
"Yang, Mamas kerja dulu, pulangnya bisa telat. Tapi Mamas usahain pulangnya cepat. Banyak kerjaan yang harus di selesain." ucap Renggra setelah berada di dalam kamar, sambil mengumpulkan barang yang ingin di bawa.
"Iya Mas, tapi aku boleh nggak bertemu sahabatku?" inginnya Laura bertemu sahabat dekatnya yang bernama Merisa. Laura ingin memberitahukan bahwa dirinya telah menikah, sebelum Merisa tau dari orang lain, kalau sampai tau dari orang lain, sahabatnya itu bisa marah sampai berbulan-bulan, pikir Laura.
"laki-laki atau perempuan, Yang?" Renggra menyelidiki.
"Wanita Mas?" jawab Laura.
"Perempuan berarti."
"Waria." canda Laura.
"Serius, Yang?"
"Iya serius! Tadikan sudah aku bilang wanita, Mamas masih aja nggak percaya." bela Laura.
"Hmmm, boleh. Tapi di ikutin bodyguard ya, Yang."
"Ya ampun, Mas. Aku ini mau bertemu sahabatku, bukan mau bertemu pejabat tertinggi." Laura merasa kesal dengan ketakutan Renggra yang terbilang berlebihan.
"Bukan itu, Yang. Tapi kamu itu istri Mamas, kamukan tau, banyak wanita di luar sana yang iri padamu. Takutnya mereka berbuat masalah, atau menyakiti kamu gimana?" jelas Renggra.
"Emang Mamas udah pasang foto wajah aku di media sosial?" tanya Laura ingin tau.
"Enggak! Kalau di pasang kamu nggak bisa hidup bebas kemana aja."
"Nah, kalau gitu berarti aku aman dong, Mas."
"Nggak ada yang aman, Yang." teguh Renggra dalam pendiriannya.
"Ayolah, Mas." pinta Laura merayu Renggra.
"Nggak!" tolak Renggra.
"Gini, aku janji kasih apapun yang Mamas mau, asal Mamas memperbolehkan aku keluar tanpa bodyguardnya." pinta Laura.
Renggra tersenyum-senyum.
Laura melihat Renggra begitu, mengerti dengan pikiran Renggra.
Renggra mendekati dengan wajah yang sejajar dengan Laura memejamkan mata dengan tersenyum. Ke dua lengsu pipi tampak jelas di wajahnya, di pandang wajah itu doble sempurna.
Cup!
Laura tanpa basa-basi lagi, memberi ciuman di kening Renggra.
"Sini belum, Yang." Renggra menunjuk ke dua pipinya.
Cup!
Cup!
Laura mencium atas pinta Renggra.
Tangan Renggra menarik leher Laura.
Cup!
Mencium bibir Laura, mengabsen setiap yang berada di dalam sana, sedangkan Laura yang pasrah mengikuti permainan Renggra. Panas mulai menjalar di tubuh Renggra, nalurinya mulai liar, mendorong pelan Laura ke arah ranjang, inginnya lebih dari itu.
Tangan Laura menahan, melepaskan ciuman. "Mas aku lagi datang bulan." jelas Laura, sebelum Renggra melempar tubuhnya ke atas ranjang.
"Astaghfirullah." Renggra menarik napas, mengatur panas yang berada di ubun-ubun kepalanya. "Maaf, Yang. Mamas lupa." cepatnya melepas Laura.
"Jadi gimana Mas, bolehkan aku temuin Merisa sahabatku tanpa bodyguard?" ingin kepastian Renggra.
"Nggak, Yang!" tolak Renggra. "Kalau kamu mau pergi temuin sahabatmu, harus di kawal bodyguard."
"Mamas, tadikan udah aku kasih ciuman." Laura terus merayu.
"Kalau gitu, kamu nggak usah pergi." tolak Renggra.
__ADS_1
"Mamas curang," Laura merasa kesal, rayuannya tidak bisa membuat Renggra melembutkan hatinya.
"Mamas ingin yang terbaik untukmu, Yang."
"Sudahlah, aku nggak mau lagi ngasih Mamas ciuman dan lainnya." Laura mengancam.
"Mamas paksa."
"Aku kabur."
"Mamas kejar."
"Aku mati aja."
"Yang..." pekik Renggra.
Laura terdiam, mendengar teriakkan Renggra.
Renggra memegang wajah Laura. "Jangan lagi berkata seperti itu, Yang."
"Habis Mamas nggak mau ikutin maunya aku." Laura tetap pada pendiriannya.
Renggra menghembuskan napas kasar. "Tolong Yang, ikutin kemauan Mamas. Kamu itu istri seorang pengusaha besar. Kapan saja mendapatkan incaran musuh di luar sana." pinta Renggra dengan mata yang membendung air mata, takutnya Laura kenapa-napa.
"Iya Mas." Laura mengalah, melihat mata Renggra berlinang.
Cup!
"Terimakasih Yang, atas pengertiannya." ucap Renggra pelan.
"Hmmm, iya Mas."
"Terimakasih juga Yang, baterai Mamas full." senyum Renggra.
Cup!
Laura mencium bibir Renggra yang menjadi candu itu. "Iya Mas."
Renggra melepaskan wajah Laura. "Assalamualaikum, Yang."
