Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 51 Hamil


__ADS_3

Renggra pagi-pagi sekali, telah merias dirinya. Memakai pakaian kerja dengan rapi, rambut yang di bentuk side bangs. Tersenyum di depan kaca, semoga Laura senang melihatnya seperti dulu lagi, pikir Renggra.


Ceklek!


Dup!


Keluar kamar, turun dari anak tangga menghampiri meja makan untuk sarapan pagi.


Bu Ani melihat Renggra, ada yang berubah. "Udah mulai kerja di kantor, Reng?" mengiris roti sandwich.


"Hmmm, Dokter sudah menyatakan Renggra telah sembuh. Bisa melakukan aktivitas kembali." jawab Renggra dengan tersenyum, melihat ke arah belakang. "Laura, masih di belakang, ya Bu?"


Bu Ani berhenti menguyah, kerutnya alis. "Hmmm, dari subuh Ibu belum melihat Laura, Reng. Sampai sekarang." pikiran Bu Ani mulai merasa gelisah.


"Apa?" Renggra terkejut, rasa cemas berdatangan, segera Renggra menghampiri pintu Laura.


Membuka pintu.


Ceklek!


Ternyata tidak di kunci.


Renggra melihat kain tebal menyelimuti Laura. Jalan mendekat, melihat Laura berwajah pucat. Renggra memegang kening Laura dan tubuh lainnya, merasakan panas dan kaki tangan dingin.


Mencoba menggerakkan tubuh Laura. "Yang, kamu kenapa?" membangunkan pelan. "Yang, bangun?"


Laura masih juga tidak bangun dan menjawab.


Renggra langsung membuka selimut, dan memakaikan hijab langsungan, membawa Laura keluar.


Bu Ani dan lainnya merasa terkejut, langsung berlarian menghampiri Renggra yang menggendong Laura.


"Kenapa, Reng?" cemas Bu Ani.


"Tubuh Laura panas, Bu. Sudah Renggra banguni, nggak juga bangun."


Amel dan Bu Ani memegang Laura.


"Ya Tuhan Reng, panas banget." ucap Bu Ani terkejut, dirinya melihat Angga. "Cepat suruh Pak Manto siapkan mobil." perintahnya.


"Iya Bu." Angga langsung berlarian kecil keluar.


"Aduh, Mbak Laura kenapa nggak bilang sih kalau sakit?"


Angga berlarian mendekat. "Mobil sudah siap."


Renggra membawa Laura keluar.


Ceklek!


Membaringkan Laura di pangkuan Bu Ani. Posisi aman, Renggra duduk di bangku depan.


Angga dan Amel duduk di kursi belakang.


Rasa cemas, khawatir menjadi satu.


Mobil perlahan pergi meninggalkan rumah, di sepanjang jalan Renggra sesekali melihat Laura, dirinya yang tidak bisa setenang biasanya. Merasa takut berlebihan. Pikirannya takut Laura terkena obat berbahaya.


15 menit mobil sampai di depan rumah sakit.

__ADS_1


Dokter yang telah di hubungi oleh Angga, sudah berdiri di depan UGD.


Ceklek!


Renggra langsung menurunkan Laura dan meletakkan di hospital bed. "Kita langsung bawa ke ruang pemeriksaan." ucap Dokter pada perawat.


"Baik, Dok." Suster dengan cepat membawa Laura ke ruang yang di perintahkan oleh Dokter.


"Bapak dan Ibu di harapkan tunggu di depan ruangan. Setelah pemeriksaan, kami akan memberitahu." ucap perawat saat di depan ruangan.


"Iya, Sus." jawab Angga.


Semuanya merasa cemas, duduk di kursi menunggu hasil dari pemeriksaan Dokter. "Ini salahku, membiarkan dia selama ini, jangan bilang orang itu telah berbuat sesuatu lagi. Apa di rumah masih ada yang menjadi mata-mata?" ucap Renggra memegangi kedua tangan.


"Sabar, ya Mas. Bentar lagi Dokter akan datang, kita akan tau dari hasilnya." ucap Amel memegang bahu Renggra.


"Hmmm."


10 menit berlalu.


Ceklek!


Perawat keluar.


Renggra, Bu Ani, Amel, dan Angga langsung berdiri. "Gimana, Sus?" tanya Renggra sangat cemas dengan hasil dari Laura.


"Pak Renggra, di minta Dokter untuk masuk. Yang lainnya tunggu di luar." ucap Suster memberi arahan.


"Masuklah, Reng." perintah Bu Ani.


"Iya, Bu." Renggra langsung masuk ke dalam ruangan, suster menutup pintu.


"Silahkan duduk, Pak." Dokter menunjuk ke arah kursi depan meja.


Ada apa dengan Laura yang belum juga sadar?


"Pak, Ibu Laura harus di rawat inap. Kondisi dari Ibu dan janin sedang melemah." Dokter melihat hasil dari pemeriksaan.


"Ja-janin, Dok?" Renggra belum mengerti maksud dari penjelasan dari Dokter.


Senyum wajah Dokter paruh baya itu. "Jadi Bapak belum tau, kalau istri sedang hamil?" tanyanya kembali.


