Sentuhan Mu Mengubah Ku

Sentuhan Mu Mengubah Ku
Ch - 46 Support


__ADS_3

Sampai di depan pintu kamar, Laura terdiam sebentar. Tangan mulus dan putih itu gemetar.


Ceklek!


Pintu di buka oleh Angga,


Air mata Laura mengalir, secara perlahan, melihat Renggra yang tidur di atas ranjang.


Hati Laura merasa perih, mengelap air mata secara perlahan. Cobanya duduk di kursi kecil dekat Renggra, memegang tangan, mencium lembut. "Mas, aku di sini." air mata yang berlinang. "Jangan tidur terus, Mas." memejamkan mata, kembali air itu mengalir di tangan Renggra.


Bu Ani dan yang lainnya, merasa sakit melihat kondisi Renggra dan Laura. Satu persatu ikut menangis hiks hiks hiks. Angga yang tak sengaja melihat Amel, merasa jantungnya berdebar. Lama tidak bertemu, merasa kurang nyaman sejak Amel mengungkapkan perasaannya.


Amel tidak menghiraukan Angga yang diam-diam melihat ke arahnya, mungkin perasaan bersalah telah memberikan jarak di antara mereka. Seharusnya ia hanya memendam perasaan itu dalam-dalam, agar tidak canggung seperti sekarang ini.


Dalam berbagai kondisi, mereka mau tak mau akan terus bertemu, mungkin dulu dekat, sekarang dekat berasa memberi sekat.


Gerakan tangan Renggra, ingin sekali memeluk Laura. Rindu yang hanya di pendam agar semua berjalan dengan baik. Secara perlahan, mata lesu dan sayup terbuka dengan sesekali berkedip, akibat sinar mentari dari luar jendela yang menyinari langsung ke dalam ruangan.


Renggra melepas tangan Laura, menyentuh kepala yang terasa pusing. Padahal tidak ada rasa apa-apa.


Selama menjalani perawatan beberapa hari, tubuh Renggra sudah mulai membaik. Hanya saja ia butuh beberapa hari saja, agar tubuhnya benar-benar pulih.

__ADS_1


Renggra melihat Laura, dengan wajah yang datar. Mengerutkan alis, terbangun secara perlahan.


"Mas, bagaimana keadaanmu?" Laura berusaha tenang di depan Renggra.


Kerutan kening, Renggra menahan air mata yang berlinang, dirinya melihat Angga. "Ga, siapa dia?" puranya berpaling dari penglihatan Laura.


Deg!


Laura menundukkan kepala melihat lantai, merasa hati yang teriris-iris melihat Renggra lupa akan dirinya.


Amel memejamkan mata, menarik nafas. "Mas, kenapa menanyakan itu pada Mas Angga? Masa Mamas lupa dengan istrimu sendiri." coba menarik perhatian Renggra.


Angga menghembuskan nafas panjang. "Dia Laura. Istrimu, Reng." sambung Angga yang merasa beban di bahunya terlalu berat.


Renggra melihat semua orang yang berada di ruangan. "Apa yang kalian katakan, perempuan ini adalah istriku?" teriak Renggra membuat Laura terkejut.


Nova menarik nafas, memejamkan mata. "Elu lupa dengan istri lu, Reng?"


"Gue tidak mau mendengar perkataan kalian yang tidak masuk di akal." Renggra menahan air mata mulai berlinang, sulit menjalankan kebohongan yang di buat. Mengeratkan genggaman tangan, demi semua Renggra harus melakukannya. "Cepat kalian semua pergi dari sini." perintah Renggra kembali ke arah Angga. "Kamu Ga, bawa wanita ini pergi jangan sampai muncul di hadapan ku lagi." Renggra melihat ke arah lain.


"Tapi Reng," Angga ingin membiarkan Laura berada di sisinya sebentar.

__ADS_1


Tubuh Renggra gemetar. "Jangan ada yang berbicara lagi, cepat pergi." bentaknya.


Laura hanya diam, meneteskan air mata yang tak kunjung berhenti.


Bu Ani dan Amel memegang bahu Laura. "Ayo, Nak. Kita tunggu di luar. Biar Renggra istirahat dulu." mengajak Laura ke luar ruangan.


Angguk Laura pelan, dengan menyapu air mata yang terus-menerus mengalir.


Renggra menghembus nafas yang sesak, menahan segala duka di dada. Seketika tetesan air mata mengalir. "Maafkan aku, Yang." ucap batin yang terenyuh dengan memejamkan mata, tak sanggup melihat Laura menangis.


Laura duduk diam di depan ruangan Renggra, dengan wajah lesu dengan tarikan nafas yang sesak.


Bu Ani memegang bahu Laura. "Sabar ya, Ra. Semua ini hanya sementara. Ibu yakin, Renggra akan segera pulih." coba memberi support agar Laura tenang.


Amel tersenyum. "Apa yang di bicarakan oleh Bu Ani ada benarnya Mbak, mungkin saja belum pulih. Yakinlah sebentar lagi Mas Renggra akan mengingatmu." mengusap punggung Laura.


Angguk Laura. "Iya Bu, Mel." jawab pelan, merasa tubuh itu lemas.


"Kamu pasti mengerti, kenapa sekarang kami baru memberitahumu?" menyadarkan Laura.


Angguk Laura. "Hmmm, iya Bu. Maaf, tadi pagi sedikit emosi." sadar diri yang tiba marah.

__ADS_1


Senyum Bu Ani, memaklumi sikap Laura. "Iya, Nak."


Bersambung...


__ADS_2