Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 35 Syok


__ADS_3

Mobil telah sampai di depan panti asuhan.


Ceklek!


Laura langsung turun.


"Kakak Laura..." teriak anak-anak panti berkumpul, satu persatu menyalami Laura.


Laura ingin menangis melihat saudara-saudarinya kembali.


"Laura kamu pulang sendirian, kemana Nak Renggra?" Bu Amina mendekat.


Laura bersalaman. "Mamas di Semarang Bu, kurang lebih 4 hari lagi baru pulang. Selama dia di sana, aku tinggal di sini, udah di izinin sama Mas Renggra kok, Bu." jelas Laura.


"Oh, iya sudah kalau gitu."


Laura melihat Pak Manto. "Pak pulang aja dulu kerumah Mas Renggra, nanti kalau ada apa-apa, saya kabarin." jelas Laura.


"Iya Nyonya, tapi barang-barangnya belum di turunin."


"Oh iya," Laura melihat anak-anak panti. "Yuk bantu Kakak ngeluarin bahan-bahan pokok di dalam mobil, tadi Bu Ani yang menyiapkan semuanya."


Mereka semua tersenyum. "Iya Kak."


Pak Manto membuka pintu mobil, anak-anak membawa satu persatu barang yang di bawa Laura.


Bu Aminah tersenyum-senyum melihat Laura.


"Alhamdulillah, semoga bermanfaat." ucap Laura merasa bahagia.


"Nak, kamu udah tau belum. Kalau Merisa mau menikah?" tanya Bu Aminah membuat Laura terkejut.


"Nikah, sama siapa Bu?"


"Katanya nggak salah namanya, Nova?"


"Apa?" Laura teriak.


Semua orang di panti, terkejut melihat ke arah Laura.


"Duh, Ra. Jangan buat Ibu jantungan." Bu Aminah memegang dadanya, dengan kuping yang berdengung.


"Ma-maaf Bu, aku syok." Laura langsung mengambil handphone di dalam tasnya, dengan cepat menelepon Merisa.


Laura benar-benar, syok. "Kenapa Merisa tidak bilang ke gue?" ucap batin Laura, takut Merisa juga di paksa menikah.


"Assalamu'alaikum, Ra." suara Merisa terdengar.

__ADS_1


"Waalaikumussalam, elu dimana sekarang?"


"Di apartemen, ada apa, Ra?"


"Lu kerja?"


"Oh baru aja pulang,"


"Iya udah tunggu gue di situ."


"Ken-"


Laura langsung mematikan handphone.


"Bu aku ke apartemen Merisa dulu." Laura terlihat buru-buru.


"Ah, iya nak." jawab Bu Aminah. "Hati-hati,"


"Iya Bu." Laura langsung naik ke dalam mobil. "Pak, antarin aku ke alamat yang di handphone ini." Laura menyerahkan handphonenya memberi petunjuk pada Pak Manto.


"Iya Nyonya."


25 menit perjalanan, mobil sampai di depan apartemen, kelas bawah.


"Bapak pulang aja, aku nginap di sini."


"Tenang ini saudara saya, Mas Renggra juga kenal." jelas Laura sebelum Pak Manto salah duga.


"Ah iya, Nyonya."


"Terimakasih, ya Pak."


"Iya Nyonya."


Laura membuka pintu, langsungnya turun. Sedikit berlarian menaikin tangga.


Tok tok tok.


Laura mengetuk pintu, dirinya nggak sabaran dengan kabar Merisa yang menikah dengan Nova.


Ceklek!


"Ada apa, Ra?"


Laura langsung masuk. "Kata Bu Aminah, elu mau nikah sama Kak Nova."


Merisa tersenyum. "Hmmm, iya."

__ADS_1


"Kenapa nggak kasih tau gue? Elu di paksa nikah sama dia, bilang ke gue, Sa."


"Eh, tunggu-tunggu! Elu duduk dulu, gue jelasin." ucap Merisa.


Laura langsung duduk, di kursi minimalis depan televisi.


"Ra, sebenarnya gue tuh, udah tertarik dengan Kak Nova, saat bertemu." jelas Merisa.


"Terus?"


"Pas dirinya anterin gue pulang, iya gue ngucapin terimakasih, dirinya banyak pertanyaan, gue diam aja tanpa jawab. Sampailah di depan apartemen, iya gue tetap nggak jawab, gengsi gue."


"Terus?" Laura semakin penasaran.


"Iya gue turun dan ngucapin terimakasih. Kak Nova ternyata ikut turun, menyuruh gue berhenti, dirinya minta nomor telepon, iya gue terus terang aja nolak."


"Terus?"


"Dia maksa ingin berteman sama gue, iya gue tetap nolak, nggak mau berteman dengan kak Nova. Terus Kak Nova tanya, cara agar gue nggak nolak terus? Gue terus terang aja, buat apa maksa gue berteman dengannya. Dia bilang udah tertarik sama gue. Iya gue mana percaya, gue tantangan aja dia, kalau tertarik langsung nikah, bukan temanan atau pacaran."


"Terus?"


"Dia sempat berpikir, gue kasih hitungan 1 sampai 3, kalau nggak ada keputusan lebih baik dia pergi dari hadapan gue tanpa menggangu lagi. Hitungan hampir habis, Kak Nova jawab oke, besoknya langsung melamar gue di panti asuhan."


Merisa dan Laura dari kecil memang sudah bersama, bedanya Laura di tinggal saat bayi di depan pintu panti, sedangkan Merisa, ke-dua orangtuanya bercerai tidak mau menanggung Merisa dan akhirnya tinggal di panti asuhan, sudah besar dan mencari pekerjaan Merisa memutuskan untuk mandiri, sedangkan Laura masih membantu Ibu Aminah.


"Serius lu, jangan-jangan Kak Nova hanya memainkan elu aja atau terpaksa?"


"Ra, pernikahan bukan sebuah permainan. Jika gue dan Kak Nova memang berjodoh akan selamanya kok, jika gue dan Kak Nova memang pada akhirnya bercerai gue bisa apa, dari pada gue berzina. Bisa aja gue hamil di luar nikah, iyakan. Lebih baik gue nikah begini." jelas Merisa membuat Laura berpikir ada benarnya.


"Gue harap elu bahagia, Mer?" Laura memegang tangan Merisa.


"Gue juga berharap elu, bahagia Ra."


"Hmmm, kita sama-sama berdoa."


"Iya Ra."


"Kira-kira Mas Renggra dan Mas Angga, tau nggak ya, elu mau nikah sama Kak Nova?"


"Belum tau, mau buat kejutan kata Mas Nova."


"Ih elu udah manggil Mamas aja." canda Laura.


"Iya dong, itu atas permintaan calon suami gue. Bukan elu aja yang punya Mamas." Merisa menyindir Laura.


Laura tersenyum-senyum melihat tingkah Merisa, yang terlihat bahagia.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2