Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 4 Sahabat


__ADS_3

Mobil sedan berwarna hitam pekat berhenti di depan perusahaan besar, scurity dengan sigap membuka pintu mobil.


"Selamat siang tuan muda," tegur scurity dengan ramah.


Renggra tersenyum. "Hmmm siang." jawabnya saat keluar dari dalam mobil.


Renggra berjalan masuk ke dalam perusahaan, Angga yang telah menunggu Renggra di depan pintu, langsung saja mengikuti jalan Renggra yang menuju ruangannya.


"Ga, tolong siapkan jadwal acara resepsi pernikahan gue." perintah Renggra.


"Apa menikah? Bukannya elu nggak mempunyai kekasih, juga teman kencan. Jangan-jangan, dengan wanita yang menabrak elu di mall tadi." Angga terkejut.


"Iya dengan Laura, siapa lagi? Elu juga bertemu dengannya. Siapkan saja semua acara pesta pernikahan." Renggra tersenyum melihat Angga sambil berjalan.


"Baiklah Reng! Kapan elu ingin acaranya berlangsung, agar gue bisa menyusun jadwal pekerjaan lu yang lainnya? Apa elu juga berencana akan pergi bulan madu?" tanya Angga lengkap.


"Minggu depan, gue ambil cuti bulan madu, sekitar 3 atau 4 hari setelah acara resepsi pernikahan. Anggap saja ini cuti pertama gue setelah bekerja selama ini." jelas Renggra.


"Secepat itu Reng?" Angga terkejut dengan tingkah Renggra yang berubah secara drastis saat bertemu dengan Laura.


"Iya lebih cepat lebih baik."


"Baiklah jika itu sudah menjadi keputusanmu. Tapi Reng, bagaimana dengan wanita yang bernama Laura itu?"


"Elu nggak usah memikirkan Laura, Itu hanya menjadi urusan gue." jelas Renggra penuh arti.


"Iya Reng," mengikuti arahan, mau bantah dirinya tidak bisa, walau masih dalam kebingungan dengan sikap dan perilaku Renggra yang berubah secara tiba-tiba.


Ceklek!


Renggra masuk ke dalam ruangan, dirinya bertemu dengan sahabat, sekaligus partner kerja yang menunggu.


Dup!


Angga yang mengikuti Renggra menutup pintu, dan berdiri di belakang Renggra.


"Apa kabar Nova? Sudah lama kita tidak bertemu, sepertinya elu sibuk sekali? Kapan elu datang? Kenapa tiba-tiba sekali? Bukannya kita akan berjumpa pada tanggal yang sudah di tentukan. Sudahlah elu jangan terlalu rindu dengan gue dan Angga." Renggra terlihat bahagia sambil bercanda.

__ADS_1


Renggra berjabat tangan dengan Nova, mereka berdua berpelukan.


Nova yang merasa Renggra berubah, ia pun melihat ke arah Angga dengan wajah yang penuh tanda tanya.


Angga yang melihat ke arah Nova, hanya bisa tersenyum dan menggerakkan bahunya ke atas saja, mengatakan dirinya tidak tau apa-apa.


Renggra dan Nova melepaskan pelukan. "Ayo duduk," ajak Renggra pada Nova dan Angga.


Mereka bertiga duduk bersama di kursi sofa.


"Kabar gue baik-baik aja. Gue juga baru sampai, dan betul gue sangat rindu pada kalian. Yah, setelah sekian lama, padahal baru juga 1 minggu gue pergi. Oh ya, semua urusan masalah yang elu perintahkan, sudah selesai gue bereskan, dan semua kerja sama kita di bidang lain juga lancar." jawab Nova.


"Wah wah wah, hebat sekali tuan Nova ini. Oh iya, ini semua berkas yang harus elu tanda tangani." Renggra mulai fokus pada pekerjaan.


Angga meletakkan berkas di atas meja mendekati Nova, sedangkan Nova tanda tangan semua berkas yang di sediakan.


"Ga, bawakan minuman dan makanan buat kita bertiga." perintah Renggra.


"Iya Reng," jawab Angga langsung.


"Antar minum dan makanan ke ruang tuan Renggra." menutup telepon, kembali duduk di kursi sofa.


Renggra dan Nova membahas sedikit pekerjaannya.


Tok tok tok.


Angga berdiri, berjalan ke arah pintu.


Ceklek!


"Masuklah," perintah Angga.


"Iya Pak, saya permisi." pelayan meminta izin.