Renggra berjalan ke arah pintu, sambil membawa barangnya.
Ceklek!
Dup!
Renggra manarik nafasnya dalam-dalam, mengatur emosinya yang naik turun. Akibat ciuman dari Laura, kalau nggak haid udah lebih dari itu pikir Renggra yang traveling kemana-mana, berjalan turun ke lantai bawah.
Angga yang melihat Renggra tersenyum-senyum turun dari tangga, membuatnya bahagia, akhirnya Renggra telah berubah.
Sedangkan Laura membereskan kamar, mengambil pakaian Renggra dan dirinya ke lantai bawah untuk di cuci.
"Ra..." panggil Bu Ani yang duduk kursi sofa.
Laura menghampiri Bu Ani.
"Mau di bawa kemana, pakaian itu?" menunjuk bawaan Laura.
"Itu Bu, aku mau nyuci pakaian kotor."
"Bi... Bi..." pekik Bu Ani memanggil Bi Siska.
Bi Siska datang menghampiri. "Iya Nyonya!" berdiri di dekat Bu Ani.
"Ambil pakaian di Laura," tunjuknya.
"Nggak Bu, aku mau nyuci sendiri." tolak Laura.
"Itu udah tugas Bi Siska, Ra." jelasnya.
"Biar aku aja ya, Bu. Aku nggak mau pakaian sendiri dan Mas Renggra di cuci oleh Bi Siska. Ini kewajiban aku sebagai istri." pinta Laura. "Aku juga bosan kalau hanya duduk aja." inginnya, yang tak biasa hanya duduk-duduk saja tanpa melakukan hal lain.
__ADS_1
Bu Ani tersenyum, paham betul maksud Laura. "Iya sudah," melihat Bi Siska. "Tolong ajari Nona Laura."
"Iya Bu." jawab Bi Siska, dirinya melihat Laura. "Ikut saya, Non."
"Terimakasih ya, Bu." Laura merasa bahagia Bu Ani mengizinkan.
"Iya Ra, santai aja."
Laura mengikuti Bi Siska ke ruang lain, untuk mencuci pakaiannya.
"Mana Mbak Laura, Bu?" Amel melihat semua ruangan. "Apa masih di kamar?"
"Nyuci pakaian di belakang Mel." jawab Bu Ani, fokus melihat majalah.
"Nyuci! Bukannya pekerjaan Bi Siska." Amel merasa kurang nyaman.
Bu Ani melihat Amel. "Tadinya Ibu sudah bilang Mel. Laura masih ngotot mau nyuci." tariknya nafas. "Mungkin, dirinya pikir setelah menikah dan tidak bekerja, sudah kewajibannya mengurus rumah tangga dengan baik."
"Iya udah, aku susul aja." Amel langsung mencari Laura.
"Mbak..." pekik Amel mendekati Laura.
Laura mencuci pakaian menggunakan mesin yang di ajarkan Bi Siska, mendengar suara Amel memanggil, dirinya langsung melihat ke sumber suara. "Iya, Mel."
"Mbak ngapain di sini?" dekatnya di samping Laura.
"Nyuci..."
"Udah biar Bi Siska aja yang nyuci, paling kalau Mbak malu, cuci pakaian dalam. Sisanya Bi Siska aja." jelas Amel.
"Hmmm, tap-."
"Bi lanjuti ya." ucap Amel memotong pembicaraan Laura dengan menarik tangan Laura, mengajaknya kumpul di ruang tengah.
"Siap, Non." jawab Bi Siska.
Laura hanya mengikuti jalan Amel.
"Duduk di sini aja Mbak." ajak Amel duduk bersama di sofa.
"Udah nyucinya, Ra?" tanya Bu Ani
"Belum Bu, Amel ngajak ke sini." masih merasa malu.
Laura melihat wajah Bu Ani merasa teringat dengan masa lalunya.
"Kamu kangen ya, sama Bu Aminah?" tanya Bu Ani pada Laura.
"Iya Bu, rasanya ingin pulang bertemu mereka." senyum tidak enak masih merasa canggung.
Bu Ani dan Amel tersenyum. "Nanti kalau Renggra nggak sibuk kerja, Ibu suruh ajak kamu ke sana."
Angguk Laura "Iya, Bu."
"Ibu lihat, kamu masih meragukan Renggra, ya?" ingin tau Bu Ani.
Bu Ani paham betul berada di posisi Laura, yang menikah terpaksa tanpa persetujuan.
"Iya awalnya begitu, tapi Mas Renggra menjelaskan semuanya." jawab Laura dengan santai.
"Alhamdulillah, kalau semuanya sudah jelas. Berarti kamu tidak lagi meragukannya, tapi kenapa kamu menunda kewajiban kamu?" tanya Bu Ani membuat Laura terkejut.
"Ibu tau dari mana?"
"Tadi pagi kata Renggra belum pecah ketuban." Bu Ani menjelaskan perihal pertanyaan tadi pagi.
"Oh kirain gue ada yang melahirkan." ucap batin Laura tersenyum.
"Aku lagi datang bulan, Bu." malunya Laura berkata jujur pada Bu Ani.
"Oh kirain, kamu menahannya."
__ADS_1
Laura hanya tersenyum-senyum.
Bersambung...