laura tidak tahu harus apa? Pikirannya melayang kemana-mana, rasa gelisah, cemas, dan takut menjadi satu.


Bersambung...


__ADS_2