Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 9 Perlengkapan


__ADS_3

Setelah Renggra pergi, Laura melanjutkan tidurnya di atas ranjang.


Tok tok tok.


Laura mendengar suara ketukan.


Tok tok tok.


Kembali pintu di ketuk.


"Hmmm, siapa sih?" perlahan duduk, malasnya berdiri masih terbawa mimpi.


Tok tok tok.


"Iya-iya gue buka." turun dari ranjang, menuju pintu.


Ceklek!


Mengedipkan mata agar terlihat lebih terang.


"Apa, Bi?" melihat Bi Siska tersenyum-senyum melihat Laura.


"Non, maaf ya. Bibi ganggu tidurnya." merasa bersalah.


"Hmmm, enggak, Bi. Ada apa?" perlahan sadar.


"Ini, Tuan Renggra membawakan pakai, tas, semuanya untuk, Nona." menunjuk banyak orang yang datang, membawa semua perlengkapan.


Laura mengedipkan mata, saat kesadarannya sudah kembali. "Apa mungkin gue masih bermimpi," ucap batin Laura.


Laura mencoba mencubit tangannya. "Aw, sakit! Berarti gue nggak bermimpi." ucap batinnya lagi.

__ADS_1


Fokusnya kembali, melihat banyak yang di bawa. "Banyak banget, itu buat di pakai atau buat jualan?" ucap batin Laura.


"Aku nggk membutuhkan semua barang ini, Bi. Tolong Bibi kembalikan saja pada Pak Renggra, ya?" tolak Laura.


"Maaf, Non. Bukan Bibi menolak atuh. Tapi ini mah perintah, Tuan. Kalau Nona menolak, kami semua di marahi Tuan. Hukumannya di pecat dari pekerjaan." jelas Bi Siska merasa takut.


"Masa begitu hukuman kalian yang hanya mengantar barang-barang ini?" terkejut Laura, pikirnya Renggra benar-benar manusia yang keras kepala.


"Iya, Non. Maka dari itu, terima dan gantilah pakaian, Nona. Kalau mau bantu, Bibi."


"Tapikan semua ini terlalu banyak, Bi. Apa tidak bisa barangnya sedikit saja?"


"Aduh gimana ya, Non? Ini semua Tuan yang pesankan, kami hanya menuruti apa yang di perintahkan, Tuan." Bi Siska merasa bimbang.


"Hmmm, iya sudah kalau begitu," terpaksa Laura menerimanya. "Bi, apa tidak ada kamar lain untuk aku tempati? Di sini kamar Pak Renggra. Aku kurang nyaman."


"Tuan enggak berkata untuk menyiapkan kamar lain untuk, Nona." balas Bi Siska.


"Iya sudah kalau begitu, Bi. Nanti aku yang tanya pada Pak Renggra."


"Kalau begitu, Bibi permisi bawa semua barang ini masuk ke dalam ya, Non."


"Oh iya, Bi." Laura membuka lebar pintu kamar. "Letakkan barang itu di sini aja, Bi." menunjuk kursi sofa. "Aku aja yang membereskan."


"Tidak bisa gitu atuh, Non. Ini adalah tugas Bibi untuk meletakkan dan merapikan semua keperluan Nona di kamar ini. Tolong jangan menolak lagi." pinta Bi Siska.


"Tapikan nggak ada Pak Renggra, Bi." ngeyel Luara.


"Tapi Bibi orangnya jujur, takut sama dosa."


Huuuf!

__ADS_1


Laura membuang nafas, melegahkan pikirannya. "Iya udah kalau gitu, aku bisa apa? Oh ya, Bi. Kapan biasanya Pak Renggra pulang?"


"Biasanya Tuan pulang malam. Terkadang Tuan juga tidak pulang, karena menyelesaikan pekerjaannya."


"Oh gitu ya?"


"Non, Bibi permisi untuk ke ruang pakaian meletakkan dan membereskan barang ini."


"Hmmm iya, Bi."


"Ayo masuk," ajak Bi Siska pada orang yang membawa barang.


"Ah iya, Bu." mereka semua menjawab, melihat ke Laura. "Permisi, Nyonya."


"Iya Pak, Bu. Silahkan." jawab Laura merasa kurang nyaman.


Bi Siska dan orang yang membawa barang-barang masuk ke ruang pakaian.


Laura mengikuti, melihat akitivitas bi Siska yang meminta pegawai menyusun di lemari yang masih kosong.


"Oke semuanya udah rapi, mari kita keluar." ajak Bi Siska pada pegawai.


Laura berjalan keluar ruang pakaian, saat semua pegawai ingin keluar.


"Semua barang dan persediaan yang Nona butuhkan, sudah ada di ruang pakaian. Silahkan Nona menggantikan pakaian. Kami semua pamit keluar." Bi Siska memberi penjelasan.


"Hmmm, iya Bi. Terimakasih banyak."


"Iya, Non." senyum Bi Siska.


Semua pegawai langsung keluar dan menutup pintu.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2