"Hmmm," jawab Angga yang duduk kembali.


Pelayan menghidangkan minuman dan makanan di atas meja.

__ADS_1


"Saya permisi dulu, Pak." ucap pelayan.


"Hmmm." jawab Angga.


Pelayan pergi keluar dan menutup pintu.


Dup!


"Sampai di sini dulu pekerjaan kita, sepertinya ini semua sudah selesai, lanjut merevisi ulang jangan sampai ada kesalahan." Renggra memberi arahan.


"Hmmm, iya Reng." jawab Nova.


Angga membereskan dokumen yang berserakan di atas meja. Tidak lama mereka bertiga duduk santai bersama.


"Reng, gue melihat elu hari ini sepertinya sedang bahagia, coba elu ceritakan apa yang bisa membuat elu sebahagia ini? Gue kepo soalnya. Enak aja, lihat suasana menjadi terang, tidak seperti cuaca mendung yang sebentar lagi akan ada badai petir yang menyambar." sindir Nova yang berbicara tersenyum-senyum memegang secangkir jus di tangannya.


Angga melihat ke arah Renggra yang juga masih penasaran dengan perubahan Renggra.


"Nov, minggu depan gue akan menikah." jawab Renggra.


"Uhuk uhuk uhuk, apa Reng?" Nova yang minum jus tersedak dan batuk, mendengar ucapan Renggra, dirinya meletakkan cangkir di atas meja. "Heem, heem," memberikan rasa legah pada tenggorokannya.


"Gue nggak salah dengar, elu minggu depan nikah? Sejak kapan elu punya kekasih? Gue aja nggak pernah lihat elu punya pacar, jangankan itu, di sentuh aja elu merasa kesal. Coba elu ingat, dulu ada wanita yang tergila-gila sama elu. Enggak lama, elu minta gue untuk menyingkirkannya. Sampai-sampai elu jadi perbincangan seluruh masyarakat, di duga elu itu nggak normal. Sudahlah jangan bercanda berlebihan, elu itu berbeda dengan gue yang suka gonta-ganti kekasih. Tapi ya, memang belum bertemu yang benar-benar serasi dengan gue, makanya sampai sekarang belum menikah. Eh tunggu-tunggu, jangan bilang elu menghamili anak orang tanpa sadar, sehingga perempuan itu mengancam elu, lalu meminta untuk segera di nikahi."


"Benar Reng, apa kata Nova. Gue aja serumah sekaligus sekertaris elu nggak tau apa-apa. Coba elu jelaskan, kenapa tiba-tiba ingin menikahi Laura?" Angga masih penasaran.


"Apa? Elu juga bertemu dengan wanita yang bernama Laura, Ga. Kenapa kalian berdua enggak cerita sama gue? Kalian berdua seperti mengkhianati persahabatan kita." terkejut Nova.


"Gue juga bertemu dengannya pagi tadi, saat Laura menabrak Renggra waktu berjalan masuk mall. Laura juga tiba-tiba tidak sadarkan diri. Lebih anehnya lagi, Renggra menyentuhnya, kemudian mengangkat Laura ke dalam mobil dan membawanya ke rumah. Jangan elu nggak tau, Nov! Gue aja nggak boleh tolongin Renggra bawa Laura, mengingat alerginya itu." jelas Angga dengan kejadian tadi.


"Serius lu? Maksudnya Laura! Sudahlah coba elu jelaskan Reng, jangan ada udang di balik sagu." Nova semakin penasaran.


"Ayolah, kalian berdua santai aja bisa nggak? Gue enggak pernah seperti elu Nova, yang setiap hari gonta-ganti kekasih. Awas lu! Kalau sering main seperti ini, elu akan terkena karma. Buktinya saja, elu nggak menemukan wanita yang benar-benar mencintai elu. Hanya memanfaatkan uang elu aja, dan elu juga taukan, gue tipe lelaki yang tidak suka meminum alkohol. Apalagi bermain dengan wanita, gue menikah juga ingin mengambil milik gue. Enggak masalah dengan gosip murahan di luar sana. Kalian harus tau, kenapa gue bersikeras ingin sekali menikah dengannya? Dialah wanita yang berani menyentuh gue dan membuat gue bangkit kembali, saat gue masih kecil, kalian taukan kalau gue pernah trauma dengan kejadian keluarga gue waktu itu."


"Hmmm," Angga dan Nova mendengar ucapan Renggra.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2