Mata Renggra membulat. "Apa?" terkejutnya mendengar Laura sedang hamil.


Dokter berdiri, duduk di samping Laura memegangi alat.


Perawat membuka sedikit perut Laura.


"Bapak lihat." tunjuk Dokter ke layar televisi di dinding.


Renggra berdiri mendekat, melihat gambaran aneh menyerupai bentuk kacang tanah berkulit di lingkaran hitam.


"Itu adalah anak Bapak." tangan Dokter menunjuk ke layar. Mulai mendengarkan irama jantung. "Itu denyut jantung anak Bapak, yang berkembang sempurna. Namun kondisi Ibu melemah, dia ikut melemah." mematikan layar dan duduk kembali di tempat semula.


Air mata Renggra berlinang, melihat jelas anak yang di kandung Laura. "Alhamdulillah." ucap batin.


Kembali Renggra duduk di kursi.


Dokter menyerahkan selebar kertas tipis. "Ini foto yang saya ambil, untuk Bapak." Renggra mengambil. "Wajar jika kondisi Ibu melemah, kalian semua tidak tau dan Ibunya pun tidak tau. Kurangnya asupan gizi dan vitamin lainnya. Serta stress yang berkepanjangan, membuat kondisinya tidak baik." jelasnya.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?" Renggra meminta solusi.


Dokter menulis. "Ini obat yang akan di berikan perawat, dan sekali lagi! Nyonya harus di rawat inap sampai tubuhnya pulih kembali. Baru boleh pulang."


"Hmmm, baiklah Dok. Lakukan yang terbaik."


"Silahkan Bapak keluar dulu, kami akan memindahkan Ibu Laura ke bangsal keperawatan." perintah Dokter.


"Iya, Dok." Renggra melihat Laura sekilas, rasa bersalahnya telah membuat Laura menderita.


Renggra berjalan keluar.


Ceklek!


"Apa kata, Dokter?" tanya Bu Ani memegang tangan Renggra.


Renggra memberikan kertas, kecil ke Bu Ani, tanpa menjawab.


Bu Ani mengambil cepat.


Angga, Bu Ani, Amel terkejut melihat hasil USG yang berusia 2 bulan. "Alhamdulillah," serentak mereka ucapkan.


Mereka saling berpelukan merasa bahagia, akhirnya yang di tunggu-tunggu datang juga.


Bu Ani, menepuk pelan bahu Renggra. "Selamat ya Reng?" Bu Ani yang merasa bahagia akhirnya mempunyai cucu.


Wajah Renggra hanya diam.


"Kamu kenapa, Reng?" Bu Ani melihat reaksi Renggra terlihat sedih. "Apa terjadi sesuatu dengan Laura?" Bu Ani mulai cemas.


"Laura masih belum sadar, Bu." Air mata Renggra mengalir. "Kondisi Laura dan anak kami melemah. Banyak faktor yang di sebabkan, ini semua salah Renggra yang memikirkan diri sendiri."


Bu Ani memeluk Renggra. "Sabar, Reng. Ini bukan salahmu. Salah kita semua yang kurang peka dengan tingkah laku Laura akhir-akhir ini."


"Tapi ini salah Renggra, Bu. Jika Renggra memperhatikan Laura, semua ini tidak akan terjadi hiks hiks hiks." dada Renggra begitu sesak, menghantam dirinya yang secara tidak langsung membunuh anak dan istrinya pikir Renggra.


"Sekarang lebih baik, kita semua menjaga Laura. Jangan sampai kesalahan yang di perbuat terulang kembali." Bu Ani melepaskan pelukan. " Apa kata Dokter?"


"Dokter menyarankan, agar Laura di rawat. Sampai dirinya dan anak kami tidak lemah lagi." Renggra menghapus airnya.


"Iya sudah, kita ikuti arahan Dokter." jelas Bu Ani mengelus bahu Renggra, agar lebih tenang.


"Yakinlah, Reng. Laura akan baik-baik saja." ucap Angga menepuk bahu Renggra.


"Iya, Mas. Juniornya Mas Renggra kuat, seperti Mamas. Jadi Ayahnya juga harus kuat." Amel memberi semangat.


Renggra tersenyum-senyum, mendengar ucapan Amel.


"Nah, gitu dong. Jangan di bawa sedih terus." canda Amel melihat Renggra tersenyum.


"Hebat dirimu, udah menjadi Ayah. Selamat, Reng." ucap Angga merasa bahagia.


"Selamat ya, Mas." ucap Amel merasa bahagia.


"Semoga Laura di berikan kesembuhan secepatnya." ucap Bu Ani.


"Hmmm, terimakasih semua. Aku kira orang itu berbuat jahat sampai Laura sakit. Ternyata hamil hiks hiks hiks." kembali Renggra menangis terharu. Tuhan memberikan kepercayaan padanya, agar menjadi sesosok Ayah.


"Udah-udah, jangan menangis lagi." ucap Angga merasa Renggra sekarang menjadi lemah, bukan seperti Renggra yang dingin.

__ADS_1


Es itu, benar-benar mencair, pikir Angga.


Bersambung...


__ADS_2